BARA Di Atas Tanah MAJAPAHIT Dalam Episode 2: Satria Dari DAHA

BARA Di Atas Tanah MAJAPAHIT Dalam Episode 2: Satria Dari DAHA
episode 7: Bermalam di Tembok China bagian kelima


__ADS_3

Setelah matahari memancarkan cahaya nya terdengar lah genderang perang di tabuh dari pasukan mongol, dengan hampir Empat Ratus ribu pasukan mongol menyerang pasukan yg berjumlah dua ratus ribu prajurit terlatih di tambah pasukan tiga ratus ribu dari rakyat biasa yg bersiap membela dan mempertahankan tanah airnya.


Jenderal Yu Qian sebagai pemimpin tertinggi dari pasukan Tiongkok memberi aba-aba dengan membakar semangat para prajurit nya,


" Kita adalah bangsa yg besar pantang menyerah sebelum nyawa berpisah dari tubuh, Buyao fangqi, Jia you( semangat), Nixing de( kalian bisa), " demikian lah terdengar teriakannya yg berapi-api.


Serentak para Prajurit Tiongkok bertempur yg di barengi semangat bela tanah air.


Jenderal Yu Qian yg tetap di dampingi oleh Wikala kembali bertempur melawan pasukan induk mongol yg dipimpin oleh Jenderal Ganbataar.


Jenderal Yun Cai dan Lembu Petala berhadapan dengan Jenderal Ganzorig di sayap Kiri.


Jenderal Shi Heng yg berada di sayap kanan dibantu laksamana He melawan Jenderal Turgen


Sementara itu mongol menambah seorang Jenderal nya akibat telah tewasnya Jenderal Och, yg digantikan oleh Jenderal Taban , ini menjadi lawan Jenderal Shi Jing yg telah berhasil menewaskan Jenderal Och.


Penasaran rasa di hati Jenderal Ganbataar karena tidak mampu mengalahkan prajurit yg bernama Wikala yg berasal dari Majapahit membuatnya segera mendatangi pasukan yg di pimpin langsung oleh Jenderal Yu Qian.


Setelah bertemu tanpa basa basi lagi Jenderal Ganbataar menyerang Jenderal Yu Qian yg bersama Wikala dan pertempuran pun terjadi antara keduanya.


Wikala pun sebenarnya penasaran dengan Jenderal Ganbataar ini, mengingat bahwa tenaga dalam nya tidak di bawah Jenderal tersebut.


Pertarungan pun terjadi, Jenderal Ganbataar kembali menyerang dengan goloknya yg besar, angin yg di bawa golok itu memanaskan tempat pertarungan.


Sementara Wikala dengan menggunakan pedang khas Tiongkok yg kecil panjang namun lentur, memapasi golok Jenderal Ganbataar.


Benturan tenaga dalam menyebabkan pijaran kembang api .


Semakin matahari naik, seolah tenaga Jenderal Ganbataar meningkat , pukulan Wikala yg di landasi ajian kalacakranya seakan tidak di rasa kan oleh Jenderal mongol itu.


" Keluar kan seluruh kepandaianmu, hai orang Majapahit, !" teriak Jenderal Ganbataar.


Wikala mulai meraba ada sesuatu yg hilang pada dirinya, yaitu tenaganya lebih cepat berkurang hingga pukulan nya semakin lemah.


Namun Wikala tidak menyerah dengan menggunakan peringan tubuhnya di barengi ajian wisnu kencana, ia melesat menebas kearah leher Jenderal Ganbataar yg masih berada di punggung kudanya.


Jenderal mongol itu tidak menghindar hanya memalangkan goloknya,


" Trannk,!" bunyi kedua senjata beradu , membuat Wikala terpental jauh dari Kuda nya, sedangkan Jenderal Ganbataar masih tetap diatas kudanya.


Gila, pikir Wikala dalam hati, ia kemudian mengetrapkan ajian kalamawa nya ,


" Heaaah, Kalamawa, " teriaknya , meluncur lah sinar kemerahan seperti bara api kearah Jenderal Ganbataar, Jenderal tersebut melompat menghindari akan tetapi kuda tunggangannya terkena ajian kalamawa hingga hangus terbakar.


" Lumayan juga ilmu orang Majapahit ini, !" gumamnya

__ADS_1


Pertarungan kedua orang ini tetap di ikuti oleh Jenderal Yu Qian di sela- sela ia memberi perintah dan menyerang pasukan mongol.


Sementara dari mongol sendiri karena Jenderal Ganbataar terikat perang tanding, maka pasukan nya tidak mendapatkan arahan dari komandannya hingga dengan pasti mongol terdesak.


Melihat pasukan nya mulai terdesak Jenderal Ganbataar menyerang Wikala dengan pukulan jarak jauhnya, yaitu pukulan Tsol Salkhi, atau pukulan angin gurun yg juga mampu membakar apa saja yg terkena oleh pukulan itu .


Adu kedua ilmu pun terjadi ,akan tetapi Wikala berulang kali harus terpental menjauh akibat kalah tenaga dari Jenderal mongol itu,


Karena merasa tenaga nya cepat terkuras, Wikala segera merapal ajian mega mendung dan juga mengeluarkan pedang mega mendung yg berada di tubuhnya.


Tampak tubuh Wikala di selimuti kabut tebal dan di tangannya telah tergenggam pedang mega mendung. Pedang yg sebelumnya tidak pernah dikeluarkannya. Namun kali ini lawan yg dihadapinya memiliki ilmu yg aneh yg dapat menguras tenaga lawan, Maka ia pun segera mengeluarkan simpanannya,, yaitu pedang mega mendung.


Ketika matahari beranjak ke arah Barat pertarungan kedua orang ini pun semakin seru, beberapa kali Wikala berhasil menembus pertahanan Jenderal Ganbataar.


Hingga suatu ketika pukulan yg berisi ajian mega Siwa berhasil mendarat di pundak Jenderal Ganbataar hingga membuat nya terjatuh, namun ia cepat bangkit lagi.


Jenderal Ganbataar dan Wikala saat ini dalam posisi seimbang setelah mengeluarkan pedang mega mendung hingga petang menjelang.


Wikala melihat sisi kelemahan lawannya, ketika mentari telah redup kekuatan Jenderal Ganbataar tampak jauh berkurang.


" Apakah Jenderal ini penyembah Matahari !" pikir Wikala dalam hati.


Sesaat kemudian setelah mengetahui sisi kelemahan Jenderal Ganbataar, Wikala menyerang dengan ajian Megasiwanya .


" Mega Siwa, heaaahh, !"


" Hooekh," bunyi muntahan darah dari mulut Jenderal Ganbataar itu, walaupun berhasil berdiri kembali, memang hebat tenaga pemimpin Tentara mongol itu, dua kali di hantam ajian Megasiwa masih mampu berdiri,.


Wikala tidak memberi kesempatan pada Jenderal tersebut karena hari telah menjelang malam ketika tubuh Ganbataar mampu tegak berdiri walau sempoyongan, dengan cepat Wikala menebaskan pedang mega mendung ke leher Jenderal Ganbataar yg menyebabkan terpisahnya kepala dengan tubuhnya mengakhiri kehidupan Jenderal besar dari mongol itu.


Melihat Jenderal Ganbataar tewas , Jenderal Yu Qian segera meneriakkan ,


" Ganbataar tewas, Ganbataar tewas, Ganbataar tewas,!"


Yg kemudian diikuti oleh Prajurit Tiongkok yg lain , hingga membuat kebingungan di pasukan mongol , Jenderal Ganzorig yg tidak mempercayai hal tersebut menyuruh prajurit ke tempat pertarungan Jenderal Ganbataar, setelah membawa kepala dan tubuh Jenderal Ganbataar maka murkalah Jenderal Ganzorig, akan tetapi hari telah malam.


Kedua pasukan kembali, kali ini kemenangan berada di pihak Tiongkok dengan tewasnya Jenderal Ganbataar.


Di pihak mongol kemarahan kaisar Essen Khan telah sampai ke ubun-ubun, dengan keras ia berkata,


" Besok kita bumi hanguskan Beijing dan kita penggal kepala orang yg telah membunuh Jenderal Ganbataar, !" ucapnya.


Sementara sebagian besar prajurit mongol telah runtuh semangatnya dengan tewasnya Jenderal Ganbataar, mereka tinggal menyisakan harapan pada Jenderal Ganzorig, yg belum mampu menembusi pertahanan di sebelah barat. Jadi perintah Sang Kaisar seakan- akan adalah sesuatu yg sangat sulit untuk di wujudkan.


Namun karena itu perintah Khan yg agung mereka pun terpaksa mengangguk tanda siap melaksanakan nya walau di hati mereka merasa tidak mampu setelah empat hari berperang mereka telah menelan kekalahan yg sangat besar dengan tewasnya Jenderal Ganbataar.

__ADS_1


Berbanding terbalik dengan di Tiongkok, walaupun keadaan Wikala terlihat payah dan kelelahan namun ia tetap di elu-elukan oleh prajurit Tiongkok. Bahkan semangat mereka bertambah dengan tewasnya Jenderal Ganbataar yg di sebut-sebut sulit untuk di bunuh, namun ternyata ia telah tewas oleh Satria dari Majapahit.


Prajurit Tiongkok merasa percaya diri menatap pertempuran esok hari, seandainya Kaisar Essen Khan turun sendiri memimpin pasukan.


Berita tewasnya Jenderal Ganbataar sampai ke telinga, kaisar Jingtai yg berada di kota terlarang , ia yg sedang melakukan sembahyang ,mengucapkan rasa syukur yg tiada habis-habisnya.


Para petinggi pasukan Tiongkok berkumpul kembali guna menghadapi perang esok hari, yg kemungkinan Kaisar Essen Khan akan turun langsung memimpin pasukannya.


Dengan suara berat Jenderal Yu Qian berkata,


" Di atas dunia ini tidak ada yg tidak mungkin selama kita mau berusaha, jadi esok hari adalah dimana kita harus mengerahkan segenap kekuatan kita, untuk mengusir Mongol dari negeri tercinta ini,!"


" Jenderal Yu, rencana apa besok kita lakukan untuk memukul pasukan mongol itu,?" tanya Wang li.


" Kalau menurutku, sebaiknya kita langsung mengerahkan seluruh pasukan sedari awal,!" ucap Menteri You Zhen.


" Usulku, sebaiknya kita masih menggunakan Jaring ikan di tengah lautan ,!" jelas Jenderal Yun Cai.


" Sebaiknya kita membuat gabungan keduanya, sebagian menunggu di luar benteng begitu perang berlangsung sebagian lagi baru keluar memberikan pukulan terakhir, karena menurutku, sisi kejiwaan pasukan mongol telah runtuh dengan kematian Jenderal Ganbataar, !" terang Jenderal Yu Qian dan kemudian di setujui oleh pemimpin yg lain.


" Dan ditambah lagi untuk rakyat biasa yg tidak ikut berperang untuk membunyikan suara genderang yg akan menjatuhkan semangat lawan di sebabkan suara yg keras dan mereka berpikir bahwa pasukan kita masih banyak lagi,!" kata Jenderal Yu Qian menyebutkan rencananya.


Malam itu juga para Prajurit telah mengumpulkan rakyat Beijing untuk menabuh genderang ketika perang berlangsung guna menjatuhkan semangat lawan.


Keesokan paginya ditandai dengan bunyi genderang dari pihak mongol, maka berderap lah kaki-kaki kuda pasukan mongol menuju gerbang Tembok besar Beijing itu .


Di sebelah yg berlawanan pasukan Tiongkok telah siap menyambutnya bahkan kali ini pasukan itu diikuti dengan suara genderang yg ditabuh terus menerus.


Mendengar suara genderang dari pihak Tiongkok , nyali prajurit Mongol makin menciut, walaupun kali ini mereka di pimpin langsung oleh Kaisar Essen Khan yg agung.


Sebagai pemimpin induk pasukan ketika terjadi benturan maka yg dihadapi oleh Kaisar Essen Khan adalah Jenderal Yu Qian, yg menempatkan nya sebagai lawan dan mengistrahatkan Wikala.


Pertempuran pun berjalan alot, di satu sisi semangat pasukan Tiongkok tengah tinggi-tingginya sedangkan mongol pada titik nadir, titik terendah dari semua perang yg mereka ikuti, memang akibat tewasnya Jenderal Ganbataar berdampak langsung pada pasukan mongol.


Setelah pasukan Tiongkok yg di belakang Tembok keluar terlihatlah pasukan mongol mulai koyak pertahanan nya.


Ditandai dengan kekalahan Jenderal Ganzorig di sisi kanan mongol yg harus kehilangan sebelah tangan nya akibat ditebas pedang Lembu Petala yg berduet dengan Jenderal Yun Cai, sontak saja pasukan mongol berusaha menyelamatkan Jenderal terbaiknya itu ke belakang garis peperangan, dan menimbulkan kekacauan pada sisi kanan dari mongol.


Dengan cepat Jenderal Yun Cai dan Lembu Petala merangsek mendesak pasukan yg mulai kocar kacir itu .


Sementara di sayap kiri Mongol yg dipimpin Jenderal Turgen juga merasakan kerasnya perang menghadapi Pasukan Tiongkok menyebabkan Jenderal itu pun harus terluka lambungnya akibat di keroyok Menteri Lin tung tze dan Menteri You Zhen, benar-benar keadaan sayap kiri. dan kanan mongol telah runtuh tinggal di tengah di pasukan induk yg di pimpin langsung oleh Kaisar Essen di bantu Jenderal Taban, yg nampak masih mampu bertahan,


Melihat dua sisi sayap pasukan mongol telah kocar kacir, maka Jenderal Yu melalui penghubung meminta bantuan tambahan prajurit ke induk pasukan dengan Jenderal nya sekaligus, terpilih lah pasukan yg di pimpin oleh Wang li yg membantu di induk pasukan Tiongkok.


Melewati tengah hari dimana suara genderang yg kuat terdengar dari dalam Tembok maka induk pasukan mongol pun mulai terkoyak, sehingga gelar perang mereka terlihat tidak utuh lagi, dalam kondisi seperti itu akhirnya Kaisar Essen Khan menarik mundur pasukan nya, dan kembali ke kemah mereka.

__ADS_1


Pada hari kelima itu pasukan mongol nyaris hancur jika tidak ditarik mundur oleh Kaisar nya.


__ADS_2