BARA Di Atas Tanah MAJAPAHIT Dalam Episode 2: Satria Dari DAHA

BARA Di Atas Tanah MAJAPAHIT Dalam Episode 2: Satria Dari DAHA
episode 18 Singgasana Yang Suram bagian ke sepuluh


__ADS_3

Mahisa Dara di kediaman nya tepat nya di bekas rumah dari Romo nya yaitu Rakryan Mantri Kuda Langhi itu tengah menerima lima perwira prajurit Majapahit.


Ia sedang merencana kan untuk mencuri padi yg ada di beberapa lumbung di luar Kota Raja Majapahit.


" Kalian semua ku panggil kemari karena akan mendapat kan tugas yaitu untuk mengambil padi yg berada di lumbung dari kadipaten pembangkang itu, tidak selayak nya mereka tidak mau menyerah kan ulu bekti ke kotaraja Majapahit ini sementara masih di bawah kekuasaan Majapahit,!" jelas nya ke pada kelima perwira Majapahit itu.


Sementara Mahisa Dara di dampingi oleh Gagak Mantruk, bekas begal di alas selentuk itu.


" Jadi tugas kami cuma mencuri padi dari lumbung,?" tanya Rangga Panili yg merupakan pemimpin dari kelima perwira itu.


" Bukan mencuri melain kan mengambil hak kita yg tidak di serah kan kepada kita, !" jelas Mahisa Dara


" Apapun itu tetapi kita mengambil sesuatu yg tanpa izin pemilik nya, tentu nya kita tetap di anggap sebagai pencuri,!" jawab Rangga Panili.


" Yah katakan lah kita mencuri tetapi yg kita curi adalah milik kita sendiri yg tidak di serah kan kepada kita,,!" kata Mahisa Dara.


" Selanjut nya lumbung mana yg harus kami curi, apakah tugas ini hanya kami ber lima yg melaksankan nya atau di bantu yg lain,?" tanya Rangga Panili lagi.


" Lumbung yg harus kalian ambil hasil nya adalah lumbung kadipaten Daha, dan kalian tidak cuma ber lima, kalian akan di pimpin oleh sahabat ku ini, kenal kan nama nya Gagak Mantruk, di tambah para prajurit yg akan menyiap kan pedati guna membawa hasil nya,!" jelas Mahisa Dara lagi.


" Kapan kami harus melaksanakan nya, apakah saat ini juga,?" tanya Rangga Panili.


" Tidak , kalian ber gerak besok malam dan upaya kan secepat nya kalian berada di perbatasan kadipaten Daha, supaya ketika malam kalian bisa cepat masuk ke dalam kota kadipaten untuk mengambil padi ter sebut,!" ungkap Mahisa Dara.


" Baik lah kalau begitu kami akan mem persiap kan segala sesuatu nya dan besok pagi kami siap berangkat ke perbatasan Daha,!" ucap Rangga Panili.


" Bagus , dan ingat sebelum berangkat kalian harus singgah kemari karena dalam hal ini Gagak Mantruk adalah pemimpin kalian,!" jelas Mahisa Dara.


" Siap , kami tentu akan menghadap kemari sebelum ke berangkatan nanti,!" jawab Rangga Panili.


Kemudian ke lima perwira Majapahit itu keluar dari dalam rumah Mahisa Dara dan segera akan mem persiap kan segala sesuatu untuk sebuah tugas yg sebenar nya tidak layak di kerja kan oleh para perwira karena tugas itu adalah mencuri.


Namun apa hendak di kata tugas adalah tugas dan mereka terikat kepada sumpah sebagai prajurit yg harus tunduk dan patuh ter hadap junjungan nya. Meski di hati mereka ber tentangan dengan nurani.


Setelah kepergian dari para perwira Majapahit itu, Mahisa Dara kemudian bicara dengan Gagak Mantruk,


" Gagak Mantruk, tugas mu kali ini adalah memimpin kelima perwira Majapahit itu, dan jika mereka tidak mau tunduk kepada perintah mu, habisi saja, yg penting engkau harus mampu membawa hasil dari kadipaten Daha itu, sebanyak-banyak nya !" ucap Mahisa Dara.


" Ahh, itu tugas yg cukup mudah bagi ku, bila perlu sekalian Ku selesai kan Adipati Daha itu,,!" jawab Gagak Mantruk.


" Kau jangan se sumbar Mantruk, Adipati Daha bukan orang sembarangan, yg penting ingat tugas mu, mengambil hasil yg ada di lumbung itu bukan untuk meng habisi Adipati Daha,!" tukas Mahisa Dara yg mengerti akan keinginan dari bekas begal alas selentuk itu.


" Baik raden, perintah raden siap ku jalan kan,!" jawab Gagak Mantruk


Setelah mem persiap kan segala sesuatu nya keesokan hari nya, rombongan itu ber gerak ke arah perbatasan daha tepat nya menuju kandangan.


Mereka membuat tempat itu sebagai landasan tempat per sembunyi an.


*******

__ADS_1


Di Daha sendiri tepat nya di kediaman dari Mpu Thanda orangtua dari Adipati Pamotan itu telah ke datangan tamu,yaitu utusan dari Pamotan.


" Maaf kan kami sebelum nya, Mpu, kami ber dua ingin ber temu Senopati Naja Pratanu,!" ucap utusan itu kepada Mpu Thanda.


" Ada keperluan apa bertemu dengan Angger Pratanu dan kalian ber dua ini siapa,?" tanya Mpu Thanda penuh selidik.


" Kami ber dua adalah Lurah Prajurit Balasewu, aku adalah Lurah Trilaya dan ini Lurah Dipangkara, ada sesuatu yg ingin kami sampai kan kepada Senopati Naja Pratanu,!" jelas Lurah Trilaya itu.


" Ohhh, kalian ber dua Prajurit Balasewu , !" seru Mpu Thanda kemudian.


" Iya Mpu, kami ber dua adalah prajurit Balasewu dan masih di bawah ke an dari senopati Naja Pratanu,!" jawab Lurah Trilaya.


" Angger Pratanu dan istri nya lagi berada di kediaman Ki Thandasain, mungkin nanti sore menjelang malam baru kembali, jika keperluan tidak ter lalu men desak , silah kan Ki Lurah menunggu tetapi jika memang penting, biar ki loso ku suruh untuk memanggil nya,!" kata Mpu Thanda.


" Ahh, tidak perlu merepot kan Mpu, biar kami ber dua saja yg menemui nya di rumah ki Gede itu, bukan begitu adi Dipangkara,!" kata Lurah Trilaya kepada teman nya itu.


" Benar Mpu, biar kami saja yg akan menemui Senopati Naja Pratanu itu,!" ucap Lurah Dipangkara.


" Kalau begitu ter serah Ki Lurah berdua,!" jawab Mpu Thanda.


" Kami mohon pamit Mpu, karena urusan ini cukup penting untuk segera di sampai kan,!" ujar Lurah Trilaya kepada Mpu Thanda.


" Silah kan, silah kan,!" jawab Mpu Thanda.


Kemudian Kedua Lurah prajurit Balasewu itu segera ber gerak menuju ke kediaman dari Ki Gede Thandasain itu.


Karena kedua nya ingin segera ber temu dengan Naja Pratanu , selepas dari kediaman Mpu Thanda, kedua nya segera menge trapkan ilmu meringan kan tubuh nya sehingga dalam waktun yg sekejap saja mereka telah sampai di kediaman dari Ki Gede Thandasain itu.


Melihat hal itu Lurah Trilaya ber jalan sendiri men datangi tempat itu yg langsung di sapa oleh Naja Pratanu.


" Ehh, Lurah Trilaya dengan siapa datang nya apakah seorang diri,?" tanya Naja Pratanu kepada Lurah Trilaya.


" Kami datang ber dua dengan adi Dipangkara, dan ingin mem beritahukan sesuatu kepada Senopati , dan ini rahasia,!" ter dengar suara Lurah Trilaya pelan seolah ber bisik.


" Ahhh, tidak mengapa , suruh Lurah Dipangkara kemari kita mem bicara kan nya di sini saja,!" ter dengar perintah Naja Pratanu yg saat ini jadi Senopati prajurit sandi pamotan dan mem bawahi para prajurit sandi pamotan ter masuk kedua Lurah prajurit itu.


Kemudian Lurah Trilaya membawa masuk Lurah Dipangkara, duduk ber sama Ki Gede, istri ki Gede, Rara Tantri dan putra nya serta Larasati yg juga berada di situ.


" Apakah ada sesuatu yg penting sehingga Ki Lurah ber dua harus menemui Aku,?" tanya Naja Pratanu.


" Demikian lah kira nya Senopati, bahwa kami ber dua telah melihat,....!" ucapan dari Lurah Trilaya ter putus seolah masih sungkan untuk menyebut kan takut di dengar orang lain yg ber pihak kepada musuh.


" Terus kan cerita mu Ki Lurah, di sini adalah orang kita semua tiada yg lain yg mesti di takut kan,!" seru Naja Pratanu kepada Lurah Trilaya itu.


Setelah mantap akan penjelasan dari Naja Pratanu itu barulah Lurah Trilaya melanjut kan cerita nya.


" Ketika kami berdua melintasi perbatasan antara Daha dan Kotaraja Majapahit itu tepat nya di daerah kandangan kami melihat per gerakan dari beberapa prajurit Majapahit yg menurut kami cukup banyak,!" jelas Lurah Trilaya.


" Benar kah demikian Lurah Dipangkara ,?" tanya Naja Pratanu kepada Lurah Dipangkara.

__ADS_1


" Benar Senopati, bahkan sebahagian dari para prajurit itu membawa beberapa buah pedati yg tampak nya bakal di perguna kan untuk membawa barang bawaan, dan jangan-jangan itu untuk,...!" kalimat dari Lurah Dipangkara itu ter putus dan di lanjut kan oleh Naja Pratanu sendiri,


" Membawa hasil curian dari Daha ini,?" tanya nya.


" Demikian lah pendapat kami, tampak nya para prajurit Majapahit akan menyasar kadipaten Daha ini sebagai incaran pencurian dari lumbung-lumbung padi nya,!" kata Lurah Trilaya.


" Ini tidak boleh terjadi, kapan kalian berdua melihat nya ?'' tanya Naja Pratanu kepada Lurah Trilaya.


" Pagi ini, oleh sebab itu kami langsung kemari bahkan kami telah singgah di rumah orangtua dari Adipati Pamotan untuk menemui Senopati akan tetapi kami tidak ber temu, oleh Mpu Thanda kami di beritahu kan untuk datang kemari,!" jelas Lurah Trilaya.


" Kalau begitu Ki Lurah ber dua silah kan kembali ke perbatasan, lihat lagi apa yg mereka lakukan, dan sebelum pagi kalian harus sudah tiba lagi di sini, sementara Aku akan melapor kan hal ini kepada Gusti Adipati Daha,,!" ter dengar perintah dari Naja Pratanu.


Ia kemudian ber gegas keluar dari pendopo itu dan ber jalan ke arah belakang rumah Ki Gede dan mengambil se ekor kuda yg besar, dan kemudian menggiring nya ke depan .


Sementara kedua Lurah prajurit Balasewu itu kembali lagi ke perbatasan untuk mengamati per gerakan pasukan kecil dari Kotaraja Majapahit itu.


Secepat nya Naja pratanu meng gebrak kuda nya supaya ber lari kencang, karena sebenar nya jarak antara tanah perdikan Thandasain dengan Kota Daha tidak ter lalu jauh sehingga belum ter lalu malam ia sudah sampai di Kota Daha itu.


Adalah Prajurit kadipaten Daha ter kejut dengan kedatangan kembali dari Naja Pratanu itu karena baru beberapa hari saja dari tempat itu, akan tetapi karena melihat ketergesa-gesa annya, prajurit itu tidak berani ber tanya.


Bahkan prajurit yg mengawal Istana kadipaten Daha pun tidak dapat ber buat apa-apa, ketika Naja Pratanu meminta ingin bertemu dengan Adipati Daha itu.


Sehingga menjelang tengah malam, Naja Pratanu ber temu dengan Adipati Daha dan langsung mem bicara kan tentang masalah nya.


" Demikian lah Gusti Adipati, tampak nya mereka akan mencuri dari kadipaten Daha ini, dan kami harap Gusti Adipati mem perketat penjagaan dari beberapa Lumbung kadipaten Daha ini,!" kata Naja Pratanu kepada Adipati Daha.


Setelah men dengar penuturan dari Naja Pratanu, Adipati Daha segera memerintah kan beberapa Tumenggung untuk mem perketat penjagaan tempat perbekalan yg ada di Daha itu.


Sementara Naja Pratanu segera kembali ke tanah perdikan Thandasain.


Dan di rumah Ki Gede Thandasain itu, ia bertemu kembali dengan Lurah prajurit sandi itu.


" Nampak nya mereka akan ber gerak nanti malam seperti yg telah kami dengar ,!" ucap Lurah Trilaya kepada Naja Pratanu.


" Apakah mereka akan kesini atau ke kota kadipaten Daha,?" tanya Naja Pratanu.


" Kelihatan nya mereka akan menuju kota Daha tidak kemari,!" jawab Lurah Trilaya lagi.


" Baik lah kalau begitu, silah kan ki Lurah berdua ber istrahat, karena tenaga Ki Lurah ber dua nanti malam akan sangat di perlu kan,!" kata Naja Pratanu.


" Apakah kita akan membantu Kadipaten Daha mengatasi masalah ini,?" tanya Lurah Dipangkara.


" Ya kita harus saling bahu mem bahu dengan Daha, dan apabila serangan itu mengarah kemari, kita pun akan meminta bantuan dari kota Daha,!" jelas Naja Pratanu.


" Baik lah Senopati, kami akan segera ber istrahat sebentar,!" kata Lurah Trilaya.


" Silah kan biar Aku yg menjaga kalian, karena sebentar lagi pun mentari akan segera terbit,!" kata Naja Pratanu.


Kedua Lurah prajurit Balasewu itu berusaha tidur di pendopo rumah Ki Gede Thandasain , sementara Naja Pratanu menunggui kedua nya ber sama beberapa pengawal Tanah perdikan Thandasain itu.

__ADS_1


Setelah matahari terbit ufuk Timur baru lah Naja Pratanu yg berusaha untuk sekedar memejam kan mata nya karena hampir semalaman ia tidak ter tidur.


__ADS_2