
Di kota Vijaya di daerah Champa, tampak sebuah kapal mulai bergerak meninggalkan pelabuhan Vijaya, kapal itu di tumpangi oleh Wikala dan Lembu petala dan beserta kedua istrinya dari Champa tersebut.
Kapal itu berlayar kearah selatan tepatnya menuju Tumasik , hampir sepuluh hari kapal itu baru tiba di Tumasik, dan melanjutkan kembali setelah dua hari di Tumasik.
Di dalam perjalanan pulang ke Majapahit itu dua utusan sang Prabhu SiNAGARA itu pun berbagi cerita dengan istri mereka,
" Diajeng, sewaktu kami berangkat antara champa dan Tumasik kapal kami di serang Badai, bukan begitu paman,?" kata Wikala sambil melihat kearah Lembu Petala
" Benar , tuan putri, kami pikir tidak bisa Selamat,!'' jawab Lembu petala.
" Apakah badai sangat besar,?" tanya putri Cemaravati kepada suaminya itu.
" Wah, sangat besar, bahkan kapal yg kami tumpangi mengarah ke Tanjung Pura di bawa ombak,!" cerita Wikala.
" Sangat sulit membayangkan kalau kangmas, sampai tenggelam di terjang Badai,!" ujar putri Cemaravati .
" Kami semua merasa ketakutan , putri , karena baru pertama kali berlayar,!" ucap Lembu Petala .
" Bagaimana bisa Selamatnya,?" tanya putri Cemaravati lagi .
" Berkat Hyang widhi wasa, dan usaha kami semua, kami berhasil selamat dari badai tersebut,!" jelas Wikala.
Nampak putri Cemaravati terdiam memandang laut lepas, ia telah meninggalkan kampung halamannya, tempat ia di lahirkan dan harus mengikuti suaminya atas perintah ayahnya, karena di khawatir kan pasukan kerajaan annam akan menyerang Champa, sedang kan Champa tidak mampu mengatasi nya, demi keselamatan sang putri, maka di perintah kan untuk ikut ke Majapahit di sertai dengan putri Yasuvati yg telah menjadi istri Lembu Petala.
Di saat saat di tengah lautan, bertanyalah Lembu Petala kepada Wikala,
" Bagaimana anakmas, apakah mereka berdua kita ajak langsung ke keraton , ?" tanyanya.
" Mungkin sebaiknya tidak , paman, mengingat mereka bukan putri persembahan untuk Gusti Prabhu melainkan adalah istri-istri kita, bisa jadi nanti Gusti Prabhu salah paham,!" jawab Wikala.
" Benar juga, jadi sebaiknya mereka kita bawa kemana,?" tanya Lembu Petala lagi.
" Bagaimana kalau kita bawa ke desaku di Thanda, di rumahku tinggal biyung dan Romo,!" ungkap Wikala
" Pemikiran yg bagus itu, setelah membawa mereka ke Thanda baru kita menghadap Gusti Prabhu, !" kata Lembu Petala.
" Dan sebaiknya setelah sampai di pelabuhan Asem arang kita jalan darat ke Thanda, tidak usah melewati tempuran dan canggu, nanti kita harus singgah dulu di kota raja bila lewat dari Tempuran,!" kata Wikala.
" Memang pemikiran anakmas sangat cemerlang, begitu sampai di Asem arang kita membeli kuda dan pulang lewat jalan darat,!" sebut Lembu Petala.
" Ahh, masak kami tidak diajak ngobrol, ada yg rahasia yg sedang di bicarakan,!" kata putri Yasuvati.
" Tidak ada yg rahasia , hanya kami membicarakan , jalan pulang terbaik lewat jalan darat atau lewat laut terus,!" ungkap Lembu Petala kepada istrinya.
" Memangnya kita sudah mau sampai ,?" tanya putri Yasuvati.
" Sebentar lagi sampai di pelabuhan Kelapa yg merupakan ujung pulau jawa sebelah barat, dari situ sebenarnya kalau mau kembali ke Majapahit lewat darat , !" jelas Lembu Petala.
" Jadi sebentar lagi kita akan sampai ke pulau jawa,?" tanya putri Cemaravati yg kali ini bertanya.
__ADS_1
" Benar diajeng, tetapi ujung pulau jawa sebelah barat sedangkan Majapahit berada di sebelah Timur, jadi kalau dari Kelapa naik kuda ke Majapahit membutuhkan waktu satu purnama perjalanan,!" jelas Wikala.
" Cukup jauh, !" ujar putri Cemaravati.
" Iya , cukup jauh, jadi kami tadi telah berunding dengan paman Petala, bahwa akan lewat darat setelah sampai di Asem arang, karena kalau dari sana paling lama sepuluh hari itu dengan jalan yg lamban ," kata Wikala menjelaskan.
Kapal terus berlayar dan tidak terasa sampailah mereka di pelabuhan Kelapa, setelah terjadi bongkar muat di kapal itu selama dua hari, kapal pun melanjutkan perlayaran kembali menuju Asem arang.
Hanya beberapa hari saja , melewati laut utara pulau jawa maka kapal yg di tumpangi oleh Wikala dan Lembu Petala beserta istri, merapat di pelabuhan Asem arang, dan Wikala berempat meminta izin kepada Nakhoda Kapal untuk turun di Asem arang tidak ikut melanjutkan perlayaran kapal yg akan terus ke Timur.
Oleh Nakhoda Kapal mereka di persilahkan turun di Asem arang.
Di Asem arang ini keempatnya mencari tempat beristrahat , di sini mereka mendengar bahwa Prabhu Rajasawardhana sang raja Majapahit telah lama mangkat dan saat ini ISTANA tanpa seorang Raja.
Alangkah terkejutnya kedua utusan Majapahit itu.
" Bagaimana ini paman Sang Prabhu telah tiada, haruskah kita melaporkan ke istana tentang kepulangan kita,?" tanya Wikala kepada Lembu Petala.
" Kukira tidak usah anakmas, mengingat saat ini yg berada di istana adalah paman Patih Gajah Nata,!" jawab Lembu Petala.
" Jadi sebaiknya kita terus saja ke daha, begitu,?" tanya Wikala lagi.
" Ya, sebaiknya kita langsung ke daha, setelah itu anakmas langsung ke pamotan dan aku ke kotaraja,!" jelas Lembu Petala.
" Baiklah, besok kita langsung kedaha, apakah diajeng bisa berkuda sendiri,?" tanya Wikala kepada istrinya.
" Bisa kangmas, demikian pula dengan kanda Yasuvati, mampu menunggangi kuda ,!" jawab putri Cemaravati.
Kemudian keempatnya melanjutkan perjalanan ke daha dengan menaiki Kuda.
Ketika sampai di alas Bintara , mereka berempat beristrahat di pinggir hutan tersebut yg masih banyak binatang buas nya.
Keberadaan mereka berempat rupanya telah di ketahui oleh kawanan rampok Alas Bintara yg di kepalai oleh seorang yg kejam lagi bengis, ia adalah Macan lawung.
Melihat ada mangsa , empat orang yg berpakaian bagus dan banyak memakai perhiasan di tubuhnya, maka air liur Macan lawung pun meleleh, apalagi para wanitanya cantik-cantik dan muda.
" Heh, Kampret, kumpulkan anakbuah, kita sergap mereka nanti malam ,!" Macan lawung.
" Baik ki, !" jawab kampret.
Segera saja , dua puluh orang sore itu telah mengepung tempat istrahat Wikala dan rombongan.
Ketika mentari beranjak keperaduannya, maka segera lah kawanan rampok itu, mendatangi rombongan Wikala.
Dengan aji gelap ngampar nya, berkatalah macan lawung,
" Tinggal kan seluruh harta benda kalian juga kedua orang perempuan itu, kalian yg lelaki boleh meninggalkan tempat ini,!" teriaknya.
Mendengar ada suara yg berisi ajian gelap Ngampar, Wikala cepat menotok pendengaran kedua putri champa tersebut. Ia masih tetap tidak bergeser dari tempatnya dengan tidak bergerak berpura-pura terpengaruh oleh ajian tersebut .
__ADS_1
Merasa mangsanya telah lumpuh, Macan lawung dan anak buahnya segera mendekati. Sesaat jarak tinggal beberapa langkah lagi, tiba-tiba....
" Aaaaaaakkkkkhhhh, !" teriak dua orang anak buahnya yg jatuh tersungkur.
" Ada apa , ?" tanya Macan lawung sambil melihat ke belakang.
Anggota nya tidak ada yg menjawab , mereka terkejut akan kejadian itu, maka Macan lawung segera memberikan isyarat kepada anakbuahny untuk membunuh kedua orang itu .
Dengan cepat anggota macan lawung itu membacokkan goloknya kearah Wikala dan Lembu Petala.
Bekel Lembu Petala langsung memberikan tendangan sebelum golok-golok itu menyentuh tubuhnya,
" Heaaahh, " teriak nya dan empat orang sekaligus langsung terjekang jatuh.
Sedangkan Wikala masih posisi tertidur, maka tak ayal delapan buah golok mencincang nya.
Adalah Putri Cemaravati dan Yasuvati yg ketakutan melihat kejadian itu pun berteriak,
" Tidaaaak,!" teriaknya.
Namun kawanan rampok itu semakin beringas membacokkan goloknya ,akan tetapi tiba-tiba lima kawanan rampok yg menyerang Wikala itu berteriak nyaring,
" Aaaaaaakkkkkhhhh," dan kelima nya terpental jauh.
Kawanan rampok yg tinggal tiga orang lagi saling berpandangan, namun setelah mendengar perintah Macan lawung,
" Tunggu apalagi cepat habisi mereka,!"
Ketiganya pun kembali menyerang Wikala, dan kali ini kejadian serupa pun terjadi dan tubuh ketiganya jatuh di dekat kaki Macan lawung. Pemimpin kawanan rampok ini tampaknya mulai keder dan ketakutan , karena anak buahnya tinggal yg melawan Lembu Petala, tidak ada kata lain pikir pemimpin kawanan rampok itu selain cabut, segera lah berlari sekuat tenaganya, namun dirasanya ia sudah cukup jauh berlari namun tiba-tiba ada suara yg menyapanya.
" Larimu belum cukup jauh kisanak,!" kata Wikala yg berada di depan nya.
" Siapa kau, !" teriak Macan lawung.
" Aku adalah orang yg mau kau rampok, " jawab Wikala.
" Heh, keparat ****** kau,!" teriak Macan lawung langsung membacokkan goloknya.
Namun oleh Wikala, golok yg hampir membelah kepala nya itu di jepit oleh kedua jari nya, Dan....
" Thaaak,!" bunyi golok itu patah jadi dua.
Macan lawung kemudian membuang goloknya yg tinggal separuh itu ketanah dan menyerang Wikala dengan membabi buta, Wikala dengan pergerakkan satu-satu menghindari serangan nya.
Sampai Macan lawung kelelahan sendiri pun tidak ada satu pukulan yg bersarang.
Macan lawung melompat mundur, dan merapal ajian macan liwung miliknya , segera ajian menerpa Wikala, namun oleh Wikala di tahan dengan ajian Nantha angin, segera ajian milik Macan lawung itu kembali padanya dan mengakhii hidup nya.
Seluruh kawanan rampok Macan lawung tewas tidak ada yg tersisa.
__ADS_1
Dan keesokan paginya Wikala dan rombongan berangkat melanjutkan perjalanan melalui kadipaten Matahun, dan selanjutnya kearah timur menuju Daha.
------------