
Sekembali nya dari Kotaraja Majapahit, Adipati Pamotan langsung memberi kan pengarahan kepada para bawahan nya, terutama para prajurit sandi nya, karena sesungguh nya Adipati Pamotan belum mapan dengan keputusan yg telah di ambil oleh Sang Prabhu Bhatara Purwawisesa. Apapun itu Adipati Pandan Alas adalah mertua dari Sang Prabhu , terlebih saat ini Adipati Pandan Alas merupakan keturunan yg tersisa dari Prabhu Wikramawardhana ,jadi hak atas Tahta Majapahit merupakan milik dari Adipati Pandan Alas tersebut.
Pamotan segera mengirim kan prajurit sandi nya ke kotaraja Majapahit dan ke Pandan Alas, untuk mengetahui perkembangan selanjut nya setelah mangkat nya ibunda Ratu Jayeswari itu.
Beberapa Lurah prajurit dari kesatuan prajurit Balasewu di kirim melaksanakan tugas itu. Diantara nya terdapat lah Lurah Sasra Bahu dan Wiera Tantra yg jadi prajurit telik sandi nya.
*********
Di pandan Alas sendiri, Sang Adipati yg tidak hadir di hari perkabungan dari Mangkat nya ibunda Ratu Jayeswari, nampak telah siap mengadakan hajatan besar, terlihat umbul-umbul telah di pasang di sepanjang jalan menuju keraton Pandan Alas itu.
Rupa nya Adipati Pandan Alas memang ber keinginan menikah kan Putri Nawang Sekar dengan Mahisa Dara dengan pesta yg besar, untuk menunjuk kan bahwa Pandan Alas memang sebuah kadipaten yg besar dan kuat layak untuk memimpin Majapahit di masa datang.
Hampir seluruh kadipaten yg berada di tlatah Majapahit di undang datang guna memeriah kan hajatan besar Sang Adipati Pandan Alas tersebut, termasuk juga Sang Prabhu Bhatara Purwawisesa yg merupakan menantu nya itu.
Hari yg telah di tetap kan, di langsung kanlah pernikahan putri Nawang Sekar dengan Mahisa Dara.
Nampak kedua pengantin baru yg tengah ber sanding di pelaminan dengan raut wajah yg gembira.
Pesta di laksanakan tujuh hari tujuh malam menyamai hajatan dari Prabhu Sang SiNAGARA ketika menikah kan Putri Parangkawuni dengan Wikala pada beberapa waktu yg silam.
Di antara kemeriahan dari pesta yg di adakan , juga di adakan tari tarian dan pagelaran wayang semalam suntuk.
Di antara kerumunan begitu banyak orang terlihat lah dua orang yg berpakaian biasa yg sedang menikmati makan jagung rebus sambil duduk duduk.
Kedua nya adalah Lurah Sasra Bahu dan Wiera Tantra yg mendapat tugas untuk menjadi mata-mata di Pandan Alas.
" Adi Wiera, nampak nya Pandan Alas memang telah menyiap kan pasukan nya untuk merebut kekuasaan di Majapahit,!" ujar Sasra Bahu kepada Wiera Tantra.
" Benar kata-kata mu,Kang, begitu banyak nya prajurit yg ber keliaran menjaga hajatan dari Adipati Pandan Alas itu, bahkan seperti nya, kekuatan prajurit Majapahit jauh di bawah Pandan Alas,!" jawab Wiera Tantra.
" Apakah Gusti Adipati Pamotan hadir di acara ini,?" tanya Wiera Tantra lagi.
" Kurasa tidak, karena beliau masih sakit hati atas penghadangan yg di lakukan para prajurit Pandan Alas pada tempo hari,!" jawab Sasra Bahu.
" Kang sekira terjadi benturan kekuatan antara Pandan Alas dengan Pamotan, mana yg lebih unggul menurut mu,?" tanya Wiera Tantra lagi.
" Ahh kau ini bagaimana Adi, ya jelas Pamotan yg menang, bukan karena kita merupakan prajurit Pamotan namun kita bisa lihat dari para Senopati nya, kalau di Pandan Alas ini cuma mengandal kan Patih nya, Patih Kebo Mundira, sedang kan para Tumenggung nya tidak ada yg terlalu mengkilap nama nya, " jelas Sasra Bahu.
__ADS_1
" Benar juga kata mu, Kang, kalau mengingat waktu itu kita bisa mencuri lumbung mereka , terlihat betapa rapuh nya pertahanan mereka namun ketika kita berhasil menjadi prajurit Pamotan, kita dapat melihat betapa banyak orang-, orang yg linuwih yg berada di sana, ilmu kita bagaikan seujung kuku,!' ungkap Wiera Tantra membenar kan.
" Ketika kita di Bali, bagaimana pembantu terdekat dari Adipati Pamotan yg berhasil membunuh Patih Aji Jimbarang yg memiliki ilmu yg nggegrisi itu, mungkin kalau kita yg menghadapi nya, cuma sebentar saja sudah jadi mayat,!" kata Sasra Bahu.
" Sebaik nya Kang, kita dekat dengan pos perondan Pandan Alas, siapa tahu kita dapat berita tentang keadaan di Pandan Alas ini,!" ucap Wiera Tantra.
" Tapi apa alasan kita untuk mendekati mereka,?" tanya Sasra Bahu.
Kemudian Wiera Tantra membisiki telinga kakak seperguruannya itu.
" Baik juga ide mu itu,!" kata Sasra Bahu.
Kemudian kedua nya kembali ke pondokan mereka yg berada di luar kota kadipaten Pandan Alas itu.
Setelah malam menjelang kedua prajurit Pamotan itu kembali datang dan mereka berhenti di salah satu pos perondan di ujung dari kota kadipaten Pandan Alas, mereka berdua sengaja berhenti.
" Maaf , kami ingin sekedar numpang duduk disini, karena kami telah kemalaman di jalan,!" ucap Sasra Bahu sambil duduk di dekat pos itu.
" Memang nya kisanak berdua mau kemana ,?" tanya prajurit jaga pos tersebut.
" Kami berdua ingin kembali ke Pajang setelah berniaga di Kota Raja,!" jawab Sasra Bahu lagi.
" Ahh, kami hanya membawa keris dan wesi aji dan beberapa barang berharga,!" jelas Sasra Bahu sedang kan Wiera Tantra diam saja.
" Apakah kisanak berdua tidak ingin singgah di Pandan Alas menjaja kan dagangan nya,?" tanya prajurit jaga.
" Ahh, mana mungkin kota pandan alas akan mau membeli dagangan kami, karena Pandan Alas sedang merasa kan kebahagiaan nya dengan hajatan besar Sang Adipati,!" ungkap Sasra Bahu menolak masuk ke dalam kota Pandan Alas itu.
" Akan tetapi siapa tahu ada pembesar Pandan Alas yg memerlu kan keris atau wesi aji yg kisanak bawa,!" terdengar ucapan prajurit itu.
" Para petinggi Pandan Alas tentu telah memiliki nya dan lagi saat ini minat terhadap barang-barang dagangan kami sangat ber kurang,!" kata Sasra Bahu lagi.
" Kenapa bisa begitu kisanak,?" tanya prajurit itu agak heran.
" Kemungkinan karena tidak di perlukan lagi karena Majapahit saat ini dalam keadaan aman sejak di perintah Sang please Bhatara Purwawisesa,!" kembali Sasra Bahu menjelas kan.
" Siapa bilang Majapahit dalam keadaan aman terbukti , kerajaan Bali malah telah berperang tanpa persetujuan dari Kota Raja Majapahit,!" jelas prajurit itu.
__ADS_1
" Iya di Bali, kan jauh dari sini, dan bagi barang dagangan kami tidak ada pengaruh nya,!" jawab Sasra Bahu.
" Tetapi kejadian di Bali akan memicu para Adipati yg akan melakukan sperti di Bali itu,!' ucap Prajurit itu.
" Maksud nya, apakah ada yg berani menentang kekuasaan dari Sang Prabhu,?" tanya Sasra Bahu menyelidik.
" Prabhu Bhatara Purwawisesa tidak pantas jadi Raja Majapahit ini, karena ia tidak becus menjalan kan pemerintahan, Kanjeng Gusti Adipati Pandan Alas amat tidak suka ke berpihakan Prabhu Bhatara Purwawisesa terhadap Pamotan,!" jelas prajurit pos perondan itu.
" Bukan kah Adipati Pamotan tidak pernah menentang dari sang Prabhu," ucap Sasra Bahu.
" Apa tidak menentang nama nya, jika mengirim kan pasukan tanpa sepengetahuan dari Sang Prabhu yg seharus nya seluruh negeri bawahan tunduk dan patuh bukan seperti Pamotan itu,!' jelas prajurit Pandan Alas yg menjaga pos di ujung dari kota kadipaten.
" Oleh sebab itu Kanjeng Gusti Adipati Pandan Alas akan memaksa menantu nya itu menyerah kan kekuasaan Kerajaan Majapahit ini kepada nya, guna mengatasi para Adipati yg mbalela seperti Pamotan itu,!" kata prajurit Pandan Alas lagi.
" Bahkan Adipati Pamotan itu bukan keturunan langsung dari Kanjeng Gusti Prabhu Wikramawardhana, ia hanya menantu sedang kan Adipati Pandan Alas adalah putera dari Prabhu Wikramawardhana dan memang berhak atas tahta Majapahit ini,!" jelas prajurit itu.
" Memang nya Adipati Pandan Alas berani melawan Kadipaten Pamotan itu, jika nanti di angkat jadi Raja?" tanya Sasra Bahu.
" Jangan kan Pamotan, Kota Raja Majapahit pun, Adipati Pandan Alas sanggup menghadapi nya,!" jelas prajurit itu kepada Sasra Bahu.
" Memang kekuatan pandan Alas sangat banyak dan begitu kuat nya, dan yg pernah kami dengar bahwa Adipati Pamotan itu sangat sakti dan linuwih bahkan bergelar,...!" kata kata Sasra terputus seolah-olah sedang mengingat gelar dari Junjungan nya itu.
" Satria dari Daha,!" jawab prajurit Pandan Alas itu.
" Ha , benar , Satria dari Daha,!" Sasra Bahu berseru .
" Andai sepuluh Satria dari Daha, pasti akan kalah dengan pasukan pandan Alas yg sangat banyak ini,!' jelas prajurit itu berapi-api.
" Memang Prajurit Pandan Alas sangat banyak, bahkan di sekitar Wilayah kadipaten pandan Alas ini tidak pernah terjadi perampok kan beda dengan kadipaten kami Pajang, masih banyak begal sehingga kami enggan untuk melintas di malam hari,!" ujar Sasra Bahu mengalih kan pembicaraan.
" Ha, terbukti kan bahwa Pandan Alas memang sebuah kadipaten yg paling banyak prajurit nya dan di segani pula, sehingga para perampok pun enggan untuk bersarang di Wilayah kami ini,!" jelas prajurit Pandan Alas itu.
" Gan, bagaimana kalau kita mampir sejenak di Pandan Alas,!" ucap Wiera Tantra yg sedari diam saja mendengar kan kedua orang itu ber bicara.
" Suatu usul yg baik ki Runut,!" jawab Sasra Bahu kepada Wiera Tantra, karena kedua nya sedang menyamar maka mereka memakai nama-nama palsu.
Sampai tengah malam mereka mengobrol dengan para prajurit jaga yg berada di pos ujung itu, sehingga banyak keterangan yg di dapat dari para prajurit Pandan Alas yg merasa bangga akan kehebatan dan kedudukan dari Adipati nya itu.
__ADS_1
"""""""""""""""""(((((())))))""""""""""""""""""""""