BARA Di Atas Tanah MAJAPAHIT Dalam Episode 2: Satria Dari DAHA

BARA Di Atas Tanah MAJAPAHIT Dalam Episode 2: Satria Dari DAHA
episode 11 Saat KELUD pun murka bagian ketiga.


__ADS_3

Di keraton Majapahit sendiri, tengah ada pertemuan antara Sang Prabhu Bhatara Purwawisesa dengan Adipati Pandan alas yg merupakan mertuanya sendiri.


" Segera lah nanda Prabhu menetap kan ramanda mu ini sebagai penggantimu untuk menjadi Raja Majapahit ini,!" kata Adipati pandan alas.


Sang Prabhu terdiam mendengar ucapan dari mertuanya tersebut.


" Kalau nanti Nanda Prabhu tidak segera menetapkan saya sebagai pengganti mu, maka saudara mu yg lain akan segera menuntut untuk menggantikan Nanda Prabhu,!" kata Adipati Pandan alas lagi.


" Akan tetapi sampai saat ini mereka tidak ada yg menuntut ku , untuk menjadi Raja di Majapahit ini,!" ujar Bhatara Purwawisesa sambil menghela nafas nya.


" Itu memang belum terjadi Nanda Prabhu, tetapi sebentar lagi pasti mereka lakukan mengingat sampai saat ini Nanda Prabhu belum menetapkan Adipati Anom, untuk sebagai pengganti Nanda Prabhu kelak memimpin negeri Majapahit ini,!" tukas Adipati Pandan alas lagi.


" Baiklah , setelah nanti saya minta pendapat dari ibunda Ratu, akan ada keputusan atas permintaan dari Ramanda itu,!" jawab Sang Prabhu Bhatara Purwawisesa.


" Jangan terlalu lama, karena situasi saat ini sedang tidak menentu, memerlukan keputusan yg tepat untuk mengatasinya,!" jelas Sang Adipati Pandan alas lagi .


Kepala Sang Prabhu Bhatara Purwawisesa mengangguk tanda mengerti. Kemudian Sang Prabhu bangkit dari tempat duduk nya dan meninggalkan singgasana menuju ke bilik nya.


Perasaan nya bercampur aduk, antara benci , geram dan rasa takut serta hormat terhadap sikap mertuanya itu.


Ia terus melangkahkan kakinya dan tidak jadi ke bilik nya melainkan pergi ke arah bilik ibunda Ratu Jayeswari.


Sang Prabhu Bhatara Purwawisesa berniat untuk meminta pendapat dari ibunda Ratu Jayeswari atas desakan dari Adipati Pandan alas itu.


Sesampainya di bilik ibunda Ratu Jayeswari sangat terkejut atas kehadiran putra nya itu dengan wajah kusut.


" Ada apa gerangan Nanda Prabhu, wajah mu terlihat kusut,?" tanya ibunda Ratu Jayeswari.


" Memang demikian lah keadaan nya ibunda Ratu, banyak persoalan yg harus ku hadapi,!" ucap Sang Prabhu Bhatara Purwawisesa.


" Persoalan apakah hingga membuat mu kelihatan susah sekali,?" tanya ibunda Ratu Jayeswari kembali.


" Persoalan dengan Ramanda Adipati Pandan, Kanjeng ibu,. beliau mendesak ku untuk melepaskan Tahta Majapahit dan menyerah kan kepada nya,,!" jelas Sang Prabhu Bhatara Purwawisesa kepada ibunda Ratu Jayeswari dengan nada berat.


" Hehh, itu memang persoalan yg cukup sulit untuk di putuskan, salah sedikit pasti akan timbul peperangan,!" ucap Ibunda Ratu Jayeswari.


" Demikian lah ibunda Ratu, di satu sisi saya masih berharap di Majapahit tidak timbul peperangan dan perpecahan, namun di sisi yg lain Ramanda Adipati mendesak dengan keinginan nya untuk menjadi Raja di sini, sedangkan banyak Adipati yg tidak senang dengan beliau,!" jelas Sang Prabhu Bhatara Purwawisesa.


Lama mereka berdua diam, ibunda Ratu Jayeswari teringat akan keputusan suami nya yg menyerang Pandan alas dan berujung kepada kematian beliau, akibat pertentangan dengan adik nya Bhre Pandan alas itu.


Sedangkan sekarang putra sulung nya menghadapi masalah yg sama dengan orang yg sama yaitu Bhre Pandan alas.


Akhirnya setelah lama terdiam Ibunda Ratu Jayeswari berkata, " Sebaik nya Nanda Prabhu melaksanakan sidang Sapta Prabhu tanpa kehadiran adi Pandan alas,!"


" Bagaimana nanti kalau Ramanda Adipati tahu bahwa ada sidang Sapta Prabhu tanpa kehadiran nya, apakah ini tidak akan menambah persoalan, mengingat beliau pun adalah anggota dari dewan Sapta Prabhu,!" ungkap Prabhu Bhatara Purwawisesa cemas.


" Kita buat semacam pertemuan keluarga biasa tanpa harus menarik perhatian nya, dan kedatangan dari para adikmu jangan dalam jumlah rombongan yg besar, jadi semacam sowan terhadap orang tua tanpa tersangkut masalah negara,,!" jelas Ibunda Ratu Jayeswari kemudian.


" Dan satu hal lagi, Nanda Prabhu harus mengirim utusan yg benar-benar bisa di percaya, karena jaring,- jaring pasukan sandi Pandan alas telah menguasai keraton ini!" ujar Ibunda Ratu menimpali.

__ADS_1


" Baiklah ibunda Ratu, Nanda akan melaksanakan perintah , semoga adik Kahuripan, Pamotan dan daha dapat segera datang kemari,. dan saya mohon pamit Kanjeng ibu,!" kata Prabhu Bhatara Purwawisesa sambil bangkit dari bilik ibunda Ratu dan meninggalkan tempat itu.


Segera Sang Prabhu memanggil Warak sumadilaga dan Tumenggung Wanengpati untuk menghadap nya.


***""*****


Sementara di rumah Tantri telah hadir seorang utusan dari Daha yg menanyakan perihal keberadaan dari Mahisa Dara.


" Maafkan sebelum nya Ki Gede kedatangan kami kemari adalah dalam hal perintah dari Gusti Adipati Daha guna menanyakan keberadaan dari Mahisa Dara,!'' ucap seorang Lurah prajurit Daha itu.


" Sebenarnya kami di Thandasain ini pun sudah sangat lama tidak bertemu dengannya, entah dengan angger Tantri selaku calon istri nya,?" jawab ki Gede Thandasain.


" Karena Itulah kami kemari, mengingat Mahisa Dara memang telah bertunangan dengan anak ki Gede, apakah anak Ki Gede mengetahui keberadaan nya" kata Lurah prajurit itu.


Kemudian Ki Gede Thandasain mengirim pengawal tanah perdikan memanggil Rara Tantri, yg tidak beberapa lama kemudian datang bersama Lima orang temannya yg semua nya adalah perempuan.


" Ini dia ki Lurah putri saya yg merupakan tunangan dari Mahisa Dara itu,!" kata Ki Gede Thandasain , setelah kedatangan dari Rara Tantri.


" Kami ingin bertanya kepada mu, apakah mengetahui keberadaan dari Mahisa Dara saat ini,?" tanya Lurah prajurit Daha tersebut kepada Tantri.


Tantri menatap lekat -lekat ke arah Lurah prajurit itu seakan memastikan bahwa ia benar Prajurit dari Daha.


Setelah di yakininya bahwa Lurah tersebut itu memang Prajurit Daha, barulah ia menjawab, " Sungguh saat ini aku tidak berhubungan lagi , dan keberadaan nya terakhir kali kutemui adalah berada di Wengker,!" jawab Rara Tantri.


Nampak Lurah prajurit itu mendengar ucapan Rara Tantri dengan seksama kemudian setelah Rara Tantri selesai berbicara, ia pun langsung bertanya," Maksud nya tidak berhubungan lagi itu arti nya bahwa angger Tantri dan Mahisa Dara tidak jadi menikah , begitu,?" tanyanya kepada Tantri.


" Dan kapan waktunya angger Tantri bertemu nya,?" tanya Lurah prajurit itu lagi.


" Sekira setengah purnama yg lalu,!" kata Tantri lagi.


" Apakah ia bersama seseorang,?" kembali Ki Lurah bertanya.


" Benar, bersama seorang perempuan yg masih muda dan seperti nya dari kalangan bangasawan,,!" jelas Tantri.


" Baiklah , kami mengucapkan terimakasih atas keterangan yg di berikan oleh angger Tantri, karena Gusti Adipati saat ini tengah gusar menanti kehadiran dari Mahisa Dara yg telah lebih dari dua purnama tidak kembali ke daha, sehingga beliau menyuruh saya kemari, karena beliau tahu bahwa Mahisa Dara mempunyai calon istri disini,!" kata Lurah prajurit Daha itu.


" Itu dulu, sekarang tidak lagi,!" jawab Tantri lagi.


" Baiklah angger Tantri dan Ki Gede, saya mohon pamit, maafkan kedatangan kami berdua kemari mengganggu ketenangan ki Gede sekeluarga,!" tutur Lurah prajurit Daha.


" Silahkan ki, ahh , bagi kami kedatangan dari ki Lurah adalah suatu perintah dari Adipati Daha yg harus kami terima dengan senang hati.!". jawab Ki Gede Thandasain sambil turun dari pendopo mengantarkan kedua tamu nya itu ke tambatan Kuda-kuda mereka.


Setelah Lurah prajurit Daha itu meninggalkan Tanah perdikan Thandasain, maka ki Gede pun duduk kembali di pendopo dan menanyakan pernyataan Tantri tentang hubungan nya dengan Mahisa Dara yg telah putus itu.


" Benar Romo, aku telah memutuskan hubungan ku dengan nya, karena ia telah memiliki perempuan lain yg kemungkinan adalah Putri dari Adipati Pandan alas,!" jelas Tantri.


" Akan tetapi Ngger ,pamali, memutuskan hubungan pertunangan, atau jangan-jangan angger memutuskan nya karena kemarahan dan kecemburuan sesaat, mungkin yg angger lihat itu tidak sesuai dengan yg angger pikirkan,!" jelas Ki Gede Thandasain lagi.


" Romo, semua itu adalah kenyataan, bahkan aku memiliki tiga saksi disini, kalau Romo tidak percaya silahkan tanyakan kepada mereka,," kata Tantri agak keras karena ia merasa di persalahkan oleh Romo nya itu.

__ADS_1


Ki Gede kemudian berpaling kepada Nyai Dewi putrani wijaya yg merupakan orang terdekat dari putri nya itu.


" Benarkah yg dikatakan oleh Tantri itu , Nyai,,?" tanya ki Gede Thandasain.


" Memang begitulah kenyataan nya Ki, kami berempat melihat sendiri kejadian itu, memang bukan kecemburuan sesaat dari angger Tantri , melainkan karena memang si ******* itu, telah menolak Tantri, dengan mengatakan tidak mengenal nya di hadapan perempuan itu,!" kata Nyai Dewi putrani wijaya.


" Lagian mengapa mereka berduaan di dalam hutan itu,!" jelas nya lagi.


Ki Gede terhenyak mendengar penuturan dari Nyai Dewi itu, seakan gunung kelud telah runtuh dan menimpanya.


Ia yg tengah menyiapkan hajatan besar harus gagal karena sang calon menantu berpaling ke lain hati, Lama ia menatap wajah putri nya itu, rasa-rasanya wajah itu tidak ada kurangnya akan tetapi mengapa rezeki nya kurang beruntung.


*********


Setelah mendapatkan undangan dari Prabhu Bhatara Purwawisesa maka tiga Adipati yg merupakan anggota dewan Sapta Prabhu segera datang memnuhi undangan itu, dari Pamotan karena kondisi dari Ratu Pamotan dalam keadaan hamil tua, ia di gantikan oleh suaminya Radeksa Wikala atau bergelar Bhre Kertabhumi, berdasarkan pesan yg di terima maka kedatangan mereka hanya di kawal oleh beberapa orang saja, untuk tidak menimbulkan kecurigaan dari Adipati Pandan alas.


Setelah sampai di Keraton Majapahit mereka langsung menghadap Ibunda Ratu Jayeswari, dan di sana tengah menunggu Gusti Prabhu tanpa di dampingi oleh sang istri.


" Selamat datang anak-anakku sekalian, sesuai pesan yg telah kalian terima, sesungguhnya ini adalah pertemuan resmi dewan Sapta Prabhu namun diadakan dengan cara yg rahasia karena kalian telah mengetahui sendiri bahwa istana ini sekarang telah tidak aman lagi,?" panjang lebar Ibunda Ratu Jayeswari berkata kemudian di lanjutkan nya lagi.


" Namun karena kegentingan itu kakang mu, Ananda Prabhu Bhatara Purwawisesa memerlukan pendapat dari kalian semua sebagai anggota dewan Sapta, untuk memecahkan masalah ini,!" sambil menarik nafas ibunda Ratu Jayeswari kembali berkata,


" Adalah paman kalian, Adipati Pandan alas meminta Tahta Majapahit ini di serahkan kepada nya, sedangkan kakang mu Prabhu Bhatara Purwawisesa sampai saat ini belum ada jawaban, hingga membutuhkan pendapat kalian,!" terang ibunda Ratu.


" Silahkan ananda Kahuripan memberikan pendapat nya,!" kata ibunda Ratu Jayeswari kepada Bhre Kahuripan.


" Ampun kan Kanjeng ibu, sungguh menurut saya ini adalah kesalahan Kangmas Prabhu yg terlalu lemah dalam memimpin Majapahit ini, andai ia mempunyai sifat tegas seperti Ramanda Prabhu tentu hal ini pasti tidak akan terjadi,!" kata Bhre Kahuripan.


" Dan usulmu atas permintaan Paman itu bagaimana,?" tanya Ibunda Ratu Jayeswari.


" Kalau menurut saya jangan di penuhi tuntutan itu, biarkan Kangmas terus menjalankan kekuasaan , sampai nanti terpilih nya Adipati Anom,!" kata Bhre Kahuripan.


" Dan pendapat mu nanda Daha,?" tanya ibunda Ratu kepada Adipati Daha.


" Ampun Kanjeng ibu, saya sependapat dengan Kangmas Kahuripan, bahwa paman pandan alas tidak berhak dengan Tahta Majapahit, apalagi ia telah mbalela terhadap Ramanda Prabhu Rajasawardhana, bagaimana mungkin ia sanggup meminta itu, kepada kangmas Prabhu Bhatara Purwawisesa,!" jawab Adipati Daha.


" Dan menurut anakmas Kertabhumi bagaimana,?" tanya ibunda Ratu Jayeswari kepada Wikala.


" Ampun Kanjeng ibu, saya pun sependapat dengan Kangmas Kahuripan dan Kangmas Daha, bahwa kekacauan di Majapahit ini banyak di timbulkan oleh ulah dari Paman Pandan alas itu, kini dengan seenaknya ia meminta Tahta Majapahit untuk di serahkan kepada nya, suatu yg mustahil untuk di lakukan,!" jawab Bhre Kertabhumi.


" Dan menurut mu adi Wara, bagaimana ?" tanya nya kepada Singha Wara.


" Ampun kan saya, kangmbok Ratu ayu, sungguh saya sependapat dengan anakmas Kahuripan, Daha dan Pamotan itu, apalagi saya langsung turun di gelanggang pertempuran antara Majapahit melawan pandan alas kala itu, tentu merasa terkhianati jika Tahta Majapahit harus jatuh ke tangan Adipati Pandan alas itu, nyawa saya hampir lenyap saat itu,!" jelas Tumenggung Singha wara.


" Nah Nanda Prabhu, engkau telah mendengar sendiri bahwa dewan Sapta Prabhu sepakat untuk tidak menyerah kan Tahta Majapahit ini ke tangan paman dan sekaligus mertua mu itu,!" ungkap ibunda Ratu Jayeswari.


" Baiklah Kanjeng ibu, mudah-mudahan saya mampu menjalankan titah Sapta Prabhu ini untuk tidak memberikan kerajaan Majapahit ini kepada Ramanda Pandan alas,!" jawab Prabhu Bhatara Purwawisesa.


---------------------,,,,,,........

__ADS_1


__ADS_2