BARA Di Atas Tanah MAJAPAHIT Dalam Episode 2: Satria Dari DAHA

BARA Di Atas Tanah MAJAPAHIT Dalam Episode 2: Satria Dari DAHA
episode 11 Saat KELUD pun murka bagian kelima.


__ADS_3

Sejenak kedua rombongan itu berhenti tepat di pertigaan tersebut, berkatalah Wikala, " Sampai bertemu Kangmas, semoga tiada hambatan di jalan,!" ujarnya kepada Bhre Kahuripan.


" Demikian pula dengan dimas semoga sampai pamotan dengan selamat,!" jawab Bhre Kahuripan.


" Mudah-mudahan ,?" tukas Wikala.


Kedua rombongan itu pun berpisah dengan arah masing-masing.


Adipati Kahuripan jalan lurus ke depan sedangkan Wikala berbelok ke kanan, menuju ke arah Pamotan.


Sementara itu beberapa orang telah menanti rombongan dari Adipati Kahuripan itu di sebuah hutan kecil,.


Karena Bhre Kahuripan merasa jarak tempuh nya tinggal sedikit lagi maka ia terus melanjutkan perjalanan tanpa beristrahat di dalam hutan itu, yakni perbatasan antara kotaraja dengan Kahuripan.


Ketika sampai di ujung hutan kecil itu, saat wayah sepi uwong, dan malam benar benar pekat, namun enam orang penunggang kuda dari Kahuripan ini, tiba-tiba di kejutkan dengan kehadiran berpuluh orang yg menghalangi jalan nya.


" Heh, siapa kalian, maksud apa dengan menghalangi jalanku,?" teriak nya kepada orang yg di depan itu


" Kami menginginkan Kepala mu, Adipati Kahuripan ," kata orang yg menghalangi jalan dari Adipati Kahuripan itu.


" Kalian tidak mengenal Aku, Aku adalah Adipati Kahuripan penguasa wilayah ini,!" ucap Bhre Kahuripan lagi.


" Justru karena kami mengenal mu, maka nya kami menginginkan Kepala mu,!" ucap orang itu yg tiada lain adalah Tumenggung Jayasena.


" Baiklah , kalau kalian memang mampu melakukan nya, silahkan,!" ucap Adipati Kahuripan yg telah mengeluarkan pedang nya.


Ia kemudian berbisik dengan Tumenggung Reksasudira , seorang Tumenggung Majapahit yg memimpin pasukan panah , namun Tumenggung Reksasudira sekarang telah mengabdi di Kahuripan karena di buang oleh Prabhu Bhatara Purwawisesa..


" Paman Reksasudira , segera beri isyarat ke pos Ronda terdekat dengan panahmu, karena Kulihat jumlah mereka cukup banyak sedangkan kita cuma berenam,!" katanya kepada Tumenggung Reksasudira.


" Baik Gusti Adipati,!" jawab Tumenggung Reksasudira segera mengeluarkan anak panahnya dari endong nya.


Sekejap kemudian sebuah panah sendaren melesat cepat kearah pos Ronda di tapal batas kotaraja dengan Kahuripan itu.


Mengetahui lawan telah memberikan isyarat kepada prajurit perbatasan, maka kelompok yg di pimpin langsung oleh Patih Kebo Mundira segera bergerak,


" Cepat habisi orang-orang Kahuripan itu,!" terdengar perintah dari seseorang yg tiada lain adalah Patih Kebo Mundira.


Di gelap malam itu, tiga puluh orang prajurit segera maju menyerang rombongan dari Adipati Kahuripan yg berjumlah enam orang, diantara nya ada Tumenggung Wirana dan di bantu tiga orang Rangga menghadapi para pencegat yg adalah Pasukan dari Pandan alas.


Tumenggung Jayasena menempatkan dirinya menghadapi Sang Adipati Kahuripan itu. Sementara Patih Kebo Mundira belum turun ke gelanggang pertempuran, ia masih melihat keadaan dan situasi.


Tumenggung Reksa sudira dengan cepat menarik kembali panahnya, kali ini tiga buah anak panahnya melesat dengan cepat menyasar orang-orang yg mencegat rombongan itu.


" Aaàaaakkhhhh,!" teriak prajurit Pandan alas yg mengepung rombongan Adipati Kahuripan itu. Tiga orang tewas di kegelapan malam itu, merupakan korban pertama yg jatuh dari pertempuran itu.


Namun ketika sekali lagi Tumenggung Reksa sudira menarik panah nya, tiba -tiba sebuah pedang menghampirinya, mau tidak mau Tumenggung yg kenyang pengalaman bertempur itu terpaksa menangkis dengan busurnya dan dengan cepat anak panah yg berada di tangan kirinya di ayunkan ke penyerangnya itu.

__ADS_1


" Creerpz,!" bunyi anak panah itu setelah menembus jantung prajurit pandan alas itu.


Sedangkan Adipati Kahuripan harus berkelebatan kesana kemari menghindari keroyokan dari empat penyerangnya.


Namun Adipati putra Prabhu rajasawardhana itu masih mampu mengatasi nya, bahkan ketika ia berhasil menghindari serangan dari Tumenggung Jayasena, sang Adipati dengan cepat menyerang Prajurit yg berada di samping nya dengan tusukan pedang nya kearah jantung, prajurit pandan alas yg malang itu lengah ia tidak bisa menghindari hanya sempat menangkis dengan pedang nya namun itu pun tidak terlalu berpengaruh , ujung pedang Sang Adipati berhasil menerobos masuk menikam jantung prajurit itu, dan langsung ambruk ketika pedang itu di cabut.


Karena pengepung nya berkurang satu, Adipati Kahuripan merasa tekanan pada dirinya agak longgar, namun ketika di lihatnya di keseluruhan pertempuran , pengawal nya terdesak hebat, hanya Tumenggung Wirana dan Tumenggung Reksa sudira yg masih memberikan perlawanan yg berarti sedangkan tiga Rangga nya telah beberapa kali tergores oleh senjata lawan.


Dengan cepat Adipati Kahuripan merapal ajiannya, ajian Brajamusti milk nya.


"Heaaahh," teriak Adipati Kahuripan mengarah kan serangan nya kepada para prajurit yg mengeroyok pengawal nya itu kontan saja tiga prajurit Pandan alas yg mengepung pengawal Sang Adipati tewas seketika.


Melihat hal ini Tumenggung Jayasena segera menyerang Adipati Kahuripan dalam pertarungan yg rapat mencegah Sang Adipati mengeluarkan ajian nya yg nggegrisi itu. Dengan dibantu tiga orang Prajurit terpilih nya Tumenggung Jayasena berhasil mendesak Adipati Kahuripan yg perhatian nya terpecah setelah melihat ke tiga Rangga pengawal nya itu roboh bermandikan darah akibat di keroyok prajurit Pandan alas itu.


Sedangkan nasib dua Tumenggung nya baik Tumenggung Reksa sudira dan Tumenggung Wirana, kejadian nya pun hampir sama, Kedua Tumenggung itu terdesak sangat hebat akibat di keroyok belasan orang prajurit pandan alas yg merupakan prajurit pilihan.


Kelengahan Sang Adipati harus di bayar mahal dengan sebuah tusukan pedang dari Tumenggung Jayasena yg mengarah ke dada nya namun berhasil di tangkis , tetapi ujung pedang tersebut tetap mampir di pundak nya, hingga berhasil melukai Sang Adipati.


" *******, " kata Adipati Kahuripan sambil bersalto beberapa kali ke belakang guna menghindari serangan lanjutan.


Namun kali Tumenggung Jayasena memburu nya, namun naas, bagi Tumenggung Jayasena itu, ketika ia terus melancarkan serangan nya, Adipati Kahuripan yg kalap segera melepaskan Ajian Brajamusti milk nya itu,


" Heaaahh,!" kembali sebuah cahaya terang meluruk Tumenggung dari Pandan alas itu, tak ayal lagi tubuh Tumenggung Jayasena jatuh, dengan jeritan panjang,


" Aaàaaakkhhhh,!" Tumenggung Jayasena tewas dalam pertempuran dengan Adipati dari Kahuripan itu.


" Ajian Waringin sungsang,!" cahaya kebiruan menghantam tubuh Adipati Kahuripan yg tidak menyadari kehadiran seseorang yg berada di belakang nya,


" Aaaaaaakkkkkhhhh,!" teriak Adipati itu , ia sampai terlontar lima tombak , namun masih mampu berdiri walau dengan susah payah dan ketika berhasil berdiri ia pun jatuh terduduk lagi. Ia kemudian mengatur pernafasan nya, tetapi kemudian terdengar perintah dari Patih Kebo Mundira,


" Ayo, apa yg kalian tunggu cepat habisi Adipati itu, sebelum prajurit perbatasan datang kemari,!"


Tidak menunggu perintah kedua kalinya, tiga orang Prajurit Pandan alas itu kemudian menghampiri Adipati Kahuripan yg tengah mengatur jalan pernafasan nya itu, serentak tiga buah pedang menjebol dada dari Adipati Kahuripan itu.


Di pagi hari itu, di perbatasan antara kotaraja dengan Kahuripan terlihat banyak mayat yg terbujur, di sertai dengan warna merah nya rerumputan di basahi oleh Darah, termasuk darah Adipati Kahuripan adik dari Sang Prabhu Bhatara Purwawisesa itu.


Setelah berhasil menghabisi Sang Adipati dengan cara curang Patih Kebo Mundira berlalu dari tempat itu, dengan membawa mayat Tumenggung Jayasena dan.mayat prajurit pandan alas.


Yang tinggal di tempat itu hanya mayat dari rombongan Adipati Kahuripan, dan ketika prajurit Kahuripan yg berada di perbatasan tiba ke tempat kejadian mereka hanya menemui mayat dari Adipati dan pengawal nya itu, sedangkan pasukan pandan alas telah meninggalkan tempat itu.


Sementara di pagi itu juga rombongan Wikala telah sampai di perbatasan antara tiga kadipaten yaitu Kahuripan , Paguhan dan Pamotan, ketika mereka memintasi ara--ara dan akan memasuki hutan, tiba-tiba dari arah depan terlihat banyak orang yg tengah menghadang mereka.


" Siapakah kiranya mereka itu Bor, mengapa mereka menghalangi jalan kita?" tanyanya kepada Arya bor bor.


"Seperti nya mereka tidak bermaksud baik, Guru,!" jawab Arya bor-bor.


Karena melihat banyaknya orang yg menghalangi jalan nya itu, Wikala memberi isyarat kepada pengawal nya untuk mendekat, dan setelah dekat, ia berkata,

__ADS_1


" Menurut firasat ku, mereka itu tidak bermaksud baik, apakah kalian siap menghadapi mereka yg jumlah nya puluhan itu,?" tanya nya kepada pengawal nya yg terdiri dari dua Tumenggung yaitu Tumenggung Rapala dan Rapada serta dua orang Rangga yaitu Rangga Jumena dan Rawelu.


" Siap Gusti Adipati,!" jawab mereka serempak.


" Nanti kalau terjadi pertempuran jangan jauh jauh dari ku,!" kata Wikala lagi.


" Baik Gusti Adipati,!" kata mereka lagi.


Setelah semakin dekat maka terlihatlah siapa orang nya yg telah berani menghadang rombongan Pamotan itu.


" Hehh, Bor, bukankah itu adalah Mahisa Dara,!" kata Wikala kepada Arya bor bor.


" Benar guru, dan di sebelah nya itu adalah Panglima prajurit dari Pandan alas,!" jawab Arya bor-bor lagi.


" Darimana kamu tahu bor, ?" tanya Wikala karena Arya bor bor mengenali yg di sebelah dari Mahisa Dara.


" Sewaktu di Kali Mayit dulu, dia itu pernah datang menyatroni tempat ku dulu, dengan pasukan nya,!" jelas Arya bor bor.


" Jadi kamu pernah bertarung dengan nya Bor,?" Tanya Wikala lagi.


" Benar Guru,!" jawab Arya bor bor lagi.


" Hasil nya,?" tanya Wikala lagi.


" Kami seimbang , Guru, ia memiliki ajian Waringin sungsang dan belakang an, aku baru tahu bahwa ia murid dari Mpu Tela dari Telomoyo,!" jawab Arya bor-bor .


" Berarti ia orang yg mesti di perhitungkan,!" jelas Wikala


" Benar, ia dan kakak seperguruannya yg menjadi Patih di pandan alas adalah orang orang yg menjadi pendukung terkuat dari Adipati Pandan alas itu, !" jelas Arya bor bor.


Ketika jarak tinggal sepuluh tombak lagi maka Wikala dan rombongan menghentikan langkah kuda nya.


" Apa, maksud kalian manghalangi jalan kami,?" tanya Wikala.


" Kami menginginkan kepala mu ,!" jawab Kebo Ndaru.


" Kepala ku cuma satu, dan untuk apa Kalian,?" tanya Wikala lagi.


" Akan kami serahkan kepada Gusti Adipati Pandan alas,!" jelas Kebo Ndaru lagi.


" Keterlaluan paman pandan alas itu, yg di minta kok kepala,, apa dia tengah menggilai kepala seseorang,,?" tanya Wikala.


" Jangan menghina junjungan kami, cepat berlutut biar mudah aku memenggal kepala mu,!" ucap Kebo Ndaru dengan lantang.


" Silahkan cabut sendiri kepala ku ini jika engkau memang mampu melakukan nya,," jawab Wikala dengan tegas.


------.......--------

__ADS_1


__ADS_2