
" Ampun Kangmas Adipati, izinkan lah Pratanu kembali barang sejenak ke Thanda untuk melihat istri dan anak ku,!" ucap Naja Pratanu
" Silah kan adi Pratanu, tetapi sebelum nya panggil kemari Arya bor-bor lebih dahulu , suruh datang menghadap,!" kata Wikala Sang Adipati Pamotan itu kepada Naja Pratanu.
" Sendika dalem Kangmas Adipati,!" jawab Naja Pratanu.
Senopati Pamotan itu langsung keluar menuju alun alun kota raja Majapahit untuk menemui Arya bor-bor.
Sementara di dalam istana Majapahit sendiri, Wikala sang Adipati Pamotan kembali men dengar kan nasehat dari para Adipati yg mendukung nya untuk menjadi Raja Majapahit.
" Secepat nya lah Dimas Pamotan melakukan wisuda penobatan, supaya Majapahit tidak ter lalu lama mengalami kekosongan pemimpin, seperti yg terjadi saat Ramanda Prabhu mangkat, !" ujar Adipati Daha kepada adik ipar nya Itu.
" Yeaaah, Anakmas Adipati Pamotan sudah sepantas nya duduk di atas singgasana Itu,!" kata Adipati Tumapel sambil menunjuk ke arah singgasana yg kosong itu.
Sang Adipati Pamotan tampak memandangi ke arah yg di tunjuk kan oleh Adipati Tumapel.
" Ahh, apakah pantas diri ku untuk duduk di atas singgasana itu,!" berkata dalam hati Wikala Sang Adipati Pamotan.
Ketika Sang Adipati Pamotan masih tenggelam dalam lamunan nya , masuk lah Arya bor-bor sambil menjura hormat,
" Ampun kan Gusti Guru, gerangan apakah Guru memanggil saya,?" tanya Arya bor-bor.
Kemudian Wikala sang Adipati Pamotan itu segera melihat ke arah Arya bor-bor dan ber kata,
" Suruh menghadap kemari para Lurah prajurit Balasewu ada tugas untuk mereka, secepat nya,!" kata Wikala Sang Adipati Pamotan itu.
" Sendika dawuh Gusti Guru,!" jawab Arya bor-bor.
Hantu Kali mayit itu langsung keluar ruangan untuk menemui para Lurah prajurit Balasewu itu.
Tidak terlalu lama ke sebelas orang itu telah berada di dalam istana Majapahit.
" Ampun Gusti Guru, para Lurah prajurit siap melaksanakan tugas dari Gusti Guru,!" kata Arya bor-bor.
" Untuk para Lurah prajurit Balasewu yg sangat ku andal kan, sampai kan surat ku ini kepada para Adipati yg tidak ikut dalam penyerangan ke kotaraja Majapahit ini, usaha kan mendapat kan balasan secepat nya, dan karena tinggal lima Adipati yg tidak ada maka kalian bisa ber dua untuk menyampai kan surat ku ini, karena kadipaten-kadipaten Pawanuan telah memberi restu kepada ku jadi tinggal Kadipaten Matahun,-kadipaten Lasem, kadipaten Pajang, kadipaten Mataram dan Kadipaten Paguhan, segera lah berangkat, meskipun kalian masih dalam keadaan cukup lelah, namun kalian dapat melaksana kan tugas ini dengan baik,!" ter dengar perintah Wikala sang Adipati Pamotan itu.
" Sendika dawuh Gusti Adipati, kami siap men jalan kan perintah,!" jawab ke sepuluh lurah prajurit Balasewu itu.
__ADS_1
Mereka kemudian keluar ruangan istana Majapahit itu untuk melaksana kan titah dari Wikala sang Adipati Pamotan.
Lurah Sasra Bahu dan Lurah Wiera Tantra ke kadipaten Matahun.
Lurah Trilaya dan Lurah Dipangkara ke Paguhan, Lurah Ranawa dan Bagatwana ke kadipaten Pajang, Lurah Maospati dan Lurah Warak Rimbangan ke kadipaten Mataram
Sementara yg ke kadipaten Lasem adalah Lurah Jalasesa dan Lurah Suradi prana.
Ke sepuluh Lurah prajurit itu segera menjalan kan perintah Wikala sang Adipati Pamotan meski hari telah menjelang sore.
Sementara di desa thanda, setelah mendapat kan restu dari kakak ipar nya, Naja Pratanu langsung tancap gas ke tanah perdikan Thandasain melalui kandangan hari menjelang malam maka hari itu juga senopati Naja Pratanu berangkat ke Tanah perdikan thanda, ia sampai di kandangan sudah malam namun terus melanjut kan perjalanan nya ke thanda ketika sore hari menjelang malam nya tiba lah ia di tanah perdikan Thandasain, yg biasa nya di tempuh dalam waktu Dua hari atau lebih. Kali ini Hanya di tempuh nya dalam satu hari saja
Karena perasaan sang Senopati lagi senang -senang nya maka perjalanan itu di lakukan nya dengan cepat.
Se sampai nya di rumah Mpu Thanda, hari telah gelap.
Ia terus masuk ke dalam dan di atas pendopo bertemu dengan Mpu Thanda yg sedang menikmati wedang sere nya.
" Ehh, apa kabar angger Pratanu, mari silah kan masuk, !" ucap Raden Wirapati atau lebih di kenal dengan Mpu.
" Baik Romo, bagaimana dengan Keluarga di sini, ?'' tanya Naja Pratanu.
" Baik Romo,!" jawab Naja Pratanu dan langsung menuju pakiwan.
Sebentar kemudian ia telah masuk lagi dan langsung ke bilik istri nya.
Dan begitu ia membuka pintu bilik di lihat nya Larasati tengah menyusui anak nya.
Larasati yg kaget atas kedatangan suami nya itu segera menyapa nya,
" Apa kah kakang baru tiba, bagaimana dengan Kotaraja,?" tanya Larasati Wirani adik dari Adipati Pamotan itu.
" Iya, kakang baru tiba dan Majapahit telah berhasil di kuasai oleh pamotan dengan gugur nya Prabhu Suraprabhawa, bagaimana dengan anak kita ,Ras,?" tanya nya kepada istri nya itu.
" Baik kang, ia lahir dengan selamat sesaat Pamotan memulai perang dengan Kotaraja Majapahit itu,!" jawab Larasati lagi.
" Syukur lah, kakang sudah takut ketika Paman Petala melarang kakang untuk membunuh Sang Prabhu Suraprabhawa itu,pamali katanya,!" jelas Senopati Naja Pratanu.
__ADS_1
" Hehh, kakang Pratanu yg telah membunuh Prabhu Suraprabhawa itu,?" tanya Larasati kepada suami nya.
" Iya Ras, setelah Kotaraja Majapahit jatuh ke tangan Pamotan dan sang Prabhu berhasil melari kan diri keluar kota raja, akan tetapi berhasil kami kejar, dan kakang mu ini lah yg telah mengakhiri riwayat sang Prabhu itu,!" tukas Senopati Naja Pratanu.
" Wah anak ku ini tampan ya, Ras, akan kakang beri nama Yuda wira Pratanu, anak ku ini,!" kata Senopati Naja Pratanu sambil membelai kepala putra nya lagi tidur itu.
" Nama yg bagus Kang,!" jawab Larasati .
" Baik lah , kakang ingin keluar sebentar akan ber bincang dengan Romo di depan, takut menggangu tidur Yuda wira,!" kata Senopati Naja Pratanu setelah itu ia pun mengcup pipi anak nya serta kening Sang istri.
Kemudian Senopati Naja Pratanu keluar bilik dari Larasati itu. Ia langsung menuju pendopo dan duduk bersama dengan mertua nya itu.
Tidak berapa lama keluar lah prmbantu dari dapur membawa kan minuman wedang sere dan rebus singkong dengan asap yg masih mengepul.
" Silah kan Ngger, !" kata Mpu Thanda.
" Terima kasih Romo,!" jawab Senopati Naja Pratanu dan langsung mengambil cawan yg berisi wedang sere itu.
Senopati pinunjul asal Pamotan itu kemudian menikmati makanan dan minuman yg telah di saji kan.
Entah memang karena lapar atau karena hati nya sedang ber gembira sebentar saja rebus singkong itu pun habis lahap nya.
" Bagaimana Ngger, keadaan Kotaraja Majapahit, apakah Pamotan ber hasil memenang kan peperangan itu,?" tanya Mpu Thanda kepada sang menantu.
" Berkat Hyang Widhi wasa dan doa restu dari Romo, Pamotan berhasil menunduk kan Kotaraja,!" jawab Naja Pratanu.
" Syukur lah, semoga ke depan Majapahit semakin kuat dan jaya lagi serta di segani oleh kerajaan -kerajaan yg ada di sekitar tlatah Majapahit ini,!' kata Mpu Thanda.
" Mudah-mudahan Romo, seperti keinginan seluruh wilayah kerajaan Majapahit ini, bahwa Majapahit ke depan semakin kuat serta makmur kehidupan nya,!" ucap Senopati Naja Pratanu.
" Apakah Prabhu Suraprabhawa berhasil di tangkap, Ngger,?' tanya Mpu Thanda lagi.
" Tidak Romo , Prabhu Suraprabhawa ter paksa di bunuh karena beliau tidak mau menyerah ,!" jelas Senopati Naja Pratanu.
" Siapa orang nya yg telah membunuh Prabhu Suraprabhawa itu,?" tanya Mpu Thanda lagi.
" Saya Romo, sebenar nya , tidak sampai hati untuk melakukan nya tetapi ia berhasil memancing kemarahan ku sehingga anak mu tidak dapat menahan kemarahan dan mengakibat kan beliau tewas di tangan ku,!" jawab Senopati Naja Pratanu.
__ADS_1
Lama Mpu Thanda memandangi wajah menantu nya itu.