BARA Di Atas Tanah MAJAPAHIT Dalam Episode 2: Satria Dari DAHA

BARA Di Atas Tanah MAJAPAHIT Dalam Episode 2: Satria Dari DAHA
episode 21 Sang BRAWIJAYA bagian ke Lima.


__ADS_3

Naja Pratanu sendiri harus ber hadapan dengan Bekel Bhayangkara Tunggul Anubawa.


Meskipun Bekel Bhayangkara itu memiliki kemampuan yg cukup tinggi tetapi menghadapi Senopati dari Pamotan itu ia harus mengakui nya, tubuh Sang Bekel Bhayangkara itu telah ber lumuran darah.


" Menyerah lah, berikan Prabhu Suraprabhawa itu kepada kami,!" ucap Senopati Naja Pratanu.


" Pantang Menyerah bagi seorang prajurit Bhayangkara, sampai mati pun kami tidak akan menyerah kan junjungan kami,!" jawab Bekel Bhayangkara Tunggul Anubawa .


Dengan cepat Senopati Naja Pratanu menyerang kembali Bekel Bhayangkara tersebut.


Pedang Naga geni milik dari murid Resi Begawan mahameru itu, mematuk kearah dada Kepala pengawal Raja Majapahit itu.


Sedang kan para prajurit Bhayangkara yg lain satu persatu tumbang, ber samaaan kehadiran Senopati Lembu Petala dari dalam terowongan bawah itu maka nasib dari rombongan Prabhu Suraprabhawa itu benar-benar sudah tammat.


Setelah tersisa hanya sekira sepuluh orang lagi prajurit Bhayangkara yg mengawal Raja Majapahit itu akhir nya Prabhu Suraprabhawa turun juga ke medan per tempuran karena sudah tidak ada lagi yg mengawal nya.


Prabhu Suraprabhawa itu mengamuk, senjata tombak di tangan nya telah menjatuh kan korban.


Beberapa prajurit Pamotan yg berada di dekat dari Raja Majapahit itu terpaksa mengurung nya.


Sehingga Prabhu Suraprabhawa harus ber tarung sendiri tanpa bantuan siapa pun.


Ketika ter dengar teriakan,


" Aaaaaaakkkkkhhhh,!"


Ternyata tubuh dari Bekel Bhayangkara Tunggul Anubawa telah tewas ter tembus pedang Naga geni milik Naja Pratanu.


Tubuh itu jatuh ke atas tanah dengan dada ber lubang cukup besar.


Melihat Prajurit ke banggaan nya telah tewas maka Prabhu Suraprabhawa jadi kalap ia mengerah kan ajian Brajamusti milik nya untuk mengurangi tekanan para prajurit Pamotan.


Senopati Lembu Petala yg melihat Raja Majapahit itu tinggal sendirian akhir nya berkata,


" Menyerah lah Kangmas Prabhu, tidak ada guna nya melakukan per lawanan,!"


Prabhu Suraprabhawa ter paku menatap nanar seluruh orang yg mengepung nya itu.


Sambil mengangkat tinggi -tinggi tombak nya,


" Ha, ha , ha, tidak ada seorang pun yg boleh memerintah Prabhu Suraprabhawa, termasuk kau. , Lembu Petala, Aku adalah Maharaja Majapahit yg Agung, Aku lah yg ber hak memerintah kalian , bukan anak dusun itu, ha, ha, ha,!" teriak Prabhu Suraprabhawa.


Ia kemudian memutar tubuh nya menatap satu persatu prajurit Pamotan, dengan tatapan sinis dan penuh kebencian,


" Tanah Majapahit ini adalah milik ku , kalian yg harus menyembah dan ber lutut di hadapan ku, Aku lah Raja di raja Majapahit, aku lah Raja yg Agung,!" kembali teriakan dari Prabhu Suraprabhawa yg tampak nya mulai hilang ke warasan nya.


Akhir nya Senopati Lembu Petala ber teriak,


" Baik lah Kangmas Prabhu, jika memang Kangmas tidak mau menyerah ter paksa akan Ku lakukan dengan jalan kekerasan, agar kakang mau tunduk dan menyerah,!"


" Lakukan lah jika kau memang mampu, Lembu bajang,!" jawab Prabhu Suraprabhawa dengan nada mengejek.

__ADS_1


Senopati Lembu Petala tidak ter pancing dengan Ucapan dari Prabhu Suraprabhawa itu.


" Sudah lah kangmas Prabhu menyerah lah, Gusti Adipati pasti akan mengampuni , kangmas Prabhu,!" kata nya lagi.


" Tidak ada guna nya kau memaksa diri ku untuk menyerah Lembu bajang, apa lagi ter hadap anak kabur kanginan yg mendapat kan kamukten karena jasa Kangmas Rajasawardhana, kalau tidak ia hanya Seorang pemuda dusun,!" teriak Prabhu Suraprabhawa.


" Sudah lah Paman Petala, biar Aku saja yg menangkap Prabhu Suraprabhawa itu,!" tukas Senopati Naja Pratanu kepada Lembu Petala.


" Hehh, ha, ha, ha, kau anak kemaren sore mau menangkapku, Raja di Raja Majapahit yg besar dan Agung, puuuihh, sungguh tidak pantas, engkau ber bicara begitu di hadapan ku, panggil itu Bhre Kertabhumi, biar dia sendiri yg menghadapi ku,!" ejek Prabhu Suraprabhawa kepada Naja Pratanu.


Mendapat kan ejekan dari Prabhu Suraprabhawa seperti itu darah muda Naja Pratanu naik, ia segera melontar kan pukulan Jarak jauh nya Ajian Naga geni.


" Heyyaahh,!" cahaya merah menderu keluar dari telapak tangan kiri Senopati Naja Pratanu itu.


" Tahaaaaan,!" teriak Senopati Lembu Petala.


Namun ter lambat, ajian Naga geni telah menghantam tubuh dari Prabhu Suraprabhawa itu.


Tubuh dari Raja Majapahit itu ter lempar sampai menghantam dinding tembok Kotaraja Majapahit dan kemudian jatuh ter duduk diam.


Suatu akhir yg mengenas kan bagi seorang Raja yg di agung kan di seantero Majapahit itu.


Senopati Lembu Petala per lahan-lahan mendekati tubuh yg nampak kehitaman seperti baru ter bakar, ia kemudian memeriksa tubuh yg telah diam kaku.


" Ia telah tewas, prajurit bawa tandu kemari, kita bawa mayat Prabhu Suraprabhawa ini ke istana, ter serah Gusti Adipati, akan mau di apa kan mayat itu,!" seru Senopati Lembu Petala.


Beberapa prajurit Pamotan kemudian datang dengan membawa tandu.


Sementara Naja Pratanu yg telah berhasil membunuh Prabhu Suraprabhawa itu masih diam ter paku di tempat nya.


Ketika tepukan pada pundak nya membuat Senopati Naja Pratanu seperti ter sadar dari lamunan nya.


" Hehhhh,!" Naja Pratanu ter sentak kaget.


Yg menepuk pundak nya adalah Senopati Lembu Petala, kemudian bekas Bekel Bhayangkara Majapahit itu ber kata,


" Sebenar nya, Paman mencoba menahan mu karena istri mu lagi mengandung, jadi kurang baik rasa nya melakukan pembunuhan terhadap sesuatu makhluk ketika istri kita lagi mengandung, bukan nya Paman menyalah kanmu, mudah -mudahan kita semua dalam selamat termasuk angger Larasati di Thanda,!" ucap Senopati Lembu Petala.


" Ahhh, Aku memang tidak dapat mengatasi kemarahan ku akibat ejekan dari Prabhu Suraprabhawa itu, dan benar yg di katakan Paman Senopati, tetapi nasi telah jadi bubur, dan Prabhu Suraprabhawa telah tewas, tidak mungkin di hidup kan kembali,!'' kata Senopati Naja Pratanu.


Kemudian Senopati Lembu Petala mengajak Senopati Naja Pratanu untuk kembali ke dalam kota raja Majapahit.


Kedua nya terus melangkah kan kaki ke dalam Keraton Majapahit, dimana para petinggi dan pembesar Pamotan dan dari kadipaten-kadipaten yg mendukung tengah berada di sana.


Seluruh keluarga dari Prabhu Suraprabhawa telah meninggal kan tempat itu melari kan diri bersama dengan Mahisa Dara.


Jadi yg tinggal di dalam istana Majapahit hanya para emban dan dayang -dayang keraton saja.


Mereka melakukan penghormatan kepada para Adipati yg melintas di depan mereka terutama kepada Adipati Pamotan itu.


Setelah berada di dalam istana Majapahit maka seluruh Petinggi Pamotan dan kadipaten lain melakukan pembicaraan yg cukup serius.

__ADS_1


Adalah Adipati Daha yg kemudian ber kata kepada Wikala sang Adipati Pamotan.


" Dimas Pamotan sebaik nya lah untuk segera menduduki tahta Majapahit itu,!"


" Apa tidak sebaik nya Kangmas Daha saja yg menjadi Raja Majapahit ini, karena memang Kangmas Daha yg tersisa dari Trah Ramanda Prabhu Rajasawardhana, sedang kan diri ku hanya seorang menantu,!" jawab Wikala sang Adipati Pamotan itu.


" Sekarang bukan bicara darah, melain kan kemampuan, karena kesanggupan dari Dimas Pamotan lah, paman Surya Wikrama bisa di jatuh kan, sedang kan Kangmas tidak memiliki nya, apa pun itu, kalau Kangmas pasti tidak akan sanggup melakukan nya, jangan kan Kangmas,. Kangmas Prabhu Bhatara Purwawisesa pun tidak sanggup bahkan ia telah lama jadi Raja di Majapahit ini, seharus nya dengan mudah ia menindak paman Prabhu Suraprabhawa itu, tetapi apa, malah ia sendiri yg menyerah kan nya, dan setelah nya kita tahu sendiri akhir cerita nya , ia tewas dengan cara yg cukup tragis, jadi kakang mu ini tidak sanggup untuk menjadi Raja Majapahit ini, biar lah Dimas Pamotan saja yg menjadi Raja nya, toh , dimas adalah adik ku sendiri, seorang adik yg sangat -sangat perkasa, patut untuk di bangga kan, andai kan Ramanda Prabhu masih hidup tentu ia akan senang melihat anakmantu nya menyelamat kan muka nya dari angkara yg di timbul kan oleh adik nya sendiri itu,!" kata Adipati Daha dengan panjang lebar.


Wikala sang Adipati Pamotan tampak ter diam, ia masih perlu penyesuaian atas status nya itu.


Kemudian dua Adipati yg lebih tua dari mereka yaitu Adipati Tumapel dan Kabalan segera berkata,


" Benar yg di katakan oleh anakmas Daha itu, memang sudah selayak nya lah anakmas Pamotan yg duduk di atas singgasana Majapahit itu mengganti kan kakang Prabhu Suraprabhawa itu,!" kata Adipati Tumapel.


" Lagi pula kami berani untuk ber perang dengan Kotaraja Majapahit ini karena anakmas Adipati Pamotan yg jadi Senopati nya, jika kami sendiri yg harus maju kami tentu tidak akan berani melakukan nya,!" ucap Adipati Kabalan.


" Benar Paman Pamotan, memang Paman lah yg ber hak atas singgasana Majapahit ini, jika tidak ada Paman Pamotan entah bagaimana nasib kami di Kahuripan, mungkin kami tidak akan pernah melihat matahari terbit lagi akibat serangan dari Kotaraja Majapahit pada saat itu, !'' jelas Adipati Kahuripan.


Memang Adipati Kahuripan banyak ber hutang budi kepada Adipati Pamotan itu, yg selalu membantu keponakan nya itu dalam memimpin kadipaten Kahuripan.


Setelah seluruh Adipati yg berada di istana Majapahit itu memaksa Wikala sang Adipati Pamotan untuk mau menjadi Raja Majapahit, maka putra Mpu Thanda itu pun berkata,


" Aku akan menerima mandat ini jika seluruh Adipati mau mengucap kan janji setia kepada Majapahit di bawah ke pemimpinanku, jika ada yg menolak maka Aku akan lebih baik pulang ke Pamotan saja,!" ungkap Wikala sang Adipati Pamotan.


" Ter serah Dimas Pamotan saja, namun Kangmas yakin seluruh Adipati yg ada di bawah kekuasaan Majapahit ini tentu akan bersedia di pimpin oleh Dimas Pamotan, bukan yg lain, karena seperti yg kita ketahui bahwa dimas telah menjalan kan tugas seorang Raja saat masih berada di Pamotan, dimana banyak timbul kekacauan di tlatah Majapahit ini, dimas lah yg berusaha membantu dan mengayomi mereka bukan Kotaraja Majapahit ini, sehingga pendukung Kotaraja Majapahit tinggal dua Kadipaten yaitu Kadipaten Pandan Alas dan Kadipaten Wengker saja, karena kedua kadipaten ini di pimpin oleh putra dari Paman Prabhu sendiri jika orang lain yg menjadi pemimpin nya tentu mereka akan ber pihak kepada Dimas Pamotan,!" jelas Adipati Daha.


Ketika pembicaraan Petinggi dari Kadipaten kadipaten yg mendukung Pamotan itu masih ter libat pembicaraan yg serius tiba -tiba datang lah dua orang Senopati Pamotan menghadap kepada Wikala sang Adipati Pamotan itu.


Mereka adalah Senopati Lembu Petala dan Senopati Naja Pratanu.


" Ampun Gusti Adipati, Mahisa Dara berhasil melolos kan diri,!" kata Senopati Lembu Petala kepada Wikala sang Adipati Pamotan itu.


" Mahisa Dara berhasil melolos kan diri,? ,. bagaimana dengan Prabhu Suraprabhawa, Paman ,?" tanya Wikala sang Adipati Pamotan kepada Senopati Lembu Petala.


" Kalau Kangmas Prabhu berhasil di tangkap dalam keadaan tewas dan jasad nya ada di gerbang depan, Paman ingin menyampai kan, akan kita apakan jasad Prabhu Suraprabhawa itu, Gusti Adipati,?" tanya Senopati Lembu Petala.


" Sebaik nya segera di kubur kan saja Paman Petala,!' ter dengar perintah dari Sang Adipati Pamotan itu.


" Di kubur kan, bukan di perabu kan, Gusti Adipati,?" tanya Senopati Lembu Petala.


" Sebaik nya di kubur kan saja, Oh , iya, siapa yg telah berhasil menewas kan Paman Prabhu Suraprabhawa itu,?" tanya Wikala sang Adipati Pamotan lagi.


" Ampun Gusti Adipati, Senopati Naja Pratanu lah yg telah ber hasil menewas kan Kangmas Prabhu Suraprabhawa itu,!" jelas Senopati Lembu Petala.


Wikala sang Adipati Pamotan itu kemudian menatap wajah dari adik ipar nya itu, lama Sang Adipati memandangi nya dan kemudian ter senyum kepada adik ipar nya itu.


" Tahu kah engkau adi Pratanu, Larasati telah melahir kan seorang bayi laki -laki tepat ketika pecah perang antara Pamotan dan Kotaraja Majapahit ini,!" ucap Wikala sang Adipati Pamotan itu dengan ter senyum.


" Benar kah hal itu Kangmas Adipati,?" tanya Senopati Naja Pratanu itu.


" Demikian lah kira nya, mungkin sudah takdir Hyang Widhi wasa, bahwa Larasati melahir kan pada saat perang baru di mulai,!" jawab Wikala sang Adipati Pamotan.

__ADS_1


__ADS_2