
Layak nya burung layang-layang. Bajak laut Dangsa Aras ber pindah pindah tempat mencari mangsa, beberapa kali pedang panjang berhasil membunuh lawan nya. Membuat senopati I Gede pikatan harus memutar otak nya untuk menghentikan sepak terjang Dangsa Aras itu.
Bahkan kawanan bajak laut dari pesisir utara telah berani menabrak kan kapal pasukan dari Bali itu.
Seorang prajurit penghubung datang memberi tahu kan kepada Senopati Lembu Petala bahwa pasukan dari gel gel itu tengah ter desak oleh kawanan bajak laut pesisir utara.
Oleh Senopati Lembu Petala di kirim lah pasukan Balasewu dengan menggunakan perahu rampasan dari pasukan Majapahit untuk membantu pasukan dari gel gel tersebut.
Sementara di pasukan dari Bali serasa mendapat kan keajaiban dengan muncul nya sebuah kapal yg cukup besar dari arah timur laut.
Kapal yg cukup besar dan ber bendera kepala Garuda itu langsung menuju ke arah kapal kawanan bajak laut yg di tumpangi oleh Kepala Rompak Dangsa Aras itu.
Kapal ter sebut langsung menabrak kapal dari Dangsa Aras itu.
Dangsa Aras murka , langsung ber teriak,
" Siapa kalian, sudah punya nyawa rangkap berani dengan Ku, Dangsa Aras, penguasa laut jawa,!"
" Hehh, buka mata mu, berhadapan dengan siapa engkau saat ini, Dangsa Aras,!" jawab pemimpin kapal yg ber bendera kepala Garuda itu.
Hampir tidak dapat di percaya oleh Dangsa Aras, mulut nya ber gumam,.
" Kakang Gongso,!" kàta nya pelan.
" Kalau sudah tahu sebaik nya engkau cepat enyah dari sini,!" seru dari pemimpin kapal yg ber bendera kepala Garuda itu yg tiada lain adalah Gongso bekas bajak Laut ter kenal sebelum Dangsa Aras, dan ia merupakan Kakak seperguruan dari Dangsa Aras.
" Ada keperluan apa kakang Gongso disini,?" tanya Dangsa Aras.
__ADS_1
" Keperluan ku disini adalah untuk mengusir mu pulang,!" jawab Gongso.
" Ahh, kakang Gongso hanya ber canda bukan,?" tanya Dangsa Aras yg nyali mulai menciut ia sangat memahami sifat kakak seperguruan nya itu.
" Tidak, aku tidak ber canda, Arya Wikala sang Adipati pamotan adalah teman ku, dan ia meminta ku untuk menghenti kan segala sepak terjang mu, Aras,!" jawab Gongso.
Sementara peperangan di dekat pelabuhan ter henti sejenak akibat ke datangan dari kapal yg ber bendera kepala Garuda itu , ter nyata milik Gongso bekas bajak laut ter kenal itu.
" Sekali lagi Ku katakan, segera angkat kaki dari sini sebelum habis kesabaran ku, Aras, engkau masih beruntung ber temu dengan ku, jika ber hadapan dengan Adipati Pamotan mungkin yg sebentar saja engkau bisa menghirup udara ini,!" ucap Gongso lagi.
" Ahh, kakang Gongso ter lalu melebih lebih kan, akan tetapi baik lah, aku akan menarik anak buah untuk kembali lagi ke utara karena memandang Kakang Gongso adalah kakak seperguruan ku,!" jawab Dangsa Aras.
" Bagus secepat nyalah engkau kembali, sebelum Aku berubah pikiran,!" ujar Gongso kepada Dangsa Aras.
Akhir nya Bajak laut dari pesisir utara itu yg di pimpin oleh Dangsa Aras itu ber gerak kembali pulang ke arah utara dari pulau itu.
Setelah ke pergian dari kawanan Bajak laut yg di pimpin oleh Dangsa Aras itu, maka Gongso menemui Senopati dari pasukan Bali yaitu Senopati I gede Pikatan itu.
" Terima kasih sebelum nya, per kenal kan Aku adalah Senopati I Gede pikatan merupakan pemimpin pasukan dari gel gel atas perintah dari Prabhu gel gel, sekira nya saudara Gongso menanyakan kami akan kembali segera ke Bali,. aku rasa tidak kami akan mampir ter lebih dahulu ke Kahuripan guna mem perbaiki kapal-kapal kami dan mengubur kan para prajurit yg telah tewas itu,!" jawab I gede Pikatan itu.
" Baik lah sampaikan salam ku kepada Adipati Kahuripan, karena aku akan segera ke Pamotan untuk ber temu dengan Sang Adipati,!" ucap Gongso.
" Apakah memang benar saudara Gongso ber teman dengan menantu Prabhu gel gel itu,?" tanya Senopati I Gede pikatan lagi.
" Hehh, saudara Arya Wikala memperistri putri dari Prabhu gel gel,?" tanya Gongso agak heran.
" Demikian lah saudara Gongso bahkan kini telah memiliki anak,!" jawab Senopati I Gede pikatan itu.
__ADS_1
" Sesungguh nya panjang cerita nya akan kisah ku yg ber sahabat dengan Adipati Pamotan itu, di sebab kan dulu Aku pernah ber niat merompak kapal yg ditumpangi oleh Adipati Pamotan, namun ketika kami ber tarung , Aku berhasil di kalah kan nya, sehingga aku menganggap ia adalah saudara ku, demikian pula dengan Adipati Pamotan, menganggap ku sebagai saudara nya,!" ter dengar cerita dari Gongso yg merupakan bekas bajak laut yg sangat ter kenal di masa nya sebelum ia ber hasil di tunduk kan oleh Arya Wikala sang Adipati pamotan itu.
Akhir nya setelah ber cerita dengan Senopati I Gede pikatan, Gongso pamit kepada Senopati dari Kerajaan gel gel itu untuk segera ke selatan menuju Pamotan .
Sementara pasukan dari gel gel merapat ke pelabuhan Kahuripan untuk memper baiki kapal-kapal yg rusak dan mengubur kan para prajurit gel-gel yg telah tewas ber tempur dengan kawanan begal dari pesisir utara itu.
Sedang kan pasukan Balasewu yg ter lambat datang , melihat pasukan dari Bali itu tengah merapat ke pelabuhan segera menghampiri pasukan yg di pimpin oleh Senopati I Gede pikatan ter sebut.
Adalah Rangga Rawelu yg memimpin pasukan Balasewu itu segera ber tanya kepada Senopati I Gede pikatan.
" Apakah Senopati I Gede pikatan telah ber hasil mengalah kan kawanan Bajak laut itu, tetapi berita dari penghubung keadaan pasukan Senopati dalam keadaan ter desak,?" tanya Rangga Rawelu.
" Ahh, tadi ada teman dari Adipati Pamotan yg telah membantu kami, ia bekas Bajak laut juga, sementara pemimpin kawanan bajak laut dari pesisir utara ter nyata adalah adik seperguruan nya, menyebab kan ia ketakutan dan kemudian pulang atas perintah kakak seperguruan nya itu,!' jawab Senopati I Gede pikatan.
" Hahh, Gusti Adipati memiliki teman bekas seorang Bajak laut?" tanya Rangga Rawelu seolah tidak percaya dengan penuturan dari Senopati I Gede pikatan itu.
" Begitu lah cerita yg ku dengar dari mulut Ki Gongso sendiri, ia mengata kan pernah di kalah kan oleh Gusti Adipati Pamotan,!" jelas Senopati I Gede pikatan.
Nampak Rangga Rawelu menganggu-angguk kan kepala nya, ia memang sering men dengar jiwa welas asih dari junjungan nya itu ter masuk ke pada Arya bor-bor, yg sempat menjadi momok di hutan Kali Mayit, namun ketika ber hasil di kalah kan, ia sekarang merupakan abdi yg paling setia dan dapat di andal kan.
Ber kali-kali Adipati Pamotan memper caya kan Arya bor-bor untuk memimpin pasukan atas nama kadipaten Pamotan itu.
Kedua nya , Senopati I Gede pikatan dan Rangga Rawelu berjalan menuju ke istana Kadipaten Kahuripan untuk bertemu dengan Adipati Kahuripan yg telah ber hasil menggagal kan serangan pasukan kotaraja Majapahit dari ber bagai tempat ter masuk dari laut.
Di dalam istana Kahuripan sendiri, banyak petinggi kadipaten Pamotan dan Kahuripan yg hadir, atas permintaan Adipati Kahuripan, karena merasa ber syukur ber hasil mengalah kan pasukan kotaraja Majapahit yg di pimpin oleh Senopati terbaik nya yaitu Patih Kebo Mundira. Bahkan sang Patih itu berhasil di tewas kan oleh Naja Pratanu, adik ipar dari Adipati Pamotan itu.
" Saya sangat gembira, karena Kahuripan dan Pamotan mampu menjawab tantangan Kotaraja Majapahit itu, yg merasa diri nya adalah Raja di raja di tanah Wilwatikta ini,!" ucap Adipati Kahuripan yg masih muda itu.
__ADS_1
Kemudian ia melanjut kan kata-kata nya lagi,
" Karena ke berhasil ini saya sangat ber harap bantuan dari Pamotan tetap akan terus datang demi menata Kahuripan yg lebih maju lagi terutama dalam hal ke prajuritan, untuk itu Saya ber harap paman Adipati mau memberi kan beberapa Punggawa ter baik nya untuk mem beri kan masukan di Kadipaten Kahuripan ini,!" ucap Adipati Kahuripan.