
Setelah menerima surat dari mertuanya, maka Bhre Wengker segera berbicara dengan permaisurinya.
" Bagaimana diajeng , orangtua mu menyuruh kangmas untuk jadi Raja di Majapahit, apa pendapatmu, ?" tanyanya kepada sang permaisuri.
" Memang sebaiknya kangmas, menerima usulan Ramanda Adipati Pandan alas,,!" jawab Sang permaisuri.
" Apakah tidak sebaiknya kita di wengker saja , lebih tenang dan damai,!" lanjut Bhre Wengker lagi.
" Atau kita adakan paseban agung , meminta pendapat para pini sepuh kadipaten Wengker, !' ucap Permaisuri lagi .
" Ahh, diajeng memang pintar dan cerdas," kata Bhre Wengker memuji istrinya itu.
" Juga cantik,!" tukas permaisuri.
" Ya, cantik,...!" kata Bhre Wengker lagi.
Akhir nya Bhre Wengker mengadakan sidang di Istana kadipaten Wengker dengan di hadiri para petinggi Wengker.
Berkata lah Bhre Wengker, " Kalian semua aku kumpulkan disini adalah untuk di mintai pendapatnya tentang usulan dari Ramanda Adipati Pandan alas, untuk menjadi Raja di Majapahit," katanya.
" Silahkan , Paman Patih memberikan masukannya kepadaku, " ujar Bhre Wengker lagi.
" Ampunkan hamba Gusti Adipati, bahwa sesungguhnya hak untuk menjadi Raja di Majapahit adalah milik dari Gusti Adipati, jadi tidak ada salahnya jika Gusti Adipati di nobatkan sebagai Raja Majapahit menggantikan sang Prabhu Rajasawardhana, yg telah mangkat" ucap Patih Lohdaya.
" Kalau menurut , Rakryan Mantri bagaimana,?" tanyanya pada Rakryan Mantri Waningyun.
" Ampun kan hamba Gusti Adipati, saya sependapat dengan kakang Patih, sudah selayaknya Gusti Adipati berada di keraton Majapahit, yg telah lama tidak ada Rajanya itu,!" ucap Rakryan Mantri Waningyun.
" Dan menurutmu warak sumadilaga, bagaimana,?" tanya Bhre Wengker.
" Kalau menurut hamba, memang tidak pantas keraton Majapahit tanpa MAHKOTA,!" ucap Warok sumadilaga.
" Hehh, sudah kukira kalian pasti mendukung ku untuk bersinggasana di Majapahit,!" kata Bhre Wengker sambil menghela nafas.
" Baiklah , nanti saat Paseban agung di keraton Majapahit masalah ini akan kubicarakan dengan ibunda Ratu ,!" kata Bhre Wengker kemudian.
*******
Di istana Majapahit sendiri, sejak kekuasaan di pegang oleh ibunda Ratu yg bergelar Ratu Jayeswari, telah pun menjatuhkan hukuman gantung atas Rakryan Mantri Kuda Langhi.
Berdasarkan bukti-bukti yg memberatkan , hukuman terasa pantas untuk di terima oleh Sang Mantri tersebut.
Sekarang Wikala dan Ratu Pamotan menjadi pembantu utama ibunda Ratu.
Disamping Patih Gajah Nata yg telah mengundurkan diri karena sudah tua.
Adalah Tumenggung singha wara dan Lembu Petala yg sering bersama Wikala dalam menjaga keamanan istana Majapahit.
Pada suatu saat ketiganya tengah berbincang atas kelanjutan Tahta Majapahit.
__ADS_1
" Anakmas Radeksa, bagaimana seandainya Bhre Wengker bersedia menjadi Raja,?" tanya Tumenggung Singha wara.
" Memang sebaiknya begitu, supaya ibunda Ratu tidak harus memegang kekuasaan yg sebenarnya bukan tugasnya,!" jawab Wikala.
" Dan Bagaimana jika setelah memegang kekuasaan di Majapahit , anakmas Wengker kemudian memberikan nya kepada mertuanya,?" tanya Bekel Lembu Petala.
" Hehh, kemungkinan itu bisa terjadi, mengingat kangmas Wengker sangat hormat dan patuh terhadap mertuanya itu,!" ujar Wikala.
" Apakah nanti jika anakmas Wengker jadi raja tidak ada gesekan di Istana, antara pejabat baru dengan yg lama,!" ucap Tumenggung Singha Wara.
" Semua itu bisa terjadi, Namun asalkan kangmas Wengker mampu dan bijak dalam memegang kekuasaan semua itu bisa di atasi,!" kata Wikala .
" Apakah Anakmas Radeksa tidak berniat jadi Raja Majapahit,?" tanya Tumenggung Singha wara lagi.
" Ahh, Paman jangan sampai di dengar orang lain perkataan itu, kalau aku tidak berhak atas tahta Majapahit, aku kan seorang mantu,!" ungkap Wikala dengan tersenyum.
" Sang Prabhu Wikrama wardhana pun seorang mantu yg bisa jadi Raja di Majapahit ini, bahkan menurunkan keturunannya untuk menjadi Raja di negeri ini,!" ujar Bekel Lembu Petala.
Wikala diam seribu bahasa, ia teringat atas nasib eyangnya, bahkan ucapannya pun masih di pegangnya sampai sekarang yaitu jangan jadi pengkhianat.
" Maafkan kata-kata paman mu ini, aku hanya ingin melihat sikap anakmas yg memang pantas dan layak jadi seorang Raja karena dari beberapa segi mempunyai banyak kelebihan,!" ucap Tumenggung Singha wara.
" Karena kalau tidak cakap dalam memerintah terbukti dengan nasib kangmas Prabhu Rajasawardhana, terlalu cepat masa nya,!" ujar Singha Wara lagi.
" Tetapi Paman selain segi kecakapan juga harus memiliki wahyu keprabon, terbukti Rakuti walaupun berhasil menguasai keraton, namun tidak berhasil jadi Raja, !" jelas Wikala.
" Hehh, paman kita telah lama meninggalkan putri Champa di desa thanda,!" kata Wikala mengalihkan pembicaraan.
" Ya, kita sudah lama tidak mengunjungi mereka, bagaimana kalau kita minta izin kepada Ratu, untuk kesana,!" ucap Lembu Petala.
" Tetapi bagaimana dengan keraton, apakah sudah aman untuk di tinggalkan,?" tanya Wikala.
" Disini masih banyak yg bisa diandalkan, sepeti kakang Tumenggung singha wara, Bekel Pratanu , Rangga Rawelu, Dan banyak lagi, yg jsdi persoalannya apakah kita bisa dapat izin,!" jelas Lembu Petala.
" Jadi aku akan kalian tinggalkan disini,?" tanya Tumenggung Singha wara.
" Nanti kukatakan kepada ibunda Ratu untuk kita bisa mengunjungi Romo di Daha,!" kata Wikala.
" Lebih cepat lebih baik, !" kata Lembu Petala.
" Nampaknya adi Petala sudah ngebet,!" kelakar Tumenggung singha wara.
" Bukan begitu kakang, soalnya mereka berada disini karena kami, jadi merupakan tanggungjawab kami pula atas keduanya,!" Lembu Petala.membela diri.
Kemudian siang itu Wikala menghadap ibunda Ratu untuk meminta izin ke daha untuk menemui orangtua nya, Wikala meminta di temani oleh Tumenggung singha wara dan Lembu Petala.
Sebenarnya ibunda Ratu agak keberatan atas permintaan Wikala itu, karena di khawatir kan bila terjadi sesuatu di keraton , nanti akan sulit menghubungi mereka , namun karena Wikala bisa menjelaskan bahwa keadaan istana dalam keadaan aman dan mereka pun tidak lebih dari setengah purnama perginya , apabila ada sesuatu yg gawat dapat mengirimkan pesan melalui dari Naja Pratanu pasti akan cepat sampai, maka ibunda Ratu mengizinkan mereka untuk pergi.
Adalah Ratu Pamotan yg cemburu segera mengikuti suaminya dari belakang seraya berkata,
__ADS_1
" Jika tidak karena ibunda Ratu akan curiga, tentu saja aku akan menemani kangmas ke daha,!" ucap dengan nada kesal.
" Memangnya diajeng telah rela, atas semua ini,?" tanya Wikala kepada istrinya.
" Tidak ada seorang wanita di dunia ini yg rela ber bagi suami dengan wanita lain,!" sergah nya dengan keras.
" Jadi mengapa mesti ikut,?" tanya Wikala lagi.
" Supaya kangmas tidak terlalu lama di sana, sekaligus aku ingin sowan kepada orangtuaku,!" ucap Ratu Pamotan ketus.
" Nanti diajeng disana cemburu, mana Tantri pun telah kembali ke Thanda, !" ujar Wikala memanasi istrinya itu.
" Apaaa, Tantri ada di sana,?" tanya nya pada suaminya itu.
" Benar, sejak kami singgah di Thanda Tantri telah ada di sana,!" jelas Wikala.
Nampak rona wajah Ratu Pamotan memerah, namun sebelum ia berkata , tiba-tiba Wikala memeluk tubuhnya dan berbisik di telinga nya,
" Aku senang diajeng marah, berarti diajeng parangkawuni benar-benar mencintaiku, sungguh tiada rasa terindah selain di cintai oleh seorang , apalagi orang itu sekelas diajeng ayu, Ratu Pamotan,!" ucap Wikala merayu istrinya itu.
Kembali wajah Ratu ayu Pamotan itu cerah, dengan sumringah ia berkata,
" Kangmas jangan terlalu lama disana, kalau lama nanti aku menyusul,!" katanya kepada suaminya itu.
" Beres, kami paling lama setengah purnama, setelah urusan selesai kami segera kembali,!" jelas Wikala.
Ibunda Ratu sendiri telah berpesan supaya Ratu Pamotan tidak usah ikut ke daha, nanti ia tidak ada yg menemani.
Keesokan paginya berangkatlah tiga ekor kuda yg besar dari istana Majapahit menuju ke selatan tepatnya menuju Daha.
Di perjalanan itu , Lembu Petala bertanya kepada Wikala,
" Apakah Anakmas Ratu telah mengetahui keberadaan dari putri Cemaravati ,?"
" Sudah paman,!" jawab Wikala.
" Sebagai,....!" Lembu Petala tidak melanjutkan kata-kata nya.
" Sebagai istri maksud paman,?" tanya Wikala.
Kepala Lembu Petala mengangguk mengiyakan.
" Diajeng Ratu, telah mengetahui bahwa aku telah memiliki istri dari Champa sewaktu masih di pamotan, karena aku tidak mau ia tahu dari orang lain, namun kalau ibunda Ratu belum tahu, jelas Wikala.
" Hebat, anakmas Radeksa memang hebat, bisa meyakinkan Ratu Pamotan bahwa ia tidak marah setelah mengetahui suaminya telah beristri lagi,!" ungkap Tumenggung singha wara.
" Karena saya tahu sifat dan watak dari anakmas Ratu, yg tidak mau berbagi, tapi kali ini ia bisa menerima suaminya memiliki istri lagi, sungguh sulit untuk di percaya,!" kata Tumenggung singha lagi.
------------
__ADS_1