BARA Di Atas Tanah MAJAPAHIT Dalam Episode 2: Satria Dari DAHA

BARA Di Atas Tanah MAJAPAHIT Dalam Episode 2: Satria Dari DAHA
episode 11 Saat KELUD pun Murka bagian ke sepuluh


__ADS_3

Wikala berangkat ke Kahuripan dengan membawa lebih Lima puluh orang prajurit Pamotan untuk menghadiri pemakaman dari Bhre Kahuripan yang tewas akibat di serang oleh para prajurit Pandan alas.


Bhre Kahuripan yang di kremasi dan di candikan sebagai dewa Wisnu.


Selesai pemakaman dari Bhre Kahuripan, Wikala mengikuti sidang dari Istana kadipaten Kahuripan, yg di pimpin langsung oleh Bhatara Hyang Purwawisesa Raja Majapahit sendiri dan memutuskan bahwa putra sulung dari Bhre Kahuripan yg bernama Dyah Merta Wijaya di angkat sebagai pengganti dari orang tua nya menjadi Bhatara ing kahuripan. Ini sesuai dengan keputusan para pinisepuh Kadipaten Kahuripan dan di setujui oleh Ratu Jayeswari.


Selama sepekan Wikala berada di Kahuripan dan kembali pulang ke Pamotan bersama ibunda Ratu Jayeswari yg akan menemani Putri nya yg akan melahirkan anak pertama nya itu.


Di dalam perjalanan kembali ke Pamotan , Rombongan Wikala tidak mendapati halangan di jalan seperti waktu mereka kembali dari Ibukota pada waktu beberapa hari yg lalu.


"""""""""""""""""


Di Kadipaten Daha sendiri Sang Adipati yg tidak mengikuti prosesi pemakaman dari Adipati Kahuripan yg merupakan kakak nya itu tampak nya sedang di sibukkan dengan geliat dari Gunung Kelud yg beberapa kali menunjukkan gejala akan meletus. Beberapa kali gempa-gempa kecil susul menyusul terjadi.


Beberapa penduduk yg terdekat dengan gunung tersebut telah mulai di ungsikan ke beberapa tempat yg di rasa cukup aman. Termasuk para warga dari desa thanda, banyak yg mulai mengungsi.


Karena desa thanda terletak di kaki dari gunung kelud, jadi bila sewaktu-waktu Kelud meletus nampak nya desa dari Wikala tersebut akan mendapat kan dampak yg cukup lumayan parah.


Sejak pagi Kelud telah mengeluarkan wedus gembel.


Wilayah di kaki Kelud telah di tutupi oleh awan panas yg di hasilkan dari wedus gembel tersebut.


Lewat tengah hari awan pekat semakin menyelubungi puncak Kelud tersebut.


Angin yg dari selatan membawa awan panas tersebut mengarah ke utara tepat nya menuju kota raja Majapahit.


Mendekati malam hari , Kelud semakin tidak nampak karena tertutup awan panas.


Sementara pijaran -pijaran kecil bagaikan kembang api yg keluar dari kawah Kelud.


Ke tengah malam lontaran kembang itu semakin besar dan terang.


Puncak nya saat akan mendekati fajar, Saat nya Kelud pun Murka dengan memuntahkan segala isi yg ada di dalam perutnya.


Lava panas yg di keluarkan oleh perut Sang kelud mengarah ke utara, sehingga lereng sebelah utara di sapu banjir lahar panas nya bahkan saking jauh lontaran muntahan nya debu panas sampai ke kota Raja Majapahit.


Para penghuni Istana Majapahit sangat terkejut, banyak di antara mereka yg mereka-reka apakah ini kemurkaaan dari Alam atas tidak bijaksana Sang Prabhu Bhatara Purwawisesa dalam memerintah Majapahit.


Di Daha sendiri dampak nya lebih parah desa- desa di seputaran lereng utara habis di sapu banjir lahar panas.

__ADS_1


Banyak binatang ternak , sawah, dan juga manusia yg musnah di terjang oleh malapetaka yg di timbul kan oleh Sang Kelud tersebut.


Dua wilayah kadipaten yg paling parah dalam kejadian itu adalah Daha dan Paguhan.


Wilayah sebelah selatan dan timur dari daha yg merasakan dahsyat nya terjangan dari letusan Kelud tersebut, sedangkan dari Paguhan wilayah sebelah selatan dan Barat yg parah.


Lewat tengah hari muntahan lahar panas mulai berkurang namun terasa masih kuat dari goncangan Kelud tersebut.


Adalah Wikala yg sedang menunggi istri nya yg juga di dampingi oleh Ibunda Ratu, nampak gelisah setelah merasakan letusan Kelud yg terasa dari Pamotan yg merupakan ujung timur dari pulau itu.


" Diajeng, aku mengkhawatirkan keselamatan dari keluarga yg berada di Daha" ucap nya kepada Ratu Pamotan.


" Memang sebaik nya kakang ke sana untuk memastikan keselamatan mereka, dan lebih baik mereka di bawa saja kemari,!" ucap Ratu Pamotan itu.


" Bagaimana keadaan mu diajeng jika ku tinggalakan" tanya Wikala kepada istrinya itu.


" Aku tidak apa-apa kangmas, disini kan ada ibunda Ratu yg menemani Dan para emban juga prajurit siap sedia disini,!" jawab Ratu Pamotan lagi.


Wikala termenung saat mendengar ucapan dari istri nya Itu, lamunan nya di buyar kan dengan ucapan dari Ibunda Ratu Jayeswari,


" Pergi lah anakmas, lihat lah keadaan mereka dan secepatnya kembali, mungkin istri mu itu tidak akan lama melahirkan karena telah banyak menunjukkan tanda-tanda,!" ucap ibunda Ratu Jayeswari kepada Wikala.


" Iya, cepat lah mumpung masih siang, nanti kalau kemalaman akan sulit mencari mereka ,!" perintah ibunda Ratu lagi.


" Baik lah ibunda Ratu, dan. Diajeng aku pergi dulu, untuk mencari keluarga di Daha,!" kata Wikala kepada ibunda Ratu Jayeswari dan istri nya tersebut.


" Pergi lah kangmas dan berhati-hati, karena seperti nya, letusan Kelud tersebut belum berakhir,!" ucap Ratu Pamotan menasehati suami nya itu.


" Baik diajeng, dan kanjeng ibu saya mohon pamit,!" ujar Wikala berpamitan kepada dua orang Ratu itu.


Wikala bergegas keluar dan menuju ke halaman belakang dan memerintah kan salah seorang prajurit memanggil Bekel Lembu Petala untuk datang menghadap.


Sesaat kemudian Lembu Petala sudah berada di hadapan Wikala yg kemudian berkata,


" Paman , aku akan melihat keadaan di Daha, dan ku harap kan paman dapat membantu dan menjaga Ratu, bila terjadi sesuatu yg membahayakan, paman bisa menghubungi ku dengan aji pameling,!" jelas Wikala kepada Lembu Petala.


" Baik Gusti Adipati, paman siap menjalan kan perintah,!" jawab Lembu Petala.


Wikala kemudian merapal ajian mega mendung tingkat tertinggi , nampak lah tubuh nya di selimuti kabut tebal yg menutupi seluruh tubuh nya, sebelum ia pergi masih sempat berujar," selamat tinggal Paman Petala!" terdengar suara nya dari dalam kabut tebal itu.

__ADS_1


" Selamat jalan Gusti Adipati,!" jawab Lembu Petala dan bersamaan dengan ucapan dari Lembu Petala itu maka melesat lah tubuh Wikala menuju kearah Barat menuju Daha.


Sebentar kemudian ia telah sampai di Wilayah kadipaten Tumapel dan sebentar kemudian telah mendekati Gunung Kelud, ia melihat dengan jelas letupan letupan dari Puncak Kelud tersebut, walaupun sudah tidak sekuat pertama , namun masih terasa menakut kan karena Lahar panas terus mengalir dan menghancur kan dan menghangus kan apa saja yg di lewati nya itu.


Wikala memintasi kawasan yg di hantam oleh kemurkaaan dari Sang Kelud, karena tubuh nya tertutup kabut tebal maka Wikala tidak apa-apa hanya terasa panas yg cukup menyengat dari hawa panas yg di timbulkan oleh banjir lahar panas tersebut.


Wikala melihat ke dahsyat an yg telah di timbulkan oleh Letusan Kelud tersebut.


Ia melewati tempat kelahiran nya yaitu desa thanda yg telah rata dengan tanah bahkan terlihat memerah akibat lahar panas masih berkumpul di sana, tidak ter lihat tanda tanda kehidupan di sana.


Desa thanda hancur akibat dari amukan Sang Kelud.


" Kemana kah kira nya Romo dan biyung mengungsi?" bertanya dalam hati


Ia kemudian meneruskan menuju ke arah barat tepat nya ibukota Daha.


Sebentar saja Wikala telah sampai di sana.


Ia langsung menemui Bhre Daha, setelah bertemu ia langsung bertanya kepada pemimpin Daha tersebut.


" Kangmas, di manakah kebanyakan para pengungsi berada,?" tanyanya kepada Adipati Daha itu yg terlihat keheranan atas kehadiran nya.


" Mungkin berada di kaki Willis dimas,!" jawab Adipati Daha itu dan kemudian ia bertanya,


" Kapan dimas sampai disini dan bagaimana kabar dengan adi Ratu, apakah telah melahirkan?"


" Baru kangmas, diajeng Ratu belum melahir kan, aku memerlukan datang kemari untuk mengetahui keberadaan dari keluarga ku ,!" jelas Wikala.


" Dan ku lihat Tanah perdikan Thandasain hancur lebur rata dengan tanah, bahkan laksana neraka yg berwarna kemerahan,!" lanjut Wikala lagi.


" Jadi dimas lewat desa thanda tadi ,?" tanya Bhre Daha seolah tidak percaya.


" Benar Kangmas, guna memastikan keadaan ,!" jawab Wikala.


" Kalau untuk tempat pengungsi an kami letak di beberapa tempat seperti kaki Willis dan Klotok,!" jelas Bhre Daha lagi.


" Baiklah Kangmas, aku akan ke Wilis dulu, baru nanti setelah nya ke Klotok,!" ungkap Wikala sambil berlalu dari hadapan Adipati Daha yg nampak tidak percaya dengan yg di dengar nya dari adik ipar nya tersebut. Bahkan ke hadiran nya yg tiba- tiba itu pun sulit di mengerti nya. Lama Bhre Daha menatap adik ipar nya itu yg terus melangkah pergi.


Wikala sendiri kembali melesat menuju Gunung Wilis ke tempat para pengungsi berada untuk mencari keluarga nya yg terkena dampak akibat letusan Kelud tersebut.

__ADS_1


-------------------------'''''''''''''''''''''''----------------------------


__ADS_2