
Di tempat lain Bhre Pandan alas pun tengah mengadakan pertemuan guna membahas masalah kedatangan dari para Adipati di tiga Kadipaten yaitu Kahuripan, Pamotan dan daha.di Istana Majapahit itu.
Di rumah kediaman Tumenggung Surattanu, tempat pertemuan berlangsung, berkata lah Bhre Pandan alas dengan suara lantang,
" Aku menginginkan kepala ketiga pemimpin kadipaten Itu!" katanya di depan para pembesar Pandan alas dan Majapahit yg berpihak kepada nya.
" Maksud Gusti Adipati , kami harus membunuh ketiga Adipati tersebut,?" tanya Patih Kebo Mundira yg agak terkejut mendengar pernyataan dari Junjungan nya itu.
" Benar, saat ini lah kesempatan bagi kalian untuk menunjukkan kesetiaan kepada ku dengan menghabisi ketiga Adipati tersebut, karena mereka merupakan duri dalam keinginanku untuk bertahta di Majapahit ini,!" terang dari Adipati Pandan alas.
Para pembesar kadipaten pandan alas terdiam mendengar titah dari junjungan nya itu, karena bukan persoalan yg mudah untuk membunuh para Adipati tersebut, terlebih disitu ada nama Satria dari daha yg terkenal linuwih dan jarang ada banding nya di Majapahit ini.
" Apakah kalian tidak sanggup atau tidak berani melakukan nya,?" tanya Bhre Pandan alas lagi.
" Saat ini adalah kesempatan yg sangat-sangat baik untuk menghabisi mereka karena mereka tidak dalam pengawalan yg ketat hanya berjumlah Lima orang, tentu akan sangat mudah untuk di habisi dengan kalian membawa prajurit yg banyak,!" terang Bhre Pandan alas.
" Akan tetapi mereka pun masih dalam perlindungan dari Gusti Prabhu Bhatara Purwawisesa, " kata dari Tumenggung Jayasena.
" Maka nya kalau punya otak itu, ya, di pakai jangan hanya tahunya makan sama tidur saja,!" ucap Sang Adipati Pandan alas dengan geram.
" Kalian tidak Aku perintahkan untuk menghabisi mereka disini, tetapi kalian cegat mereka di perbatasan , dengan membawa prajurit yg banyak, setinggi-tinggi ilmu seseorang pasti akan kalah dengan bertemu lawan yg banyak,!" ujar Adipati Pandan alas itu.
" Jadi kami harus menunggu mereka di perbatasan, dengan membawa banyak prajurit, begitu maksud Gusti Adipati,?" tanya Kebo Ndaru.
" Benar, kalian membagi tiga kelompok , kelompok yg pertama mencegat Adipati Daha di perbatasan antara Pandan alas dan Daha, Sedangkan kelompok yg kedua bertugas mencegat rombongan dari Adipati Kahuripan di perbatasan antara kotaraja dengan Kahuripan, sedangkan kelompok yg ketiga mencegat rombongan dari Adipati Pamotan di perbatasan antara Kahuripan dan Pamotan, usahakan kedua rombongan itu telah berpisah baru kalian bantai, dan untuk pelaksana Aku serahkan kepada kakang Patih Kebo Mundira,!" jelas Bhre Pandan alas.
" Aku tidak ingin ketiga Adipati itu menjadi penghalang ku untuk jadi Maharaja di Majapahit ini, lebih baik sekarang mereka ku singkirkan!" ungkap Bhre Pandan alas.
" Baiklah Gusti Adipati, titah Gusti Adipati akan kami laksana kan, !" jawab Patih Kebo Mundira .
" Bagus , jawaban seperti itulah yg aku ingin kan dari kalian, dan satu hal lagi berhubungan lah dengan prajurit sandi Pandan alas untuk mengetahui kapan mereka akan kembali,!" kata Adipati Pandan alas itu.
Setelah memberikan perintah kepada para pembantunya maka Bhre Pandan alas keluar dari kediaman Tumenggung Surattanu, tinggalah para pembesar Pandan alas, yg segera mematangkan rencana untuk menghabisi ketiga Adipati yg merupakan putera dari Prabhu Rajasawardhana,yg juga adalah keponakan dari Adipati Pandan alas tersebut.
Kali ini yg memimpin pertemuan adalah Patih Kebo Mundira yg segera membagi tugas,
" Aku dan Tumenggung Jayasena akan mencegat rombongan Adipati Kahuripan dengan di tambah beberapa Rangga dan Lurah prajurit pandan alas," katanya kemudian.
" Dan untuk mencegat rombongan dari Adipati Pamotan kuserah. kan, ke. pada,!" lama Patih Kebo Mundira untuk menunjuk pencegat dari rombongan Adipati Pamotan itu, adalah Senopati Kebo Ndaru yg segera menjawab,
" Biarlah Aku saja kakang, yang akan menghabisi Satria dari daha itu, sudah lama Aku ingin menjajal kemampuan nya, apakah benar ilmu nya setinggi gunung, atau hanya Ngayawara saja,!" kata Senopati Kebo Ndaru dengan berapi-api.
" Baiklah adi Kebo Ndaru, engkau akan di bantu oleh Tumenggung Surattanu dan Tumenggung Kebo Gilang,!" ujar Patih Kebo Mundira.
" Maafkan paman Patih, ingin rasa-rasanya aku berada bersama dengan paman Kebo Ndaru untuk menghabisi si Wikala ******* itu,!" seru dari Mahisa Dara yg berada dalam pertemuan itu.
" Hehh, apakah angger Dara tidak ikut bersama rombongan dari Adipati Daha,?" tanya Patih Kebo Mundira.
" Tidak Paman Patih, keberadaan ku disini pun tanpa sepengetahuannya,!" jawab Mahisa Dara.
__ADS_1
" Baiklah kalau begitu, ikutlah dengan paman mu, Kebo Ndaru untuk mencegat dan menghabisi Adipati Pamotan itu, bawa empat puluh orang prajurit,!" perintah Patih Kebo Mundira kepada Mahisa Dara dan adik seperguruannya Senopati Kebo Ndaru.
" Dan yang bertugas mencegat rombongan Adipati Daha adalah Tumenggung Jarak jalu dan Tumenggung Wiratanu dibantu tiga puluh orang prajurit pandan alas dari pangkat lurah dan Rangga, karena tugas yg di bebankan oleh Gusti Adipati ini cukup berat, dan sangat di harapkan untuk berhasil dalam tugasnya, jadi kerjasama sangat penting dalam hal ini,!" terang Patih Kebo Mundira.
" Ada pertanyaan,?" tanya Sang Patih lagi.
" Kapan waktunya kita akan bergerak,?" tanya Tumenggung Jarak jalu.
" Nanti setelah mendapat laporan dari prajurit sandi Pandan alas, kapan mereka akan kembali,!" jelas Patih Kebo Mundira lagi.
" Kakang Patih, karena daerah tempat yg kami tuju Lumayan jauh, apa tidak sebaiknya dari sekarang kami berangkat,?" tanya Senopati Kebo Ndaru kepada kakak seperguruannya itu.
" Tunggu dulu Ndaru, jika kalian berangkat sekarang, sementara rombongan itu baru sepekan lagi kembali, kalian akan di curigai oleh prajurit Kahuripan tentang keberadaan kalian disana ,!" jelas Patih Kebo Mundira
" Jadi kapan kami bisa mulai bergerak,?" tanya Kebo Ndaru lagi.
" Mungkin nanti malam kita akan mendapatkan laporan dari para teliksandi kita, kapan mereka kembali, yg penting persiapkan persenjataan dan diri kalian karena tugas ini tidak mudah,!" jelas Patih Kebo Mundira.
" Sekarang kalian di persilahkan untuk beristrahat , nanti malam kita akan kembali mengadakan pertemuan setelah mendapatkan laporan dari prajurit sandi,!" perintah Patih Kebo Mundira.
Sedangkan di Istana sendiri, Prabhu Bhatara Purwawisesa menjamu ketiga adik nya dalam jamuan makan di dalam istana, di sela-sela saat makan bersama itu, mereka berbincang santai,
" Dimas Kertabhumi, kapan kiranya dimas ratu Pamotan akan melahirkan,?" tanya Prabhu Bhatara Purwawisesa kepada Wikala.
" Mungkin sekira dua purnama lagi Kangmas Prabhu, kalau tidak ada halangan,!" jawab Radeksa Wikala.
" Apakah ibunda Ratu Jayeswari tidak akan ke Pamotan guna menemani dimas Ratu,?" tanya Bhre Kahuripan.
" Dan bagaimana keadaan Gunung Kelud , Dimas Daha,?" tanya Sang Prabhu Bhatara Purwawisesa kepada Adipati Daha.
" Entahlah Kangmas Prabhu, beberapa waktu belakang an sering terjadi lindu di sekitar nya walau tidak terlalu kuat, sementara kepulan asap di Puncak nya pun mulai menebal!" jelas Adipati Daha.
" Hahh, apakah Kelud akan meletus Kangmas,?" tanya Wikala kepada Adipati Daha.
" Kami belum tahu, Dimas, namun kegiatan gunung itu terus meningkat dari hari ke hari,!" jawab Adipati Daha lagi.
" Kapan kalian akan kembali ,?" tanya Prabhu Bhatara Purwawisesa kepada ketiga adik nya itu.
" Kami bersepakat dua hari lagi kami disini baru esok nya, kami akan bukan begitu dimas,!" jelas Adipati Kahuripan seraya minta persetujuan kedua adik nya itu.
Baik Adipati Daha dan Wikala mengangguk mengiyakan bahwa mereka akan kembali setelah dua hari lagi di Istana Majapahit itu.
Adalah emban pelayan di dalam Istana tersebut mendengar nya segera melaporkan kepada salah seorang prajurit yg ternyata merupakan prajurit sandi dari Adipati Pandan alas,.
Prajurit tersebut bergegas melaporkan hasil pekerjaan itu kepada Patih Kebo Mundira yg berada di kediaman Tumenggung Surattanu.
Sesampainya di sana para pembesar Pandan alas tengah berkumpul untuk mematangkan rencana menghabisi tiga Adipati sekaligus.
Melihat prajurit sandi itu tiba, hati Patih Kebo Mundira terlihat senang seraya bertanya,
__ADS_1
" Jadi kapan mereka akan kembali,?" tanyanya pada prajurit sandi Itu.
" Menurut warta yg saya terima, mereka akan berada di istana selama dua hari lagi, besok nya baru kembali,!" jawab prajurit itu.
" Nah, kalian telah mendengar sendiri bahwa mereka akan kembali pada tiga hari lagi, jadi kita bisa menetapkan siasat mulai dari sekarang,!" kata Patih Kebo Mundira sambil menyuruh kembali prajurit sandi itu pada tempat tugas nya.
" Kalau begitu kakang, malam ini kami telah bisa bergerak ke tempat lokasi pencegatan,!" kata Senopati Kebo Ndaru.
" Benar Ki Patih, selain tempat nya cukup jauh, kami pun memerlukan untuk mencari tempat yg baik untuk menghabisi mereka, karena kami kurang memahami medan tersebut,!" ujar Tumenggung Surattanu.
" Sebaiknya memang begitu paman, supaya kami lebih memahami medan nya dan kami bisa tidak di ketahui keberadaan nya dari kedua prajurit baik Kahuripan maupun Pamotan,!" kata Mahisa Dara.
" Baiklah , kelompok tiga yg di pimpin oleh Kebo Ndaru, Tumenggung Surattanu dan Tumenggung Kebo Gilang , silahkan bergerak lebih dahulu dengan membawa empat puluh prajurit terpilih, !" perintah Patih Kebo Mundira kepada adik seperguruan nya itu.
" Sedangkan kelompok satu yg bertugas mencegat rombongan dari Adipati Daha yg di pimpin oleh Tumenggung Jarak jalu dan Tumenggung Wiratanu, akan bergerak besok pagi dengan membawa tiga puluh orang prajurit terpilih, " kembali Perintah Patih Kebo Mundira kepada Tumenggung Jarak jalu dan Tumenggung Wiratanu.
" Dan kami sendiri yg bertugas untuk mencegat rombongan Adipati Kahuripan akan bergerak setelah matahari condong ke barat, karena selain lokasi nya dekat, kita juga berupaya untuk menghindari dari penglihatan para prajurit sandi musuh, sehingga mereka tidak mengetahui usaha kita ,!" jelas Patih Kebo Mundira.
Malam itu juga Pasukan yg di pimpin oleh Senopati Kebo Ndaru yg di bantu dua orang Tumenggung yaitu Tumenggung Surattanu dan Tumenggung Kebo Gilang bergerak ke perbatasan antara Kahuripan dan Pamotan, pasukan kecil yg berjumlah empatpuluh tiga orang itu berjalan sampai di luar kota raja, setelah dari sana mereka mengambil kuda-kuda mereka yg di letakkan di sebuah dusun , kemudian berangkat ke perbatasan pamotan dengan berkuda.
Sementara Pasukan yg di pimpin oleh Tumenggung Jarak jalu dan Tumenggung Wiratanu bergerak ke perbatasan Daha dan Pandan alas di pagi hari, sebelum nya mereka keluar dari kota raja dengan berjalan kaki, setelah di luar baru mereka menggunakan kuda menuju tempat pencegatan rombongan Adipati Daha tersebut.
Sedangkan Patih Kebo Mundira dan di dampingi oleh oleh Tumenggung Jayasena keluar dari Istana setelah sore hari dari gerbang sebelah Timur mereka langsung menuju perbatasan antara kotaraja dengan Kahuripan.
Setelah dua hari di istana Majapahit maka ketiga rombongan kecil dari para Adipati itu pun bergerak meninggalkan ibukota Majapahit.
Adalah ibunda Ratu berpesan kepada Wikala," Jangan lupa anakmas menjemput, sekira usia kandungan nanda Pamotan kurang satu purnama lagi,!"
" Sendika dalem Kanjeng ibu,!" jawab Wikala seraya menghaturkan hormat terhadap ibunda Ratu Jayeswari.
" Dimas, sebaiknya kita melakukan perjalanan bersama saja,!" kata Adipati Kahuripan kepada Wikala.
" Baiklah Kangmas,,!" jawab Wikala.
Segera Dua belas orang dari rombongan Adipati Kahuripan dan Pamotan keluar kota raja Majapahit dari gerbang timur dan diikuti enam orang rombongan dari Adipati Daha yg keluar kotaraja dari gerbang sebelah selatan.
" Dimas tidak cemas dengan keadaan keluarga yg berada di Daha, mengingat lokasi tempat tinggal mereka tepat berada di kaki gunung kelud,?" tanya Adipati Kahuripan kepada Wikala di tengah lajunya lari kuda-kuda yg mereka tunggangi.
" Sungguh saya sangat cemas Kangmas, apalagi Romo pernah bermimpi bahwa Kelud meletus dengan hebat nya,!" jawab Wikala.
" Hah, paman Wirapati bermimpi bahwa kelud telah meletus, apakah itu bukan suatu pertanda bahwa kemungkinan itu bisa terjadi,?" tanya Adipati Kahuripan lagi.
" Kemungkinan itu memang bisa terjadi,,!" jawab Wikala pelan.
" Kalau menurut Kangmas, sebaiknya keluarga yg berada di kaki gunung tersebut segera lah di ungsikan, Dimas bawa saja ke pamotan,!" saran dari Adipati Kahuripan kepada Wikala.
" Baiklah Kangmas , saran Kangmas akan kulaksanakan,!" ucap Wikala dan tetap menjalankan kuda kudanya dengan cukup kencang.
Ketika hari menjelang malam sampai lah rombongan itu di pertigaan yg akan memisahkan kedua rombongan itu, Adipati Kathi terus, sedangkan Wikala berbelok ke kanan.
__ADS_1
-------------........--------------