
" Benar juga Gusti Pangeran, mungkin nanti setelah jadi Raja , Adipati Pamotan itu masih belum menentu kan siapa pengganti dari Adipati Wengker,!" kata Tumenggung Wulung ireng.
" Ya karena dia pasti akan di sibuk kan dengan tugas -tugas di Kotaraja Majapahit dan Kadipaten Pamotan sekaligus, jadi memer lukan perhatian yg cukup besar" kata Mahisa Dara.
" Jadi sebaik nya kita ber tahan di sini Gusti Pangeran,?" tanya Tumenggung Wulung ireng.
" Ya, kita sebaik nya ber tahan di Wengker saja dan terus cari tahu siapa pembesar Wengker yg masih setia kepada Kangmas Wengker, supaya kita bisa mendapat kan tempat yg layak, tidak tinggal di hutan ini terus menerus,!" kata Mahisa Dara.
" Baik Gusti pangeran, segera kami mencari tahu siapa saja pembesar Wengker yg masih setia kepada Adipati Wengker itu,!" kata Tumenggung Wulung ireng.
" Bagus, upaya kan secepat nya,!'' jelas Mahisa Dara.
" Sendika dawuh Gusti Pangeran,!" jawab Tumenggung Wulung ireng.
*******
Di Kotaraja Majapahit sendiri, Wikala sang Adipati Pamotan tengah memper siap kan segala sesuatu nya setelah Kotaraja Majapahit itu jatuh ke tangan Pamotan.
Setelah penguburan mayat -mayat prajurit yg telah tewas dan bagi prajurit Majapahit yg masih setia kepada Prabhu Suraprabhawa yg telah menyerah itu di masuk kan ke dalam kurungan,maka di mulai lah pem bentukan pemerintahan negara Majapahit di bawah ke pemimpin an dari Pamotan itu.
" Paman Petala, segera buat suatu ke pemimpinan sementara di kota raja Majapahit ini,!" kata Wikala sang Adipati Pamotan itu.
" Sendika dalem Gusti Adipati,!" jawab Senopati Lembu Petala.
" Tumenggung Rapada, bagaimana dengan. utusan yg di kirim ke kadipaten -kadipaten itu , apakah mereka telah kembali,!" tanya Wikala sang Adipati Pamotan itu.
" Sebahagian telah kembali hanya dari Mataram dan Lasem yg belum kembali,!" jelas Tumenggung Rapada kepada Sang Adipati Pamotan itu.
" Baik suruh menghadap mereka kemari,!" ter dengar kata-kata dari Wikala sang Adipati Pamotan.
" Sendika dawuh Gusti Adipati,!" jawab Tumenggung Rapada.
Kemudian Tumenggung Rapada ber ingsut keluar ruangan istana Majapahit.
" Bagaimana sebaik nya yg harus kita lakukan ter hadap pasukan Gusti Guru,?" tanya Arya bor-bor kepada sang Adipati Pamotan itu.
" Sebaik nya mereka di pulang kan ke Pamotan secara ber tahap dan beri kan jatah liburan kepada mereka dan bagi tetap ingin di Kotaraja ini, di persilah kan untuk tetap tinggal,!" jelas Wikala Sang Adipati Pamotan.
" Dan dengan pasukan kami anakmas, apakah sudah di perboleh kan kembali ke Kahuripan,?" tanya Tumenggung Singha Wara.
" Sudah Paman, akan tetapi bagi Paman Singha Wara sebaik nya tinggal di Kotaraja Majapahit ini, dan kami persilah kan untuk memilih tempat tinggal yg sesuai dengan keinginan Paman Singha Wara,!" kata Wikala sang Adipati Pamotan.
" Sendika dalem anakmas Adipati,!" jawab Tumenggung singha Wara.
Sesaat kemudian para Lurah prajurit Balasewu masuk ke dalam ruangan istana menghadap dengan membawa sepucuk surat dari Kadipaten yg telah mereka datangi.
Yang pertama menghadap adalah Lurah Sasra Bahu dan Lurah Wiera Tantra.
" Ampun Gusti Adipati, ini surat balasan dari Adipati Matahun,!" ucap Lurah Sasra Bahu yg kemudian maju menyerah kan sepucuk surat dari gulungan lontar itu kepada Wikala sang Adipati Pamotan.
Sang Adipati Pamotan itu kemudian membuka dan membaca sebentar dan menutup nya kembali.
Setelah itu menghadap lah Lurah Trilaya dan Lurah Dipangkara,
" Ampun Gusti Adipati, ini surat balasan dari Adipati Paguhan,!" kata Lurah Trilaya menyerah kan gulungan lontar.
Kembali Sang Adipati Pamotan membaca nya lagi.
Setelah itu kemudian Lurah Ranawa dan Bagatwana yg datang menghadap dan menyerah kan surat balasan dari Adipati Pajang.
Setelah semua selesai membaca surat balasan dari para Adipati itu maka ber katalah Wikala sang Adipati Pamotan,
" Setelah membaca surat balasan dari para Adipati, saya menyimpul kan bahwa mereka setuju Saya yg akan memimpin Majapahit ini, dan mereka juga ber sedia datang kemari untuk me wisuda penobatan nya, dan itu akan di lakukan dalam dua purnama lagi,!" jelas Wikala Sang Adipati Pamotan.
" Untuk itu per siap kan penyambutan mereka, jaga keamanan kota raja Majapahit ini, jangan sampai ada kekacauan lagi di Kotaraja Majapahit ini,!" seru Sang Adipati Pamotan.
" Dan untuk melaksana kan ini sebagai penanggung jawab nya adalah senopati Paman Petala di bantu oleh Tumenggung singha Wara, dan bagi kalian semua yg berada di sini di harap kan dapat membantu, terutama buat kakang Tumenggung Rapada dan Tumenggung Rapala dari Pamotan yg bertugas untuk menyiap kan kebutuhan mereka selama di sini bekerja sama lah dengan Tumenggung Reksadana yg lebih memahami Kotaraja Majapahit ini, jangan sampai para tamu undangan itu ter lantar,!" jelas Wikala sang Adipati Pamotan.
" Sendika dawuh Gusti Adipati,!" jawab ketiga Tumenggung itu.
" Dan buat mu Bor, ada tugas khusus yg harus engkau lakukan, lacak keberadaan dari Mahisa Dara dan keluarga dari Prabhu Suraprabhawa, usaha kan agar mereka bisa di tangkap,!" ter dengar perintah dari Adipati Pamotan itu.
" Baik Gusti Guru, semua perintah Guru akan hamba jalan kan,!" jawab Arya bor-bor.
" Ampun Gusti Adipati, apakah Prabhu gel-gel yg ada di bali tidak di undang datang guna mengikuti proses pelaksanaan wisuda penobatan Gusti Adipati itu,?' tanya Senopati Lembu Petala.
" Oh iya Paman, silah kan mengundang Ramanda Prabhu gel-gel untuk datang kemari dalam acara penobatan nanti,!'' kata Wikala Sang Adipati Pamotan itu.
Setelah semua nya selesai akhir sidang di dalam istana Majapahit itu pun bubar untuk melaksana kan perintah Adipati Pamotan itu.
Beberapa hari kemudian utusan sang Adipati Pamotan yg ke kadipaten Mataram dan Kadipaten Lasem telah kembali dan mendapat kan surat balasan yg berisi kan hal yg sama dengan kadipaten yg lain.
Maka hari terasa cepat berlalu, sampai lah pada saat nya wisuda penobatan Raja Majapahit yg ke dua belas itu.
Saat seluruh Adipati ber kumpul di Kotaraja Majapahit untuk mengikuti pelaksanaan wisuda penobatan dari Bhre Kertabhumi sang Adipati Pamotan untuk menjadi Raja Majapahit yg ke dua belas.
Dengan di bawa oleh dua petinggi ke agamaan yaitu Hindu dan budha maka di nobat kan lah Bhre Kertabhumi itu sebagai Raja Majapahit yg ke dua belas mengganti kan Prabhu Suraprabhawa yg telah mangkat itu.
Gelar abhiseka nya ada lah Shrie Kertabhumi Shrie Maharaja Nagara Wilwatiktapura Janggala Kadiri Sang BRAWIJAYA.
Maka mulai sejak hari itu Sang Adipati Pamotan menjadi Raja Majapahit dengan gelar Prabhu BRAWIJAYA.
Ia adalah pengganti dari Prabhu Suraprabhawa.
Di bawah ke pemimpinan Prabhu BRAWIJAYA Majapahit mampu keluar dari perang saudara yg cukup ber kepanjangan.
Selama ia memerintah , ia membangun beberapa wilayah yg di jadi kan sebagai Kadipaten yg baru di antara nya Tuban dan Penging.
Ia pernah juga mengirim kan armada laut nya untuk membantu daerah gurun dan dompo, sehingga atas keberhasilan nya itu, Raja gurun menyerah kan putri nya masih kecil untuk mengabdi di Kotaraja Majapahit itu.
__ADS_1
Nama nya adalah dewi Wandan kuning.
Suatu saat Prabhu BRAWIJAYA mendapat kan pawisik dari Hyang Widhi wasa bahwa kelak ia akan di kalah kan oleh Putra nya sendiri, sehingga Prabhu Brawijaya ter paksa melakukan beberapa keputusan yg sangat kurang wajar diantara nya, mengirim kan pangeran Arya wiradamar yg telah dewasa itu menjadi Adipati di Palembang.
Ketika suatu saat ada pedagang dari Tiongkok yg membawa barang dagangan serta putri nya dan meminta izin kepada Sang Prabhu Brawijaya untuk ber dagang di tanah Majapahit itu, saudagar dari Tiongkok yg ber nama Tan Go Hwat dan putri nya Tan kian meng, menghadap sang Prabhu, maka Prabhu Brawijaya pun ter pesona dengan kecanti kan dari putri Tan kian meng yg merupakan keponakan dari saudagar Tan Bun Heong itu.
Akhir nya Prabhu Brawijaya melamar dan menikahi putri Tan Kian Meng, namun sayang Permaisuri Dwarawati tidak senang dengan kehadiran putri Tiongkok itu dan Akhir nya meminta Prabhu Brawijaya untuk mencerai kan nya.
Akan tetapi sebelum Putri Tan Kian Meng di serah kan kepada Arya Wiradamar yg berada di Palembang sebagai Putri Triman.
Putri Tan Kian Meng yg ber gelar Siu Ban chi itu meminta sesuatu yg berharga dari Prabhu Brawijaya yaitu cincin Kalademit, akhir nya Prabhu Brawijaya memberi kan cincin Kala demit itu kepada Putri Tan Kian Meng.
Akhir nya Putri dari Tiongkok yg beragama islam itu di beri kan kepada Arya Wiradamar di Palembang dalam keadaan hamil besar.
Setelah melahir kan seorang putra dari Prabhu Brawijaya yg di beri nama raden jin bun atau Raden patah yg kelak datang ke Majapahit untuk menghadap Ramanda nya dan meminta tempat untuk ber mukim dengan adik nya Raden husen.
Oleh Prabhu Brawijaya di serah kan lah alas Bintara kepada Raden patah dan daerah Tempuran atau terung untuk Raden kusen.
Raden kusen kelak di kenal sebagai Adipati terung dan Raden patah sebagai Adipati demak karena alas Bintara di ubah Raden patah menjadi kota yg besar dan menjadi sebuah kadipaten.
Sedang kan Ratu ayu Ratna Pembayun dan suami nya di beri kan daerah Pengging sebagai wilayah kekuasaan nya.
Sementara itu Mahisa Dara berhasil minta per lindungan kepada Adipati Daha , dan kelak di angkat sebagai Mahapatih karena ilmu nya yg mampu menaklukan orang sehingga Adipati Daha di buat sebagai pelaksana saja sedang kan yg mengambil keputusan adalah Mahisa Dara.
Atas hasutan nya , kelak Adipati Demak Bintara menyerang Kotaraja Majapahit, dan berhasil mengalah kan pasukan Majapahit.
TAMMAT
foot note,
Ini lah daftar negara bawahan Majapahit/negara Vatsal/ Kadipaten,
Sebelum Shri Maharaja Kertabhumi berkuasa,
Kadipaten Kahuripan, di Surabaya sekitar nya.
Kadipaten Pamotan/Blambangan, di Banyuwangi dan sekitar nya.
Kadipaten Tumapel di Malang bagian utara, atau di kecamatan Singosari sekitar nya.
Kadipaten Daha, di Kota Kediri dan sekitar nya
Kadipaten Paguhan, di kota Blitar dan sekitar nya.
Kadipaten Pandan Alas, di kota Madiun dan sekitar nya,
Kadipaten Wengker, di kota Ponorogo dan sekitar nya.
Kadipaten Matahun, di Kota Bojonegoro, dan sekitar nya
Kadipaten Lasem, di Kota Lasem, dan sekitar nya.
Kadipaten Pajang, di Kota Surakarta dan sekitar nya.
__ADS_1
Kadipaten Mataram, di kota Yogyakarta , dan sekitar nya.
Kadipaten Pawanuan, di Kota Tulung agung , dan sekitar nya ( menurut author, berdasar kan kata pemberian dari nama kadipaten itu, di sini Adalah pemberian Prabhu Airlangga kepada ratu Dyah tulodong, karena Prabhu Airlangga berhasil mengalah kan Sang Ratu akan tetapi mengembalikan istana nya kembali kepada sang ratu, oleh Prabhu Airlangga,)
Kadipaten Pawanuan menurut para sejarawan memang ada akan tetapi tidak di ketahui keberadaan nya.
Itulah 13 Kadipaten yg ada di wilayah kerajaan Majapahit.
Berikut daftar penguasa Majapahit / Raja yg pernah menerintah negeri Wilwatikta itu.
Prabhu Dyah Wijaya/ Raden Wijaya.
Prabhu Jayanegara/ Raden Kalagemet.
Prabhu Shrie Ratu Tribhuana Tunggadewi/ Dyah Gitarja.
Prabhu Hayam Wuruk.
Prabhu Shrie Ratu Kusumawardhani.
Prabhu Wikramawardhana/ raden Gagak Sali
Prabhu Shrie Suhita/ Kencana Wungu.
Prabhu Kertawijaya
Prabhu Rajasawardhana/ Dyah Wijaya Kumara.
Prabhu Bhatara Purwawisesa/ Dyah Samara Wijaya.
Prabhu Suraprabhawa/ Dyah Surya Wikrama.
Prabhu Brawijaya/ Dyah Kertabhumi.
Demikian lah , menurut dari beberapa sumber yg di dapat oleh author.
Sebelum nya di sini author mohon maaf kepada seluruh keturunan dari Trah Majapahit, tidak ada maksud untuk , merendah kan ter lebih menghina kan jika penulisan novel Bara diatas tanah Majapahit ada menyinggung sebelum nya mohon lah di maaf kan.
Semata-mata di saji kan sebagai hiburan, karena author sendiri amat terkesan dan mengidola kan dengan Prabhu Brawijaya yg tidak ada sejarah nya, sementara nama nya menggaung di seantero nusantara.
Sekali lagi jika ada penulisan novel ada menyinggung mohon lah di maaf kan.🙏
__ADS_1