BARA Di Atas Tanah MAJAPAHIT Dalam Episode 2: Satria Dari DAHA

BARA Di Atas Tanah MAJAPAHIT Dalam Episode 2: Satria Dari DAHA
episode 20 Perang Tanding bagian ke empat.


__ADS_3

Sedang Wikala sang Adipati Pamotan itu hanya diam saja, ia memang hanya menjajal ilmu yg di dapat nya dari Kitab yg di beri kan Biksu Majin kala diri nya dan Senopati Lembu Petala berada di Tiongkok beberapa waktu silam.


Ketika Sang Adipati akan memberikan Kitab itu kepada istri nya di Thanda ia menyempat kan membuka nya setelah lama berada di tangan nya tanpa pernah di sentuh .


Dan ketika lembaran pertama di buka ter lihat beberapa gambar orang yg lagi mem peraga kan sebuah jurus, dan di atas nya ter tulis Paichi li ti , gerakan nya pun cukup sederhana sehingga Sang Adipati hanya sebentar saja untuk menghafal kannya serta meniru kan gerakan ter sebut.


Dan ketika per tarungan tadi Wikala sang Adipati Pamotan itu menjajal ke ampuhan nya ter nyata ter bukti dapat menahan serangan dari Bikshu Ganggadhara.


Bikshu dari Tibet itu melangkah per lahan mendekati Sang Adipati Pamotan.


Setelah hanya beberapa langkah saja di depan dari Sang Adipati, ber kata lah Bikshu Ganggadhara,


" Amitabha,Gusti Prabhu, se sungguh nya ilmu perguruan kami ber saudara dengan ilmu dari orang tua Saudara Majin,berasal dari tempat yg sama tetapi kemudian kedua nya ter pisah,!" kata Bikshu Ganggadhara.


" Maksud Biksu Ganggadhara, ilmu yg telah saya gunakan tadi masih ada hubungan nya dengan ilmu perguruan Bikshu Ganggadhara, begitu,?" tanya Wikala sang Adipati Pamotan kepada Bikshu Ganggadhara.


" Amitabha, Demikian lah Gusti Prabhu, bahwa leluhur dari saudara Majin adalah saudara tua seperguruan dengan leluhur saya, mereka berdua menimba ilmu dari Guru yg sama, namun kedua nya di beri kan ilmu yg ber beda,!" cerita Bikshu Ganggadhara.


Kemudian Bikshu dari Tibet itu melanjut kan cerita nya lagi,

__ADS_1


" Murid yg berasal dari Tiongkok yaitu leluhur dari saudara Majin di berikan ilmu dan kitab Taichi sedang kan kepada leluhur kami yg berasal dari Tibet di berikan kitab Chi kung, dan masing -masing dari kedua kitab berisi ilmu itu ber beda satu dengan yg lain nya,!" kata Bikshu Ganggadhara


" Kalau di dalam Taichi ada jurus yg ber nama Paichi li ti yg arti nya jurus untuk menolak serangan atau memanfaat kan tenaga lawan untuk menyerang kembali si empu nya tenaga, sedang kan di dalam kitab chi kung ada jurus Xi li ti yg arti nya menyerap tenaga lawan, sehingga tenaga lawan akan ter kuras dengan sendiri nya dan si pemilik ilmu itu akan ber tambah tenaga nya, dan dari kedua ilmu itu, Paichi li ti lebih unggul dari Xi li ti, apa lagi pengguna jurus ter sebut memilki tenaga dalam yg cukup tinggi, seperti Gusti Prabhu sendiri,!" kembali Bikshu Ganggadhara ber ujar,


" Namun dari sepengatahuan kami ilmu Paichi li ti sudah tidak ada yg mengguna kan nya, ter bukti saudara Majin hanya menggunakan ilmu dari perguruan Shaolin demikian pula dengan adik nya saudara Luanjin yg jadi guru istana ke kaisaran Tiongkok juga menggunakan ilmu Shaolin, ber beda dengan kami, seluruh keluarga kami tetap melestari kan ilmu Xi li ti hingga saat ini dan kami turun kan kepada murid-murid kami ter masuk dengan Jenderal Ganbataar, karena saya adalah guru untuk ke kaisaran mongol, selaku bangsa Tibet, kami kurang senang dengan bangsa Tiongkok,!" jelas Bikshu Ganggadhara itu.


Wikala sang Adipati Pamotan hanya men dengar kan saja cerita Bikshu dari Tibet itu.


" Karena Gusti Adipati memiliki ilmu Paichi li ti itu maka saya, Bikshu Ganggadhara yg berasal dari Tibet mengaku kalah, meskipun di paksa kan terus ber tarung tentu saya akan mati, karena memang Paichi li ti memiliki banyak keunggulan nya di banding Xi li ti milik saya, jadi saya secara pribadi mohon maaf kepada Gusti Prabhu karena telah berani lancang untuk menantang perang tanding, Gusti Prabhu,!" ucap Bikshu Ganggadhara sambil merangkap tangan nya di depan dada dan kepala ter tunduk.


" Kami terima per mohonan maaf dari Bikshu Ganggadhara ini, dan selanjut nya kami tidak akan mempersoal kan apa pun atas yg telah terjadi ini, karena nyalah sebaik nya kita ber sahabat saja, memang kami pun merasa punya kesalahan kepada Bikshu Ganggadhara atas tewas nya murid Bikshu ter sebut, namun dalam hal ini akibat adanya peperangan bukan nya dendam, dan secara pribadi kami me mohon maaf atas hal itu kepada Bikshu Ganggadhara,!" kata Wikala sang Adipati Pamotan.


Kepala Bikshu Ganggadhara di angkat nya kemudian perlahan mendekati Sang Adipati Pamotan seraya memeluk nya.


Setelah itu kemudian duduk bersama di satu tempat bekas padepokan Resi Begawan mahameru itu.


Ke delapan orang itu kemudian ber cerita tentang tempat nya masing -masing dan tentang kedua ilmu kedigjayaan yg berasal dari pegunungan karakorum itu.


Ketika hari menjelang sore ke delapan orang itu turun dari puncak Semeru dan kembali ke desa sumber Wuluh ,di sana mereka menginap semalam, sebelum akhir nya ber pisah.

__ADS_1


Rombongan Adipati Pamotan menuju langsung ke desa Antang di kadipaten Tumapel sememtara rombongan Bikshu Ganggadhara beserta murid nya menuju ke Pamotan dan akan kembali menuju Tibet lewat jalan laut.


Sementara di Kotaraja Majapahit sendiri, Mahisa Dara yg mendapat kan kabar bahwa Adipati Pamotan tengah mengada kan perang Tanding dengan Bikshu Ganggadhara, hati nya ter lihat senang.


" Mudah -mudahan, si ******* itu mati di tangan Bikshu dari Tibet itu , Paman ,!" kata nya kepada Patih Lohdaya.


" Mudah -mudahan, akan tetapi bagaimana dengan kabar pasukan dari Wengker, Pangeran,?" tanya Patih Lohdaya.


" Pasukan Kangmas Wengker tengah ber istrahat di desa Anjuk ladang , mungkin sebentar lagi akan sampai di Kotaraja Majapahit ini,!" jawab Mahisa Dara.


" Kalau Pasukan dari kadipaten Pandan Alas, apakah telah tiba, Pangeran,?" tanya Patih Lohdaya lagi.


" Sudah, mereka tengah ber istrahat di barak prajurit Majapahit, tinggal menunggu perintah saja," kata Mahisa Dara lagi.


" Apakah kita akan melakukan pertahanan di dalam benteng Kotaraja saja , pangeran, atau kita menyambut pasukan Pamotan itu di luar benteng,?" tanya Patih Lohdaya lagi.


" Karena pasukan Majapahit lebih sedikit dari pasukan kadipaten Pamotan, lebih baik kita melakukan pertahanan di dalam benteng, kita tidak perlu melakukan serangan jika belum di serang, untuk menghindari jatuh banyak korban dari pihak kita, Paman Patih,!" jelas Mahisa Dara.


" Dan siapa yg pantas untuk menjadi Senopati agung Kotaraja Majapahit ini, apakah Pangeran sendiri,?" tanya Patih Lohdaya.

__ADS_1


" Sebaik nya Paman Patih, dengan di bantu beberapa Rakryan Mantri dan Tumenggung, karena Aku akan memimpin pasukan yg berada di gerbang selatan yg ber hadapan langsung dengan kandangan yg berada di Daha itu, biar lah kelak akan ber temu dengan Pangeran Ranawijaya Sang Adipati Daha itu,!" jelas Mahisa Dara.


" Apakah Adipati Pamotan tidak berada di situ, Pangeran karena selain dekat dengan tempat kelahiran nya ,ia pun tentu sangat memahami tempat itu,?" ungkap Patih Lohdaya.


__ADS_2