
Setelah beristrahat satu malam, kemudian rombongan itu berangkat kembali di keesokan pagi nya.
Jalan rombongan itu terlihat perlahan. Setelah hampir Lima Hari barulah rombongan itu mencapai perbatasan antara kotaraja Majapahit, dan mereka sampai pun hari menjelang malam, sehingga rombongan itu kembali bermalam di dekat hutan yg berbatas langsung dengan sebuah dusun.
Sebenarnya Tumenggung Rapada dan Tumenggung Rapala berniat langsung menuju dusun terdekat tersebut untuk menginap, Karena jarak nya sudah sangat dekat namun atas saran dari Tumenggung Srengganu tidak usah menginap di dusun itu , di Karena kan mereka membawa barang yg akan di serah kan ke kotaraja Majapahit, nanti nya banyak pertanyaan yg akan di lakukan oleh Pemimpin dusun tersebut, di sebab kan suasana sudah tengah malam.
Akhir nya di putus kan untuk menginap kembali di dekat hutan itu.
Namun rupa nya perjalanan dari Pamotan itu telah di tunggu oleh beberapa orang di hutan yg berbatas langsung dengan sebuah dusun itu.
Mereka adalah para prajurit dari kadipaten Pandan Alas yg kali ini menggunakan pakaian yg ber warna hitam-hitam.
Jumlah mereka lebih dari dua puluh orang yg bersembunyi di dalam hutan.
Ketika malam see makin larut, semua prajurit Pandan Alas itu mulai bergerak mendekati rombongan dari Pamotan tersebut.
Ternyata firasat dari Tumenggung Srengganu ada benar nya, dengan melewati hutan yg tidak terlalu lebat itu di malam hari sangat membahaya kan.
Terbukti ketika terdengar lolongan serigala di kejauhan , prajurit Pandan Alas yg di tugas kan untuk mencegat rombongan dari Pamotan itu telah mengepung tempat peristrahatan dari rombongan pengawal Upeti dari Pamotan itu.
Sebenar nya seluruh pengawal dari Pamotan telah menyadari kedatangan tamu yg tidak di undang itu, meski mereka kelihatan nya tengah ter tidur pulas.
Begitu bentakan yg di lakukan oleh Tumenggung Jarak jalu terdengar,
" Hehh, Kalian para cecunguk serah kan barang-barang bawaan kalian itu, kalau nyawa kalian mau Selamat,!"
Namun para prajurit dari Pamotan terlihat diam saja tidak membalas bentakan itu.
Melihat musuh yg tidak mengacuh kannya maka Tumenggung Jarak jalu yg memakai topeng dan berpakaian hitam-hitam itu menjadi berang.
" Kalian tidak menghargai nyawa kalian, jadi jangan salah kan Aku jika kalian akan segera jadi mayat, serang mereka dan bunuh sekalian jangan sisa kan , rampas seluruh barang bawaan nya,!" ter dengar perintah nya kepada para prajurit Pandan alas yg mengepung itu.
Serentak seluruh prajurit Pandan Alas itu menyerang para prajurit Pamotan yg masih diam saja.
Namun hal yg tidak di sangka para prajuritn pandan Alas adalah ketika mereka hendak mendekati tempat itu, tiba-tiba,
" Syiuuut, seiiit, syiieeet,!" bunyi senjata yg di lempar kan Oleh sepuluh orang prajurit Balasewu itu, sehingga meroboh kan sepuluh orang prajurit dari Pandan dalam sekejap.
Melihat kenyataan itu, para prajurit Pandan Alas sempat terdiam dan terpana karena begitu cepat nya serangan itu membuat mereka benar-benar terkejut dan tidak siap menerima nya.
Ketika melihat prajurit nya timbul keragu-raguan akhir nya Tumenggung Jarak Jalu mem berikan isyarat untuk terus menyerang sambil berkata,
" Ayo cepat habisi mereka , lebih cepat lebih baik,!" seru Tumenggung Pandan Alas itu. Namun di hati Tumenggung Jarak Jalu itu sudah terbersit keyakinan bahwa prajurit yg di hadapi nya bukan prajurit biasa, terbukti dalam sekejap saja mereka telah mampu melumpuh kan anggota nya.
Di malam buta dan pekat itu terjadi lah pertempuran antara pengawal Upeti dari Pamotan dengan prajurit pandan Alas yg di tugas kan oleh Adipati nya untuk merampas barang bawaan dari Pamotan itu.
Namun kali ini Tumenggung Jarak Jalu benar-benar kena batu nya. Setelah tumbang nya para prajurit nya secara langsung jumlah mereka seimbang antara Pamotan dan Pandan Alas, sementara di Pamotan tiga Tumenggung nya merupakan orang-orang yg pilih tanding sedang kan di Pandan Alas hanya dua Senopati nya yaitu Tumenggung Jarak jalu dan wiratanu.
Pasukan khusus Balasewu yg sudah sangat terlatih dengan cepat mendesak prajurit Pandan Alas yg berusaha merampas barang bawaan dari Pamotan itu.
Sedang kan Tumenggung Jarak Jalu segera berhadapan dengan Tumenggung Rapada dari Pamotan, sementara itu Tumenggung Srengganu menempat kan posisi menghadapi Tumenggung Wiratanu. Yg tidak mempunyai lawan adalah Tumenggung Rapala, segera lah membantu prajurit Balasewu yg sebenar nya tidak memerlu kan bantuan.
__ADS_1
Di saat-saat pertempuran itu berkata lah Wiera Tantra kepada Sasra Bahu yg berada di dekat nya,
" Kang , seperti nya mereka prajurit Pandan Alas bukan rampok biasa,!" ucap nya kepada kakak seperguruannya itu.
" Hehh, dari mana kau tahu ,?'' tanya Sasra Bahu sambil menghindari serangan lawan nya.
" Lawan yg kuhadapi ini adalah prajurit yg menjaga lumbung padi yg telah kita curi itu,!" jawab Wiera Tantra yg berusaha meroboh kan lawan nya.
Satu persatu prajurit Pandan Alas menemui ajal nya, karena yg mereka hadapi bukan prajurit biasa melain kan pasukan khusus Balasewu , sehingga ketidak seimbangan pun terjadi, bukan Pandan Alas yg mendesak malah mereka lah yg terdesak hebat.
Melihat satu persatu prajurit nya gugur Tumenggung Jarak Jalu yg merupakan pemimpin dari prajurit Pandan Alas itu pun sangat gusar. Tandang nya terlihat tidak biasa, ia menyerang Tumenggung Rapada membabi buta. Pedang dari Tumenggung Pandan alas itu seperti tidak mampu menghadapi tombak Naga tirta milik murid padepokan Semeru itu.
" Hehh, begal kacangan cepat lah menyerah, sebelum tombak ku ini menusuk jantung mu!" ujar Tumenggung Rapada kepada Tumenggung Jarak Jalu.
" Puuuihh, kau pikir mampu membunuh ku,!" balas Tumenggung Jarak Jalu sambil meludah.
" Terserah, kau punya mata atau tidak sekarang ini kalian hanya berdua saja, jika Aku mau seluruh prajurit ku mampu membuat mu jadi barang mainan,!" ucap Tumenggung Rapada lagi.
" Jangan banyak mulut , atau kusumpal sekalian dengan pedang ku ini, heeeeaaah,!" teriak Tumenggung Jarak Jalu yg kalap karena para prajurit Pandan Alas yg terpilih itu telah gugur semua nya hanya dalam waktu sekejap, sekarang tinggal ia dan Tumenggung Wiratanu lah yg masih berdiri.
Maka dengan membabi buta Tumenggung Pandan Alas itu menyerang, membuat Tumenggung Rapada dengan mudah melayani nya. Beberapa kali patukan dari tombak Naga tirta milik sang tumenggung telah berhasil melukai tubuh Tumenggung Jarak Jalu namun tumenggung pamotan itu tetap tidak mau menyerah .
Ssmpai batas kesabaran kakak seperguruan dari Naja Pratanu itu habis Maka dengan cepat Tumenggung Rapada melibat Tumenggung Jarak jalu yg sebenar nya telah kehabisan tenaga namun untuk Menyerah ia tetap tidak sudi.
Akhir nya sebuah lompatan panjang dari Tumenggung Rapada mengakhiri hidup Tumenggung Jarak Jalu,
" Hiyaaah, " laksana terbang Tumenggung Rapada melancar kan serangan mengguna kan tombak nya yg mengarah langsung ke jantung Tumenggung Pandan Alas itu.
" Aaaaaaakkkkkhhhh,,!" suara terakhir dari Tumenggung Jarak Jalu terdengar memecah kesunyian malam.
Tumenggung Rapada mencabut kembali tombak Naga tirta milik nya itu yg telah berlumuran darah.
" Hehh, dasar keras Kepala,!" gumam Tumenggung Rapada dan berjalan kembali mendekati pertarungan antara Tumenggung Srengganu dengan Tumenggung Wiratanu dari Pandan Alas.
Memang Tumenggung Srengganu berada di atas angin menghadapi lawan nya itu, namun senopati Pandan Alas itu pantang Menyerah, ia terus memberi kan perlawanan dengan segenap kemampuan yg di miliki nya.
Berbeda dengan Tumenggung Jarak Jalu yg kalap, Tumenggung Wiratanu tetap terus berpikir guna menyelamat kan diri karena tinggal diri nya Seorang yg tersisa dari Pandan Alas.
Tetapi Tumenggung Srengganu pun tidak kalah cerdik , ia mengetahui gelagat lawan nya mencoba melari kan diri itu segera mendesak Tumenggung Wiratanu.
Walhasil jalan untuk lolos dari maut ternyata memang sulit untuk di dapat.
Senopati muda dari Pamotan mendesak terus dengan serangan-serangan yg berbahaya dari tebasan ke arah kepala kemudian di susul tendangan ke arah dada membuat Tumenggung Wiratanu harus berjuang mati-matian mempertahan kan selembar nyawa nya itu.
Dan ternyata kemampuan senopati Pandan Alas itu masih berada di bawah Senopati Pamotan, ketika tendangan yg mengarah dada dari Tumenggung Wiratanu dapat di hindari nya namun serangan susulan berupa sabetan pedang dari Tumenggung Srengganu masih bisa di tepis, tetapi pukulan tangan kosong yg berisi tenaga dalam yg tinggi tidak mampu di hindari nya,
" Dieeegghh,!" hantaman kepalan tangan kiri dari Tumenggung Srengganu membuat tubuh Tumenggung Wiratanu mundur beberapa langkah ke belakang.
Tidak menyia-nyia kan kesempatan Tumenggung Srengganu mengejar Tumenggung Wiratanu yg masih sempoyongan itu.
" Hiyaaah," teriakan keluar dari mulut Tumenggung Srengganu yg menyabet kan pedang nya mengarah kepala Tumenggung Wiratanu, namun senopati Pandan Alas itu masih mampu menepis nya.
__ADS_1
" Hiyaaah," untuk kedua kali nya setelah pedang nya tidak berhasil menebas kepala lawan nya Tumenggung Srengganu langsung menusuk kan senjata nya itu tepat di dada lawan nya.
Tubuh Tumenggung Wiratanu terdiam sesaat kemudian tumbang berdebum ke tanah dengan dada tembus oleh pedang Tumenggung Srengganu.
Perlahan Tumenggung Srengganu mendekati tubuh lawan nya itu yg sudah diam, walaupun begitu Tumenggung Srengganu tetap waspada perlahan ia mendorong mayat dari Tumenggung Wiratanu dengan kaki nya, dan terlihat lah pedang nya masih menancap di dada lawan nya itu, setelah meyakini bahwa musuh nya telah mati dengan cepat Tumenggung Srengganu menarik pedang nya dari tubuh Tumenggung Wiratanu itu.
Darah kembali menyembur keluar dari luka yg di sebab kan tusukan pedang Tumenggung Srengganu itu.
Seluruh prajurit Pandan Alas yg berusaha merampok Upeti dari Pamotan itu tewas keseluruhan nya tidak ada yg tersisa.
Adalah Wiera Tantra dan Sasra Bahu yg curiga bahwa mereka bukan di cegat oleh perampok biasa segera mendekati tubuh-tubuh yg telah menjadi mayat itu.
Ketika mentari pagi menerangi bumi persada, Sasra Bahu dan Wiera Tantra kemudian membuka baju hitam yg di pakai oleh para perampok itu.
Alangkah terkejut nya mereka setelah melihat bahwa di balik baju itu terlihat seragam keprajuritan dari pasukan Pandan Alas.
Tumenggung Rapada yg tidak mengerti dengan tindakan kedua orang bawahan nya itu segera bertanya,
" Apa yg kalian lakukan,?"
" Kami tidak percaya mereka perampok sungguh an, !" jawab Sasra Bahu.
" Maksud ki Lurah,,?" tanya Tumenggung Rapada tidak mengerti.
" Mereka bukan perampok sungguhan Gusti Tumenggung melain kan mereka adalah prajurit dari Pandan Alas,!" jawab Sasra Bahu.
" Hahh, mereka prajurit Pandan Alas,?" ucap Tumenggung Rapada yg tidak percaya dengan apa yg di dengar nya.
Akhir nya seluruh rombongan dari Pamotan itu melihat mayat yg di sebut kan oleh Lurah Sasra Bahu sebagai prajurit Pandan Alas itu.
Setelah yakin dengan apa yg di lihat nya akhir nya Tumenggung Rapada memerintah kan untuk melicuti pakaian luar dari mayat-mayat itu.
Terlihat jelas , seluruh mayat yg bergelimpangan itu memang Prajurit Pandan Alas, lengkap dengan atribut kepangkatan nya.
Tumenggung Rapada dan Tumenggung Rapala tidak menyangka dua kali harus berurusan dengan prajurit Pandan Alas.
Yg pertama kali ketika mereka mengawal Adipati Pamotan yg kembali dari Kotaraja, mereka di hadang empat puluh lebih prajurit Pandan Alas dan yg sekarang mereka di hadang lebih dua puluh orang prajurit pandan Alas yg menyamar sebagai begal.
" Mungkin benar firasat Gusti Adipati, sehingga pengawalan kali ini melibat kan prajurit dari Balasewu,!" kata Tumenggung Rapada kepada saudara kembar nya Rapala.
" Sebenar nya apa yg di ingin kan Pandan Alas dengan mencegat rombongan kita ini,?'' tanya Tumenggung Rapala .
" Entah lah aku tidak mengerti, yg jelas permusuhan antara Pamotan dan Pandan Alas kian meruncing, bisa jadi perang terbuka di antara kedua nya segera terjadi,!" ungkap Tumenggung Rapada.
" Memang Adipati Pandan Alas itu terlalu ber ambisi untuk jadi Raja di Majapahit ini, ia tidak perduli dengan cara apapun, yg penting hasrat nya tercapai,!" kata Tumenggung Rapala.
" Segera tinggal kan tempat ini, secepat nya kita harus sudah sampai ke kotaraja Majapahit, jangan sampai ber malam di jalan lagi, karena kita tidak tahu apakah Pandan Alas masih akan mencegat rombongan kita ini,!" terdengar perintah dari Tumenggung Rapada.
Segera lah prajurit Pamotan itu ber gerak menuju ke Kotaraja Majapahit dengan memintasi hutan kecil itu dan langsung menuju sebuah dusun yg berada di luar kota raja Majapahit itu.
%%%%%%%%)))))))(((((((%%%%%%%%
__ADS_1