
Maka bergeraklah Wikala dan Lembu petala diiringi dua ratus orang prajurit terpilih dari kota Vijaya yg di pimpin oleh wisnu dan adityavarman putra dari pangeran Jaya simhavarman.
Setelah melewati kota Indrapura, Singhapura dan Kandarapura sampailah mereka di perbatasan dengan kerajaan annam.
Jauh dari luar kota Ha tinh, terlihat lah perkemahan prajurit annam yg sangat banyak.
Melihat hal ini , Wikala kemudian meminta kepada pangeran wisnuvarman untuk mengirimkan mata- mata guna mengetahui di kemah yg mana putri Cemaravati di tahan.
Pangeran wisnuvarman pun mengirimkan prajurit nya yg mampu menyamar mendekati kemah prajurit kaisar Le.
Dengan cepat prajurit itu kemudian bertukar pakaian prajurit nya jadi pakaian seorang pekatik yg akan mencari rumput di sekitar perkemahan tersebut.
Sedangkan yg lainnya masih bersembunyi di ujung hutan kecil tersebut dan jaraknya lumayan jauh .
" Bagaimana ini Anakmas, padang rumput ini terlalu luas, pasukan kita tidak dapat untuk mendekat lagi?" tanya Lembu petala kepada Wikala.
" Tidak apa-apa , paman walaupun ini hampir dua jangkauan anak panah, memang sebaiknya disini kita membuat pertahanan, " kata Wikala
" Akan tetapi tugas kita makin berat, karena harus berlari dalam satu jangkauan anak panah tanpa ada yg membantu ,!" ujar Lembu petala.
" Apakah paman sudah tidak mampu berlari,?" tanya Wikala sambil tersenyum.
" Masih mampu berlari, akan tetapi bila harus di keroyok berpuluh atau beratus orang, tentu amat sulit, !" ujar Bekel Lembu petala.
Sambil agak berbisik , Wikala bertanya,
" Paman Petala memiliki ilmu kebal, kan,?" tanyanya.
" Punya, !" jawab Lembu petala singkat.
Kemudian Wikala meminta kepada wisnuvarman untuk menyediakan obor yg banyak, dan juga berpesan supaya nanti tetap memanah walaupun mereka sedang berlari.Jangan takut terkena mereka yg sedang berlari.
Tampak nya para Prajurit kerajaan annam tidak menyadari kehadiran pasukan kecil dari kota Vijaya ini, terbukti Prajurit yg dikirim untuk memata- matai mereka cepat kembali .
Kemudian prajurit itu menyebutkan bahwa putri Cemaravati di tempatkan di kemah yg paling besar di dekat kemah jenderal Hong binh Sang pemimpin pasukan, dan menurutnya lagi pengawal an ditempat itu tidak terlalu ketat karena dekat dengan kemah jenderal Hong binh.
Kemudian Wikala mengatur siasat , bahwa Lembu petala akan menarik perhatian para Prajurit annam sementara ia akan masuk kemah putri Cemaravati.
Dan pasukan pangeran wisnuvarman dan adityavarman, segera menyalakan obor, apabila telah melihat mereka berlari, dan melepaskan anak panah jika musuh sudah berada dalam jangkauan, jangan memanah sebelumnya .
Begitu malam tiba di perbatasan antara Champa dan kerajaan annam, terlihat lah obor - obor menyala di perkemahan prajurit annam, sementara di dalam hutan, terlihat kegiatan prajurit Champa memasang obor-obor yg banyak tanpa dinyalakan.
Ketika malam sampai pada puncaknya, terlihat lah dua orang melayang dengan ringannya mendekati perkemahan prajurit annam.
Saat mendekati para Prajurit jaga salah seorang segera memisahkan diri, Ya Wikala dengan ajian mega mendung nya langsung melesat ke kemah paling besar berada tepat ditengah-tengah.
" Hehh, kamu siapa ?" tanya prajurit jaga kepada Lembu petala.
" Saya petala , saya ingin bertemu dengan jenderal Hong binh, !" ucap Lembu petala dengan gaya orang mabuk.
" Pergi dari sini, jenderal Hong binh tidak bisa di ganggu, " ucap prajurit jaga sambil mengacungkan tombaknya kearah Bekel Lembu petala.
Sementara itu Wikala telah berada diatas atap kemah dimana putri Cemaravati di tahan.
Sekilas ia mengintai kedalam, dilihatnya lah , seorang perempuan muda yg cantik berpakaian putih yg sedang terikat tangannya, menilik dari ciri-ciri yg di berikan benarlah ia Putri Cemaravati.
__ADS_1
Segera Wikala mengeluarkan kerisnya merobek atap kemah tersebut dan langsung melesat turun.
Sambil meletakkan jari telunjuknya di mulutnya, Wikala membuka ikatan putri Cemaravati , nampak perempuan itu terkejut, tetapi tidak jadi berteriak .
" Kamu putri Cemaravati kan?" tanya Wikala.
Putri Cemaravati mengangguk.
" Cepat naik kepunggung ku, aku adalah utusan pangeran Jaya simhavarman untuk membebaskan tuan putri, " ucap Wikala .
Walaupun putri Cemaravati agak ragu , akhirnya ia menuruti perintah Wikala , dan segera naik kepunggung nya.
Begitu putri Cemaravati dipunggungnya Wikala segera melompat naik keatas atap , akan Tetapi alangkah terkejutnya ia Ketika melihat beratus prajurit sedang mengarah kan panah kearahnya.
Dan dilihatnya lagi , Bekel Lembu petala sedang bertarung melawan puluhan Prajurit.
Berkata lah Sang pemimpin pasukan kerajaan annam yg tiada lain adalah jenderal Hong binh.
" Hehh, menyerah lah orang asing dan lepaskan putri Cemaravati itu,!" teriaknya kepada Wikala.
Wikala yg merasa dalam posisi terjepit , tidak berpikir dua kali lagi segera mengetrapkan ajian mega mendung tingkat terakhir dan menyuruh putri Cemaravati memeluk nya sekuat mungkin.
Berteriak lah Wikala , " ajian Kalacakra, hiaaat,'
Sinar merah yg terang menghantam jenderal Hong binh.
Pukulan Kalacakra mengenai pundak jenderal Hong, dan membuatnya terjatuh, namun ia segera memberi perintah untuk menyerang kepada para Prajurit nya, kontan saja beratus anak panah menerjang Wikala, namun kembali Wikala tidak mau ambil resiko langsung mengerahkan ajian Nantha angin nya ratusan anak panah itu kembali ke pemiliknya,
" Aaaaaaakkkkkhhhh, !" teriak para prajurit yg terkena panahnya,.
Sementara jenderal Hong binh yg telah berdiri berteriak,
" Jangan sampai lolos, tangkap mereka semua, !" terdengar perintah nya.
Wikala terus berlari dan mendekati Bekel Lembu petala yg mulai kepayahan mendapatkan kepungan yg rapat dari para prajurit annam.
Setelah mendekat , Wikala segera mengeluarkan ajian Kalacakranya kearah pengepung Bekel Lembu petala, sontak saja para prajurit itu terpental dan tewas seketika, melihat ada jalan untuk melarikan diri, Lembu petala pun menggunakan ajian peringan tubuhnya untuk menghindari serangan para prajurit yg semakin menyemut , banyak nya,
Bekel Lembu petala meniru cara lari Wikala dengan menghadap kebelakang sambil mengeluarkan ajian nya aji larantaka , sinar kuning keluar dari tangan nya.
Meskipun sudah puluhan Prajurit yg terkapar namun yg mengejar semakin banyak, laksana pepatah ,mati satu tumbuh seribu.
Yg benar-benar kesulitan adalah Lembu petala.Karena dari tadi ia sudah dikeroyok berpuluh orang kemudian harus berlari sambil mengerahkan ajian nya, hingga menguras tenaganya.
Berkatalah Wikala, " Paman Petala, lari saja jangan pikirkan mereka, segera capai hutan itu, biar sementara mereka kutahan," teriak Wikala.
Mendengar perintah itu Bekel Lembu petala memusatkan pikirannya untuk mencapai hutan . Sedangkan Wikala terus melancarkan ajian Nantha angin dan Kalacakra nya untuk menghambat lari prajurit annam.
Mungkin sudah ratusan prajurit yg terkapar terkena kedua ilmu tersebut, namun para prajurit annam semakin bernafsu menangkap keduanya.
Ketika keduanya telah melewati separoh dari padang rumput tersebut terlihat lah obor-obor menyala di tepi hutan dan panah-panah berluncuran laksana hujan menghantam kearah para Prajurit annam, sementara Wikala kemudian menyusul Lembu petala yg telah lebih dahulu mencapai hutan .
Para prajurit annam terhenti sebagian ditengah-tengah padang rumput tersebut hanya sebahagian yg berani maju namun akhirnya tragis tertembus anak-anak panah prajurit Vijaya.
Melihat hal ini berkatalah salah seorang pembantu dekat jenderal Hong binh,
__ADS_1
" Bagaimana ini jenderal mereka terlalu banyak, apakah kita mengejarnya terus, ?" tanya Tung Tay kepada jenderal Hong binh.
" Sebaiknya tidak usah , prajurit kita telah banyak yg tewas oleh kedua orang itu, jika jumlah mereka banyak, mungkin kita semua akan jadi bangkai, " kata jenderal Hong binh.
Karena menurut perhitungan Jenderal Hong binh dengan dua orang saja sudah ratusan prajurit nya tewas apalagi kalau musuh itu ratusan tentu mereka semua akan mati.
Akhirnya prajurit annam menghentikan pengejarannya dan langsung kembali ke kemah nya.Dan bersiap dengan segala kemungkinan.
Sedangkan Wikala dan Lembu petala setelah mencapai pasukan Champa dan melihat tidak lagi yg mengejarnya, segera kembali pulang ke kota Vijaya, walaupun kondisi Lembu petala sudah terlihat letih, yg kemudian harus ditandu demikian pula putri Cemaravati di tandu oleh Prajurit Champa.
Di sepanjang jalan pulang Putri Cemaravati asyik bercerita dengan kakaknya pangeran wisnuvarman tentang kehebatan Wikala.
Setelah beberapa kali singgah, di kandarapura, di singhapura dan terakhir di indrapura sampailah mereka di kota Vijaya dengan Selamat.
" Ampun beribu ampun ayahanda, kami telah selesai menunaikan tugas yg ayahanda berikan,_ ,," ucap pangeran wisnuvarman kepada ayahanda nya.
" Bagus-bagus, " puji pangeran Jaya simhavarman.
" Dan adinda Cemaravati dapat diselamatkan oleh kedua Pendekar Majapahit ini,!"
" Syukurlah, bagaimana ceritanya,?" tanya pangeran Jaya simhavarman.
" Wah, sesuatu yg amat sulit untuk di jelaskan ayahanda, dua orang mampu menhajar ratusan pengeroyok, dan berpuluh mungkin beratus yg tewas oleh dua orang Majapahit ini, " ucap Adityavarman.
" Kalian melihat sendiri,?" tanya pangeran Jaya simhavarman.
" Selain melihat sendiri dari kejauhan, banyaknya prajurit yg mengepung paman Petala ini, laksana semut mengerubung gula, dan saudara Wikala ini di keroyok laksana laron mengerubung pelita, dan hebatnya lagi mereka berdua mampu keluar dari kepungan itu , kalau tugas kami amat mudah ayahanda tinggal menyalakan obor dan memanah , dan akhirnya mereka tidak berani mendekati,!" panjang lebar pangeran wisnuvarman menjelaskan .
Pangeran Jaya simhavarman manggut-manggut dan kemudian bertanya pada putrinya , Cemaravati.
" Coba ceritakan ananda , bagaimana jalan ceritanya, jangan cuma keenakan di gendong saja ,!" perintah Sang pangeran.
Kemudian Putri Cemaravati menceritakan bagaimana hebat dan saktinya Sang dewa penolongnya itu mulai dari awal hingga akhir tanpa ada yg terlewatkan.
" Hebat, hebat, sungguh luar biasa , sungguh luar biasa,......!" seru pangeran Jaya simhavarman berdecak kagum.Sambil bertepuk tangan.
" Sungguh, kami tidak menyangka, dapat membebaskan tuan putri ,!" kata Wikala kemudian.
" Dan Aku merasa, ada suatu kekuatan lain yg membantu, !" ujar Lembu petala.
" Rasa-rasanya sangat sulit untuk keluar dari kepungan yg rapat itu, andaikan anakmas tidak menolong mungkin aku tinggal nama atau setidaknya, tertangkap, !" kata Lembu petala lagi.
" Ahh, paman Petala bisa saja, ini kan namanya kerjasama, harus saling bantu membantu, " jawab Wikala.
Segera pangeran Jaya simhavarman memberikan hadiah yg telah dijanjikan.
" Karena aku sudah berjanji akan menikah kan putri ku kepada siapa saja yg mampu membebaskan nya, maka hari ini akan Aku nikahkan putri ku cemaravati kepada ananda Wikala, sekaligus gelar kepangeran dari kerajaan Champa, dan untuk saudara Petala aku hadiah kan putri yasuvati, keponakanku untuk dinikahi!" demikian lah perintah Sang pangeran Jaya simhavarman.
Hari itu juga di langsungkan pernikahan putri Cemaravati dan Wikala, serta Bekel Lembu petala dengan yasuvati.
Pesta pernikahan di gelar cukup sederhana namun tetap ramai karena yg mengadakan hajatan adalah seorang pangeran penguasa wilayah kota Vijaya.
Hampir satu purnama Wikala dan Lembu petala berada di Champa tepatnya di kota Vijaya dahulu nya merupakan ibukota, namun sekarang menjadi kota nomor dua setelah ibukota di pindahkan ke Panduranga.
Mengingat sekarang Wikala dan Lembu petala adalah warga kehormatan Champa, maka kedua Satria handal Majapahit ini tidak melanjutkan prjalanannya lewat darat lagi, akan tetapi melalui laut dari pelabuhan Vijaya mereka menumpang kapal langsung menuju kota Jiqing, ibukota Tiongkok bagian selatan.
__ADS_1