BARA Di Atas Tanah MAJAPAHIT Dalam Episode 2: Satria Dari DAHA

BARA Di Atas Tanah MAJAPAHIT Dalam Episode 2: Satria Dari DAHA
episode 8 : MangkatNYA sang Prabhu bagian kedua


__ADS_3

Sementara itu prajurit yg di kirim ke kota raja Majapahit telah tiba di keraton Majapahit. Prajurit itu langsung menghadap Gusti Prabhu SiNAGARA di istana.


" Ampun Gusti Prabhu , pasukan pandan alas dua kali lipat pasukan Majapahit, !" ucap prajurit itu.


" Apa!!!, Pandan alas memiliki pasukan yg lebih banyak dari Majapahit, !" kata Prabhu SiNAGARA dengan geram.


" Demikian lah Gusti Prabhu keadaannya, oleh sebab itu hamba diutus oleh Senopati Agung Majapahit, Patih Gajah Nata, guna mendapatkan tambahan pranurit , !" terang prajurit itu.


" Hah, prajurit yg tersisa hanya pasukan jaga dan pasukan Bhayangkara, !" jelas Sang Prabhu.


" Ampun Gusti Prabhu, menurut Patih Gajah Nata, jika Gusti Prabhu mengizinkan biarlah Majapahit meminta bantuan kepada daha, karena selain letaknya lebih dekat, juga adipati nya , pangeran rana wijaya adalah putra Gusti Prabhu sendiri,!" jelas prajurit itu.


" Jangan, Jangan minta bantuan ke daha, karena sebelum datang bantuan mungkin Paman Patih dan pasukan nya telah menjadi mayat,!" ujar Sang Prabhu.


" Sebaiknya pasukan Bhayangkara yg membantu pasukan Majapahit,!" kata Prabhu SiNAGARA lagi.


" Apakah itu tidak membahayakan keselamatan Gusti Prabhu sendiri,?" tanya prajurit itu.


" Ahh, keraton dalam keadaan aman, dan prajurit jaga pun masih ada,!" jawab Prabhu SiNAGARA lagi.


Kemudian Prabhu SiNAGARA memanggil Senopati Jaran abang selaku pemangku Bekel Bhayangkara untuk di perintah kan berangkat ke Pandan alas guna membantu pasukan Majapahit menyerang pandan alas.


Adalah prajurit yg diutus oleh Patih Gajah Nata itu amat sedih atas keputusan Rajanya itu, karena menurut nya keselamatan Raja di atas segalanya.Apa jadinya jika Pasukan Bhayangkara di berangkatkan secara langsung pengawalan atas keselamatan Raja tidak ada lagi.Mengingat seluruh prajurit telah berangkat ke Pandan alas.


Dalam benak prajurit itu teringat atas cerita orangtua nya dahulu bahwa pasukan Bhayangkara pernah berjaya menyelamatkan sang Raja yg kala bergelar Prabhu Jayanegara saat di gulingkan oleh pemberontakan Rakuti yg menjabat sebagai Dharma putra, dan sempat menduduki istana, akan tetapi karena kemampuan pasukan Bhayangkara yg di kepalai oleh Bekel Gajah mada dapat menyelamatkan Sang Prabhu dan kemudian menumpas habis pemberontak itu.


Karena keselamatan Raja diatas segalanya, biarlah pasukan habis tumpas asal Rajanya Selamat, karena bila rajanya Selamat maka masih mungkin untuk mengumpulkan kekuatan lagi.


Namun titah sudah di ucapkan dan tidak mungkin di tarik lagi maka pranurit itu berangkat dengan pasukan Bhayangkara.


Sedangkan pasukan Majapahit yg berada di Pandan alas telah bersiap untuk menyerang.


Begitu ayam jantan berkokok di pagi hari seluruh kekuatan Majapahit telah berkumpul dan setelah sangkakala di tiup dan genderang perang telah di tabuh, saat terang tanah bergerak lah pasukan segelar sepapan itu menuju desa Kame.


Gelar yg dipakai Majapahit adalah Gelar Garuda nglayang, dengan induk pasukan di pimpin oleh Patih Gajah Nata di dampingi oleh Tumenggung Reksa sudira sebagai senopati pasukan pemanah.

__ADS_1


Sedangkan sayap kanannya diisi oleh Tumenggung singha wara sebagai senopati nya dengan dibantu oleh Rangga Waluya.


Sedangkan sayap kiri nya ditempati oleh Tumenggung Rabanar sebagai senopati dibantu oleh Rangga Rawelu.


Dan diujung ekor pasukan Majapahit di pimpin oleh Tumenggung Wirana sebagai senopati nya dengan di bantu oleh Mapanji garangan wesi.


Sementara di desa Kame , pasukan pandan alas pun telah mulai bergerak dengan Senopati agungnya adalah Patih Kebo Mundira yg berada di induk pasukan, sedangkan sayap kanannya ada dua Tumenggung sekaligus disana yaitu Tumenggung Jayasena dan Wirasena sebagai senopati nya. Dan sayap kiri nya ada Senopati Kebo Ndaru sebagai pemimpin nya.


Karena pasukan pandan alas menggunakan Gelar Sapit urang maka induk pasukan nya agak tertinggal di belakang kedua sayapnya.


Benturan pertama terjadi diantara kedua pasukan itu adalah di kedua sayapnya baik kiri dan kanan.


Diujung desa Kame tepatnya di daerah persawahan yg telah di panen, Terjadi lah peperangan antara Majapahit dan Pandan alas.


Di tandai dengan pekikan dan suara denting senjata beradu, maka pertempuran telah di mulai.


Ketika induk pasukan pandan alas telah terlihat maka induk pasukan Majapahit yg di pimpin oleh Patih Gajah Nata di bantu oleh Tumenggung Reksa sudira memberikan kejutan dengan melontarkan anak-anak panah ke induk pasukan pandan alas itu.


Pasukan induk pandan alas yg di huni oleh para Prajurit baru , gugup menghadapi serangan itu. hingga membuat benturan pertama antara induk pasukan , menelan korban yg banyak di pasukan pandan alas.


Namun siasat patih Kebo Mundira ini terlihat oleh Tumenggung singha wara sebagai senopati pasukan Majapahit di sayap kanan, kemudian ia segera memotong alur pergerakan pasukan pandan alas untuk bisa menggabungkan diri ke sayap kiri nya. Membuat induk pasukan pandan alas terjepit oleh induk dan sayap kanan pasukan Majapahit.


Korban pun banyak berjatuhan dari pihak Pandan alas akibat jepitan paruh dan sayap kanan pasukan Majapahit.


Benar-benar Patih Kebo Mundira harus berpikir cepat untuk menyelamatkan pasukan nya. Segera ia memundurkan pasukan nya yg di depan yg terdiri dari para prajurit baru dan memajukan pasukan ekornya yg terdiri dari pasukan inti pandan alas.


Meskipun demikian pandan alas masih dalam kesulitan di karenakan kebanyakan prajurit baru itu kurang memahami gelar perang hingga korban semakin banyak berjatuhan.


Kejadian serupa pun terjadi di kedua sayap pasukan pandan alas, semua Senopati nya kesulitan untuk menggerakan prajurit nya, akibat kurang pengalaman di perang sesungguhnya.


Sampai matahari di atas kepala seluruh pasukan pandan alas dalam kesulitan keluar dari tekanan pasukan Majapahit.


Hingga pasukan pandan alas telah jauh mundur dari garis pertempuran pada saat kedua pasukan itu bertemu.


Saat malam menjelang pasukan pandan alas dalam keadaan kocar kacir di buat pasukan Majapahit. Beruntung mereka di selamatkan oleh Sang Dewi malam yg datang menyelimuti alam mayapada.

__ADS_1


Kedua pasukan pun kembali ke tempat landasan masing-masing.


Di perkemahannya Patih Kebo Mundira murka, ia berkata,


" Sudah kukatakan jangan mengorbankan prajurit yg baru jadi, terbukti bahwa kita hanya mengantarkan nyawa dalam peperangan kali ini, !" katanya dengan wajah merah padam.


Seluruh petinggi pasukan pandan alas terdiam, mereka membenarkan apa yg di ucapkan oleh Senopati Agung nya itu.


" Besok kita turun dengan kekuatan inti dan mengistrahatkan pasukan tadi sebagai pasukan cadangan, " ucapnya dengan geram.


Sementara di perkemahan pasukan Majapahit , pertemuan para pemimpin teras nya pun tengah berlangsung. Adalah juru siasat Majapahit yaitu Ki Demung Ananta boga yg pertama kali angkat bicara.


" Sepertinya pandan alas menurunkan pasukan baru jadi bukan pasukan intinya yg telah terbiasa mengikuti peperangan, " jelas nya kemudian.


" Mungkin dari siasat mereka untuk menguras tenaga kita, karena mereka mengetahui kita tidak memiliki pasukan cadangan, " kata Demung Ananta boga lagi.


" Jadi maksud demung bahwa menurunkan prajurit baru bukan prajurit yg telah biasa mengikuti perang,?" tanya Tumenggung Singha wara.


" Menurut penglihatanku demikian, di karenakan mereka tidak terlalu memahami gelar perang dan kesulitan untuk bergerak maju, banyak prajurit nya yg tidak mengetahui isyarat dari Senopatinya,!" jelas Demung Ananta boga.


" Bagaimana siasat kita untuk esok hari, ?" tanya Tumenggung Rabanar.


"Sebaiknya esok hari kita tetap menggunakan gelar Garuda nglayang tetapi tanpa ekor,!" kata demung Ananta boga.


" Maksud ki Demung, bagaimana ,?" tanya Patih Gajah Nata.


" Sebaiknya esok kita menggunakan trisula di induk pasukan dengan menarik Tumenggung Wirana kedepaan bersama dengan Tumenggung Reksa sudira dan Ki Patih Gajah Nata,!" jelas Demung Ananta boga lagi.


" Kita berusaha memadatkan di induk pasukan untuk memberikan pukulan telak terhadap pasukan pandan alas, " kata demung itu lagi.


" Dan untuk sayapnya kita robah , dengan posisi yg di tempati oleh Tumenggung singha wara jadi tempat Tumenggung Rabanar demikian sebaiknya, agar mereka mengira pasukan kita banyak karena yg dijumpai adalah lawan yg berbeda, !" nampak Demung Ananta boga terdiam sejenak kemudian melanjutkan lagi.


" Kita harus secepatnya memenangkan peperangan ini, jangan sampai lebih dari Lima hari, kalau tidak,.....,!" nampak Demung Ananta tidak melanjutkan kata- katanya.


---

__ADS_1


__ADS_2