
Setelah satu purnama, selesai nya pesta pernikahan putri parangkawuni dan Wikala akhirnya mereka berdua di dapuk sebagai pemimpin di Pamotan atau blambangan.
Putri parangkawuni di angkat sebagai Brhe Pamotan di dampingi oleh Wikala yg di beri gelar Bhatara ing kertabhumi.
Keduanya menghabiskan bulan madunya di ujung Timur pulau Jawa.
Suatu waktu di saat- saat berduaan di istana pamotan berkatalah Putri parangkawuni
kepada Wikala selaku suaminya.
" Apakah kangmas merasa sedih setelah hidup bersama ku,?" tanya putri parangkawuni dengan
manjanya kepada Wikala.
" Ahhh,. diajeng orang bodoh sajalah yg merasa sedih menikah
dengan diajeng seorang anak raja
yg cantik lagi pintar ,' puji Wikala pada istrinya.
" Kangmas memuji seperti ini karena ada di hadapan ku, bila berada di belakang ku ,belum tentu." kata Putri parangkawuni sambil menyandarkan kepalanya di dada Wikala.
Ahh, diajeng, kata Wikala sambil
membelai rambut istrinya.
******
Di istana Majapahit sendiri kedatangan utusan dari Kaisar zhu zhengtong dari tiongkok.
Ampunkan, hamba Gusti Prabhu, hamba bernama Lee kwan er dan ini adalah Tian bing Yi, kami berdua utusan kaisar Zhengtong dari dinasti ming ucap jendral lee sambil menjura hormat.
Kemudian keduanya menjelaskan alasan kedatangan mereka ke Majapahit adalah untuk menjalin persahabatan antara kekaisaran Tiongkok dan kerajaan Majapahit.
Oleh Prabhu Rajasawardhana sang SiNAGARA disambut dengan baik tawaran kaisar Zhengtong untuk melakukan kerjasama di beberapa bidang.
Prabhu SiNAGARA berjanji akan mengirimkan UTUSAN guna membalas surat kaisar Zhengtong.
Beberapa hari di kota raja Majapahit kedua utusan kaisar Zhengtong kembali pulang ke Tiongkok setelah sebelumnya mereka singgah di Asem Karang.
Mendapat surat dari kaisar Zhengtong, Prabhu SiNAGARA kemudian membaca dan faham akan isinya.Maka dikumpulkan lah para pembesar istana guna membahas hal tersebut.
Paseban agung di gelar, untuk menentukan kebijkasanaan tentang tawaran kaisar Zhengtong.
" Bagaimana kah menurut kalian, tentang tawaran kaisar Zhengtong ,!" ujar Gusti Prabhu Sang SiNAGARA membuka acara di paseban itu.
" Ampun Gusti Prabhu, sungguh tawaran itu merupakan tawaran yg baik untuk diterima," jawab Patih Gajah Nata sambil menjura hormat.
" Dalem Gusti Prabhu, benar adanya tawaran itu merupakan sesuatu yg sangat baik mengingat kita saat ini tidak ingin mencari musuh," ujar Rakryan Mantri wreda Kuda Langhi sambil menjura hormat.
__ADS_1
" Akan tetapi siapakah kira-kira, utusan yg harus kita kirim untuk menyampaikan balasan surat ini," tanya Prabhu SiNAGARA lagi.
" Sebaiknya lah UTUSAN itu harus yg benar-benar mengetahui luar dan dalamnya Majapahit'' tutur Patih Gajah Nata.
" Siapakah kiranya menurut paman Patih yg layak melaksanakan tugas ini,? tanya Prabhu SiNAGARA.
" Menurut hemat hamba, angger Ranawijaya layak untuk melaksanakannya," jelas Patih Gajah Nata.
" Ampun Gusti Prabhu, bukannya hamba tidak setuju dengan Patih Gajah Nata, akan tetapi sudah selayaknya lah kita mengirimkan utusan yg menurut hamba , rakyat tiongkok mengenalnya, " ucap Rakryan Mantri wreda sambil tersenyum.
" Maksud Rakryan Mantri bagaimana" tanya Prabhu SiNAGARA .
" Maksud hamba , utusan kita harus dikenal oleh orang Tiongkok karena kehebatan akan ilmunya, jadi mereka tidak akan memandang remeh kepada kita," kata Rakryan Mantri lagi.
" Menurut Rakryan Mantri, siapakah orangnya itu ?" tanya Gusti Prabhu.
" Menurut hamba, orang yg tepat untuk menjadi utusan Gusti Prabhu adalah anakmas Radeksa,
Satria Dari daha," ucap Rakryan Mantri wreda Kuda Langhi.
" Hahh, anakmas Radeksa," sebut Prabhu SiNAGARA agak terkejut.
" Ampun Gusti Prabhu, tidak selayaknyalah angger Radeksa , yg masih dalam masa bulan madunya diganggu dengan tugas berat seperti ini," kata Patih Gajah Nata.
" Ampun Gusti Prabhu, bahwa angger Radeksa memang tepat melaksanakan tugas ini di sebabkan beberapa faktor, pertama ia sudah di kenal kalangan persilatan dari tiongkok dengan gelar Satria Dari DAhA , yg kedua beliau juga merupakan orang dalam istana sendiri, dan yg ketiga ini merupakan pendadaran baginya selaku seorang pangeran , tepatnya mantu Sang Prabhu," jelas Rakryan Mantri wreda Kuda Langhi, yg seakan akan memaksakan bahwa utusan Gusti Prabhu haruslah Wikala.
Setelah terdiam sejenak maka Gusti Prabhu bertitah,
" Baiklah Anakmas Radeksa akan menjadi utusan ku ke Tiongkok guna membawakan surat balasan kaisar Zhengtong,"
"Sebelum nya mohon ampun Gusti Prabhu, sebaiknya anakmas Radeksa di temani orang dalam istana yg juga mumpuni," kata Rakryan Mantri lagi.
" Siapa ?" tanya Gusti Prabhu.
" Menurut hamba Dimas Dyah Lembu petala ,. cocok sebagai pendamping," jawab Rakryan Mantri.
" Hemmph, baiklah Anakmas Radeksa dan dyah Lembu petala , sebagai utusan Majapahit ke Tiongkok ," sabda Gusti Prabhu.
Tumenggung singha wara yg sedari tadi diam saja , angkat bicara,
" Ampun Gusti Prabhu , apakah tidak membahayakan keselamatan Gusti Prabhu dengan mengirim bekel Bhayangkara sebagai utusan ke Tiongkok," katanya.
" Benar Gusti Prabhu, pendapat anakmas singha wara, nanti dalam istana akan kekurangan punggawa terpilih nya , mengingat tugas ini belum bisa di pastikan waktunya " Patih Gajah Nata menimpali.
" Ampun Gusti Prabhu , sesungguhnya masih banyak lagi yg ilmunya mumpuni dari dimas Petala, sebut saja Patih Gajah Nata, dimas singha wara, Rakryan demung Ananta boga dan Jaran abang, " ujar Rakryan Mantri wreda Kuda Langhi meyakinkan Prabhu SiNAGARA.
Gusti Prabhu nampak manggut-manggut seolah setuju dengan yg diucapkan Mantri Kuda Langhi.
" Baiklah , kuperintahkan kepada Jaran abang untuk memanggil anakmas Radeksa yg berada di pamotan untuk menghadap, dan sekaligus menitahkan kepada Jaran abang sebagai pengganti Bekel Bhayangkara yg akan ditinggalkan sementara oleh Dyah Lembu petala ,!" demikian lah sabda Prabhu Sang SiNAGARA yang harus di laksanakan.
__ADS_1
Setelah pertemuan itu selesai, dan Jaran abang segera memacu kudanya ke Timur guna memanggil Wikala untuk menghadap.
Maka Tumenggung singha wara
kemudian menyusul Patih Gajah Nata ke istana kepatihan.
Kemudian keduanya terlibat pembicaraan yg serius membahas keputusan penunjukkan Wikala dan Lembu petala sebagai utusan Majapahit.
Apakah maksud Rakryan Mantri menunjuk anakmas Radeksa sebagai utusan Gusti Prabhu ke Tiongkok tanya tumenggung singha wara kepada Patih Gajah Nata.
Entahlah, saya sendiri kurang faham maksud Mantri Kuda Langhi atas penunjukkan anakmas Radeksa sebagai utusan jawab Patih Gajah Nata, sembari merenung.
Mungkin paman Patih, agar istana Majapahit berkurang punggawa terpilih nya, mengingat
kedua orang tersebut baik anakmas Radeksa dan Bekel Lembu petala merupakan orang-orang yang linuwih dalam hal ilmu silatnya ucap tumenggung singha wara yang memiliki naluri keprajuritan.
"Hehh," desah Patih Gajah Nata lantas mengangguk tanda setuju atas pendapat tumenggung singha wara.
Apakah paman Patih tidak melihat keganjilan atas sikap kangmas Surya wikrama yg tidak menghadiri pesta pernikahan putri Sang Prabhu tanya tumenggung singha wara kepada Patih Gajah Nata.
Patih Gajah Nata tampak memandangi wajah tumenggung singha wara dengan tegang. Memang ia merasa aneh akan ketidakhadiran Brhe pandan alas atau Dyah Surya wikrama selaku pemangku jabatan sapta Prabhu dan adik sekaligus besan Sang Prabhu sendiri.
Memangnya anakmas tumeng
gung melihat adanya ketidakcocokan antara Gusti Prabhu dengan Gusti adipati pandanalas tanya Patih Gajah Nata kepada tumenggung singha wara.
Menurut teliksandi yg kami kirim saat ini di pandan alas ada peningkatan penerimaan keprajuritan yg di latih secara sembunyi-sembunyi seakan-akan
Pandan alas siap untuk berperang ujar tumenggung singha wara .
Yang jadi pertanyaan dengan siapa mereka akan berperang kata tumenggung singha wara lagi.
Mungkin ini ada kaitan atas penunjukkan anakmas Radeksa dan Bekel Lembu petala sebagai utusan guna mengurangi Senopati- senopati pinunjul Majapahit , kata Patih Gajah Nata
lagi,
Berarti mereka siap berperang dengan kita , seolah tersadar dari lamunannya Sang Patih Gajah Nata.
Kemungkinan itu bisa terjadi, ucap tumenggung singha wara
yang merasa kurang menyukai
tingkah laku Rakryan Mantri wreda Kuda Langhi, seolah-olah ada yg tersembunyi dari segala tindak tanduknya.
Bagaimana daya kita agar anakmas Radeksa dan Bekel Lembu petala tidak usah jadi berangkat tanya Patih Gajah Nata kepada tumenggung singha wara.
Sabda pandhita Ratu harus kita junjung tinggi, keputusan Gusti Prabhu tidak dapat di ganggu gugat lagi, yg ada kita harus bersiap atas segala kemungkinan
ucap tumenggung singha wara yg kemudian mohon diri untuk kembali ke bangsalnya, bangsal katumenggungan.
__ADS_1