BARA Di Atas Tanah MAJAPAHIT Dalam Episode 2: Satria Dari DAHA

BARA Di Atas Tanah MAJAPAHIT Dalam Episode 2: Satria Dari DAHA
episode 14 Bali pulau yang indah bagian ke enam.


__ADS_3

Selama satu pekan Pasukan Balasewu berada di gel gel, setelah nya kemudian mereka kembali ke pamotan.


Hanya Wikala dan Arya bor bor yg masih tinggal di Bali guna melangsung kan pernikahan nya dengan Putri Ni Luh Gathi. Sedang kan Arya bor bor sengaja di minta untuk mendampingi nya selama berada di Bali.


Suatu saat bertanya lah Arya bor bor kepada junjungan nya itu,


* Guru, aku masih bingung tentang cincin Kalademit yg guru pinjam kan itu,?" tanya nya kepada Wikala.


" Bingung kenapa bor, Apa masalah nya ?" , balik Wikala bertanya.


" Begini Guru, sewaktu hendak berangkat ke Semprangan , aku memberi kan minum dengan rendaman air dari cincin Kalademit itu, terbukti seluruh prajurit Balasewu menjadi kebal kemudian ketika bertemua dengan Patih Aji Jimbarang yg telah berubah ujud jadi Raksasa Bhuto Cakil, Guru perintah kan untuk mengarah kan cincin Kalademit itu ke mata Bhuto Cakil ter sebut, dan Bhuto Cakil itu ter lihat sangat kesakitan menerima serangan itu, yg jadi pertanyaan ku mengapa Cincin Kalademit bisa menjadi senjata yg ampuh melawan musuh yg sangat sakti,?" tanya Arya bor bor yg merasa heran dengan sifat cincin Kalademit itu.


" Begini bor, secara biasa cincin Kalademit mampu menahan tubuh dari racun dan bisa membuat tubuh menjadi kebal, namun apabila cincin Kalademit itu di isi dengan tenaga dalam tingkat tinggi ia juga bisa menjadi senjata yg ampuh untuk melumpuh kan ilmu yg ada di lawan, sehingga ketika kau mampu mengerah kan tenaga dalam mu ke cincin Kalademit itu, secara langsung ia akan mampu melumpuh kan lawan dengan menghilang kan segala ilmu yg di miliki nya,!" jelas Wikala kepada Arya bor bor.


Arya bor bor pun mengerti dengan sifat dari cincin Kalademit itu, ia merasa bersyukur telah dua kali di beri kepercayaan dari Wikala untuk menggunakan nya, pertama saat di puncak Merapi ketika mengobati Resi Begawan mahameru yg terluka cukup parah akibat ber tarung dengan Biksu Luanjin, dan yg kedua ketika Pamotan membantu gel gel mengatasi Semprangan di mana Patih dari Semprangan itu memiliki kesaktian yg luar biasa, namun berkat ke ampuhan cincin Kalademit itu akhir nya dapat di kalah kan.


Setelah dua hari dari kepulangan pasukan Pamotan, maka Wikala segera melangsung kan pernikahan nya dengan Putri Ni Luh Gathi di Istana gel gel, meski pernikahan itu di langsung kan secara sederhana namun tidak mengurangi kebahagiaan dari pengantin nya.


Niat Prabhu Ki Dalem ketut Ngelesir menikah kan Putri Ni Luh Gathi dengan Adipati Pamotan adalah untuk mengikat pembesar Majapahit dengan kerajaan yg berada di Bali, dan lagi prabhu Dalem Ngelisir merupakan keturunan dari Majapahit.


Kemudian Wikala membuat kan tempat tinggal untuk Putri Ni Luh Gathi di dekat Tabanan dan kelak tempat itu di beri nama dengan Kediri, sebelah barat dari Semprangan dan Gel gel.


Tidak sampai satu purnama berada di pulau Bali yang indah itu akhir nya Wikala kembali ke pamotan dengan Arya bor bor.


************


Di Kota Raja Majapahit sendiri tengah dalam keadaan bersedih, hampir satu purnama , Gusti Ibunda Ratu Jayeswari dalam keadaan sakit.


Hingga suatu saat , di panggil lah Prabhu Bhatara Purwawisesa untuk datang ke dalam bilik dari Ibunda Ratu Jayeswari itu, setelah melihat ke hadiran dari Putra nya itu berkata lah Ibunda Ratu Jayeswari,


" Nanda Prabhu, mungkin sebentar lagi ibunda mu akan menghadap Sang Hyang Widhi wasa, jadi ibunda ingin ber pesan kepada mu,!" ucap Ibunda Ratu Jayeswari kepada Prabhu Bhatara Purwawisesa.


" Ibunda jangan berkata begitu, ibunda pasti sembuh, nanda telah memanggil seorang tabib yg sakti dari sebelah barat,!" balas Prabhu Bhatara Purwawisesa yg sedih melihat keadaan ibunda nya itu.


" Mungkin memang sudah takdir manusia, bahwa yg hidup pasti akan mati, tidak perduli kaya atau miskin, tidak perduli Raja atau kawula semua pasti kembali kepada Nya,!" jelas Ratu Jayeswari yg nampak sudah sangat berat menahan sakit nya itu.


Prabhu Bhatara Purwawisesa nampak diam mendengar penuturan dari ibunda nya itu.

__ADS_1


Kemudian Sang Ratu Jayeswari melanjut kan kata-kata nya,


" Kumohon Nanda Prabhu segera mengirim kan utusan ke Daha, Pamotan dan Kahuripan untuk memberi kabar kepada adik-adik mu serta cucu ku Merta Wijaya di Kahuripan tentang keadaan ibunda mu ini,!" ucap Ibunda Ratu Jayeswari yg menghenti kan kata-,kata nya, nampak nya ia sedang merasa kan sakit yg lumayan berat. Dan kemudian ia ber kata lagi,


" Dan ibunda mohon supaya Nanda Prabhu menghentikan pertikaian dengan dimas Pandan alas, atau malah sebaik nya tahta Majapahit ini Nanda serah kan saja kepada nya,!" jelas Ratu Jayeswari lagi.


Mendengar kata-kata terakhir dari ibunda Ratu Jayeswari, Prabhu Bhatara Purwawisesa terlihat kaget atas saran yg di berikan oleh Ibunda nya itu.


Ia kemudian bertanya kepada ibunda Ratu Jayeswari,


" Maksud ibunda , ananda menyerah kan kepemimpinan Majapahit ini ke tangan Ramanda Pandan alas,?" tanya Prabhu Bhatara Purwawisesa heran.


" Benar Nanda Prabhu, cukup lah Ramanda dan adik mu yg jadi bebanten dari panas nya tahta Majapahit ini, ibunda tidak ingin ananda Prabhu pun jadi korban nya, nanti setelah Ibunda mu tiada, tidak akan ada lagi yg di segani oleh Dimas Pandan Alas, dan kemungkinan besar ia akan meminta hak nya untuk menjadi raja Majapahit ini,!'' kàta ibunda Ratu Jayeswari yg nampak agak terengah-engah menahan sesak di dada nya.


" Akan tetapi ibunda , sesuatu yg sulit untuk di laksanakan perintah ibunda itu, Nanda telah lama memerintah Majapahit ini dengan segala kekurangan dan kelebihan nya,!" jawab Sang Prabhu Bhatara Purwawisesa.


" Namun ibunda sangat-sangat berharap Ananda Prabhu dapat melihat sisi baik nya dengan menyerah kan kekuasaan Kerajaan Majapahit ini kepada mertua mu itu, karena dapat menyatu kan kembali tali persaudaraan yg hampir terputus ini,!' jelas ibunda Ratu Jayeswari.


" Atau malah sebalik nya Bunda, karena dimas Daha dan Pamotan serta Nanda Kahuripan tidak bisa terima atas keputusan ku itu, mereka tentu tidak akan terima bila kekuasaan kerajaan Majapahit ini di serah kan kepada Ramanda Pandan alas,!" kata Prabhu Bhatara Purwawisesa kepada ibunda Ratu Jayeswari.


" Baik lah bunda, nanti nanda pikirkan saran yg ibunda katakan ini,!" jawab Prabhu Bhatara Purwawisesa yg tidak ingin membantah ucapan dari Ibunda nya itu.


Setelah dari bilik ibunda Ratu Jayeswari, Sang Prabhu Bhatara Purwawisesa berjalan ke arah istana kepatihan yg tidak terlalu jauh dari tempat itu.


Prabhu Bhatara Purwawisesa ingin mendengar pendapat dari para pembantu setia nya atas saran yg telah di usul kan oleh ibunda Ratu Jayeswari itu.


Memang sebenar nya Sungguh tidak biasa seorang Raja mendatangi bawahan nya, namun semua itu di lakukan oleh Prabhu Bhatara Purwawisesa untuk menghindari prajurit sandi dari Pandan alas yg sangat banyak terdapat di keraton Majapahit itu.


Se sampai nya di istana kepatihan, Patih Lohdaya tergopoh-gopoh menyambut nya karena tidak biasa nya Sang Prabhu mendatangi kediaman nya itu.


" Ampun kan hamba Gusti Prabhu, gerangan apakah kira nya sehingga Gusti Prabhu harus kemari, semesti nyalah kami yg datang menghadap ,!" kata Patih Lohdaya sambil menjura hormat.


" Ada sesuatu hal yg penting yg ingin Aku bicara kan dengan Paman Patih dan beberapa orang yg lain yg bisa kupercaya, jadi Kuharap Paman Patih untuk memanggil Kakang Warak Sumadilaga, Mantri Waninghyun, dan Tumenggung Wanengpati untuk datang menghadap kemari,!" terdengar perintah dari Prabhu Bhatara Purwawisesa kepada Patih Lohdaya.


" Sendika dalem Gusti Prabhu, hamba akan memanggil mereka untuk datang kemari,!" jawab Patih Lohdaya yg segera keluar dan memerintah kan seorang prajurit untuk memanggil ketiga orang kepercayaan dari Prabhu Bhatara Purwawisesa tersebut.


Tidak terlalu lama ber selang akhir nya ketiga pembesar Majapahit itu tiba di istana kepatihan.

__ADS_1


Setelah semua nya hadir berkata lah Sang Prabhu Bhatara purwawisesa,


" Terima kasih atas kehadiran kalian semua, sebenar nya lah kalian Aku panggil karena ada sesuatu yg perlu pendapat kalian semua,!" ucap Sang Prabhu.


" Ampun Gusti Prabhu, gerangan apakah yg ingin Gusti Prabhu tanya kan kepada kami, sehingga kita harus bertemu di Istana kepatihan bukan di balai paseban, apakah ini sangat rahasia,?" tanya Rakryan Mantri Waninghyun yg penasaran dengan sikap junjungan nya itu.


" Demikian lah kira nya Rakryan Mantri, ada sesuatu yg mengusik hati Ku dan ini memang rahasia hanya kalian yg ku percaya yg Ku panggil kemari bukan di Istana ,!" jelas Sang Prabhu Bhatara Purwawisesa.


Keempat orang pembesar Majapahit itu diam dan bertanya-tanya Hal apakah yg mengusik hati junjungan nya itu, masing-masing mereka-reka, adakah kesalahan yg telah mereka lakukan sehingga membuat Sang Prabhu tidak ber kenan.


Keheningan itu di pecah kan oleh suara Sang Prabhu yg ber kata,


" Hal yg mengusik hati Ku adalah tentang kelangsungan pemerintahan ku atas Kerajaan Majapahit ini,!" jelas Sang Prabhu.


" Ampun Gusti Prabhu, bukan kah Gusti Prabhu telah mampu membawa kerajaan Majapahit keluar dari perpecahan yg terjadi meski disana sini masih banyak kekurangan nya, namun nampak nya seluruh wilayah kerajaan masih mau tunduk kepada Rajanya, kecuali kadipaten Pandan Alas,!" ucap Patih Lohdaya


" Paman Patih , itu lah masalah nya, Oleh ibunda ratu , Aku di saran kan memberi kan kekuasaan Kerajaan Majapahit ini kepada Ramanda Pandan Alas apabila kelak Ibunda Ratu mangkat,!" jelas Sang Prabhu Bhatara Purwawisesa.


Keempat Pembesar Majapahit itu saling pandang satu dengan yg lain nya mendengar penjelasan itu.


" Ampun Gusti Prabhu, alasan apa yg menyebabkan Gusti Ibunda Ratu menyuruh menyerah kan kekuasaan Kerajaan Majapahit kepada Adipati Pandan Alas,?" tanya Tumenggung Wanengpati.


" Alasan nya adalah bahwa sepeninggal nya nanti, tidak ada lagi orang yg di segani oleh Ramanda Pandan alas itu, karena sekarang pun ia telah berani kepada ku dengan meminta kekuasaan kerajaan Majapahit ini, jadi ibunda Ratu khawatir terjadi sesuatu padaku jika Aku menolak permintaan dari Ramanda Pandan Alas itu, seperti yg menimpa Ramanda Prabhu dan dimas Kahuripan,!" jawab Sang Prabhu Bhatara Purwawisesa.


" Ampun Gusti Prabhu, dengan menyerah kan kekuasaan Kerajaan Majapahit kepada Adipati Pandan Alas berarti membuat Majapahit dalam jurang perpecahan mengingat Adipati Daha, Adipati Pamotan dan Kahuripan tentu tidak akan terima bila Tahta Majapahit jatuh ke tangan Adipati Pandan Alas, terutama bagi Pamotan dan Kahuripan, karena kedua nya nampak nya masih menyimpan dendam yg belum terbalaskan ,!" ujar Senopati Warak Sumadilaga.


" Itu pula lah yg kukatakan kepada ibunda Ratu, Aku tidak ingin Majapahit ini pecah dengan memberi kan kekuasaan kepada Ramanda Pandan Alas,!" ujar Sang Prabhu Bhatara Purwawisesa.


" Apalagi sekarang kekuatan pasukan Pamotan menjadi buah bibir di seantero Majapahit ini dengan kemampuan nya membantu Kerajaan gel gel mengalah kan Semprangan yg cukup kuat itu, bahkan Patih Semprangan yg sesumbar mampu mengalah kan Majapahit, namun hanya sebahagian kecil pasukan Pamotan saja mereka telah kalah,!" jelas Sang Prabhu Bhatara Purwawisesa.


" Yg jadi pertanyaan mengapa kerajaan gel gel tidak meminta bantuan kemari malah ke pamotan,?" tanya Patih Lohdaya dengan nada tidak senang akan keputusan dari Prabhu gel gel tersebut.


" Semua nya itu memang kesalahan Ku paman Patih, karena Aku tidak cakap dalam memerintah Majapahit ini sehingga banyak yg tidak percaya dengan Kotaraja Majapahit ini, jadi Aku tidak menyalah kan keputusan yg telah di ambil oleh Paman Prabhu gel-gel itu,!" jelas Prabhu Bhatara Purwawisesa.


" Dan untuk Dimas Pamotan, Aku sangat ber terima kasih kepada nya karena ia memberi kan bantuan ke gel gel mengatas nama kan Majapahit bukan Pamotan,!" kata Sang Prabhu Bhatara Purwawisesa lagi.


***********(((((())))))**************

__ADS_1


__ADS_2