BARA Di Atas Tanah MAJAPAHIT Dalam Episode 2: Satria Dari DAHA

BARA Di Atas Tanah MAJAPAHIT Dalam Episode 2: Satria Dari DAHA
episode 11 Saat KELUD pun Murka bagian ke delapan.


__ADS_3

" Gusti Adipati tidak apa-apa ,?" tanya sang penolong yg tiada lain adalah Naja Pratanu.


" Ehh, tidak, tidak apa - apa, tolong kau bantu pengawal ku itu Pratanu,!" teriak Adipati Daha kepada Pratanu .


" Baik Gusti Adipati,!" jawab Pratanu dan menuju kearah para prajurit Pandan alas yg tengah mengeroyok dari pengawal Adipati Daha itu, jumlah mereka tinggal tiga orang.


" Adi laras cepat kau habisi mereka ,!" kata Naja Pratanu kepada Larasati.


Rupanya yg menyerang kerumunan dari prajurit Pandan alas itu adalah Larasati dengan Ajian Kalacakra nya sedang kan Naja Pratanu menolong Adipati Daha.


Ketika kedua orang Pamotan itu membantu dari Tumenggung Barana dan Tumenggung Jayayuda maka keadaan berbalik , para prajurit Pandan alas mulai pecah kepungan nya terhadap tiga orang pengawal Adipati Daha tersebut.


Akhirnya para prajurit itu, harus menjadi kocar kacir karena hantaman dari Ajian kedua orang itu.


Ketika jumlah mereka tinggal beberapa orang , prajurit tersebut pun melarikan diri.


Dua orang pemimpin nya yg telah berhasil memulihkan tubuhnya bangkit menghadapi Adipati Daha.


" Baiklah Adipati Daha, , nasibmu memang mujur kali ini, masih ada orang yg menolong mu, tapi lain kali engkau akan mati di tanganku ,!" kata Tumenggung Jarak jalu yg berniat kabur dari tempat itu, setelah melihat para prajurit nya tidak ada lagi.


Melihat gelagat ini, Adipati Daha tidak memberi kesempatan Tumenggung Jarak jalu untuk kabur.


" Hehh, jangan harap engkau dapat kabur dari ku,!" kata Adipati Daha, yg telah membuka tangan nya siap melontarkan ajian pamungkasnya ke arah Tumenggung Jarak jalu.


Melihat hal itu Tumenggung Wiratanu yg juga telah bangkit segera melemparkan pedang nya kearah Adipati Daha, yg oleh sang Adipati dapat di hindari dengan mudah, Namun Hal ini membuat kesempatan bagi kedua pemimpin pasukan pandan alas itu bisa untuk melarikan diri, ketika Adipati Daha akan mengejar keduanya, di cegah oleh Naja Pratanu.


" Jangan di kejar Gusti Adipati, Sebaiknya Gusti Adipati kembali saja secepatnya ke Daha, karena tampak nya Gusti Adipati dalam keadaan terluka,!" kata Naja Pratanu menyarankan.


" Ahh, Luka ku tidak seberapa Pratanu, !" jawab Adipati Daha.


" Meskipun begitu perlu perawatan, dan kita tidak tahu apabila Gusti Adipati mengejar mereka , kedua nya bisa membuat jebakan yg akan merugikan Gusti Adipati,!" jelas Naja Pratanu lagi.


" Benar juga ucapanmu, Pratanu,!" ujar Adipati Daha itu.


Kemudian Sang Adipati bertanya lagi," Sebenarnya kalian berdua sedang apa di sini, apakah di pamotan adi parangkawuni telah melahirkan,?" tanya nya pada Pratanu.


" Kami berdua memang sedang berada di Daha ini Gusti Adipati, dan Gusti Ratu belum melahirkan, mungkin sekira dua bulan lagi kemungkinan nya Gusti Ratu baru melahirkan,!" jawab Pratanu.


" Kami berdua sebenarnya ingin ke Pandan alas, sekaligus ke Kotaraja setelah baru kembali ke Pamotan , !" ujar Pratanu lagi.


Larasati kemudian mendekati kedua orang tersebut dan bertanya kepada Adipati Daha, " Maaf kan sebelum nya Gusti Adipati, apakah pernah mengirim kan utusan ke Thanda ,?" tanya nya.


Adipati Daha terdiam sesaat, ia berusaha mengingat dan menjawab pertanyaan dari Larasati, " Benar, beberapa waktu lalu kami mengirimkan utusan ke Thanda guna menanyakan keberadaan dari Mahisa Dara yg hampir tiga purnama belum kembali,!" jelas Adipati Daha itu.

__ADS_1


" Memang nya Gusti Adipati tidak tahu dimana keberadaan dari Mahisa Dara itu,?" tanya Larasati lagi.


Adipati Daha menggelengkan kepalanya, " Kalau kutahu dimana ia berada tentu telah kusuruh kembali dan ikut bersamaku ke kotaraja guna menghadap ibunda Ratu, " jawab Adipati Daha.


" Sebenarnya pun kami akan ke Pandan alas adalah bertujuan menyelidiki dari abdi Adipati Daha itu,!" terang Larasati.


" Hehh, memang nya kenapa dengan Mahisa dara sehingga kalian harus menyelidiki nya,?" tanya Adipati Daha heran.


" Ia kan telah bertunangan dengan salah seorang temanku di Thanda, akan tetapi kami bertemu dengan nya, di Wengker bersama seorang perempuan lain, yg menurut kami adalah Putri dari Adipati Pandan alas,!" jelas Larasati lagi.


" Mahisa Dara mempunyai hubungan dengan adi Nawang sekar,?" kata Adipati Daha seolah tidak percaya.


" Baiklah , Pratanu dan kau Larasati , selidiki lah Keberadaan dari Mahisa Dara itu dan nanti bila kalian berdua mendapatkan berita tentang nya beritahu kan kepada ku, apakah ia seperti Romo nya juga ingin menusuk dari belakang,!" ungkap Adipati Daha geram.


" Dan terimakasih atas pertolongan kalian berdua, kalau tidak ada kalian berdua mungkin aku telah jadi mayat,!" kata nya lagi.


" Sendika Gusti Adipati, sudah menjadi kewajiban kami selaku kawula Majapahit untuk membantu, jadi Gusti Adipati tidak perlu berterima kasih kepada kami," jawab Pratanu.


Kemudian Sang Adipati berkata,


" Tumenggung Barana dan Tumenggung Jayayuda mari kita kembali, dan kedua prajurit yg tewas itu segera naikkan ke punggung kudanya masing-masing bawa pula mereka itu,!" terdengar perintah nya


" Baik Gusti Adipati,!" jawab kedua nya.


Sedangkan Naja Pratanu dan Larasati melanjutkan perjalanan nya menuju ke Pandan alas.


Apakah maksud dari Adipati Pandan alas , dengan mengirimkan utusan untuk membunuh Adipati Daha itu kakang, tanya Larasati kepada Naja Pratanu.


Entahlah yg jelas sejak mangkat nya Gusti Prabhu SiNAGARA , Adipati Pandan alas semakin sesuka hatinya, hingga membuat Tahta majapahit semakin panas bagi siapa saja yg menduduki nya, jawab Pratanu.


Keduanya kali melakukan perjalanan kaki menuju Pandan alas.


Keesokan hari nya di Istana Kadipaten pandan alas , nampak Sang Adipati tengah murka terhadap para abdi nya.


" Hehh, memang kalian semua tidak bisa di harap kan, hanya kakang Patih Kebo Mundira saja yg berhasil mejalankan perintah, yg lain hanya tahu nya cuma makan, !" terdengar kata-kata Sang Adipati.


" Ampunkan kami, Gusti Adipati, sesungguhnya kalau tidak ada yg menolong Adipati Daha , tentu beliau saat ini telah tewas ,!" ucap Tumenggung Jarak Jalu sambil menunduk kan kepala tidak berani menatap wajah Adipati Pandan alas itu.


" Dan kalian yg menghadang rombongan Adipati Pamotan, jumlah kalian yg lebih empat puluh prajurit, tidak mampu mengalahkan mereka bahkan senopati kalian semua nya tewas,!" kata-kata Adipati Pandan dengan penuh kemarahan.


" Memang kami semua tidak berguna, kelima prajurit pengawal Adipati Pamotan tidak bisa kami atasi, mereka sungguh-sungguh linuwih, apalagi seorang yg berbadan besar dan golok nya besar pula bagaikan hantu saja membabati pasukan pandan alas,!" jelas salah seorang prajurit yg berhasil lari dari pertempuran di perbatasan pamotan itu.


" Ya, tetapi mengapa kalian melarikan diri, ?" tanya Adipati Pandan alas itu dengan keras.

__ADS_1


" Kami merasa tiada berguna lagi melawan mereka karena seluruh Senopati kami telah tewas, Gusti Adipati,," jawab prajurit itu.


" Dasar tidak berguna,!" ujar Adipati Pandan alas.


" Memang sudah kami perkirakan sejak semula, bahwa untuk menghadang Adipati dari Pamotan itu cukup sulit dan memang adi Kebo Ndaru menyanggupi walaupun menolak menambah pasukan, tetapi kami sangat berbangga dengan sikap ketiga senopati nya, Gusti Adipati,!" jelas dari Patih Kebo Mundira.


" Maksud kakang Patih apa,?" tanya Adipati Pandan alas itu.


" Bahwa sesungguhnya dua orang Tumenggung yg menjadi senopati di pasukan itu , menurut laporan dari para prajurit yg berhasil selamat , telah ditanya oleh Adipati Pamotan, apakah masih tetap tujuan nya untuk membunuh beliau meski pun adi Kebo Ndaru telah tewas terpanggang ajian dari Adipati Pamotan dan jawaban dari kedua nya bahwa mereka tetap pada perintah Gusti Adipati yg mengingin kan kepala nya itu, kemudian menjadi akhir dari hidup mereka , andaikan mereka menyatakan menyerah mungkin mereka masih bisa berada disini, sungguh sikap yg sangat Satria dan setia kepada perintah Gusti Adipati meski nyawa taruhan nya,!" jelas Patih Kebo Mundira yg merasa tersudut kan karena ke tidak berhasilan pasukan itu untuk mengahabisi tiga orang pemimpin dari tiga Kadipaten yaitu Kahuripan, Daha dan Pamotan.


Adipati Pandan alas diam cukup lama setelah mendengar penuturan dari Patih Kebo Mundira, yg menjelaskan kesetiaan para abdi nya itu terhadap perintah yg di bebankan ke atas pundak mereka, meski nyawa taruhan nya.


Lama keheningan terjadi di dalam istana Pandan alas itu, sampai Sang Adipati berkata lagi,


" Sebaiknya kalian beristrahat lah dahulu nanti setelah tiga hari lagi kita mengadakan pertemuan kembali untuk membicarakan tentang kelanjutan usaha kita menduduki Tahta Majapahit ini,!" terdengar perintah dari Adipati Pandan alas yg sudah agak melunak kata katanya.


Seluruh yg hadir di balairung istana Kadipaten pandan alas itu segera, pamit undur diri, karena takut akan di marahi lagi oleh Sang Adipati lagi.


Patih Kebo Mundira yg hati nya sangat berduka akibat tewasnya Senopati Kebo Ndaru yg adalah adik seperguruannya itu, membuat ia cepat berlalu dari situ dan kembali ke Istana kepatihan.


Sesampai nya di dalam istana kepatihan, Patih Kebo Mundira amat terkejut atas kehadiran dari Mahisa Dara yg ternyata masih berhasil lolos dari pertempuran di perbatasan pamotan itu.


" Hehh, bagaimana bisa kau masih hidup, dan berhasil lolos dari sana?" tanya Patih Kebo Mundira seakan tidak percaya atas apa yg telah di lihatnya itu.


" Panjang cerita nya, Paman, yg jelas paman Kebo Ndaru tewas karena menyelamatkan ku,!" kata Mahisa Dara yg kemudian menceritakan seluruh kejadian dari awal hingga akhir dari pertempuran itu.


" Begitulah Paman, ceritanya,!"


" Jadi kalian berempat mengeroyok Adipati Pamotan itu,?' tanya Patih Kebo Mundira


" Benar, setelah aku mengeluarkan ajian ngerogoh sukma, maka Adipati Pamotan itu memburu tubuh asli ku, namun di halangi oleh paman Kebo Ndaru, yg menghantam nya dengan ajian Waringin sungsang, namun aneh Nya paman, tubuh Adipati pamotan tidak apa-apa!" jelas Mahisa Dara.


" Hehhh, mengapa bisa begitu,?" tanya Patih Kebo Mundira heran.


" Entahlah paman, seperti nya Adipati itu memiliki see macam ilmu Tameng waja atau malah lebih tinggi lagi, hingga membuat paman Kebo Ndaru tercengang keheranan sampai akhirnya serangan dari Adipati itu tidak di elakkan nya atau pun di adu nya dengan ajian Waringin sungsang miliknya itu, sehingga ajian Adipati Pamotan telak menghantam nya dan membuat tubuh nya hangus terbakar,!" lanjut cerita dari Mahisa Dara.


" Mengapa Adi Kebo Ndaru terlalu gegabah, sementara yg di hadapi nya adalah seorang Adipati Pamotan yg terkenal digjaya," keluh Patih Kebo Mundira yg menyesali tindakan adik seperguruannya itu. Ia memang memahami watak dari Senopati Kebo Ndaru yg tidak sabaran dan gegabah.


" Jadi engkau bisa lolos dari sana bagaimana cerita nya,?" tanya Patih Kebo Mundira kepada Mahisa Dara.


" Setelah tewas nya Paman Kebo Ndaru, Adipati Pamotan mengarah kepada Tumenggung Surattanu dan Tumenggung Kebo Gilang dan sekali hantam kedua orang itu pun tewas, saat itulah aku melarikan diri dari tempat itu, tidak mungkin aku sendiri mampu menghadapinya sendirian, !" ucap Mahisa Dara membela diri.


" Yah sudah lah , nasi telah jadi bubur, Gusti Adipati terlalu terburu-buru untuk mengahabisi tiga orang Adipati itu, kalau sekira nya ia berhasil menduduki Tahta Majapahit , persoalan ketiga orang tersebut tentu akan lebih mudah untuk mengatasinya,!" ungkap Patih Kebo Mundira yg merasa kurang sesuai dengan rencana Adipati Pandan alas yg berniat menghabisi satu persatu musuh nya dengan menggunakan sedikit Prajurit, hingga membuat hasil nya tidak sesuai dengan yg diharapkan.

__ADS_1


------------------.........''''''''''''-----------------------


__ADS_2