BARA Di Atas Tanah MAJAPAHIT Dalam Episode 2: Satria Dari DAHA

BARA Di Atas Tanah MAJAPAHIT Dalam Episode 2: Satria Dari DAHA
episode 12 Mendung di langit Pamotan bagian ke Lima.


__ADS_3

Tantri, Nyai Dewi putrani wijaya serta Wiradamar melanjut kan perjalanan nya menuju kota Wirasaba.


Mereka tidak menyadari bahwa ada yg mengikuti mereka dari jalan yg berbeda.


Sampai nya di Wirasaba mereka terus berjalan ke arah selatan hingga sampai di karangpucung, suatu tempat untuk menyebrang ke Pulau nusakambangan yg berada di selatan pulau.


Dari karang pucung mereka menumpang sebuah perahu yg mengantarkan mereka kembali ke nusakambangan.


" Bi kita akan kemana,?" tanya Wiradamar kepada Tantri .


" Kita akan ke tempat bibi di pulau itu,!" jawab Tantri sambil menunjuk kan sebuah pulau yg berada di depan mereka.


" Memang nya bibi Laras ada di sana?" tanya Wiradamar lagi.


" Mungkin, atau kalau pun tidak berada disana nanti pasti mereka akan menyusul,!" jawab Tantri asal saja.


" Tapi bi aku rindu dengan ibu, nanti kalau kembali pasti Aku akan di marahi karena telah terlalu lama pergi nya,!" jelas bocah kecil itu.


" Tidak apa -apa nanti ibumu tidak akan marah kalau bertemu bibi,!" jawab Tantri.


" Iya kah,?" tanya Wiradamar tidak percaya.


" Ya, iyalah, ibumu tidak akan berani dengan bibi,!" kata Tantri memberi semangat kepada Wiradamar.


Tidak terasa perahu yg mereka tumpangi merapat ke pulau yg mereka tuju, pulau Nusakambangan.


" Akhir nya kita kembali !" ujar Nyai Dewi putrani wijaya setelah mendarat di pulau tersebut.


Ketiga nya berjalan menuju kearah Barat dari pulau ter sebut menuju padepokan dari si selendang maut tersebut.


Sampai lah ketiga Nya di tempat kediaman Nyai Dewi putrani.


Padepokan itu di huni sekira dua puluh cantrik perempuan , namun kali ini ada yg lain , bahwa di situ ada Ayu untari yg kembali dari ceremai dengan perut yg cukup membesar karena hamil.


" Heh, kapan engkau datang untari,?" tanya Nyai Dewi kepada murid nya itu.


" Baru kemarin guru!' jawab Untari.


" Hal apa gerangan membuat kembali kemari, ?" tanya Nyai Dewi agak heran.


" Aku rindu tempat ini dan ingin melahir kan disini,!" ungkap untari.


" Dengan guru mu ini tidak kangen,?" tanya sang guru setengah meledek.


" Ahh, tentu dengan guru aku pun rindu, guru adalah orang tuaku, tiada di muka bumi ini keluarga ku kecuali guru,!" tutur Untari agak sedih.


" Baiklah jangan terlalu di bawa perasaan , aku hanya bercanda, bukan maksud ku meragukan diri mu Tari,!" jelas Nyai Dewi putrani kepada murid nya itu.


Untari hanya mengangguk kemudian ia menyapa Tantri,


" Hei siapa anak ganteng ini Tantri,?" tanya nya kepada Rara Tantri.


" Dia anak kakang Radeksa,!" jawab Rara Tantri.


" HAH, Kok bisa bersama mu,?" tanya Untari tidak percaya.


" Panjang cerita nya, nanti setelah istrahat akan ku cerita kan kepada mu, sekarang aku ingin mandi,!" jelas Rara Tantri.

__ADS_1


Kemudian Rara Tantri berlalu dari tempat itu untuk membersihkan diri di pakiwan.


Sementara itu rombongan kawanan rampok dari alas Mentaok telah mendekati daerah Wirasaba dan mereka pun menuju tempat penyebrangan di daerah karangpucung.


" Heh, warit tanyakan kepada tukang perahu itu apakah ada orang yg telah menyebrang ke pulau itu ,!" terdengar perintah dari Ki Cagak Warangan kepada anggota nya itu.


" Baik ki Lurah,!" jawab Warit bergegas mendatangi tukang perahu yg sedang tidur-tiduran di atas perahu nya.


" Heh, ada orang rupanya, mau menyebrang den,!" ucap si tukang perahu setelah melihat ke hadiran Warit.


" Nnng, iya eh mau nanya apakah telah ada orang yg menyebrang,?" tanya Warit kepada tukang perahu.


" Wah, kalau hari ini belum ada,!" jawab si tukang perahu.


" Kalau kemarin, atau kemarin nya lagi,? tanya Warit penasaran .


" Kalau kemarin ada tiga orang, yg menyebrang,!" jawab si tukang perahu.


" Laki atau perempuan ,?" tanya Warit lagi .


Si tukang perahu nampak mengingat ingati siapa yg kemarin menyebrang dan kemudian berkata," Ketiga nya laki-laki,!" jawab nya.


Nampak Wajah Warit agak tidak senang mendengar nya kemudian ia bertanya lagi, " Kalau dua orang perempuan dengan satu bocah kecil ,?"


" Ohh yg aden maksud Nyai Dewi,?" tanya tukang perahu agak kaget.


" Ya, siapa lah nama nya, soal nya dua orang perempuan dengan bocah laki-laki bersama mereka,!" jelas Warit.


" Kalau mereka tiga hari yg lalu dari sini, !" jawab tukang perahu itu.


" Begitulah ki Lurah,!" kata warit kepada Ki cagak Warangan.


" Baik lah kita segera menyebrang ke nusakambangan, siap kan tiga perahu untuk menyebrang,!" perintah ki cagak Warangan.


Segera lah anggota rampok alas mentaok yg berjuluk Iblis penebar maut itu memanggil tiga orang tukang perahu untuk menyebrang kan mereka.


Sebanyak dua puluh tiga orang nampak menaiki tiga perahu menuju ke pulau nusakambangan.


Setiba di pulau itu, Ki cagak Warangan menyuruh anggota nya untuk menanyakan keberadaan dari padepokan Nyai Dewi putrani.


Sesudah mengetahui tempat nya rombongan rampok Alas Mentaok itu pun bergerak mendekati padepokan Nyai Dewi putrani yg berada agak ke barat dari pulau tsb.


Ketika sampai di sekitar padepokan Nyai Dewi hari telah sore, akhir nya mereka menunda penyerangan nya.


" Sebaik nya kita lihat dulu berapa penghuni padepokan itu,!" kata Ki Suda Kampil kepada Cagak Warangan.


" Kirim kan sipit untuk mengintai padepokan itu,!" kata Ki cagak Warangan.


Maka anggota yg bernama Sipit pun bergerak mendekati padepokan Nyai Dewi putrani yg tidak berpagar, sehingga dari kejauhan pasti kelihatan berapa orang penghuni nya.


Dengan mudah nya Sipit menghitung penghuni padepokan itu. Setelah di ketahui secara pasti Sipit pun kembali .


" Jadi berapa orang jumlah mereka, Pit,?'' tanya Ki Cagak Warangan.


" Sama seperti kita , mereka berjumlah dua puluh orang,!" jawab Sipit.


" Darimana kau tahu, Pit,?" tanya Ki Cagak Warangan lagi.

__ADS_1


" Aku menghitung mereka yg keluar dan yg masuk ,!" jawab Sipit .


" Kalau yg berada di dalam dan tidak keluar bagaimana,?" tanya ki Cagak Warangan.


Sipit nampak kebingungan menjawab pertanyaan dari Ki Cagak Warangan itu.


" Wah, kalau itu aku tidak tahu , kalau mereka ada yg tidak keluar ,!" terang Sipit.


" Tidak mengapa, Pit, yg jelas kekuatan mereka tidak berbeda jauh dengan kita, sebaiknya kita mengatur siasat untuk menundukkan mereka,!" Kata Ki Cagak Warangan dan kembali bertanya kepada sipit, " Apakah penghuni nya ada yg laki -laki,?"


" Tidak ada ki Lurah ,semua nya perempuan kecuali bocah kecil itu,!" jelas Sipit.


" Bagaimana Suda Kampil, apakah kita serang saat ini,?" tanya Ki Cagak Warangan kepada Ki Suda Kampil.


" Kurasa sebentar lagi kakang Warangan setelah malam agak dalam baru kita serbu mereka bukan begitu ki Lawa ireng,?" tanya Ki Suda Kampil kepada Ki Lawa ireng yg sedari keberangkatan tidak banyak bicara seolah ia memiliki firasat lain atas penyerangan itu. Karena kelompok Iblis penebar maut tidak pernah keluar dari Alas Mentaok kalau ingin merampok.


Mereka merampok dan membegal jika ada orang atau saudagar yg nyasar lewat dari Alas Mentaok itu. Jadi istilah nya Kelompok begal Iblis penebar maut jago kandang.


Jadi ketika di tanyakan pendapat nya tentang penyerbuan ke padepokan Nyai Dewi putrani si selendang maut itu, Ki Lawa ireng ogah-ogahan menjawab nya,


" Terserah kalian berdua aku manut wae,!" ujar nya menjawab pertanyaan ki Suda Kampil itu.


" Sebaik nya kakang kita serang wayah sepi uwong,!" jelas Ki Suda Kampil kepada Ki cagak Warangan.


" Kita putus kan menyerang padepokan itu saat wayah sepi uwong, dan satu lagi kalau bisa jangan sampai ada yg terbunuh upaya kan sebisa mungkin kita menangkap mereka hidup-hidup,!" ujar Ki Cagak Warangan yg membayang kan Wajah dan tubuh Tantri yg cantik nan molek itu. Bahkan dalam fantasi kepala begal alas Mentaok itu pun melihat bahwa Nyai Dewi putrani pun masih cukup aduhai.


Lama Ki cagak Warangan berfantasi dengan penghuni padepokan nusakambangan itu.


Setelah malam semakin pekat dan kelam, suara binatang-binatang malam semakin terdengar jelas saling bersahutan maka rombongan yg di pimpin oleh Ki cagak Warangan,ki suda kampil dan Ki Lawa ireng itu pun langsung mengepung padepokan Nyai Dewi putrani.


Dengan lantang ki Cagak Warangan berteriak memecah kesunyian malam,


" Hai Nyai Dewi menyerah lah tentu kau akan aku ampuni, jika melawan golok ku ini akan menebas leher mu,!" teriak nya.


" Heh siapa kunyuk busuk yg berani datang ke tempat ku ini , apakah sudah bosan hidup,!" jawab Nyai Dewi dari dalam padepokan itu.


Mendengar ribut-ribut Wiradamar yg sudah tidur tiba-,tiba terjaga dan bertanya kepada Tantri, " Ada apa bi, mengapa eyang Dewi berteriak ,?"


" Ada orang jahat di luar sana, sebaik nya damar tidur lagi," jawab Tantri sambil menyuruh Wiradamar kembali tidur, namun bocah kecil itu menggeleng.


Sementara itu dari terdengar lagi teriakan dari Ki Cagak Warangan, " Kami Iblis penebar maut dari Alas Mentaok akan mengambil kalian yg telah berani melewati wilayah kekuasaan kami,!"


" Memang nya Alas Mentaok punya moyang mu,!" balas Nyai Dewi segera keluar melihat tamu yg tidak di undang nya itu. Setelah melihat keadaan di luar yg di terangi cahaya obor dan rembulan yg akan tenggelam, Nyai Dewi memastikan jumlah Iblis penebar maut tidak sebanyak sewaktu di Alas Mentaok, kali jumlah mereka seimbang ada rasa percaya diri yg timbul dari Nyai Dewi.


" Sebenar nya apa keinginan mu heh, Cagak rapuh,?' tanya Nyai Dewi putrani wijaya kepada Ki Cagak Warangan.


" Kami menginginkan kalian tunduk dan patuh terhadap kami dan menuruti semua perintah kami,!" jelas Ki Cagak Warangan.


Terdengar dari sebelah nya suara berkata," kakang Warangan jangan bertele-tele, segera kita serang saja,!" kata Ki Suda Kampil pelan kepada Ki cagak Warangan.


" Puihh, apa pangkat mu hingga kami harus tunduk dan patuh terhadap parasit negara seperti kalian,!" ucap Nyai Dewi putrani sambil meludah ke samping tubuh nya.


" Kalau kalian tidak mau patuh dan tunduk kepada kami, jangan salah kan jika padepokan ini jadi Karang abang,!" teriak Ki Cagak Warangan.


" Silahkan apa pun yg kalian ingin kan akan kami ladeni, ini tempat kami bukan di alas Mentaok, !" ucap Nyai Dewi geram.


------------------........'''''''........---------------------

__ADS_1


__ADS_2