BARA Di Atas Tanah MAJAPAHIT Dalam Episode 2: Satria Dari DAHA

BARA Di Atas Tanah MAJAPAHIT Dalam Episode 2: Satria Dari DAHA
episode 10 : Bhatara Purwawisesa bagian kedua


__ADS_3

" Sebenarnya kalau kita mengerti hati seorang perempuan akan sangat mudah meluluhkannya , paman, demikian pula dengan diajeng Ratu, sungguh ia memiliki jiwa yg tulus dalam mencintai seseorang, sehingga walaupun berat ia akan tetap mempertahankan cintanya itu,!" jelas Wikala sambil terus menjalankan kudanya.


" Akan tetapi hati seorang perempuan sangat rapuh , kita akan sangat sulit membedakan antara cinta dan benci pada diri seorang perempuan,!" ungkap Tumenggung singha wara


" Demikian lah adanya paman , bahkan perang besar terjadi hanya gegara seorang perempuan," ujar Wikala.


" Jadi , aku sangat setuju dengan pendapat anakmas Radeksa, bahwa kita harus mengerti jiwanya seorang perempuan, seperti di saat kita mempelajari suatu ilmu kadigjayan, akan sangat mudah bagi kita, jika kita memahami kedalam dari ilmu tersebut, tentu juga mudah untuk menaklukan nya dan menguasai nya,!" terang Bekel Lembu Petala.


" Ah, mengapa kita membicarakan soal perempuan,?" tanya Wikala.


" Tetapi kalian berdua memang akan menemui para perempuan kalian,!" tukas Tumenggung singha wara.


" Paman benar, tetapi nanti sesampainya di daha kita tidak usah singgah di tempar Kangmas Ranawijaya, mengingat di sana ada putra dari Rakryan Mantri Kuda Langhi, rasanya kurang pas kalau harus bertemu dengannya, " kata Wikala seraya terus memacu kudanya.


Mereka bertiga tiba di ara-ara cukup ketika malam menjelang, kemudian ketiganya beristrahat di tempat itu guna membersihkan tubuh dan sekadar mengganjal perut dengan bekal yg di bawa.


Keesokan nya mereka melanjutkan perjalanan nya lagi.


Ketiganya pun seolah berpacu satu dengan yg lainnya. Ketika mereka sampai di pertigaan maka mereka membelokkan arah kudanya ke sebelah Kiri, mereka terus ke desa thanda, tanpa singgah di kota daha.


Dan saat tiba di Thanda hari telah malam , seluruh penghuni rumah Mpu Thanda sangat terkejut mendengar derap kaki kuda dan berhenti di halaman rumah itu, adalah Mpu Thanda sendiri yg langsung menemui mereka,


" Hehh, apa kabar adi Tumenggung dan Bekel Bhayangkara,!" sapanya kepada kedua orang tersebut.


" Baik kakang Wirapati,!" jawab keduanya, bersamaan.


" Waduh putri Cemaravati dan Yasuvati telah tidur ngger ,!" kata Mpu Thanda kepada anaknya.


" Tidak apa-apa Romo, tidak usah di bangun kan , biar esok pagi jadi kejutan buat mereka,!" ucap Wikala kepada romonya itu.


" Silahkan masuk ,!" seru Mpu Thanda kepada tamunya itu.


" Mari Paman ,!" ajak Wikala pula kepada kedua nya.


Mereka bertiga pun naik ke pendopo rumah Mpu Thanda yg besar itu.


Setelah ketiga nya duduk dengan di temani oleh Mpu Thanda, kemudian mereka di suguhkan makanan dan minuman oleh pembantu keluarga itu.


Adalah Mpu Thanda yg berkata,


" Anakku Radeksa, romo beberapa waktu lalu telah bermimpi, bahwa kelud mengeluarkan kepulan asap di sertai dengan pijaran api, dan Romo khawatir Keluda akan mengamuk,!" cerita Mpu Thanda kepada anaknya itu.


" Romo, apakah artinya itu,?" tanya Wikala kepada romonya.


" Aku tidak tahu apakah memang bakal ada letusan dari kelud atau pertanda goro-goro di kerajaan Majapahit ini,!" jawab Mpu Thanda .


" Kalau menurut paman apa artinya,?" tanyanya kepada kedua temannya itu.


" Bisa jadi memang kelud akan murka, tetapi ada juga kemungkinan kerusuhan bakal terjadi di kerajaan ini,!" kata Tumenggung singha wara.

__ADS_1


" Kalau menurutku memang kelud akan meletus,!" ucap Lembu Petala.


" Besok kita bertiga melihat keadaan kelud, mau kan paman berdua turut serta,?" tanya Wikala.


" Kami siap,!" ucap keduanya.


Mereka berempat , semalam suntuk mengobrol , hingga kokok ayam jantan barulah mereka menghentikan pembicaraan nya.


Keesokan pagi nya yg terkejut adalah Putri Cemaravati dan Yasuvati, melihat suami mereka tertidur di pendopo rumah tersebut.


" Ahh, kanda , mengapa tidak membangunkan dinda tadi malam, " ucap Putri Cemaravati sesaat setelah membangunkan suaminya itu.


" Tidak mengapa dinda, lagian kami sampai pun agak larut malam ,!" jawab Wikala.


" Ya kan, masih bisa membangunkan dinda,!" kata Putri Cemaravati yg perut nya telah nampak membesar itu.


" Aku tidak mau menganggu dinda ,!" jawab Wikala.


" Ah, kanda tidak akan menganggu kalau cuma sekedar membangunkan ,!" ujar putri Cemaravati.


" Kanda Radeksa, beberapa waktu lalu , Tantri datang kemari, dia sungguh sangat cantik,!" kata putri Cemaravati lagi.


" Benarkah dinda,?" tanya Wikala.


Putri Cemaravati mengangguk.


" Untuk apa ia datang kemari?" tanya Wikala lagi.


Adalah Tumenggung singha wara yg menggoda Bekel Lembu Petala,


" Adi Petala sungguh beruntung mendapatkan putri Yasuvati dari champa itu,!" katanya kepada Lembu Petala.


" Memangnya kenapa kakang,?" tanya Lembu Petala.


" Iyalah, beruntung mendapatkan istri yg cantik, tidak mengurusi lagi, kalau perlu tinggal di datangi,!" ucap Tumenggung Singha Wara.sambil tersenyum.


" Ahh, kakang Tumenggung ada-ada saja,!" balas Lembu Petala.


" Kakang Tumenggung sekiranya aku tidak dapat tugas untuk mengabdi di Majapahit, kuingingin ikut anakmas Radeksa ke pamotan,!" ungkap Lembu Petala terus terang.


" Maksud adi Petala bagaimana?" tanya Tumenggung Singha Wara.


" Begini, kalau semisalnya yg jadi Raja di Majapahit adalah Bhre Wengker, dan ia tidak memilihku sebagai Bekel Bhayangkara ,karena ia telah memiliki pengawal sendiri, maka aku akan mengabdi ke pamotan, !" terang Lembu Petala kemudian.


" Tidak mungkin anakmas Wengker akan mencampakkan adi Petala, !" tukas Tumenggung singha wara.


" Tetapi kemungkinan itu bisa terjadi, karena aku secara pribadi kurang dekat dengan beliau, beda dengan Gusti Prabhu SiNAGARA, yg memang telah mengenalku sejak di kahuripan,!" jelas Bekel Lembu Petala lagi.


Tumenggung singha wara terdiam dan memikirkan apa yg telah dikatakan teman sejawatnya itu.

__ADS_1


Mereka telah lama berteman, bahkan ketika masih berusia muda, karena Lembu Petala merupakan keponakan Patih Gajah Nata orang kepercayaan dari Prabhu Rajasawardhana , yg merupakan ipar dari Tumenggung singha wara.


Jadi sedikit banyak , Tumenggung singha wara mengerti sifat dan watak dari Lembu Petala itu.


Tumenggung singha wara kemudian berkata,


" Seandainya adi Petala nanti pindah ke pamotan , siapa temanku lagi di Majapahit,?" tanyanya pada Lembu Petala.


" Atau aku pun tidak akan di pakai oleh anakmas Wengker,!" lanjut Tumenggung singha wara.


" Kalau kakang tidak mungkin akan di buang anakmas Wengker, karena kakang adalah pamannya sendiri, Gusti Ratu pasti akan mempertahankan kakang untuk tetap di Istana,!" jawab Lembu Petala.


" Marilah kita ajak anakmas Radeksa untuk melihat-lihat dari dekat puncak Kelud, biarlah yg akan terjadi itu nantinya merupakan kehendak Hyang widhi, kita tidak usah terlalu risau atas hal itu, mau di pakai atau tidak, kita tinggal menjalani nya saja,!" pungkas Lembu petala.


Bersama dengan Wikala mereka menuju Puncak Kelud yg tidak seberapa jauh dari desa thanda. Karena ketiga nya orang -orang yg berilmu tinggi dengan cepat mereka berhasil naik keatas Gunung Kelud itu. Seharian mereka diatas melihat kearah kawah gunung berapi itu, nampak tenang dan biasa-biasa saja tidak ada tanda-tanda ingin memuntahkan laharnya .


Akhirnya ketiga nya turun dari puncak Kelud itu, dengan anggapan bahwa itu mungkin hanya firasat saja dari Mpu Thanda yg datang dari mimpinya.


Saat malam menjelang mereka baru tiba di kaki Gunung Kelud tersebut.


Adalah Wikala mengarahkan kakinya ketempat terakhir kalinya ia menemukan kain panjang Tantri di daerah air terjun bagian selatan dari Gunung Kelud itu.


Entah kenapa, langkah kakinya begitu saja mengarah kesana, seolah-olah ada yg tertinggal di sana, ya , yg tinggal di sana adalah kenangan. Kenangan terindah yg sulit untuk di lupakan.


Karena penasaran atas sikap Wikala, bertanyalah Tumenggung singha wara,


" Anakmas mengapa kita tidak menuju jalan pulang,?"


" Ah aku rindu tempat itu, walaupun cuma sebentar kuingin kesana,!" jawab Wikala.


" Kemana,?" tanya Tumenggung singha wara lagi.


" Ke sebuah air terjun di sisi selatan,!" ucap Wikala.


Lembu petala yg mengerti akan keadaan segera menarik Tumenggung singha wara untuk berjalan di sisinya, dan ia pun berbisik,


" Tempat itu adalah tempat ia pertama kali mengenal seorang perempuan,!"


" Darimana adi tahu,?" tanya Tumenggung singha wara.


" Aku kan telah lama bersahabat dengannya, banyak rahasianya yg di ceritakan nya kepadaku,!" jawab Lembu petala.


Tumenggung singha wara mengangguk-angguk, tanda mengerti.


Akan Tetapi ketika sudah dekat ke tempat itu. Wikala tiba-tiba berhenti, dan memalangkan jari telunjuknya di bibir supaya keduanya berhenti dan diam.


Perlahan Wikala mendekati keduanya dan berkata,


" Sepertinya ada orang di sana," katanya sambil berbisik.

__ADS_1


Keduanya nampak terkejut ,tetapi ketika mereka akan bertanya kembali Wikala memalangkan jari telunjuknya, menyuruh mereka diam, keduanya tidak jadi bertanya.


-----------


__ADS_2