
" Sungguh kah Adipati meminta izin kepada Gusti Prabhu atas pengiriman pasukan nya ke Bali,?" tanya Patih Lohdaya seolah tidak percaya.
Karena sebagian besar pemimpin Majapahit mendengar bahwa Pamotan memberi kan bantuan ke Bali dalam menyelesaikan masalah dalam negeri nya, karena walaupun bagaimana Bali masih merupakan negara bawahan dari Majapahit bahkan pemimpin yg ada di sana masih Trah Majapahit.
Jadi menurut sebagian pembesar di Kotaraja Majapahit tindakan dari Adipati Pamotan merupakan sikap yg mbalela alias pengkhianatan karena mendahului kebijaksanaan Kotaraja.
Kemudian Sang Prabhu Bhatara Purwawisesa berkata lagi,
" Bahkan Dimas Pamotan ber pesan selama Aku yg jadi Raja Majapahit, Pamotan tetap akan tunduk dan patuh kepada Majapahit, demikian lah pesan yg telah di kirim oleh nya melalui kurir yg telah di kirim nya kemari,!" jelas Sang Prabhu lagi.
" Aku sengaja tidak memberi tahukan kepada kalian karena ini nanti nya akan menjadi persoalan yg besar, sehingga akan ada pihak-pihak yg akan memanfaat kannya, dan boleh jadi Majapahit akan di bentur kan dengan Pamotan, seperti yg terjadi pada masa lalu di masa perang paregreg,!" jelas Sang Prabhu Bhatara Purwawisesa kepada para pembantu setia nya.
" Ahh, Kami telah ber prasangka buruk terhadap Adipati Pamotan , Kami berfikir Gusti Adipati Pamotan mengambil langkah tanpa sepengetahuan dari Gusti Prabhu,!" kata Patih Lohdaya.
" Benar Gusti Prabhu, hamba selaku pemimpin Pasukan Majapahit ini merasa di langkahi dengan tindakan dari Adipati Pamotan itu, karena mengira bahwa Sang Adipati tidak memberi tahukan kepada Gusti Prabhu,!" ujar Tumenggung Wanrngpati.
" Itu lah sebab nya kalian Ku panggil kemari, karena sesungguh nya di dalam keraton sangat banyak musuh yg senang melihat bila Majapahit ber perang dengan Pamotan.Namun sangat sulit menentukan mana lawan dan kawan, membuat Ibunda Ratu khawatir akan keselamatan Ku, dan menyaran kan untuk menyerah kan tampuk kekuasaan ini kepada Ramanda Pandan alas yg menurut Ku akan membuat perang besar, sesuai dengan permintaan dari Dimas Pamotan yg saat ini terbaik dalam masalah ke prajuritan itu,!" tutur Sang Prabhu Bhatara Purwawisesa yg tengah menghadapi dilema antara menggenggam atau melepas kan kekuasaan.
" Ampun kan hamba Gusti Prabhu, Sungguh hamba pun merasa kecolongan dengan prajurit sandi Pamotan itu, karena tidak mengetahui kapan mereka menyampai kan berita itu kepada Gusti Prabhu sementara hamba dan pasukan Bhayangkara senantiasa bersama Gusti Prabhu, dan maaf kanlah kesilapan Hamba Gusti Prabhu,!' kata Senopati Warak Sumadilaga yg merasa bersalah itu.
" Jangan terlalu di risau kan masalah itu, mungkin di situlah letak kehebatan dari Dimas Pamotan sehingga kalian yg merupakan orang terdekat ku pun masih bisa IA kelabui namun dengan maksud baik bukan menyepele kan kalian semua, jangan kan Dimas Pamotan, kita di sini pun sulit menentukan mana lawan dan mana kawan, hanya satu hal masih mengganjal dengan permintaan Ibunda Ratu Jayeswari yg sedang dalam keadaan sakit itu, harus kah di turuti atau di abaikan,!" jelas Sang Prabhu Bhatara Purwawisesa.
" Kalau menurut hamba , Gusti Prabhu tidak usah menuruti saran dari Gusti Ibunda Ratu itu, bila perlu kita lawan saja Adipati Pandan Alas,!" kata Patih Lohdaya dengan semangat.
" Benar Gusti Prabhu, sebaik nya kita lawan saja Adipati Pandan Alas itu sesuai dengan permintaan dari Adipati Pamotan bila perlu kita meminta bantuan nya guna mengatasi sikap Adigang, adigung dan adiguna dari Pandan Alas itu,!" ujar Tumenggung Wanengpati.
" Ampun Gusti Prabhu, Sesungguh nya kita sudah sangat terlambat untuk menyadari nya, andai kata sejak awal Gusti Prabhu tegas pada Pandan Alas tentu kita masih bisa menghadapi nya, namun sekarang jaring-jaring kekuasaan dari Pandan Alas itu di Kotaraja ini sudah sangat kuat mencengkam , sangat sulit untuk melepas kan nya, ada benar nya juga saran dari Gusti Ratu Jayeswari itu,!" jelas Rakryan Mantri Waninghyun.
" Jika kita menuruti saran dari Gusti Ratu Jayeswari, kemana selanjut nya kita akan ber labuh, harus kah kembali ke Wengker,,?" tanya Patih Lohdaya .
__ADS_1
" Itu juga yg jadi pemikiran Ku, akan kah kita kembali ke Wengker, sedang kan Wengker telah lama di Perintah oleh Dimas Surya Wijaya,!" kata Sang Prabhu Bhatara Purwawisesa.
" Dan kalau kita bertahan, bisakah kita menghadapi Ramanda Pandan Alas yg terus menerus berupaya untuk menjadi seorang Raja di Majapahit ini, dan bagaimana dengan permaisuri Ku jika Aku harus berhadapan dengan Ramanda nya,!" terdengar suara berat keluar dari mulut Sang Prabhu Bhatara Purwawisesa itu.
" Sebaik nya kita menunggu keadaan ini, apakah kita bersiap dengan segala kemungkinan yg terjadi bila Ibunda Ratu Jayeswari telah tiada dan mudah mudahan Adipati Pandan Alas masih memandang Gusti Prabhu sebagai putra nya," kata Patih Lohdaya.
" Namun sampai kapan kita harus menunggu, sementara Adipati Pandan Alas telah siap dengan segala sesuatu nya, kita hanya menunggu, suatu tindakan sia sia, memang sebaik nya Gusti Prabhu cepat memutus kan antara memberi kan atau melawan keinginan dari Adipati Pandan Alas tersebut,!" ungkap Rakryan Mantri Waninghyun itu.
" Akan tetapi sampai saat ini memang menjadi dilema dan sangat sulit untuk memutus kannya, kalau untuk mudah nya bisa saja Gusti Prabhu menyerah kan kekuasaan nya kepada Adipati Pandan Alas, tetapi tiga kadipaten terbesar pasti akan menolak nya, sehingga perpecahan di tubuh Kerajaan Majapahit ini diambang kehancuran, mungkin kelak walaupun memerintah, Adipati Pandan Alas tidak akan bertahan lama,!" kata Tumenggung Wanengpati.
" Heemmmh, memang sulit untuk mencari jalan keluar dari masalah ini, ada baik nya Gusti Prabhu memanggil ketiga Adipati tersebut, untuk di mintai pendapat nya mengenai saran dari Gusti Ratu Jayeswari, agar nanti nya tidak ada silang sengketa di kemudian hari," ucap Patih Lohdaya.
" Baik lah Paman Patih memang kebetulan ibunda Ratu meminta untuk memanggil ketiga nya datang ke Istana,!" kata Prabhu Bhatara Purwawisesa yg terlihat masih gundah gulana atas usul dari Ibunda Ratu Jayeswari itu.
********
Di kadipaten Pamotan sendiri, Adipati Pamotan telah tiba di Istana timur itu dan di sambut sukacita oleh rakyat Pamotan karena ke berhasilan nya membantu Bali untuk mengatasi permasalahan yg di timbul kan oleh Prabhu Semprangan tersebut.
Sementara Sang Adipati di Istana telah bertemu keluarga nya termasuk dengan adik nya Larasati dan suami nya Pratanu.
" Ras bagaimana perjalanan mu, sekembali nya dari Nusakambangan,?" tanya nya kepada adik nya itu.
" Seperti perintah Kakang kami telah berhasil masuk keraton Majapahit dan menyampai kan seluruh permintaan kakang tanpa ada yg mengetahui nya, hanya Paman Tumenggung singha wara sajalah yg kami mintai bantuan nya,!" jawab Larasati.
" Bagus, berarti Kangmas Prabhu tidak akan salah paham dengan di kirim nya pasukan Balasewu ke Bali, kita tidak di anggap melancangi Kotaraja Majapahit,!" ucap Wikala yg merasa senang karena kedua nya berhasil menunai kan tugas dengan baik.
" Memang Dimas Pratanu berbakat menjadi prajurit telik sandi yg handal ,!" cetus Adipati Pamotan lagi.
" Ahhh, Kangmas Adipati terlalu memuji, namun ada sesuatu yg terjadi di Kotaraja Majapahit waktu kami tiba di sana,!' ungkap Naja Pratanu.
__ADS_1
" Apa itu Dimas Pratanu,?" tanya Sang Adipati penasaran.
" Seperti nya kekuasaan dari Sang Prabhu Bhatara Purwawisesa tinggal menghitung hari, karena hampir semua posisi yg menguasai nya adalah orang orang dari Pandan Alas, beruntung Senopati dari pengawalan kaputren masih di pegang oleh Paman Tumenggung Singha Wara, kalau tidak tentu kami kesulitan untuk menyampai kan Kangmas Adipati kepada Sang Prabhu Bhatara Purwawisesa itu, begitu malam menjelang kami masuk diam-diam ke taman kaputren dan menemui Paman Singha Wara dan di bawa masuk ke dalam bilik ibunda Ratu, di sanalah kami kemudian memberitahu kan bahwa kami ingin bertemu dengan Sang Prabhu, untuk menyampai kan pesan Kangmas Adipati,!" jelas Naja Pratanu lagi.
" Begitu dalam nya pengaruh dari Adipati Pandan Alas itu, sehingga sangat sulit untuk bertemu dengan Kangmas Prabhu,?" tanya Sang Adipati Pamotan lagi.
" Demikian lah kira nya Kangmas Adipati,!" jawab Naja Pratanu lagi.
" Kakang ada pesan dari Rara Tantri tentang pinangan kakang waktu itu,!" kata Larasati menyela pembicaraan antara Wikala dengan Naja Pratanu.
Namun ketika Larasati akan menjelas kan tiba-tiba masuk lah Wiradamar yg amat senang mendengar Ramanda dan bibi nya telah kembali ke Istana.
" Romo, tidak mengajak Kakang damar saat ke Bali,!" seru bocah kecil itu yg langsung duduk di pangkuan sang Adipati.
" Kakang damar kan mesti menjaga ibunda dan adi Pembayun, kalau Romo pergi,!" ucap Wikala sambil membelai rambut putra nya itu.
" Ahh, kan masih ada bibi dan paman Pratanu yg menjaga nya, juga eyang pun tetap di sini,!" kata Wiradamar lagi.
" Kan paman dan bibi mu masih berada di perjalanan ketika Romo berangkat ke Bali, juga eyang mu sudah terlalu sepuh untuk menjagai adik dan ibunda mu itu,!" jawab Wikala lagi.
" Nanti kalau Romo atau pun bibi Laras pergi, damar mesti ikut, damar tidak ingin selama nya di dalam istana,!" jelas Wiradamar yg masih bocah itu, ia kemudian ber pindah tempat ke pangkuan dari Larasati.
Akhir nya mereka berempat bercerita pengalaman nya masing-masing.
*************((((()))))*****************
note:
*** Pandan Alas \= Madiun
__ADS_1
*** Wengker. \= Ponorogo