
" Paman Singha Wara, sepekan ke depan seribu prajurit Pamotan akan ku kirim ke Kahuripan guna membantu nanda Kahuripan, mereka terdiri dari lima ratus prajurit Balasewu dan Lima ratus prajurit dari pasukan biasa dan kuharap paman mau mendampingi nya bersama arya bor bor,!' ucap Adipati Pamotan itu setelah ia selesai dengan kenangan di masa lalu saat bertemu pertama kali dengan istri nya Putri Ratna parangkawuni
" Tentu anakmas, aku akan ber sedia ikut ke Kahuripan guna membantu angger Kahuripan,!" jawab Tumenggung singha wara.
Pembicaraan mereka terhenti dengan kedatangan Naja Pratanu dan Larasati.
" Ada apa kangmas memanggil kami kemari,?" tanya Pratanu setelah berada di kediaman Tumenggung singha wara.
" Kalian kupanggil kemari untuk menugas kan kalian berdua menjadi utusan ke beberapa kadipaten, !' jawab Adipati Pamotan.
" Tugas apa yg mesti kami emban, kakang Radeksa,?'' tanya Larasati.
" Kalian berdua aku perintah kan untuk mempertanya kan sikap para Adipati tentang di angkat nya Adipati Pandan Alas itu sebagai Raja Majapahit ini, apakah mereka akan tunduk dan patuh atau ber sikap ber sebrangan seperti Pamotan, dan jika kadipaten itu kalian curigai sebagai Kadipaten yg ber pihak kepada Raja Majapahit yg baru itu, kalian bisa melakukan penyelidikan alasan apa hingga mereka harus tunduk kepada Prabhu Suraprabhawa itu,!" ucap Adipati Pamotan.
" Kalian mengerti kan tugas yg kalian emban itu,?" tanya Wikala lagi.
" Mengerti kakang,!" jawab Larasati.
" Bagus, setelah Pamotan tahu berapa kadipaten yg akan ber pihak kepada Kotaraja Majapahit, maka akan mudah menentu kan langkah selanjut nya, untuk menyerang Prabhu Suraprabhawa itu,!" ujar Adipati Pamotan.
" Dan untuk Arya bor-bor, aku perintah kan membantu Kahuripan dengan membawa pasukan Pamotan ber jumlah seribu prajurit, karena di khawatir kan Majapahit akan menyerang Kahuripan, dan Arya bor-bor akan di bantu Paman Singha Wara, Rangga Rawelu dan Rangga Jumena, biar lah Paman Petala berada di Pamotan dulu,!" kata Adipati Pamotan.
" Dan bagi kalian berdua, Larasati dan Pratanu, untuk pertama kali temui lah Adipati Kabalan dan Tumapel,!" perintah sang Adipati kepada adik nya itu.
" Baik kakang , kami siap menjalan kan tugas,!' jawab kedua orang itu.
" Setelah dari kedua kadipaten itu kalian singgah lah dahulu di Thanda, lihat keadaan di sana, apakah biyung dan Romo masih dalam keadaan baik,!" pesan Wikala lagi.
" Dengan Tantri kakang tidak memberi pesan,?" tanya Larasati.
" Tidak , tidak ada pesan untuk nya,!" jawab Adipati Pamotan itu.
" Yg ku dengar sekarang Tantri sedang hamil,!" ucap Larasati lagi.
" Darimana kau tahu ras,?" tanya sang Adipati lagi.
" Dari beberapa prajurit yg telah kembali dari Thanda,!" jawab Larasati.
" Ahh, nanti Aku sendiri yg akan datang kesana ,!" ucap Adipati Pamotan lagi.
" Tidak ada perintah yg lain, Kang?" tanya Larasati kepada kakak nya itu.
" Tidak, segera lah kalian berdua berangkat, karena secepat nya Pamotan harus mengetahui siapa saja yg berada di pihak kita dan siapa saja yg akan jadi lawan,!" kata Wikala sang Adipati Pamotan itu.
__ADS_1
********
Di istana Majapahit sendiri tengah di adakan pesta tujuh hari tujuh malam atas keberhasilan Adipati Pandan Alas menjadi Raja di Majapahit yg ke sebelas dengan gelar Prabhu Suraprabhawa.
Pagelaran wayang semalam suntuk di tambah berbagai macam hiburan membuat Kotaraja Majapahit itu terlihat lain dari biasa nya lebih ramai.
Banyak pengunjung yg datang terutama dari wilayah kadipaten Pandan Alas dan Wengker yg merupakan kadipaten berada di bawah ke pemimpin an dari sang Prabhu sendiri.
Hal itu ber banding ter balik dengan kesedihan yg di rasa kan oleh keluarga Trah Rajasawardhana, dimana baru beberapa hari saja Sang Prabhu Bhatara Purwawisesa mangkat , sementara kemewahan dan kegembiraan atas pesta penobatan itu seakan menciderai rasa kemanusiaan dari keluarga Trah Rajasawardhana dan para pembantu setia dari Sang Prabhu Bhatara Purwawisesa seperti, Rakryan Mantri Waninghyun , Senopati Wanengpati , Bekel Bhayangkara Warak sumadilaga dan Patih Lohdaya.
Keempat orang yg masih berada di Kotaraja Majapahit itu merasa sedih dengan kenyataan yg di hadapi oleh mereka.
Mereka memandang Sang Prabhu Suraprabhawa ber senang hati atas mangkat nya sang menantu. Sungguh suatu sikap yg tidak pantas di tiru dari seorang Raja.
" Paman Patih Lohdaya , kemanakah kiranya akan ber labuh ,?" tanya Rakryan Mantri Waninghyun kepada Patih Lohdaya.
" Ahhh, entah lah , mau kembali ke Wengker rasa-rasanya tidak ada tempat buat si orang tua ini !" jawab Patih Lohdaya yg secara resmi telah di tidak menjabat Patih sejak di angkat nya Sang Prabhu Suraprabhawa sebagai Raja Majapahit. Ia di ganti kan oleh Patih Kebo Mundira yg merupakan Patih dari kadipaten Pandan Alas.
" Dan Engkau sendiri Rakryan Mantri akan ber labuh kemana,?" balik Patih Lohdaya bertanya.
" Mungkin aku akan kembali ke tempat asal ku di Wirasaba,!" jawab Rakryan Mantri Waninghyun .
" Tidak ber niat kembali ke Wengker,?" tanya Patih Lohdaya lagi.
Kemudian Patih Lohdaya bertanya kepada Senopati Wanengpati dan Bekel Warak Sumadilaga.
" Dan kalian berdua akan kemana pergi nya setelah dari sini, Senopati Wanengpati dan Bekel Warak Sumadilaga,?" tanya Patih Lohdaya.
" Mungkin aku seperti kakang Rakryan Mantri, akan kembali ke tempat asal ku di Paguhan,!" jawab Senopati Wanengpati.
" Kalau aku tetap akan kembali ke Wengker karena wengker memang tempat asal ku,!" jawab Bekel Warak Sumadilaga.
" Apakah kalian tidak ber niat tetap tinggal di Kotaraja Majapahit ini,?" tanya Patih Lohdaya lagi.
" Seperti nya tidak ,!" jawab ke tiga petinggi Majapahit di masa Sang Prabhu Bhatara Purwawisesa itu serempak.
" Mengapa,?" tanya Patih Lohdaya heran.
" Selain memang kita bukan abdi dari Prabhu Suraprabhawa, juga kebijakan Raja yg baru itu tidak sesuai dengan pandanganku,!" jawab Rakryan Mantri Waninghyun.
" Maksud Rakryan Mantri bagaimana,?" tanya Patih Lohdaya tidak mengerti dengan ucapan bawahan nya itu.
" Prabhu Suraprabhawa tidak memiliki perasaan, baru saja Sang Prabhu Bhatara Purwawisesa mangkat ia telah melakukan pesta besar-besaran seakan akan senang atas mangkat nya menantu nya itu, itu yg aku tidak suka !' jawab Rakryan Mantri Waninghyun.
__ADS_1
" Sama seperti mu Rakryan Mantri, aku pun tidak setuju Prabhu Suraprabhawa melakukan pesta besar-besaran atas penobatan nya sebagai Raja Majapahit ini,," ungkap Patih Lohdaya.
" Akan tetapi kita tidak bisa ber buat apa-apa,!" ujar Senopati Wanengpati yg nampak sudah tidak ber semangat.
" Apa tidak sebaik nya kita ke pamotan dulu sebelum kembali ke tempat asal masing-masing,!" seru Warak Sumadilaga tiba-tiba.
" Buat apa, ?' tanya ketiga orang itu yg merupakan bekas pejabat teras Majapahit yg sekarang ini tengah gundah gulana memikir kan kelanggengan hidup nya.
" Untuk menentu kan apakah kita bisa di terima disana,!" jawab Warak Sumadilaga.
" Hehh, apakah Bekel Warak Sumadilaga ingin mengabdi ke pamotan yg terang-terang merupakan musuh Kotaraja Majapahit ini,,!" kata Patih Lohdaya heran.
" Bukan apa-apa paman Patih, ada pandangan seorang resi mumpuni yg menyebut kan bahwa wahyu keprabon akan ber pindah kesana,!" jawab Bekel Warak Sumadilaga.
" Benar kah yg kau katakan itu adi Warak,!" tanya Rakryan Mantri Waninghyun penasaran.
" Benar kakang, dan lagi pemerintahan dari Prabhu Suraprabhawa itu tidak akan lama, begitu lah berita yg ku dengar ,!" jelas Sang Bekel Warak Sumadilaga lagi.
" Boleh juga usul mu itu,!" ucap Senopati Wanengpati .
" Yeah , siapa tahu kita masih bisa menyaksi kan peperangan antara kotaraja Majapahit dengan Pamotan, tentu kalau bisa kita ambil partisipasi tentu lebih baik memihak ke pamotan , karena kalau di sini kita tidak memiliki tempat,!' kata Rakryan Mantri Waninghyun.
" Jika kalian akan ke sana ber hati-hatilah karena Kotaraja amat tidak senang bila ada orang yg ingin ke Pamotan, bisa jadi di cap sebagai pemberontak, dan hukuman nya kalian tahu sendiri,!" ter dengar nasehat dari Patih Lohdaya.
" Apakah paman Patih tidak akan ikut,?" tanya Rakryan Mantri Waninghyun kepada Patih Lohdaya.
" Belum ter pikir kan untuk kesana, nanti kalau memang ada semacam keinginan baru aku akan kesana ,!" jawab Patih Lohdaya.
Akhir nya ketiga petinggi Majapahit di masa pemerintah an Sang Prabhu Bhatara Purwawisesa itu ber sepakat akan ke Pamotan, sementara Patih Lohdaya masih enggan untuk ikut.
((((((((((--------------???????)))))))))))))
note
\*\*\* Wirasaba. :. Banyumas
Paguhan. :. Blitar.
Wengker :. Ponorogo
__ADS_1