BARA Di Atas Tanah MAJAPAHIT Dalam Episode 2: Satria Dari DAHA

BARA Di Atas Tanah MAJAPAHIT Dalam Episode 2: Satria Dari DAHA
episode 9 : ISTANA tanpa MAHKOTA bagian kedelapan.


__ADS_3

Ki lurah Waringka sendiri yg datang ke rumah Rakryan Mantri wreda Kuda Langhi segera melaporkan hasil pekerjaannya kepada junjungan nya itu.


" Semua tugas yg di embankan kepadaku telah kulaksanakan Ki Mantri, !" ucap Lurah waringka.


" Bagus, segera lah bersiap dengan Tumenggung Jalakpati , besok malam kita akan merobah sejarah Majapahit,!" ucap Rakryan Mantri Kuda Langhi dengan percaya diri.


" Tetapi Ki Wingit belum tiba Ki Mantri,!" ucap Lurah waringka lagi.


" Heh, tenang saja ki Lurah, Ki Jabang wingit telah sampai, ia sekarang di halaman belakang sedang bersemadi, guna menyiapkan segala sesuatunya,!" ujar Mantri Kuda Langhi.


Kembali Lurah waringka terperangah, akan kehadiran Ki Jabang wingit yg tetap mendahuluinya tiba Majapahit.


" Baiklah Ki Mantri, aku akan kembali , !" ucap Lurah waringka yg tetap terkejut atas kehadiran Ki Jabang wingit.


" Silahkan, dan beritahu kepada Tumenggung Jalakpati dan Jaladara serta Jaran Abang, bahwa Lintang kemukus telah jatuh!" ujar Sang Mantri Kuda Langhi dalam bahasa Sandi.


" Dan diharapkan kita semua dapat mengambil nya,!" lanjutnya lagi.


" Baik, kami siap membantu Rakryan Mantri,!" jawab Lurah waringka.


Kemudian Lurah kepercayaan dari Rakryan Mantri wreda Kuda Langhi itu keluar dari dalam rumah Sang Mantri tersebut.


Kemudian Rakryan Mantri Kuda Langhi melangkahkan kakinya ke belakang rumahnya dan menemui Ki Jabang wingit, yg telah selesai dengan semadinya.


Berkatalah Rakryan Mantri Kuda Langhi kepada Ki Jabang wingit,


" Bagaimana dengan hasil tirakat ki Wingit,?" tanya Rakryan Mantri Kuda Langhi.


" Nampaknya agak sulit Ki,!" jawab Jabang wingit yg nampak sudah sangat sepuh dan penampilan yg agak menyeramkan itu.


" Sulit bagaimana,?" tanya Mantri Kuda Langhi lagi.


" Nampaknya ada pagar Ghaib di dalam istana ini,!" ujar Ki Wingit lagi.


" Hehh, bagaimana mungkin,?" tanya Rakryan Mantri Kuda Langhi lagi.


" Entahlah , sepertinya mereka telah bersiap dari serangan ku,!" jawab Ki Jabang wingit lagi.


" Apa tidak bisa di tembus Ki,?" tanya Rakryan Mantri Kuda Langhi lagi.


" Bisa akan tetapi kita memerlukan tumbal yg agak sulit di cari ,!" jawab Ki Jabang wingit.


" Apa syaratnya itu ,?" tanya Rakryan Mantri wreda Kuda Langhi penasaran.


" Darah orok laki-laki yg berusia belum satu purnama dan lahir pada hari kliwon ,!" jawab Ki Jabang wingit .


" Sangat sulit , mana waktunya tinggal besok,!" ucap Rakryan Mantri Kuda Langhi.


" Tetapi Ki Mantri bisa memerintah kan para prajurit mencari nya di dusun-dusun di luar istana pada hari ini,!" perintah Ki Jabang wingit kepada sang Mantri.


" Baiklah nanti kusuruh mereka untuk mencarinya di luar istana, !" jawab Rakryan Mantri.

__ADS_1


Sementara itu rombongan Wikala telah mendekati ibukota kerajaan Majapahit, tiba di sebuah dusun yg agak sepi, rombongan itu berhenti.


Rupanya di dusun itu para prajurit yg dikirim oleh Rakryan Mantri wreda Kuda Langhi untuk mencari orok laki-laki pun telah tiba disitu.


Malam itu mereka mendatangi rumah-rumah yg baru memiliki bayi, dan merampasnya dari orangtua nya.


Terdengar jeritan seorang ibu dari ujung dusun yg sampai ke telinga rombongan Wikala, dengan cepat Wikala memerintah kan para prajurit bersiaga dan ia bersama arya bor bor segera melesat kearah suara jeritan tersebut, sesampainya di tempat kejadian terlihat sepuluh orang berpakaian hitam-hitam salah seorang dari mereka menggendong seorang bayi.


Sementara Arya bor bor mendatangi rumah itu, sedangkan Wikala segera menghentikan langkah ke sepuluh orang penculik bayi itu.


" Hehh, berhenti kalian, !" ucap Wikala dengan aji segara macan nya.


Sontak saja ke sepuluh orang itu langsung berhenti. Mereka terdiam sesaat , namun begitu terlepas dari pengaruh ilmu segara macan nya Wikala, ke sepuluh orang itu langsung menyerang Wikala,


" Hiyaaaat, segera habisi orang yg tidak tahu diri itu,!" ucap pemimpin nya.


Mereka menyerang serentak dengan pedang terhunus, di malam gelap itu terjadi pertempuran di jalan desa menuju Kotaraja Majapahit.


Sedangkan Arya bor bor yg sampai di rumah tempat kejadian segera bertanya,


" Ada apa, nyi, apa yg terjadi,?" tanyanya pada yg empunya rumah.


"I...tu, anakku di culik,!" katanya tergagap .


Segera Arya bor bor ke tempat pertarungan dan dilihatnya , kawanan penculik itu telah duduk dalam posisi tertotok.


" Bagaimana guru, siapa mereka,?" tanyanya pada Wikala.


" Baik guru,!" jawab Arya bor bor seraya mengambil bayi tersebut dari gendong an Wikala.


" Nyi, inikan anakmu,?" tanya Arya bor bor kepada perempuan itu.


" Benar tuan, ia adalah putraku, terimakasih banyak,!" ucapnya sambil mengambil bayi yg ada di pangkuan arya bor bor.


Kemudian Wikala memanggil Bekel Rangga Jumena untuk memastikan siapa sesungguhnya kawanan penculik itu.


Setelah di saksikan oleh Rangga Jumena, dan seluruh pakaian luar mereka di lucuti terlihatlah bahwa mereka para prajurit Majapahit.


" Mereka adalah prajurit Majapahit dari Kesatuan Pasukan Bhayangkara,!" ucap Rangga Jumena yg mengenali tanda keprajuritan itu.


Wikala dan Arya bor bor terkejut,


" Bagaimana mungkin pasukan Bhayangkara jadi penculik bayi,?" tanya Wikala kepada Rangga Jumena.


" Entahlah,!" jawab Rangga Jumena mengangkat bahunya


Wikala melepaskan totokannya pada salah seorang prajurit itu. Dan kemudian bertanya,


" Siapa yg menyuruh kalian untuk menculik bayi,?" tanya nya pada prajurit itu.


Prajurit tersebut diam seribu bahasa. Wikala paham bahwa pasukan Bhayangkara adalah pasukan elit yg tidak mudah di korek keterangan dari mereka segera memberikan tototkan pada syaraf ketawanya, hingga membuat prajurit tersebut sampai terpingkal-pingkal tertawa, setelah agak lama, barulah totokan itu di lepaskan dan kembali Wikala bertanya,

__ADS_1


" Siapa yg menyuruh kalian, jangan membuat habis kesabaranku, ?" tanya Wikala sambil membentak.


Prajurit yg telah lelah akibat tertawa itu pun menjawab, karena sudah mengkeret nyali nya, takut ia harus tertawa lagi tanpa diingininya,


" Kami di perintah kan Bekel Jaran Abang,!" ucapnya.


" Untuk apa kalian menculik seorang bayi,,?" tanya Wikala lagi.


Prajurit itu menggeleng ,. dan menjawab,


" Kami tidak tahu untuk apa bayi itu, yg jelas hari ini kami harus membawa seorang bayi, !" ucap prajurit itu.


Wikala kemudian mengirimkan utusan ke kotaraja Majapahit , tentang keberadaan pasukan Bhayangkara yg ada di dusun itu, dan mereka melakukan penculikan seorang bayi, demikian lah seorang prajurit Pamotan segera mendahului ke kotaraja guna menghadap Patih Gajah Nata,


Sesampainya prajurit Pamotan di istana kepatihan membuat geger penghuni istana tersebut atas laporan yg di berikan oleh utusan Pamotan tersebut.


Maka Patih Gajah Nata mengirimkan pasukan nya untuk membawa prajurit Bhayangkara tersebut dan memasukkan mereka ke dalam bilik Tahanan.


Sedangkan rombongan Wikala beserta Ibunda Ratu dan Ratu Pamotan segera masuk kedalam istana, Tempat Sang Prabhu Rajasawardhana dulu bersinggasana, para rombongan langsung beristrahat di dalam istana.


Lain halnya dengan Rakryan Mantri Kuda Langhi yg telah mengetahui bahwa prajurit Bhayangkara yg di kirim untuk menculik bayi telah tertangkap, maka ia segera mematangkan rencananya mengkudeta Patih Gajah Nata dari kepemimpinan sementara Majapahit.


Siang menjelang sore itu kesibukan terjadi di kediaman Rakryan Mantri Kuda Langhi , nampak hadir di situ , Rumangsa dan komplotannya, Jaran abang, Tumenggung Jalakpati dan Jaladara, serta ki Jabang Wingit.


" Hari ini kita bagi tugas, !" ucap Rakryan Mantri Kuda Langhi.


" Karena rencana pertama kita gagal, maka kita akan menjalankan rencana kedua, yaitu, Rumangsa langsung masuk ke dalam kepatihan untuk menghabisi si Gajah Nata itu, sedangkan Tumenggung Jalakpati dan Jaladara beserta pasukan nya bersiap di luar kepatihan apabila Rumangsa gagal, maka tugas kalian membumi hanguskan istana kepatihan itu,!" ucap dari Rakryan Mantri yg kemudian terdiam, namun kemudian ia melanjutkan bicara nya,


" Untuk Jaran abang dan pasukan ya di harapkan mampu menguasai istana, dan untuk Ki Jabang Wingit yg kali ini tidak berhasil dalam tenungnya di harapkan mampu menahan dari menantu Sang Prabhu tersebut, aku sangat berharap Ki Wingit bisa membunuh nya apapun caranya, !" kata Rakryan Mantri.


" Setelah kita berhasil menguasai istana dan istana kepatihan, maka siapa saja yg tidak tunduk pada kita, habisi saja, " demikian lah perintah Kuda Langhi.


Semua yg mendengarnya segera bergerak sesuai dengan perintah dari Rakryan Mantri Kuda Langhi tersebut.


Di dalam kepatihan sendiri , Patih Gajah Nata pun telah siap perang terbuka dengan Rakryan Mantri Kuda, segera menyusun siasat,


" Buat Bekel Lembu petala dengan sisa pasukan Bhayangkara yg sedikit itu, segera mengawal istana di tambah pasukan dari Tumenggung Singha wara, sedangkan Tumenggung Reksa sudira dan Tumenggung Wirana berada disini bersama Bekel Pratanu, pasukan Tumenggung Wirana di harapkan jadi pasukan pemukul dari belakang bila pasukan dari Tumenggung Jalakpati dan Jaladara sampai di sini, " jelas Patih Gajah Nata.


Kemudian sesuai perintah dari Patih Gajah Nata, maka bergerak lah pasukan. Lembu Petala dan Singha wara ke istana, guna menjaga ibunda Ratu, yg kemungkinan akan di jadikan sasaran pembunuhan.


Sementara sebagian kecil pasukan yg di pimpin oleh Tumenggung Reksa sudira dan Tumenggung Wirana berada di dalam kepatihan, sedangkan pasukan yg besar di luar kepatihan guna memukul pasukan yg akan menyerang itu.


Setelah malam menjelang , nampak bergerak sebelas orang , kearah istana kepatihan, dan kemudian diikuti sepasukan besar yg di pimpin oleh dua Tumenggung yaitu Jalakpati dan Jaladara , pasukan ini terdiri dari pasukan sandiyuda Majapahit yg terkenal dengan kemampuan bertempur secara sendiri- sendiri.


Sementara Jaran abang dengan sebagian besar pasukan Bhayangkara menuju istana Majapahit, mereka akan menyasar Rombongan dari Pamotan.


Di dalam istana sendiri , Wikala telah berpesan kepada Arya bor bor untuk menangkap Rakryan Mantri Kuda Langhi hidup atau mati , sedangkan Lembu Petala yg senang bertemu kembali dengan Wikala secara Pribadi meminta Bekel Bhayangkara saat ini yaitu Jaran abang untuk menjadi lawannya. Oleh Wikala di izinkan , tugas untuk menangkap Jaran abang di serahkan kepada Lembu Petala.


Nampak perang di dalam Keraton Majapahit itu tidak akan dapat di elakkan lagi.


---------

__ADS_1


__ADS_2