
" Marilah Kang, kita kembali sudah terlalu lama kita disini," suara seorang perempuan yg sedang berbicara.
" Baiklah Tantri, mari kita kembali, karena esok pun aku harus kembali," terdengar suara seorang lelaki berkata.
Wikala yg mendengarkan percakapan itu bertanya-tanya dalam hati, siapa gerangan lelaki yg bersama dengan Tantri itu.
Lebih kuikuti mereka, pikirnya dalam hati.
Sementara itu Tumenggung singha wara dan Lembu Petala mengikuti Wikala untuk bersembunyi guna melihat siapakah kedua orang itu.
Setelah ketiganya menaiki sebuah batang pohon yg cukup rimbun, mereka menunggu, siapakah mereka yg tentunya akan lewat di bawah tempat itu.
Sedangkan Tantri yg kemudian beranjak dari tepi kolam air terjun, segera berjalan pulang ke rumahnya itu, tampak ia di temani seorang lelaki yg lumayan Tampan wajahnya.
Namun yg membuat mereka kaget bukan kepalang , mereka mengenali pemuda itu.
Yg paling terkejut adalah Wikala," mengapa ia bisa berhubungan dengan Tantri,?" tanya nya dalam hati.
Terasa dihati Wikala remuk redam, bahkan panas dingin, ia tidak menyangka Tantri yg di kenal dan di cintai nya itu memiliki hubungan dengan seorang yg amat tidak di sukainya itu.
Di hati Wikala serasa ada bara yg memanggang nya, ada rasa cinta dan sayang , namun sesaat terbersit kebencian dan amarah , ia benar-benar gundah gulana.
Begini lah rupanya kalau rasa cemburu telah bersarang , ucapnya dalam hati.
Sungguh-sungguh sakit , Tetapi yg tidak bisa kuterima , mengapa ia harus berhubungan dengan lelaki itu , katanya lagi.
Apa urusan ku, bukankah dia bukan sesiapa ku, kekasih bukan, adik pun bukan, apa peduli ku, kata-kata itu berusaha di tanamkan dihatinya untuk meredakan panas hatinya yg terbakar oleh api cemburu.
Adalah Tumenggung singha wara yg menggamit Wikala yg nampak terdiam itu.
" Anakmas Radeksa, mereka telah jauh, mari kita pulang," katanya kepada Wikala.
" Eh iya, mari kita pulang," ajaknya sambil melompat turun dari pohon tersebut.
Di dalam perjalanan pulang, Lembu Petala berbisik kepada Tumenggung singha wara, " yg wanitanya adalah bekas kekasih anakmas Radeksa," ujarnya.
"Hah, pantas sekarang anakmas Radeksa seperti orang linglung kebanyakan diam.Ternyata bahwa hati amat sulit untuk di pungkiri bahwa ia masih menaruh hati nya pada gadis itu, meskipun ia telah memiliki dua orang istri," kata Tumenggung singha wara pelan, sambil terus berjalan di belakang Wikala yg nampak cepat jalannya meskipun langkah nya satu-satu.
Meskipun kedua petinggi Majapahit itu berusaha mengejarnya akan tetapi tetap saja tertinggal jauh.
__ADS_1
Rupanya saking kesalnya Wikala mengetrapkan ajian wisnu kencana nya.
Setiba di rumah , mereka langsung ke pakiwan guna membersihkan diri, sedari siang mereka belum mandi , niat Wikala ke air terjun itu adalah untuk membersihkan diri sambil mengingat kenangan indah yg pernah terjadi disana.
Namun karena di situ ada Tantri, niat itu urung di laksanakan.
Setelah mereka selesai mandi, kemudian mereka bersantap makan malam bersama, meski sudah agak larut malam.
Adalah Mpu Thanda yh bertanya kepada Wikala,
" Bagaimana Ngger, dengan hasil penyelidikanmu, ?" tanyanya kepada Wikala.
Wikala nampak nya tidak mendengarkan pertanyaan romo nya itu, ia sedang melamun, Beginilah yg dirasakan oleh Tantri saat kutinggal menikah dengan putri parangkawuni , pantaslah ia nekat untuk melakukan bunuh diri, sangat sakit ternyata, Demikian lah kata-kata di dalam pikirannya hingga membuat ia tidak mendengar pertanyaan romonya itu.
Ketika kedua kalinya Mpu Thanda bertanya dengan agak lebih keras, " bagaimana dengan hasil penyelidikanmu ngger, ?" tanyanya lagi.
Wikala yg mendengarnya agak tergagap menjawab, " apa yg Romo tanyakan,?" ia balik bertanya.
" Hasil penyelidikan kalian atas Puncak Kelud, adakah yg mencurigakan,?" kembali di perjelas oleh Mpu Thanda.
" Tidak, tidak ada yg aneh, kawah Kelud biasa-biasa saja,!" jawab Wikala.
" Tidak ada romo, anakmu ini baik-baik saja, !" jawab Wikala.
" Sungguh Ngger, kamu baik saja, ?" tukas ibunya menimpali pertanyaan dari suaminya itu.
" Benar biyung, anakmu dalam keadaan baik,!" kata Wikala lagi.
" Apa sebab engkau tidak mendengar pertanyaan Romo mu,?" tanya ibunya lagi.
Wikala nampak terdiam seribu bahasa, ia tidak bisa menjawab pertanyaan ibunya itu.
Namun naluri seorang ibu itu sangat kuat, ia memahami keadaan putranya itu, kemudian mendesak dengan mengatakan, " apakah angger tadi bertemu dengan nak Tantri,?" suatu pertanyaan yg menohok buat Wikala.
" Heh, kanda bertemu dengan Tantri,?" suara Putri Cemaravati yg ikutan bertanya.
Kali ini Wikala benar-benar terjebak oleh kedua pertanyaan dari perempuan yg paling dekat dengannya itu.
Hingga ia menghela nafas untuk melepaskan beban yg terasa berat menumpuk di dadanya itu.
__ADS_1
" Benar biyung, tadi tanpa sengaja kami melihat Tantri , meskipun ia tidak melihat kami,!" jelas Wikala agak rikuh.
" Pantaslah, !" ucap ibunya.
Lama tempat itu dalam keadaan hening, tidak ada seorang pun mengeluarkan kata-kata hingga sang ibu berujar, " anakku, jangan terlalu larut di bawa perasaan, sebentar lagi dirimu akan menjadi seorang ayah , engkau harus mampu bersikap bijaksana, apalagi engkau mantu seorang Raja, !" ungkap ibunya menyemangati putra terkasihnya itu.
" Iya biyung,!" jawab Wikala pendek.
" Dan ada satu permintaan kami, jika Larasati dan angger Pratanu telah ada kecocokan segera kanlah pernikahan mereka,!" ucap Mpu Thanda kepada Wikala mengingat keduanya merupakan abdi dari Wikala dan istri nya Ratu Pamotan itu.
Malam itu , Wikala terlihat kurang bergairah untuk berbicara hingga membuat Tumenggung singha wara dan Lembu Petala mengobrol dengan Mpu Thanda bertiga, sedangkan Wikala ditemani oleh istrinya yg tidak terlihat banyak bertanya kepada suaminya , seperti biasanya. Karena putri Cemaravati maklum akan keadaan hati suaminya itu.
Keesokannya, setelah matahari menggatalkan kulit, Wikala ditemani oleh Tumenggung singha wara dan Lembu Petala melihat keadaan sawah milik keluarga nya,
Hamparan padi yg yg menghijau menyejukkan bagi mata yg memandangnya.
Tidak sampai sepekan mereka berada di desa thanda, kemudian balik lagi ke kotaraja Majapahit.
Di kota raja sendiri terlihat kesibukan atas persiaapan untuk paseban Agung yg pertama kali di pimpin oleh ibunda Ratu Jayeswari. Kali ini tampaknya seluruh pemimpin kadipaten akan turut hadir termasuk Bhre Pandan alas.
Lewat sepekan dari kepulangan Wikala dari desa thanda, Paseban agung pun di gelar.
Terlihat para pemimpin tertinggi dari daerah-daerah bawahan Majapahit hadir di situ.
Seperti Adipati Kahuripan dan rombongan, Adipati lasem, Adipati pandan alas, Adipati tumapel, Adipati paguhan, Adipati Matahun, Adipati Pajang , Adipati Mataram , Adipati Tuban tidak ketinggalan Adipati Wengker dan Adipati Daha dan rombongan nya termasuk di dalamnya Mahisa Dara.
Ketika sidang di buka oleh Ratu Pamotan yg mengatasnamakan ibundanya, kemudian para pemimpin tertinggi dari kadipaten tersebut mengajukan beberapa pertanyaan dan usul, adalah dari Kadipaten pandan alas yg memberikan usulan pertama kali ,melalui dari Adipati nya, berkatalah sang Adipati,
" Maafkan saya Kangmbok Ratu, sudah sewajarnyalah anakmas Wengker di nobatkan sebagai Raja di kerajaan Majapahit ini,!" ucapnya kepada Gusti Ratu.
Ibunda Ratu Jayeswari melihat kepada adik iparnya sekaligus besannya, dengan tatapan yg agak lain, mengingat semenjak suaminya yg jadi Raja , adiknya itu enggan untuk menghadap sehingga terjadi peperangan antara Majapahit dengan Pandan alas, dan berakibat terbunuhnya Prabhu Rajasawardhana .
Kemudian ibunda Ratu Jayeswari menanggapi permintaan adiknya itu dengan berkata," sesungguhnya itu tergantung kepada ananda Wengker , hak atas Majapahit ini ada di tangannya, aku berada disini hanya untuk menjaga supaya Majapahit tidak terpecah sampai ia mau duduk di singgasana ini,!" jelas ibunda Ratu.
Kemudian Adipati dari Kahuripan pun turut berkata, " Jika memang kangmas Wengker tidak bersedia, biarlah ia melepaskan jabatan Adipati Anom nya, dan ibunda dapat menunjuk penggantinya,!" katanya.
" Saya setuju dengan usulan Kangmas kahuripan, jika Kangmas Wengker enggan untuk jadi Raja biarlah ia melepaskan haknya dan jika ia memang berkenan sebaiknya lah segera di nobatkan jangan terlalu lama ISTANA tanpa MAHKOTA,!" ujar Adipati Daha.
Seluruh yg mendengarkan nya termasuk Adipati Wengker terdiam atas usulan dari dua Orang Adipati itu, karena keduanya merupakan adik dari Adipati Wengker yg mempunyai hak yg sama atas Tahta Majapahit.
__ADS_1
-------