
Sementara Jaran abang telah sampai di pamotan yg di terima langsung oleh Wikala dan istri, Brhe Pamotan .
Ampun kanjeng Gusti adipati, hamba di suruh kanjeng Gusti Prabhu untuk menyampaikan pesan bahwa kanjeng Gusti adipati di mohon menghadap ke keraton Majapahit, kata Jaran abang kepada Adipati Pamotan dan Wikala.
Ada gerangan apakah kiranya kami dipanggil untuk menghadap kata putri parangkawuni yang saat ini telah jadi adipati di Pamotan dengan gelar Brhe Pamotan.
Segera Jaran abang menyerahkan sepucuk gulungan lontar yang berisikan surat Sang Prabhu kepada Adipati Pamotan.
Setelah membacanya, terlihat airmuka Adipati yang cantik jelita itu berubah murung.
Hal apakah yang menyebabkan diajeng kurang senang atas isi surat itu tanya Wikala kepada istrinya.
Kangmas akan menerima tugas untuk menjadi UTUSAN ramanda Prabhu ke Tiongkok , ujar Adipati Pamotan .
Adalah kurang adil rasanya , kangmas melaksanakan tugas itu
mengingat masih banyak yang lebih mampu dan lagi kita berdua
baru menikah dan memerintah di pamotan ini juga baru saja, kata Brhe Pamotan lagi.
Akan tetapi perintah ramanda Prabhu adalah kewajiban yang harus di tunaikan, diajeng, kata Wikala meyakinkan istrinya.
Apakah kangmas sanggup melaksakan tugas ini , tanya Brhe Pamotan kepada Wikala.
Kepala Wikala tampak mengangguk pertanda ia sanggup melaksakan titah Sang Prabhu.
Akan tetapi , aku yang tidak sanggup ditinggalkan lama oleh kangmas dalam menjalankan tugas kata Adipati Pamotan seolah-olah berat untuk melepaskan kepergian suaminya.
Ahhh, diajeng jangan terlalu di bawa perasaan selaku kawula Majapahit kita mesti tunduk kepada sabda pandhita Ratu, meskipun itu berat jelas Wikala.
Baiklah Jaran abang, Kami segera menghadap ramanda Prabhu secepatnya, ujar Adipati Pamotan, kepada Jaran abang.
Setelah melaksanakan tugas nya maka Jaran abang pun segera kembali tanpa menginap di Pamotan.
Sedangkan Wikala dan putri parangkawuni segera bersiap,
setelah menyerahkan kepemimpinan kepada Patih Sengguruh.
Besok harinya dengan di kawal Lima belas orang prajurit, berangkat lah iring-iringan Adipati Pamotan yang menggunakan kereta kebesaran kadipaten pamotan.
Ahh, rasanya baru saja kita bertemu di bukit kanca nuwu, saat kami akan ke Daha dari Kahuripan , namun sekarang kita telah jadi suami istri ujar Brhe Pamotan kepada Wikala ketika mereka di atas kereta.
Diajeng memang benar rasa rasanya baru kemarin kita bertemu tetapi sekarang kita telah menikah , balas Wikala
sambil membelai rambut istrin
Namun kenapa kebahagiaan kita yang baru ini, harus segera berlalu dengan kepergian kangmas dalam rangka tugas, ujar Brhe Pamotan seolah bertanya kepada Wikala.
Dalam hidup ada saatnya bertemu dan ada pula saatnya untuk berpisah, ucap Wikala
__ADS_1
Apakah kangmas akan cepat kembali, tanya Brhe Pamotan lagi.
Secepatnya tugas diselesaikan kangmas akan segera kembali , kata Wikala meyakinkan istrinya.
Mudah mudahan, kata bhre Pamotan.
Sesampainya di istana , setelah melakukan perjalanan empat hari maka rombongan itu langsung disambut oleh ibu Suri.
" Bagaimana keadaan mu Wuni,?" tanya ibu Suri.
" Baik, bunda, mengapa ramanda menugaskan kangmas sebagai utusan ke Tiongkok, ?" tanya Bhre Pamotan tanpa tedeng aling-aling.
" Ahhh, entahlah pamanmu singha wara sendiri pun sudah melarang ramanda mu untuk menugaskan anakmas Radeksa, akan tetapi keputusannya tetap ,!" ucap ibu Suri.
" Di mana Ramanda berada ,?" tanya Bhre Pamotan lagi.
" Beliau masih berada di istana," jawab ibu Suri.
" Sebaiknya nanti malam saja menemui ramandmu" kata ibu Suri melihat gelagat Bhre Pamotan ingin menemui Gusti Prabhu.
" Baiklah ibunda," kata Bhre Pamotan.
" Ehh iya, anakmas Radeksa , paman Patih Gajah Nata, memerlukan bicara dengan anakmas, " ujar ibu Suri kepada Wikala.
" Baiklah ibunda, dimana gerangan eyang Patih berada, ?" tanya Wikala.
" Kalau tidak salah berada di katumenggungan, di tempat dimas Singha wara," kata ibu Suri.
" Kangmas tahu dimana rumah paman Singha wara,?" tanya Bhre Pamotan kepada Wikala.
" Tahu , diajeng, " ucap Wikala seraya beranjak pergi.
Sesampainya di rumah tumenggung singha wara , Patih Gajah Nata memang masih berada disana. Akhirnya Wikala pun melakukan pembicaraan bertiga dengan Tumenggung singha wara dan Patih Gajah Nata.
" Sebenarnya ada gerangan apakah kiranya eyang Patih memerlukan saya," kata Wikala kepada Patih Gajah Nata.
"Mohon maaf sebelumnya anakmas Radeksa, telah menganggu , bahwa kami merasa ada sesuatu tentang penunjukkan anakmas sebagai utusan Majapahit ke Tiongkok, " kata Patih Gajah Nata
" Apakah itu?" tanya Wikala penasaran.
" Sebenarnya , sejak kami di Majapahit ini terasa ada yg lain tentang Gusti Prabhu, bahwa setiap saran yg kami ajukan, selalu ditolak , bukan begitu tumenggung,!" kata Patih Gajah Nata sambil melihat kearah tumenggung singha wara.
Sang tumenggung, mengangguk membenarkan perkataan Patih tadi.
" Bukankah tidak ada salahnya kalau saya berangkat ke Tiongkok, ?" tanya Wikala menyelidik.
" Tidak, tidak ada salahnya, !" kata tumenggung singha wara yg menjawab.
" Memang masalahnya bukan atas keberangkatan anakmas, tetapi lebih kepada keadaan dalam negeri sendiri, bahwa sebenarnya situasi Majapahit saat ini belum lah benar-benar aman," lanjut Tumenggung singha wara.
__ADS_1
" Jadi Kami masih sangat membutuhkan orang- orang seperti anakmas dan Bekel Bhayangkara tetap disini untuk menjaga segala kemungkinan yg bisa terjadi" jelas Patih Gajah Nata.
Wikala mulai meraba ada sesuatu
yg akan terjadi di dalam kerajaan Majapahit, namun ia belum mengerti itu apa.
" Jadi maksud eyang dan paman Singha wara , di dalam istana ini masih belum aman ,?" tanya Wikala.
Kedua pejabat teras keraton Majapahit itu mengangguk.
" Apa sebabnya,?" tanyanya lagi.
Kemudian Tumenggung singha wara menceritakan situasi Majapahit saat ini, mulai ketidak senangan atas penunjukkan putra putri Sang Prabhu jadi Adipati sampai penambahan prajurit di kadipaten pandan alas
secara sembunyi-sembunyi.
Wikala sedikit demi sedikit mulai memahami keadaan.
" Kira-kira siapakah orang dalam istana yg banyak memberikan masukan kepada Ramanda Prabhu ?" tanya Wikala.
" Rakryan Mantri Kuda Langhi ,!" secara serentak Patih Gajah Nata dan Tumenggung singha wara menjawab.
" Siapakah beliau itu paman, maksud nya, asal dan mengapa bisa jadi pejabat penting istana,?" tanyanya kepada Tumenggung singha wara.
" Menurut yg saya dengar, ia berasal dari pamotan dan sudah lama berada di lingkungan istana, sejak Gusti Ratu ayu suhita jadi Raja Majapahit," jawab tumenggung singha wara.
" Cukup lama dan mampu bertahan di istana walaupun Rajanya silih ganti berganti, merupakan sesuatu yg patut di pertanyakan,!" jelas Patih Gajah Nata.
" Eyang benar, yg patut dipertanyakan adalah kesetiaannya, atau aji mumpungnya, bukan begitu eyang patih,?" tanya Wikala kepada Patih Gajah Nata.
Nampak Patih Gajah Nata tersenyum seolah-olah berkata memang cerdas cucu kangmas Narapati ini pikirnya dalam hati.
" Jadi karena itulah kami risau akan keberangkatan anakmas sebagai utusan, mengingat putra Sang Prabhu yg lain nampaknya kurang tanggapannya tentang keadaan Majapahit saat ini, " jelas Patih Gajah Nata lagi.
" Namun titah sudah di putuskan, sedangkan kita tinggal melaksanakan, " kata Wikala sambil mendesah.
" Ya , ya, ya, namun setidaknya anakmas telah melihat gambaran situasi saat ini, jika memang tugas sebagai utusan Majapahit telah selesai, secepatnya lah anakmas kembali," kata tumenggung singha wara.
" Mudah-mudahan , Paman , demikian pula yg di harapkan diajeng parangkawuni, walaupun kita tidak tahu aral apa yg akan melintang di depan menghalangi jalan ," kata Wikala.
Setelah pembicaraan itu selesai, maka Wikala kembali ke dalam istana .
Malam itu di puri ibu Suri telah berkumpul Prabhu SiNAGARA dan permaisuri serta Wikala dan Putri parangkawuni atau Bhre Pamotan.
" Nanda Radeksa, bukan maksud Ramanda mu ini ingin memisahkan dengan parangkawuni akan tetapi sebagai pendadaran nanda sebagai seorang pangeran, " ucap Prabhu SiNAGARA.
" Akan Tetapi, ini sesuatu yg berat buat Ananda, mengingat Negeri Tiongkok itu jauh mana gadis-gadis cantik lagi, " potong putri parangkawuni .
" Ahh, ananda Wuni mana mungkin ananda Radeksa pindah kelain hati," ujar Prabhu SiNAGARA meledek putrinya.
__ADS_1
Wikala yg mendengarnya tersenyum demikian pula ibu Suri.
Malam itu pembicaraan keluarga istana Majapahit itu , terasa santai .