
Di istana Majapahit , Patih Gajah Nata sedang di sibukkan dengan tingkah dari Rakryan Mantri wreda Kuda Langhi, yg membuat seolah-olah , di istana ada dualisme kepemimpinan sementara.
Di kubu dari Patih Gajah Nata ada Tumenggung singha wara, Reksa sudira , Tumenggung Wirana , pokoknya yg berangkat ke pandan alas berada di belakang Patih sepuh itu. Sedangkan di belakang Rakryan Mantri ada Bekel Bhayangkara Jaran abang , dan pengganti dari Tumenggung Rabanar yaitu Tumenggung Jalakpati, dan Tumenggung Jaladara, mereka adalah orang-orang baru, di istana Majapahit.
Akhirnya Patih Gajah Nata meminta Tumenggung singha wara secara khusus untuk mengawasi segala kegiatan dari Rakryan Mantri.
Pada saat yg sama, Naja Pratanu menghadap Gusti Patih Gajah Nata dalam hal penyelidikannya atas kematian Gusti Prabhu SiNAGARA.
Naja Pratanu berbincang dengan Patih Gajah Nata di istana kepatihan secara empat mata.
" Maafkan Gusti Patih, saya mengemban titah Gusti Ratu untuk mengetahui siapa sebenarnya pembunuh gusti Prabhu,!" kata Naja Pratanu.
" Jadi Bekel Pratanu ingin apa dari saya,?" tanya Patih Gajah Nata.
" Begini Gusti Patih, saat Gusti Patih memimpin pasukan ke pandan alas, yg bertanggungjawab atas keamanan istana dan Gusti Prabhu , siapa?" tanya Naja Pratanu lagi.
" Sebenarnya yg bertanggungjawab atas keamanan istana dan Gusti Prabhu adalah pasukan Bhayangkara yg di kepalai oleh Bekel Jaran abang, !" jawab Patih Gajah Nata.
" Setelah pasukan Bhayangkara berangkat ke pandan alas siapa pengganti mereka?" Naja Pratanu bertanya lagi.
" Hehmm, saya kira tidak ada lagi kecuali pasukan jaga keraton yg terdiri dari beberapa prajurit saja,!" jawab Patih Gajah Nata.
" Yg jadi pertanyaan, siapa Lurah prajurit dari pasukan penjaga keraton dan bertanggungjawab kepada siapa,?" tanya Naja Pratanu lagi.
" Pemimpinnya adalah Lurah waringka dan bertanggungjawab kepada Rangga Jalakpati yg sekarang jadi Tumenggung yg membawahi pasukan sandiyuda Majapahit, !" terang Patih Gajah Nata.
" Pertanyaan terakhir Gusti Patih, orang kedua yg berpengaruh selain Gusti Prabhu di dalam istana siapa,?'' kembali Pratanu bertanya.
Agak lama Sang Patih terdiam, ia sampai menghela nafas beberapa kali, akhirnya berkata,
" Yg paling berpengaruh di istana ini adalah,.... Rakryan Mantri wreda Kuda Langhi, !" jawab Patih Gajah Nata.
Naja Pratanu mulai dapat beberapa berita tentang keadaan istana pada saat itu.
Ia mulai menarik benang merah keadaan sekarang dengan kejadian saat terbunuhnya Prabhu Rajasawardhana.
Naja Pratanu harus menyelidiki untuk pertama kali adalah Lurah waringka yg menjadi Lurah prajurit jaga keraton saat kejadian Prabhu Rajasawardhana terbunuh.
*******
Wikala dan rombongan telah melewati kadipaten Matahun dan akan sampai di daerah Anjuk Ladang, sesaat mereka beristrahat di sana. Kemudian melintasi daerah Pandan alas itu menuju arah Timur tepatnya ke daha.
Keempatnya berkuda perlahan, karena mereka merasa tidak terlalu di buru waktu.
Setelah dua hari sampai lah mereka ke desa thanda yg sekarang telah jadi tanah perdikan.
__ADS_1
Sesampainya di rumah Wikala , mereka di sambut oleh Mpu Thanda dan ibunya.
" Duh gusti Hyang widhi wasa, mimpi apa aku semalam, putraku, telah kembali,?" ucap biyung yg berlari kearah Wikala serta memeluknya.
" Bagaimana kabarmu, ngger,?" tanya biyung seraya mengajak mereka naik ke pendopo.
" Berkat Hyang widhi wasa, anakmu ini dalam keadaan sehat, tiada kurang suatu apa, malah bertambah,....,!" Wikala tidak melanjutkan kata-kata nya.
" Bertambah apa,?"tanya ibunya penasaran.
" Biyung , punya mantu lagi dan segera akan mendapatkan cucu,!" jelas Wikala.
" Hehh, yg benar , Ratu Pamotan telah hamil,?" tanya ibunya lagi.
" Bukan diajeng Ratu, biyung, tetapi ini seorang putri dari Champa yg bernama Cemaravati, !" kata Wikala seraya menarik Putri Cemaravati untuk mendekat kepada ibundanya. Sang putri pun patuh dan segera sungkem kepada ibunda Wikala.
" Anakmu menghaturkan sembah kanjeng ibu,!" kata Putri Cemaravati.
" Ngger, bagaimana bisa kamu punya istri lagi,?" tanya biyung seolah tidak percaya.
" Panjang ceritanya biyung, nanti akan ku ceritakan semuanya,!" kata Wikala yg mengajak semuanya naik kerumah nya.
Lembu Petala dan putri Yasuvati pun turut naik ke pendopo, sebentar kemudian pendopo itu telah ramai, dan para pembantu di rumah Wikala sibuk menyediakan makanan untuk para tetamu.
" Ngger, nanti kalau anakmas Ratu tahu bagaimana, ?" tanyanya pada Wikala.
" Mau bagaimana lagi Romo, ini bukan keinginanku dan Paman Lembu petala, tetapi sudah keputusan dari pangeran Jaya simhavarman,!" jawab Wikala.
" Ia, semisal anakmas Ratu tidak terima bagaimana,?" tanya Mpu Thanda lagi.
" Kukira , aku harus menjelaskannya dengan baik dan kalau ia tidak bisa terima , biarlah dinda Cemaravati disini,!" ungkap Wikala.
" Kalau ia minta di pulangkan ke Champa, bagaimana,?" tanya sang ayah lagi.
Wikala diam, namun ia tetap bersikukuh mempertahankan istrinya itu tetap di Majapahit apapun yg terjadi, sekarang pun Gusti Prabhu telah tiada. Jadi kemungkinan besar Putri parangkawuni tidak akan semena-mena untuk mencampakkan dirinya.
" Heh, ngger , kok malah ngelamun,?" tanya Mpu Thanda membuyarkan lamunan Wikala.
" Tidak Romo, aku akan tetap mempertahankan dinda Cemaravati untuk tetap berada disini apapun yg terjadi, !" kata Wikala mantap.
" Bagus, Romo senang dengan sikap tegasmu itu, berarti engkau benar-benar pemimpin sejati, tidak hanya di bawah bayang-bayang istri,!" ujar Sang ayah dengan bangga atas kemantapan sikap putranya itu.
" Ngger , sejak Mangkatnya Gusti Prabhu sampai saat ini Istana belum mempunyai Raja,!" kata Mpu Thanda. menjelaskan keadaan istana.
" Itulah Romo, mungkin lusa , aku dan Paman Petala akan kembali, aku ke Pamotan dan Paman akan ke istana, bukan begitu paman,!" kata Wikala yg segera di jawab oleh Bekel Lembu Petala,
__ADS_1
" Benar kakang Wirapati, lusa kami akan meninggalkan istri kami disini, guna mengetahui keadaan istana,!" jelas Lembu Petala kepada Mpu Thanda.
Mpu Thanda mengangguk angguk, dan berkata,
" Beberapa waktu lalu, angger Pratanu datang kemari , katanya mengemban tugas dari istrimu, guna mengungkap siapa sebenarnya pelaku pembunuhan Gusti Prabhu,! ucap Mpu Thanda.
" Pratanu dapat tugas dari diajeng Ratu,?" tanya Wikala.
" Benar dan kemudian ia telah berjumpa dengan,...,!" kata-kata Mpu Thanda terhenti.
" Berjumpa dengan siapa Romo,? tanya Wikala penasaran.
" Dengan angger Tantri dan gurunya Nyai Dewi putrani, kemudian angger Pratanu membawa Nyai Dewi ke semeru,!" jelas Mpu Thanda lagi.
" Hahhhh, Tantri telah kembali, Romo,?" tanya Wikala seolah tidak percaya.
" Benar, angger Tantri telah pulang, dan masih ada di rumahnya, walau pun Guru serta saudara seperguruannya telah kembali ke nusakambangan,!" jelas sang ayah.
Wikala membisu, diam tidak bisa berkata apapun, tulang -tulangnya serasa di lolosi, bahkan tubuhnya terasa tidak mampu menahannya, ada airmata mengembang di sudut matanya, walaupun ia seorang yg perkasa di medan perang namun kalau masalah hati, rasanya ia adalah orang yg paling bodoh sedunia.
Melihat mata suaminya berkaca-kaca,
berkatalah putri Cemaravati,
" Kanda, siapakah Tantri itu, adakah ia seseorang yg paling kanda sayangi,?" tanya nya pada suaminya.
Wikala merasa dengan putri Cemaravati tidak bisa berbohong, dengan pelan kepalanya mengangguk, dengan lirih ia berujar,
" Ialah cinta pertama kanda, yg tidak jadi ke pelaminan,!"
" Nanti kanda kenalkan kepadaku , Tantri itu ya,!" ucap Putri Cemaravati dengan lemah lembut.
Kembali kepala Wikala mengangguk. Adalah Lembu petala yg telah lama bersama Wikala meledeknya,
" Masak Satria Majapahit kalah sama seorang perempuan,!" tukasnya sambil tersenyum.
" Ahh, Paman Petala bisa saja,!" jawab Wikala
" Sama Sang Ratu berani, dengan seorang yg namanya, Tantri harus mengkeret, !" ledek Lembu Petala sambil berguyon.
" Panjang ceritanya paman, kalau di ceritakan mungkin kita tidak akan tidur sampa pagi, !" ucap Wikala sambil tersenyum walau agak di paksakan.
Akhirnya karena malam telah larut, bahkan suara suara binatang malam semakin jelas terdengar, keluarga dari Mpu Thanda itu pun beristrahat .
---------
__ADS_1