
Pasukan Tiongkok malam itu, kembali membicarakan tentang kemenangan di raih siang tadi, mereka juga menyiapkan rencana jika mongol menyerang lagi.
" Kira- kira esok hari mereka menyerang lagi,?" tanya Jenderal Yun Cai membuka pembicaraan.
" Kemungkinan itu ada , tetapi bisa jadi mereka tidak akan menyerang lagi, karena kekalahan hari ini, !" ucap Jenderal Yu Qian.
" Apa sebaiknya kita lakukan bila mereka menyerang kembali,?" tanya Jenderal Shi Jing.
" Kita dengan seluruh kekuatan yg ada akan menahan mereka, bila perlu kita habisi sekalian,!" kata Wang li.
" Sebaiknya Jenderal Yu mengirimkan mata- mata untuk melihat keadaan pasukan mongol itu!" pinta Wikala kepada Jenderal Yu.
" Pemikiran yg baik Taihiap Wikala,!" kata Jenderal Yu Qian,
segera ia mengirimkan dua orang prajurit untuk melihat keadaan pasukan mongol.
Sembari menanti prajurit itu kembali, para petinggi Tiongkok masih mengadakan pertemuan.
Berbincang tentang kemenangan hari ini, kemenangan yg terbesar selama lima hari peperangan dengan bangsa mongol, yg menelan korban terbanyak dari mongol , ribuan tentara mongol menemui ajalnya hari itu.
Saat malam semakin larut, datanglah prajurit yg dikirim Jenderal Yu Qian melaporkan pengintaian mereka bahwa tentara mongol kelihatan nya akan kembali ke kota Datong tempat mereka membuat basis pertahanan sejak menyerang Tiongkok, dengan di tandai mereka membongkar kemah-kemah mereka .
Mendengar hal tersebut, Jenderal Yu Qian terlihat girang, ia berkata,
" Berkat Taihiap Wikala yg berhasil menewaskan Jenderal Ganbataar, akhirnya mongol mengakui kekuatan kita "
" Ahh, Jenderal Yu terlalu membesar-besarkan, " ucap Wikala lagi,
" Ini adalah kemenangan kita semua termasuk Jenderal Shi Jing, Jenderal Shi Heng, Menteri You, menteri Lin laksamana He dan yg lainnya, pokoknya ini adalah kemenangan kita bersama, " jelas Wikala.
" Akan tetapi jiwa pasukan mongol ada pada Jenderal Ganbataar, karena mampu menaklukan beberapa wilayah diutara dan juga pada kejadian di Tumu" jelas Jenderal Yu Qian lagi.
Malam itu Wikala banjir pujian dari pemimpin Tiongkok.
Pagi harinya prajurit jaga yg berada di atas Chenglow melihat iring-iringan pasukan mongol yg bergerak kembali kearah utara dan meninggalkan perkemahan mereka.
Prajurit itu memberikan isyarat untuk memanggil pemimpin tertinggi pasukan Tiongkok, yaitu Jenderal Yu Qian untuk naik keatas.
Jenderal Yu Qian dan Wikala kemudian naik ke atas Chenglow dan melihat pemandangan iring-iringan pasukan mongol yg bergerak mundur dari tempat mereka berkemah.
" Saya kira , kaisar Essen Khan tidak sanggup melanjutkan peperangan akibat kehilangan dua Jenderal terbaiknya, dan terluka nya Jenderal Ganzorig dan Turgen,!" kata Jenderal Yu Qian pada Wikala.
" Kemungkinan itu bisa terjadi , tetapi menurut saya , Kaisar Essen Khan akan menghitung kembali untung ruginya menyerang kembali, dan memusatkan kembali seluruh pasukan nya di tempat yg lebih aman,!" kata Wikala.
" Bisa jadi Taihiap Wikala,!" kata Jenderal Yu Qian.
Sampai siang mereka berada di atas Tembok melihat segala kemungkinan yg bisa terjadi.
Sedangkan pasukan mongol atas perintah Kaisar Essen Khan mundur dan kembali ke kota Datong.
__ADS_1
Pasukan Tiongkok tetap bersiaga dengan segala kemungkinan, dengan mengirimkan prajuritya untuk mengetahui keadaan pasukan mongol yg mundur itu.
Setelah tiga hari diyakinilah bahwa Mongol memang tidak lagi menyerang Beijing. Maka Kaisar Jingtai mengadakan sidang di istana kekaisaran,
" Terimakasih atas perjuangan kalian semua, termasuk saudara saya dari Majapahit , jasa kalian berdua amat besar buat negeri kami ini,!" kata Kaisar Jingtai.
" Dan kepada Jenderal Yu Qian , saya memberikan penghargaan yg setinggi-tingginya atas keberhasilannya mempertahankan ibu kota dari serangan mongol, jasa mu amat besar buat negeri ini,!" lanjut kaisar Jingtai.
Berturut-turut Kaisar Jingtai menyebutkan pemimpin Pasukan Tiongkok, mulai dari Jenderal Yun Cai, Menteri Lin tung tze, Menteri You Zhen, Jenderal Lee kwan Er, Laksamana he , Jenderal Shi Jing dan Shi Heng, Wang li, dan gelar anumerta kepada Laksamana Lim. Dan seluruh para Prajurit yg masih hidup dan yg telah tewas, juga rakyat tiongkok terutama yg berada di Beijing , Tidak ketinggalan dari Kalangan KangOuw, seperti Pendekar Xia yg mampu menewaskan Jenderal Och bersama Jenderal Shi Jing, juga Pendekar Lin yg telah memberikan bantuan pelatihan di Tianjin pada para wanita , hingga dapat membantu prajurit dari Kalangan rakyat biasa.
Bagi Wikala dan Lembu Petala oleh Kaisar Jingtai, di berikan gelar bangsawan kehormatan di kekaisaran Tiongkok, bahkan mereka di tempatkan di dalam istana dengan diberi berbagai pelayanan dari tempat tinggal dan pelayan, bagi Wikala di beri pelayan muda seorang perempuan muda bernama Chiu shu Chen dan Lembu Petala di beri pelayan bernama kwan Mei Lin.
Pokoknya Dua Satria handal Majapahit itu mendapatkan pelayanan bak seorang Pangeran, atas jasa mereka membantu Tiongkok dalam mengusir serbuan mongol.
Tetapi bagi Wikala dan Lembu Petala mereka lebih sering berada di rumah Jenderal Yu Qian yg berdampingan dengan adiknya Yun Cai.
Hingga suatu saat ketika mereka berempat berada disitu, bertanya lah Jenderal Yu Qian kepada Wikala,
" Taihiap Wikala bolehkah saya bertanya, ?" kata Jenderal Yu Qian.
" Ohh, silahkan, silahkan, apa yg mau ditanyakan oleh saudara Yu?" tanya Wikala.
" Begini , pertama saya mau menanyakan kepada Taihiap Wikala mengapa lebih suka berada disini di luar istana daripada di istana, kedua saya lihat saat bertarung dengan Ganbataar Taihiap menggunakan pedang yg tidak ada sebelumnya yg pernah saya lihat,?" Jenderal Yu bertanya kepada Wikala.
Sementara Jenderal Yun Cai dan Bekel Lembu Petala mendengarkan dengan seksama apa yg ditanyakan oleh Jenderal Yu Qian.
Sambil menarik nafas dalam-dalam Wikala menjawab,
Ketiganya mengangguk tanda menyetujui permintaan Wikala tersebut.
" Jawaban pertama dari saudara Yu adalah bahwa, saya mungkin di lahirkan dari dua sifat yg berbeda dari ayah dan kakek ku, kalau dari ayah ku memiliki jiwa yg lebih mengasihi,senang di tempat yg sederhana seperti tempat saudara Yu ini, suka menjelajah tempat- tempat yg belum pernah di kunjungi dan kurang senang hidup di lingkup istana,!" nampak Wikala terdiam sejenak, kemudian melanjutkan lagi.
" Itu dari jiwa yg diturunkan oleh orangtua ku, tetapi kalau dari kakekku , jiwa yg mengalir adalah jiwa patriot senang bertarung dan bertempur demi membela sesuatu yg dianggap benar, itulah sebabnya maka keinginan itu tetap menyala, dan untuk pertanyaan kedua dari saudara Yu, pedang yg saudara Yu lihat adalah pedang pusaka bernama mega mendung, yg berada pada tubuh ku, menyatu, dan bila dalam kesulitan dapat di keluar kan dan saat menghadapi Ganbataar , saya benar-benar dalam posisi tersulit yg pernah saya rasakan, seakan Jenderal itu memiliki selaksa tenaga dan mampu menahan semua serangan ku terpaksa lah pedang itu, saya keluarkan, demikian lah saudara Yu,!" jelas Wikala.
Baik Jenderal Yu Qian dan Yun Cai mereka merasa takjub atas kemampuan dari Wikala terlebih lagi Lembu Petala, selama ini telah bersama dengan Wikala baik suka dan duka, baru kali ini ia mendengar menantu Prabhu SiNAGARA itu memiliki pusaka pedang yg bernama mega mendung, sayang aku tidak melihat pertarungan tersebut ucapnya dalam hati.
" Jadi anakmas , lebih sulit mana pertempuran di sini daripada sewaktu di Champa,?" tanya Lembu Petala.
" Wah ..., jauh lebih sulit disini, mana pasukan yg di hadapi sangat banyak dan pemimpin nya pun sangat hebat," jawab Wikala.
" Pendapat anakmas sesuai dengan yg kami hadapi berdua dengan Jenderal Yun Cai, kami pun sangat kesulitan menghadapi Jenderal Ganzorig, bukan begitu saudara Yun,!" tanyanya pada Jenderal Yun Cai.
Jenderal Yun mengiyakan pendapat Lembu Petala.
" Tetapi kunci kemenangan kita terletak atas kekalahan Jenderal Ganbataar yg terlalu di agungkan melebihi Kaisar nya sendiri, !" ucapnya lagi , sambil tersenyum Jenderal Yun bertanya kepada Wikala.
" Setelah dari sini kemanakah kira-kira saudara Taihiap Wikala akan pergi?" tanyanya pada Wikala.
" Saya kira , kami akan menemui Biksu Majin, di daocheng,!" jawab Wikala.
__ADS_1
" Sangat jauh , Taihiap, daocheng berada di sebelah barat Daya dari sini berbatas langsung dengan Tibet!' " jelas Jenderal Yun.
" Sebaiknya Taihiap bisa langsung pulang setelah dari sana, !" kata Jenderal Yu Qian.
" Apakah memang terlalu jauh dari sini?" tanya Wikala
" Sangat jauh , mungkin sekira Lima ribu li, !" jawab Jenderal Yu Qian.
" Baiklah nanti ketika kami akan pulang , singgah ke daocheng, !" ucap Wikala.
Setelah hampir satu purnama berada di Beijing , kedua utusan Majapahit itu berpamitan kepada Kaisar Jingtai untuk kembali ke Majapahit dan sebelumnya mereka akan singgah ke daocheng tempat pertapaan Biksu Majin.
Kaisar Jingtai nampak bersedih melepaskan kedua utusan Majapahit itu, dan ia membekali banyak hadiah kepada Wikala dan Lembu Petala berupa uang emas beberapa kampil.
Perjalanan Wikala dan Lembu Petala di lepaskan oleh seluruh petinggi Tiongkok.
Maka derap kaki kuda dari kedua utusan Majapahit itu memecah kesunyian jalan menuju arah Barat daya dari Beijing dan hampir dua purnama sampai lah mereka ke kota daocheng dan langsung menuju Puncak gunung Jampelyang satu dari tiga gunung dewa yg berada di pegunungan Yading.
Pegunungan yading yg indah dan di sebahagian di selimuti oleh salju, menambah rasa dingin, sedangkan pemandangan di sekitar nya amatlah indah lembah yg dialiri anak-anak sungai di kelilingi permohonan mengingatkan mereka berdua akan Majapahit di mana mereka berdua berasal.
Atas petunjuk dari Biksu Luanjin sewaktu di istana bertemulah, Wikala dengan Biksu Majin di Puncak Jampelyang itu.
" Amithaba, ternyata ada tamu Agung yg datang dari jauh, memang beberapa hari ini saya terus terkenang akan Taihiap Majapahit , satria dari daha,!" ucapnya menyambut kedatangan Wikala dan Lembu Petala.
" Sesuai permintaan dari Biksu, kami menghadap kemari , kiranya Mahaguru Majin dalam keadaan sehat, " balas Wikala.
" Sehat, demikian pula atas dirimu, Satria Dari daha, " ucap Biksu Majin.
Setelah beberapa saat mereka saling menyapa, berkatalah Biksu Majin kepada Wikala.
" Sebenarnya ada yg ingin kuberikan kepadamu, !" kata Biksu Majin meyampaikan maksudnya kepada Wikala.
" Apakah itu, Biksu, ?" tanya Wikala.
" Sebuah kitab ilmu, dari perguruan leluhur kami yg tidak dapat kami pelajari, karena kami berdua dengan sute Luanjin terikat sumpah perguruan yg tidak boleh mempelajari ilmu, kecuali dari ilmu Shaolin tempat kami menerima ilmu itu," jelas Biksu Majin lanjutnya lagi.
" Dan setelah kami berdua sepakat untuk memberikan nya kepada orang yg telah mengalahkan kami namun juga mencintai, kami ialah dirimu Taihiap Majapahit, !" ujar Sang Biksu.
" Setidaknya dengan ilmu itu kita dapat mengikat tali persaudaran, dimana langkah dan jalan Taihiap masih panjang dalam hidup ini, karena masih berusia muda,!" jelas Mahaguru Majin.
" Dan dalam langkah itu ada kenangan bersama kami, sebagai saudara,!" lanjutnya lagi.
" Bersedia kah Taihiap menerima nya,?" tanyanya pada Wikala.
" Jika pemberian itu sesuatu yg baik mana mungkin saya sanggup menolaknya, " jawab Wikala.
Kemudian Mahaguru Majin mengeluarkan sebuah kitab yg lusuh dan usang dari balik jubahnya dan memberikannya pada Wikala.
Selama sepekan Wikala dan Lembu Petala berada di Puncak Jampelyang itu yg bermakna kebijkasanaan.
__ADS_1
Setelah itu mereka melanjutkan prjalanannya kembali pulang ke
Majapahit.