BARA Di Atas Tanah MAJAPAHIT Dalam Episode 2: Satria Dari DAHA

BARA Di Atas Tanah MAJAPAHIT Dalam Episode 2: Satria Dari DAHA
episode 11: Saat KELUD pun Murka bagian keenam.


__ADS_3

" Ternyata Satria dari Daha itu banyak mulutnya,!" teriak Senopati Kebo Ndaru.


" Lumayan banyak mulutnya daripada junjungan mu banyak Maunya,,!" jawab Wikala.


" Hehh, apakah engkau Kebo Gila tidak mengenal Aku?" tanya Arya bor bor kepada Senopati Kebo Ndaru.


Lama Kebo Ndaru memperhatikan wajah Arya bor bor, seraya ia berkata,


" Haahh, Hantu Kali Mayit,!" seru Senopati Kebo Ndaru.


" Bagus engkau masih mengenalku,!" kata Arya bor bor.


" Memang nya siapa Hantu Kali Mayit itu , paman,?" tanya Mahisa dara kepada Senopati Kebo Ndaru


" Seorang begal yg berada di kaki gunung Lawu, tepat nya di Kali Mayit, dulu cukup menakutkan di kawasan ini,!" ucap Senopati Kebo Ndaru.


" Baru seorang begal saja, lagaknya sudah selangit,!" tutur Mahisa Dara.


" Jangan salah Dara, yg mengalahkan Pamanmu Rumangsa sewaktu mencegat rombongan dari Ratu Pamotan kala itu adalah orang ini,!" jelas Senopati Kebo Ndaru.


" Hahh, benar kah itu, paman ,?" tanya Mahisa Dara tidak percaya.


" Ya, kan kau yg memberi berita bahwa Satria dari daha tidak ikut pulang dengan rombongan karena ia akan berangkat ke tiongkok, sehingga banyak murid paman Thula yg tewas di tangannya akibat engkau salah memberi berita yg benar,!" kembali Kebo Ndaru berkata.


Mahisa Dara terdiam mendengar penuturan dari adik Patih Kebo Mundira itu.


Sedangkan Wikala bertanya dengan pelan kepada Arya bor bor,


" Bor, diantara kita ini siapa yg terlemah, mengingat musuh di depan kita cukup banyak,?" tanyanya kepada Arya bor bor.


" Menurut ku, Rangga Jumena, karena waktu di alas Raung ia sempat terluka oleh murid Mpu Thula, kala itu,!" jawab Arya bor-bor.


Mendengar hal itu, Wikala memanggil Rangga Jumena dekat kepada nya.


" Ki Rangga, bukan nya aku tidak mempercayai kemampuan mu, namun karena musuh terlalu banyak, maka engkau pakai lah cincin ku ini, cincin Kalademit, Jangan sampai lepas , pertahankan tetap di jari mu,!" ucap Wikala seraya memberikan cincin Kalademit kepada Rangga Jumena.


" Baiklah , adalah tugas mu Bor, untuk mengurangi jumlah mereka, sebisa mungkin saat benturan pertama engkau harus meroboh kan lima orang sekaligus,!" Perintah Wikala kepada Arya bor bor.


" Siap guru, sudah lama golok ku ini tidak meminum darah,!" balas Arya bor bor dengan mengeluarkan Golok nya besar dari pinggangnya.


" Upayakan jangan terlalu jauh, tetap dalam kesatuan,!" terdengarlah suara Wikala berseru kepada para pengawal nya.

__ADS_1


Kemudian pasukan pandan alas yg di pimpin oleh Senopati Kebo Ndaru terlihat bergerak mengepung rombongan Wikala.


Dengan sebuah isyarat dari Senopati Kebo Ndaru maka pasukan itu pun mulai menyerang,


" Heaaahh, menyerah lah kau Adipati Pamotan agar aku mudah menebas batang lehermu ,!" teriak Senopati Kebo Ndaru yg langsung menrjang Wikala .


Wikala yg masih duduk di atas Kuda nya segera menggerakkan kudanya menghindari serangan itu. Sambil menjawab, " Lebih baik kau urungkan niatmu sebelum kemarahan ku memuncak, jangan kau pikir aku gentar dengan jumlah mu yg banyak itu."


Sementara empat puluh orang prajurit pandan alas segera menyerang Arya bor bor, Tumenggung Rapala, Rapada , Rangga Jumena dan Rangga Jumena.


Tekanan empat puluh prajurit itu memang sangat berat untuk di hadapi oleh kelima pengawal Wikala tersebut.


Namun sesuai Perintah Junjungan nya, Arya bor bor yg memiliki banyak kelebihan terutama tenaga wadagnya yg cukup besar itu segera menghajar para prajurit Pandan alas itu.


Sekali berkelebat goloknya segera menumbangkan para pengepungnya, lima orang langsung terjungkal roboh.


Setelah mendapatkan arahan dari Wikala memang kemampuan dsri Hantu Kali Mayit ini sangat-sangat tinggi, tubuhnya yg besar itu dengan enteng nya mampu bergerak cepat di antara kerumunan prajurit pandan alas itu, bahkan suatu saat ia memamerkan ilmu peringan tubuh nya dengan bergerak melayang di atas kepala para prajurit Pandan alas sambil menebaskan goloknya itu dan mampu kembali duduk di atas Kuda nya.


" Memang kemajuan ilmu silat mu sudah sangat tinggi," kata Wikala di dalam hatinya melihat tandang dari Arya bor bor itu.,telah delapan orang prajurit jadi korban nya.


Namun Wikala tidak dapat terlalu lama melihat dari sepak terjang murid nya itu, ia kemudian di keroyok oleh empat orang pemimpin dari pasukan pandan alas itu.


Keempat orang itu seperti nya sudah terbiasa bertarung berpasangan sehingga mereka dapat silih berganti menyerang Satria dari daha itu.


Namun dari awal pertarungan Wikala sudah melapisi tubuh nya dengan ajian mega mendung, mengingat cincin Kalademit telah di pinjamkan kepada Rangga Jumena.


Jadi senjata dari lawan-lawan nya tidak berarti apa-apa. Wikala tetap memantau keseluruhan jalan nya pertempuran.


Bahkan ia Masih sempat Tumenggung Rapala dan Rapada yg bertarung berpasangan mampu merobohkan dua orang pengepungnya.Kedua kakak seperguruan dari Naja Pratanu itu memang mewarisi ilmu dari Resi Begawan mahameru. Sehingga mereka memang layak diandalkan.


Sedang kan Senopati Kebo ndaru yg melihat para prajurit nya banyak yg gugur segera memerintahkan supaya mereka menarik lawan hingga tidak dalam satu Kesatuan.


Rupanya siasat itu berhasil, sehingga terjadi beberapa lingakaran pertempuran.


Di satu sisi hampir sepuluh orang yg mengeroyok dua orang Tumenggung yg mengawal Wikala itu, sedang kan di sisi lain Rangga Jumena dan Rangga Rawelu yg di kerubuti delapan orang, lain halnya dengan Arya bor bor, ia di keroyok oleh sepuluh orang prajurit Pandan alas dengan berusaha saling mengisi untuk melemahkan abdi dari Wikala itu.


Di sela- sela pertempuran itu Wikala memberikan arahan supaya tetap dalam satu Kesatuan jangan terpisah, namun tampaknya prajurit Pandan alas tidak memberikan ruang untuk kelima pengawal Wikala itu dapat bertempur saling bantu membantu.


Yang terdesak adalah lingakaran pertempuran yg diisi oleh Rangga Rawelu dan Jumena, karena lawan yg di hadapi mereka adalah para prajurit setingkat dengan mereka maka dua orang Rangga dari Pamotan itu nampak sudah terdesak, beberapa kali senjata dari lawan berhasil menyentuh tubuh Rangga Jumena, namun aneh nya tubuh Sang Rangga tidak terluka, berbeda dengan Rangga Rawelu nampak pundaknya telah mengucurkan darah. Melihat kenyataan bahwa ia kebal akhirnya Rangga Jumena bertarung dengan trengginas melibat lawan-lawan nya guna mengurangi tekanan terhadap Rangga Rawelu itu.


Walhasil dalam lingakaran pertempuran itu prajurit Pandan alas harus memusarkan perhatian nya kepada Rangga Jumena yg tidak mempan senjata itu.

__ADS_1


Lain halnya dengan Arya bor bor, walaupun menghadapi para prajurit Pandan alas dengan taktik pukul dan lari kemudian di gantikan kawan nya lain tidak membuat Hantu Kali Mayit itu kewalahan , ia mendapatkan pemikiran untuk menghabisi lawan yg paling lemah, sehingga satu persatu pengeroyok dari Hantu Kali Mayit itu berguguran.


Setelah melihat keadaan pengawal nya dalam kondisi masih mampu memberikan perlawanan yg berarti, maka Wikala pun memusatkan perhatian nya terhadap ke empat lawan nya itu yg menyerang saling mengisi.


Suatu Ketika serangan dari Tumenggung Surattanu di hindari Wikala dengan melentingkan tubuhnya ke atas dan tiba-tiba tubuh itu meluruk cepat ke arah Senopati Kebo Ndaru dan langsung memberikan tendangan, sontak saja adik seperguruan dari Patih Kebo Mundira itu menghindar namun masih kalah cepat dari gerak Wikala sehingga satu tendangan berhasil mendarat di tubuh Senopati Pandan alas itu, dan melemparkan nya jatuh sejauh dua tombak .


Melihat teman nya terjatuh dan tidak ingin mendapatkan serangan lagi, maka Tumenggung Kebo Gilang segera menerjang Wikala yg baru mendarat di tanah, kembali tubuhnya melentng ke udara untuk menghindari serangan itu dan memberikan serangan balasan kepada Tumenggung Surattanu yg tidak menyadari akan serangan itu, Tumenggung itu berpikir Wikala akan mencari tempat yg aman untuk mendarat ternyata malah menyerang ke arah nya, terpaksa Tumenggung Pandan alas itu berupaya menghindar dari garis serang Wikala dan ia berhasil, sementara Wikala tidak memburu Tumenggung itu.


Melihat keadaan yg tidak menguntungkan mereka, Mahisa dari melompat menjauh dan ia mulai merapal ajian Ngerogoh sukma yg di dapatnya dari Ki Jabang wingit dari alas Roban.


Terlihat tubuh Mahisa dara berubah menjadi lima orang dan langsung menyerang Wikala dengan bersamaan,


Mendapatkan lawan menjadi delapan orang , Wikala meningkat ilmu mega mendung nya pada tataran terakhir untuk melindungi nya dari banyak nya musuh yg di hadapi.


Ia pun paham dengan ilmu yg di keluar kan dari Mahisa Dara itu, karena selain bisa membelah menjadi , Ngerogoh sukma bisa juga mempengaruhi jalan pikiran lawan, maka dengan cepat Wikala menyerang tubuh asli dari Mahisa Dara tersebut, namun usaha ini di halangi oleh Senopati Kebo Ndaru yg telah berhasil bangkit kembali, dengan lantang ia berteriak, " Ajian Waringin sungsang,!" seberkas sirna kebiruan menerpa tubuh Wikala yg tengah melayang mendekati Mahisa Dara, tampak tubuh yg terbalut kabut itu terpental cukup jauh.


Namun sebelum tubuh itu jatuh ke tanah serta merta mampu melesat kembali mendekati Senopati Kebo Ndaru yg dalam posisi bersedekap lantaran mengeluarkan ajian Waringin sungsang miliknya itu. Hati Senopati Kebo Ndaru terasa tersengat melihat lawan tidak mempan oleh ajian kebanggaan nya itu, dan inilah penyebab kelengahan nya.


Ia tidak menyangka Wikala mampu menahan ajian Waringin sungsang kebanggaan nya itu dan ketika serangan dari lawan menghantam nya ia dalam posisi terpaku,


Sebuah teriakan dari arah atas, tepatnya dari Wikala yg masih melayang itu, " Ajian Kalamawa,"


Dan cahaya merah membara menghantam tubuh dari Senopati Kebo Ndaru yg masih nampak melongo, andai kan ia tidak terlalu gegabah mungkin nasibnya tidak akan senaas itu harus terpanggang ajian kalamawa hingga gosong hangus terbakar, kalau saja ia memapasi serangan Wikala dengan ajian Waringin sungsang miliknya tentu nasib nya tidak se tragis itu. Bau sangit tercium dari tubuh yg telah hangus terbakar itu.


Melihat kejadian yg begitu cepatnya, dua orang Tumenggung yaitu Tumenggung Surattanu dan Kebo Gilang sampai melongo. Dan tersadar ketika Wikala membentaknya, " Masih menginginkan Kepala ku,?" tanyanya kepada kedua Tumenggung itu.


Kedua Tumenggung Pandan alas itu saling berpandangan, dan berkata, " Kami berdua menjalankan perintah yg di berikan oleh junjungan kami, nyawa kami taruhannya,!" kata keduanya menyiapkan ilmu masing-masing.


" Bagus aku menyukai prajurit yg setia pada junjungan nya, dan terima lah ajian kalamawa ini, Heaaahh,!" teriak Wikala sambil membuka kedua telapak tangan nya yg satu mengarah kepada Tumenggung Surattanu dan satu lagi ke arah Tumenggung Kebo Gilang.


Kedua Tumenggung itu sampai terpelanting lima tombak dan jatuh tertelungkup.


Ketika Wikala mengedarkan pandangannya, dilihat pertempuran telah usai dengan larinya lima orang prajurit yg tersisa.


Dan ketika ia melihat ke arah Mahisa Dara ternyata putra dari Rakryan Mantri Kuda Langhi itu telah tidak ada di tempat nya .


Lebih dari tiga puluh orang prajurit pandan alas yg telah menjadi mayat ditambah tiga pemimpin nya.


Ara-ara di daerah perbatasan itu jadi saksi bisu atas kematian dari para prajurit tersebut, atas ke tamakan seorang pemimpin nya yg ingin berkuasa walaupun harus mengorbankan nyawa orang lain-


-------------.....'''''--------------

__ADS_1


__ADS_2