
Sementara Naja pratanu dan Larasati yg tengah mengada kan perjalanan sebagai utusan dari Pamotan itu, telah pun sampai di kampung halaman nya di desa thanda.
Mereka ber dua di sambut dengan suka cita oleh Romo dan biyung dan ber tepatan hari itu Rara Tantri sedang berada di rumah mertua nya itu, sebuah rumah yg cukup megah yg di bangun oleh Wikala selaku Adipati Pamotan.
" Apa kabar mu Tantri,?" sapa Larasati ketika melihat Rara Tantri yg sedang menyirami kembang yg berada di pekarangan.
" Baik, dan kalian ber dua,!" balas Tantri balik ber tanya.
" Kami dalam keadaan baik, Apakah Romo dan biyung ada di rumah,?" tanya Larasati lagi.
" Ada , sepagi ini mereka berada di rumah tadi Romo dan biyung sempat ber canda bahwa akan kedatangan tamu, ehhh, tidak tahu nya kalian berdua yg datang, mari masuk ,!" ajak Tantri dengan perut yg sudah membuncit.
Kemudian Rara Tantri berkata lagi,
" Ras !!, kau telah ber bohong kepada kakak ipar mu ini,!"
" Hehh, ber bohong tentang apa, kakang mbokayu,?" tanya Larasati dengan nada ber canda.
" Kata mu, istri kakang Radeksa cuma Putri Cemaravati dari Champa , ehh, tidak tahu nya ia punya istri yg lain di sebrang sana,!" jelas Rara Tantri.
" Darimana engkau tahu dan dengan siapa kakang Radeksa telah menikah lagi ,?' tanya Larasati penasaran karena setahu nya memang cuma Putri Cemaravati istri dari kakak nya itu sepeninggal Ratu Pamotan jadi Larasati bingung atas pertanyaan teman nya tersebut yg sekarang telah menjadi kakak ipar nya.
" Ya , dari kakang Radeksa, ia mengata kan nya sendiri kepada ku bahwa ia memiliki istri di pulau Bali,!" ungkap Rara Tantri.
" Sumpah , aku malah tidak tahu bahwa kakang Radeksa memiliki istri di pulau bali ,!'' kata Larasati dengan nada heran.
" Ya itulah , kakak mu telah meniga kan aku,!" ucap Rara Tantri sambil duduk di atas pendopo rumah Mpu Thanda itu.
__ADS_1
" Kapan kakang Radeksa datang, karena ketika ku kabar kan bahwa engkau tengah hamil ia malah heran,!" tanya Larasati kepada Tantri.
" Tuh, orang nya masih di dalam lagi membantu biyung di dapur,!" jawab Rara Tantri dengan ter senyum, ia memang sengaja membuat bingung Larasati.
Penasaran Larasati , segera ia masuk ke dalam tanpa menunggu lama, dan alangkah terkejut nya adik Adipati Pamotan itu, di lihat nya, kakaknya itu sedang menyantap ketela rebus dan duduk di sebelah ibunda nya.
" Kakang, bagaimana bisa Lebih dahulu tiba di sini,?" tanya Larasati kepada kakak nya itu setengah ber teriak.
" Nduk, ndak boleh ngomong kasar begitu di hadapan Gusti Adipati Pamotan,!" kata ibunda nya dengan ber seloroh, karena sebenar nya ibunda Wikala itu tahu akan ke hadiran putri nya itu dari Wikala.
" Ahh, kalau di keraton Pamotan iya, kita mesti pakai unggah ungguh, kalau di sini siapa peduli ia seorang Adipati, itu mulut pun masih belepotan ketela rebus,!" kata Larasati menyela.
" Engkau benar adik ku, kalau di Istana Pamotan memang kita terikat dengan tatakrama keraton dan kalau disini kita bisa bebas seperti biasa,!" jawab Wikala dengan ter senyum.
" Mengapa engkau memandangi ku seperti itu, seperti melihat hantu saja ,?' tanya Wikala kepada adik nya.
" Sudah lah jangan terlalu di pikir kan, yg penting sekarang Aku ingin memberitahu kan sebuah rahasia, kepada mu Ras,!" ujar Wikala sang Adipati Pamotan itu kepada adiknya.
" Rahasia apa kang?" tanya Larasati penasaran.
" Seperti yg telah engkau ketahui bahwa diri ku telah menikah dengan putri dari Prabhu gel-gel di Bali, dan di sini pun Aku memilki istri, sedang kan keadaan Majapahit saat ini tidak menentu, kemungkinan besar Kotaraja Majapahit akan mendesak Pamotan untuk tunduk dan patuh kepada mereka, untuk itu lah aku akan mencerita kan sesuatu kepada mu dan kepada pratanu, selaku adikku,!" ucap Wikala Sang Adipati Pamotan.
" Cepat lah Kang, jangan ber belit-belit, membuat orang jadi penasaran,!' seru Larasati kepada kakak nya itu.
" Begini, untuk menjaga Romo dan biyung , terutama untuk Tantri, Aku sudah tentu akan sulit melakukan nya, sementara itu, mau tidak mau mereka tentu akan ter seret ke pusaran per seteruan Pamotan dan Majapahit, jadi Aku memilki sebuah kitab pusaka yg telah di beri kan Biksu Majin kala kami bertemu di Tiongkok,!" kata Wikala .
" Kalau mengenai masalah penjagaan terhadap Romo, biyung dan Tantri , kakang mengapa mesti bingung kirim saja satu pasukan untuk menjaga di sini, !" jawab Larasati dengan se enaknya saja.
__ADS_1
" Kalau masalah mengirim see pasukan prajurit kemari itu sih mudah, akan tetapi tanah perdikan Thandasain bukan wilayah kadipaten Pamotan, apa jadi nya jika Kangmas Daha merasa di langkahi bukan kah itu namanya menambah musuh ,!' jelas Wikala lagi kepada adik nya itu.
" Jadi maksud kakang bagaimana,?" tanya Larasati penasaran.
" Maksud ku, ilmu yg ada di kitab Biksu Majin itu kalian pelajari ber tiga di sini, nanti setelah kalian selesai menunai kan tugas dari Pamotan itu, kalian kembali kemari dan bersama-sama mempelajari nya dengan istri ku, sehingga penjagaan untuk keluarga di sini tidak memerlukan prajurit Pamotan, kalau memang yg datang sepasukan prajurit kalian bisa minta bantuan dari Kangmas Daha, yg tentu nya akan memberi kan prajurit nya membantu kalian mengingat ia ber hutang nyawa kepada kalian, namun yg meng khawatir kanku bukan ke datangan se pasukan prajurit melainkan kelompok dari Pendekar bayaran yg ber ilmu tinggi, tentu kalian akan kerepotan menghadapi nya, seperti saran ku tadi kalian pelajari lah kitab pusaka Biksu Majin itu, karena kalian telah memiliki dasar ilmu silat yg cukup tinggi, namun tidak ada salah nya menambah ilmu, apalagi kalian belum memilki anak masih banyak waktu untuk mempelajari nya, ber beda dengan ku yg tidak ada kesempatan untuk itu, namun itu semua ter serah kepada kalian yg menurut Ku memang menjadi incaran banyak pihak akibat kedekatan dengan ku,!' panjang lebar Wikala men jelas kan maksud nya itu.
" Kami harus berembuk dulu dengan kakang Pratanu, apakah ia ber sedia,!" jawab Larasati lagi.
" Ya kalian segera lah mem bicara kan nya, namun yg jelas kitab itu akan kuserah kan kepada Tantri untuk di pelajari nya, bila kalian menganggap perlu mem pelajari nya minta lah kepada nya, mungkin ia baru mempelajari nya setelah habis melahir kan beberapa purnama ke depan, dan jika kalian ber minat kalian bisa lebih dahulu mempelajari nya, sayang sebuah kitab pusaka yg tidak ada yg mau untuk mempelajari nya, memang kitab itu di serah kan untuk ku, namun karena ke sibukkan ku, tidak mungkin aku mempelajari nya,!" ungkap Wikala yg mengeluar kan sebuah kitab lusuh dari balik baju nya, entah sudah berapa lama ia tidak menyentuh kitab pemberian dari Biksu Majin ter sebut.
Wikala kemudian memanggil Rara Tantri ,istri nya Itu dan menyerah kan kitab yg sudah sangat lusuh ke tangan Rara Tantri.
Ia pun ber pesan jika kedua Adik nya itu ingin mempelajari nya supaya meminjam kan kitab pusaka dari Tiongkok itu kepada mereka berdua.
Akhir nya setelah berada tiga hari di desa thanda, dengan di dampingi oleh istri dan adik nya itu, Wikala ber keliling di bekas dari amukan Sang Kelud beberapa waktu yg lalu.
Memang pembangunan kembali desa thanda tetap berjalan karena banyak para penduduk yg ingin ber tempat tinggal di kaki sang Kelud meski harus ber dampingan dengannya meski saat ini kurang ramah kepada warga desa thanda , namun tetap saja banyak yg datang ke sana untuk menjadi warga desa Tanah perdikan Thandasain itu.
Karena kesuburan tanah di kaki gunung kelud itu makin meningkat setelah endapan lumpur itu men dingin sehingga menjadi semacam pupuk alami buat tanah-tanah per sawahan di desa itu.
Tanaman padi di Tanah perdikan itu meningkat berkali-kali lipat dari biasa nya setelah letusan Kelud itu terjadi.
Kemakmuran desa itu pun turut ter dongkrak naik akibat dari hasil panen yg meningkat.
Tidak sampai se pekan Wikala kembali ke Pamotan guna men jalan kan pemerintahan Kadipaten itu.
((((((((((((-------------------------))))))))))))))))))
__ADS_1