
Naja Pratanu langsung menuju ke pertempuran dua Tumenggung dari Daha itu. Bahkan ia masih sempat menahan serangan dari Gagak Mantruk yg tampak nya akan menghabisi kedua Tumenggung itu dengan cepat.
" Hiyyyah!" teriak Naja Pratanu.
Selarik cahaya merah menerjang tubuh Gagak Mantruk, bekas begal alas selentuk itu ter paksa ber jumpalitan menghindari serangan ajian Naga geni ter sebut.
" Hemmh, nampak nya tugas ku makin berat, mungkin yg datang ini adalah Adipati Daha sendiri,!" ber kata dalam hati Gagak Mantruk.
" Hehh, cepat lah menyerah, maling tengik, jangan sampai prajurit Daha merajam mu ,!" teriak Naja Pratanu sambil mengacung kan pedang Naga geni milik nya itu.
" Puuuihh, tidak ada kata menyerah bagi Gagak Mantruk, sebaik nya kau yg segera angkat kaki dari tempat ini,!" jawab Gagak Mantruk tidak kalah garang nya.
" Jangan sampai engkau menyesal , karena sebelum nya telah Ku peringat kan, !" ucap Naja Pratanu yg telah ber siap untuk menyerang.
" Tutup mulut mu, jika kau mampu tangkap lah aku, si Gagak Mantruk dari alas selentuk,!" balas Gagak Mantruk dengan sombong nya.
" Baik lah, kalau begitu , terima serangan , hiyyat,!" teriak Naja Pratanu menerjang .
Tubuh adik ipar dari Adipati pamotan itu seperti terbang saja dengan cepat dan enteng nya ia telah mencapai tubuh Gagak Mantruk.
Dan dengan cepat pula pedang Naga geni ber kelebat menyasar ke kepala dari Gagak Mantruk itu.
Melihat serangan yg sangat cepat bahkan sulit diikuti oleh mata, Gagak Mantruk bekas begal alas selentuk itu gelagapan, beberapa kali ia harus meloncat mundur guna meghindari serangan dari Naja Pratanu itu.
Bahkan pada suatu saat ketika tidak ada jalan untuk menghindar terpaksa Gagak Mantruk harus memapaki serangan itu dengan golok nya,.
" Traaankkk,!" bunyi kedua senjata beradu menimbul kan pijaran kembang api.
Nampak tubuh bekas begal alas selentuk itu mundur dua langkah dan memandangi golok nya.
" Hahhh, gompal, golok ku jadi gompal,!" gumam nya.
" Cepat lah menyerah sebelum habis batas kesabaran ku,!" seru Naja Pratanu lagi.
Sambil memandangi golok nya dan wajah Naja Pratanu, ber gantian ber kata lah Gagak Mantruk,
" Siapa kah kau sebenar nya, apakah Adipati Daha,,?" tanya nya kepada Naja Pratanu.
" Aku Naja Pratanu, Senopati dari pamotan bukan Adipati Daha,!" jawab Naja Pratanu.
" Hehh, kalau kau bukan Adipati Daha , aku tidak akan menyerah, karena hanya Adipati Daha lah yg mampu mengalah kan ku,!" ucap Gagak Mantruk dan ber siap untuk menyerang.
" Ter serah, jangan salah kan aku jika pedang ku ini akan menebas leher mu,!" kata Naja Pratanu.
Sementara setelah kedua Tumenggung itu selamat dari maut mereka segera mem bantu prajurit Daha yg sudah ber hasil men desak lima perwira Majapahit yg ber sama Gagak Mantruk itu.
Adalah Lurah Trilaya dan Lurah Dipangkara yg ber hasil membuat dua perwira Majapahit itu yg harus ber juang keras menghindari serangan dari Lurah prajurit Balasewu itu.
" Tampak nya kita harus segera meninggal kan tempat ini, karena kedua orang ini sangat sulit untuk di tunduk kan,!" ucap Rangga Panili kepada teman nya.
" Tetapi kepungan sudah sangat rapat di tambah lagi dua Tumenggung itu telah datang kemari,,!" balas teman nya itu.
" Hehh, cepat tangkap mereka jangan di kasih, hidup atau mati,, !" teriak Tumenggung Barana yg sangat geram melihat para maling itu telah banyak menewas kan prajurit nya.
__ADS_1
Segera para prajurit Daha menyerang tiga orang teman Rangga Panili itu, sementara Rangga Panili dan satu teman nya seperti terikat perang tanding dengan Lurah Trilaya dan Lurah Dipangkara.
" Menyerah lah, !" teriak Lurah Trilaya kepada Rangga Panili.
Namun balasan yg di terima oleh Lurah Trilaya bukan nya jawaban melain kan tebasan pedang yg mengarah ke leher Lurah prajurit Balasewu itu.
Lurah Trilaya tidak menghindar, ia memalang kan tombak nya menyambut serangan itu,.
" Traaaak,!" suara kedua senjata beradu.
Nampak Lurah Trilaya ter dorong surut se langkah ke belakang.
" Lumayan juga tenaga dalam orang ini,!" ber kata dalam hati Lurah Trilaya.
Sementara di sebelah Lurah Trilaya ada Lurah Dipangkara yg tidak seperti Lurah Trilaya, teman Lurah Trilaya itu langsung men cecar lawan nya sehingga ber hasil di desak dekat bangunan lumbung padi itu.
Memang bagi Lurah Dipangkara tidak ada permintaan menyerah kepada lawan nya, bila perlu secepat nya di habisi, habis perkara, itu lah prinsip dari Lurah Dipangkara.
Begitu lawan benar-benar sudah ter sudut kan ber katalah tombak dari Lurah Dipangkara itu.
" Blesssekkh, " tombak Lurah Dipangkara telah menembus jantung lawan nya itu.
Melihat teman karib nya telah tewas Rangga Panili panik, sementara ketiga rekan nya yg lain pun lebih naas nasib nya lagi, ketiga nya di cincang ber ramai-ramai oleh para prajurit Daha.
Sekarang tinggal Rangga Panili dan Gagak Mantruk saja yg ter sisa.
Seperti nya peluang untuk lolos dari maut sudah tiada lagi, mau tidak mau Rangga Panili ber tempur mati-matian.
Ia menyerang Lurah Trilaya dengan sangat cepat, seakan akan serangan nya tanpa per hitungan akibat kalap.
Namun sebelum serangan itu tiba,
" Heeeikkjh,!' suara keluar dari mulut Rangga Panili.
Tubuh Rangga Majapahit itu tumbang ke tanah dengan masih memegangi landean tombak yg menembus dada nya. Ia pun masih mengacung kan pedang nya.
Adalah Tumenggung Barana yg sudah sangat kesal itu yg melempar kan sebuah tombak ke arah Rangga Panili dan berhasil mengakhiri umur dari Rangga Majapahit itu.
Ber alih ke pertarungan antara Naja Pratanu dengan Gagak Mantruk, nampak nya pun telah mendekati akhir.
Karena sudah beberapa kali pedang Naga geni ber hasil menggores tubuh dari Gagak Mantruk itu, darah telah banyak keluar , bahkan terlihat tubuh bekas begal alas selentuk itu sempoyongan, nampak nya kehabisan tenaga, namun ia tetap melakukan per lawanan meski sudah tidak berarti lagi.
" Senopati Pratanu, habisi saja jangan di kasih ampun, orang semacam itu tidak ada guna nya di beri ampun,!" teriak Tumenggung Barana.
Mendengar hal itu Naja Pratanu berkata lagi,
" Menyerah lah, Adipati Daha masih bisa mem beri pengampunan atas mu, karena se sungguh nya tindakan mu atas perintah orang lain,!" seru Naja Pratanu.
" Bunuh lah aku, kalau kau memang mampu,!" ucap Gagak Mantruk yg ter duduk lemas ber tongkat golok nya itu.
Melihat hal itu, Tumenggung Barana menjadi geram, apalagi tangan sebelah kiri nya nyaris putus di tebas oleh begal alas selentuk itu.
Tanpa pikir panjang lagi, Tumenggung Barana melontar kan sebatang tombak ke arah dada dari Gagak Mantruk itu.
__ADS_1
" Thiiiinnngz,!" suara tombak itu ketika menyentuh dada dari Gagak Mantruk itu.
Ter nyata tubuh bekas begal alas selentuk itu kebal.
" Anehhh,!" pikir Tumenggung Barana.
Padahal nyata-nyata tubuh Gagak Mantruk itu ber lumuran darah tanda ter luka, tetapi kenapa lontaran tombak tadi tidak mempan menembus tubuh nya, kembali ber pikir Tumenggung Barana itu.
Sementara Naja Pratanu men dekat ke arah Gagak Mantruk, langkah-langkah dari Naja Pratanu itu seolah malaikat maut pencabut nyawa bagi bekas begal alas selentuk itu.
Dan ketika jarak nya tinggal tiga langkah lagi , Naja Pratanu ber henti.
" Ku ulangi sekali menyerah lah, atau kau memang ingin mati demi menyimpan rahasia, siapa orang yg telah menyuruh mu datang kemari,?" tanya Naja Pratanu kepada Gagak Mantruk.
" Bunuh saja Aku, kau jangan banyak mulut, atau kau memang tidak mampu untuk membunuh ku, hahaha,!" ter dengar ter tawa yg keluar dari mulut Gagak Mantruk itu.
Ia dalam posisi seperti itu, memang berusaha untuk me mulih kan tenaga nya.
Dan Gagak Mantruk memang menunggu kesempatan untuk berusaha mem bunuh Naja Pratanu di saat lengah.
" Senopati Pratanu jangan di kasih ampun ,!" ter dengar teriakan dari Tumenggung Barana lagi.
Dan Naja Pratanu pun menoleh ke arah Tumenggung Barana.
Hal itu tidak di sia-sia kan oleh Gagak Mantruk,
" Hiyyyah,!" ter dengar teriakan dari mulut Gagak Mantruk.
Ia melompat dan berusaha mem bacok kan golok nya mengarah ke kepala Naja Pratanu,
Tapi tiba-tiba,
" Heeeikkjh, aaaaaaakkkkkhhhh,!" ter dengar teriakan yang panjang keluar dari mulut bekas begal alas itu.
Ternyata pedang Naga geni milik Pratanu telah ber sarang di jantung dari Gagak Mantruk itu.
Pedang itu tembus sampai belakang. Sedang kan posisi Gagak Mantruk dalam keadaan mengayun kan golok nya.
Perlahan tubuh itu roboh ke tanah dengan darah keluar mengalir dari bekas tusukan pedang Naga geni itu.
Rupa nya Gagak Mantruk kalah cepat dengan Pratanu, begitu ada per gerak kan dari nya, Naja Pratanu langsung menyikapi dengan me miring kan tubuh nya dan langsung menusuk kan pedang pusaka nya itu.
Berakhir lah riwayat dari begal alas selentuk itu di tangan Naja Pratanu.
" Senopati Pratanu memang hebat,!" puji Tumenggung Barana dan Tumenggung Jayayuda.
" Sudab dua kali kami di selamat kan oleh Senopati Pratanu,!" ucap Tumenggung Barana lagi.
" Ahh, tidak usah di ingat-ingat Tumenggung Barana, setiap kita wajib menolong bagi yg mem butuh kan per tolongan,!" jawab Naja Pratanu lagi.
Memang sudah dua kali Naja Pratanu mem beri kan bantuan kepada Tumenggung Barana, pertama saat Tumenggung itu bersama Adipati Daha di cegat oleh Tumenggung Jarak jalu atas perintah Patih Kebo Mundira beberapa waktu yg lampau dan yg kedua adalah saat ini, saat melawan bekas begal alas selentuk yaitu Gagak Mantruk itu.
Seluruh prajurit Majapahit di tambah dengan Gagak Mantruk tewas atas upaya mereka untuk mengambil bahan pangan yg berada di lumbung dari Kadipaten Daha.
__ADS_1
Setelah pertempuran itu selesai dan para prajurit Daha telah mengubur kan teman-teman nya yg tewas.
Mereka kembali menghadap kepada Adipati Daha, di istana Kadipaten Daha itu.