BARA Di Atas Tanah MAJAPAHIT Dalam Episode 2: Satria Dari DAHA

BARA Di Atas Tanah MAJAPAHIT Dalam Episode 2: Satria Dari DAHA
episode 9 : ISTANA tanpa MAHKOTA bagian kelima


__ADS_3

Wikala dan Lembu Petala beserta istri, pagi hari itu berada di sawah milik keluarga Mpu Thanda. Kemudian mereka ke lereng kelud bagian selatan melihat panorama keindahan air terjun, yg banyak meninggalkan kenangan buat Wikala.


" Jadi anakmas , disini lah tempatnya saat bertarung dengan Mpu Thula,?'' tanya Lembu Petala.


" Benar Paman, disini aku di keroyok oleh nya beserta dua murid nya,!" jawab Wikala.


Mereka berempat tengah asyik di dalam air, hingga tidak menyadari sepasang mata mengintip mereka, mata itu nampak indah namun dari sorotnya seperti ada rasa yg sulit untuk di jabarkan.


Kemudian pemilik mata itu beringsut pergi dari tempat itu.


Sedangkan yg di intip tengah bergembira ria bermain air selayaknya anak kecil. Terkadang kalau perasaan cinta dan senang melupakan pemiliknya bahwa mereka bukan anak kecil lagi tetapi itulah perasaan kalau sudah senang lupa segala-galanya.


Setelah puas bermain air akhirnya mereka berempat kembali kerumah , di tengah perjalanan berkatalah putri Cemaravati,


" Kanda tempat tinggal mu sungguh indah, berbeda di Vijaya, hanya panorama laut dan panas saja yg ada,!" tuturnya.


" Demikian lah dinda, kami oleh Hyang widhi di anugerahi tempat yg indah lagi sejuk, hingga dapat menentramkan hati setelah memandangnya, seperti bila kanda memandang dinda , !" kata Wikala kepada istrinya.


Karena besok kami akan kembali ke istana, tidak mengapa kan kalau dinda Dan Putri Yasuvati kami tinggal sebentar di sini tanya Wikala kepada kedua putri champa itu.


Walaupun pelan nampak putri Cemaravati menganggukkan kepalanya, sebenarnya ia berat untuk berpisah dengan suaminya itu apalagi dalam keadaan mengandung, demikian pula dengan putri Yasuvati


Tetapi mengingat penjelasan dari mereka kemarin bahwa keadaan belum menentu, maka terpaksalah bersedia tinggal di desa thanda walaupun dengan hati berat.


Sesampainya di rumah setelah bersalin dengan pakaian kering dan bersih keempatnya ditemani orangtua Wikala bersantap makan kali ini mereka makan besar di depan rumah.


Mpu Thanda


Keesokan nya, Wikala dan Lembu Petala berangkat ke tujuan masing-masing.


Wikala berangkat ke timur menuju kadipaten pamotan, sedangkan Lembu Petala berangkat ke utara menuju Kotaraja Majapahit.


*******


Sementara itu Pratanu yg mengikuti jejak langkah Lurah waringka sampai ke daerah gunung kendeng sebelah utara Pandan alas. Dengan sangat hati- hati Pratanu menempel ketat kegiatan Lurah kepercayaan dari Rakryan Mantri kuda langhi tersebut.


Hingga sampai di desa yg berbatas langsung dengan alas pandan, terpaksa Pratanu meninggalkan kudanya, di desa tersebut, sementara Lurah waringka terus memacu kudanya menuju ke dalam hutan.


Pratanu terpaksa mengerahkan kemampuan lari cepatnya guna megejar Lurah waringka.


Sementara jauh kedalam hutan, setelah hutan semakin rapat dan pepat maka Lurah waringka meninggalkan kudanya dan meneruskan perjalanan dengan jalan kaki. Pratanu hampir kehilangan jejak saat ternyata Lurah waringka tidak berkuda lagi, namun ketika melihat kuda tunggangan itu tertambat di sebuah pohon, maka Pratanu dapat mengendus keberadaan dari Lurah tersebut.


Jauh di dalam hutan , berbicaralah beberapa orang,

__ADS_1


" Apa yg kau bawa ki Lurah,?" tanya Rumangsa kepada Lurah waringka.


" Aku membawa pesanan ki Rumangsa,!" jawab ki Lurah.


" Apakah tidak ada yg mengikutimu,?" tanyanya lagi pada Lurah waringka.


"Kukira tidak ada, mengapa ki Rumangsa bertanya seperti itu,?" tanya Lurah waringka heran, karena tidak seperti biasanya Rumangsa bertanya Demikian.


" Ahh, tidak Demikian, hari ini perasaan ku kurang enak,!" jawab Rumangsa.


" Katakan pada kakang kuda langhi kami akan pindah Dari sini,!" ujar Rumangsa lagi.


" Memangnya ki Rumangsa mau pindah kemana, ?" tanya Lurah waringka.


" Kami akan ke alas Bintara, kudengar dari beberapa orang bahwa penguasa alas Bintara telah tewas, yaitu Macan lawung, !" jelas Rumangsa.


Sementara itu seluruh kegiatan mereka di lihat oleh sepasang mara dari sebuah pohon yg cukup rimbun, dan orang itu adalah Pratanu.


" Heh, orang yg jadi lawan bicara Lurah waringka itu adalah orang yg sama yg mencegat kamj di alas Raung,!" dalam hati Pratanu berkata.


" Namanya Rumangsa dan apa hubungan nya dengan Mantri kuda langhi,?" pertanyaan Pratanu seolah pada dirinya sendiri.


Sementara itu Lurah waringka terus berbicara dengan Rumangsa,


" Sepertinya ada ki, dan kali ini kalian di harapkan mampu menghabisi Patih Gajah Nata,?" kata Lurah waringka.


" Suatu tugas yg sulit, berapa kami akan di bayar oleh kakang kuda langhi,?" tanya Rumangsa lagi.


" Kalau soal itu aku tidak tahu,?". jawab Lurah waringka.


" Soalnya perkara menghabisi Patih Gajah Nata adalah sulit, mengingat kotaraja banyak prajurit yg linuwih beda, seperti waktu itu,!" ungkap Rumangsa.


" Namun kali ini pun ki Rumangsa tetap di dukung oleh ki Jabang wingit, karena setelah dari sini aku pun akan ke alas Roban,!" jelas Lurah waringka.


" Baiklah kalau kami akan bertandem dengan ki Jabang wingit, maka persoalan akan lebih mudah,!" ucap Rumangsa.


" Jadi kira-kira kapan kami harus bergerak,?" tanyanya lagi pada ki Lurah .


" Segera, karena aku akan ke alas Roban, sepeti biasa begitu aku sampai di Roban, dan memberikan pesan maka ki Jabang wingit akan lebih dahulu sampai di sana,!" jawab Lurah waringka.


" Baiklah kami segera berkemas untuk ke kotaraja, !" kata Rumangsa.


" Yah demikian lebih baik karena aku akan segera ke alas Roban," kata Lurah waringka.

__ADS_1


" Hati-hati ki Lurah, dan sampaikan salam ku dengan ki Wingit,!" ucap Rumangsa.


" Baik, ki!" kata Lurah waringka yg segera meninggalkan tempat itu, menuju ke kuda nya.


Semua itu tidak lepas dari pengamatan oleh Pratanu.


" Berarti mereka yg telah menghabisi Gusti Prabhu dan kali ini mereka akan menghabisi Gusti Patih, Hehh, bagaimana ini , haruskah aku melaporkan kepada Gusti Patih atau harus mengikuti ki Lurah ke alas Roban,!" pertanyaan yg sulit di pecahkan oleh Pratanu.


*******


Sementara di istana kadipaten Pamotan setelah melaksanakan perjalanan selama empat hari, Radeksa Wikala sampailah di istana, dengan sukacita di sambut oleh Ratu Pamotan yg telah lama memendam rindu.


"Apa khabar diajeng, sehatkan,!" ucap Wikala sambil menggandeng tangan istrinya.


" Berkat Hyang widhi, diajeng sehat hanya hati yg kurang enak,!" jawab Ratu Pamotan itu.


" Hehh, apa sebabnya diajeng,?" tanya Wikala .


" Apakah kangmas tidak mengetahui kabar tentang keadaan istana Majapahit, tentang kematian Ramanda Prabhu,?" tanya sang Ratu.


" Tentang Mangkatnya Sang Prabhu ,aku telah mendengarnya,?" jawab Wikala.


" Yah, sampai saat ini belum ada kabar dari bekel Pratanu tentang hasil penyelidikannya,!" jelas Sang Ratu lagi.


" Aku harus menemukan siapa pembunuh Ramanda ku itu, itu lah sebabnya hatiku kurang enak ditambah lagi ,sikap dari kakang-kakangku yg seolah tidak ambil pusing tentang keadaan Majapahit ini,!" terang Sang Ratu Pamotan.


" Jadi diajeng mengutus Pratanu untuk menyelidiki kematian Ramanda Prabhu,?" tanya Wikala pada istrinya.


Sang Ratu Pamotan mengangguk, dan berkata,


" Ada yg salah tentang penunjukkanku atas Pratanu,?" tanyanya pada suaminya itu.


" Tidak ada yg salah diajeng, bahkan itu langkah yg sangat tepat diajeng telah memberikan kepercayaan yg besar pada Pratanu , mudah-mudahan ia mampu melaksanakan nya dengan baik dan untuk sementara kita harus menunggu nya,!" jelas Wikala.


" Apakah ibunda Ratu berada di sini ,?" tanya Wikala.


" Iya , beliau berada disini, !" jawab Sang Ratu.


" Begini diajeng, aku ingin bicara dengan ibunda Ratu Dan Larasati,!" ungkap Wikala.


" Baiklah kangmas, mari kita kebilik ibunda Ratu, biar nanti prajurit jaga memanggil Larasati untuk datang,!" jawab Sang Ratu Pamotan.


Keduanya berjalan ke arah bilik ibunda Ratu, di sela-sela kedua pasangan muda-mudi itu bercanda dan bermesraan karena telah lama tidak bertemu hampir dua tahun , suatu waktu yg panjang bagi pasangan pengantin baru yg harus di pisahkan akibat tugas yg harus di emban, hingga melupakan mereka berdua bahwa mereka adalah penguasa, pemimpin tertinggi di pamotan itu, atau Istana timur Majapahit.

__ADS_1


------------


__ADS_2