BARA Di Atas Tanah MAJAPAHIT Dalam Episode 2: Satria Dari DAHA

BARA Di Atas Tanah MAJAPAHIT Dalam Episode 2: Satria Dari DAHA
episode 12 Mendung di langit Pamotan bagian ke enam.


__ADS_3

" Baik lah, Nyai kalau engkau tidak mau tunduk dan patuh terhadap perintah ku secara baik--baik Jangan salah kan aku jika padepokan mu ini musnah dari muka bumi ini,!" kata Ki Cagak Warangan seraya memberi isyarat kepada anak buah nya untuk menyerang.


Tanpa di perintah untuk kedua kali nya komplotan begal alas Mentaok itu pun segera menyerang murid padepokan Nyai Dewi putrani wijaya, di tengah malam yg kelam itu terjadi lah pertarungan antara dua sisi yaitu dari padepokan Nusakambangan yg semua nya adalah Perempuan di satu sisi melawan komplotan begal alas Mentaok yg semua nya laki-laki di sisi yg lain guna mengadu jiwa, masing-masing mempertahan kan sikap nya.


Nyai Dewi putrani wijaya segera di keroyok oleh pimpinan Rampok alas Mentaok yaitu Ki Cagak Warangan dan ki Suda kampil, mereka ingin segera melumpuhkan Pemimpin padepokan Nusakambangan itu dengan cepat.


Namun kali ini Nyai Dewi tidak sendiri ia di dampingi oleh salah seorang cantrik terbaik nya, Ragini. Kalau Nyai Dewi berpergian Nyi Ragini inilah yg mengantikan posisi Nyai Dewi memimpin padepokan itu.


Tandang Nyi Ragini sangat hebat Karena ia seperti seorang laki-laki, bertubuh tinggi dan besar tidak seperti Tantri dan Untari yg ramping dan berwajah cantik.


Maka Pemimpin Rampok alas Mentaok itu harus bekerja keras untuk menghadapi kedua nya.


Beberapa kali selendang Nyi Ragini hampir menemui sasaran nya yaitu Ki Suda Kampil, terpaksa lah orang nomor dua dari Mentaok itu mengerahkan segenap kemampuan nya untuk menghindari serangan dari Nyi Ragini tersebut.


Sementara Ki Cagak Warangan berhadapan satu lawan satu dengan Nyai Dewi membuat nya tidak bisa terlalu banyak berbuat, di tambah lagi saat itu Nyai Dewi menyempurnakan salah satu ilmu yg di miliki nya yaitu ilmu pelumpuh sukma dari aroma wangi yg menebar ketika selendang nya berkelebat, hasil dari ramuan kembang diwala amerta dengan kembang wijaya


Hanya Tantri yg agak kerepotan menghadapi ki Lawa ireng, karena orang nomor tiga Alas Mentaok itu telah memahami dengan pergerakkan dari Tantri itu.


Melihat teman nya yg agak kerepotan, akhir nya Untari datang membantu meski dengan perut yg sudah sangat besar tetapi tidak mengurangi kemampuan nya dalam bertempur hanya ia agak terbatas melakukan pergerakkan , tetapi demikian pun sangat membantu Tantri yg saat di Alas Mentaok di pecundangi oleh Ki Lawa ireng dengan mudah nya, berbeda dengan kali ini.


Tetapi Ki Lawa cukup cerdik ia segera mencecar Untari yg sangat lamban itu, Ki Lawa irsng bermaksud melumpuh kan salah satu dari lawan nya itu, sehingga selanjut nya akan mudah di hadapi.


Ternyata siasat itu di ketahui lawan. Tantri terus mengibas kan selendang nya untuk menghenti kan serangan Pemimpin begal alas Mentaok itu.


Terpaksa lah Ki Lawa ireng mengurung kan niat nya dan memberi kan serangan balasan kepada Tantri.


Perlahan namun pasti,dewi malam terus bergerak menuju ke peraduan nya begitu pun kondisi pertempuran yg terjadi di padepokan Nyai Dewi putrani tersebut.


Perlahan-lahan gerombolan rampok Alas Mentaok itu pun mulai terdesak, karena lawan mereka kali satu lawan satu maka yg paling cepat ter desak adalah para anggota dari kawanan rampok tersebut.


Mereka ter kena pengaruh dari ilmu pelumpuh sukma yg ada di ujung selendang para cantrik tersebut sehingga semakin lama mereka bertarung semakin dalam pengaruh dari aroma itu, seakan-akan mereka di buat mabuk dan pusing, sehingga satu persatu anak buah rampok Alas Mentaok itu pun harus tersungkur.


Berbeda dengan ketiga Pemimpin nya yg biasa bermain main dengan racun, ketika hidung mereka mencium aroma yg lain yg keluar dari selendang tersebut ketiga nya segera menotok indera penciuman nya hingga pengaruh dari ilmu tersebut tidak seberapa .

__ADS_1


Menjelang fajar menyingsing hampir separuh dari anggota begal Alas Mentaok itu yg telah tumbang.


Ki Cagak Warangan amat gusar melihat keadaan itu, ia pun segera melibat Nyai Dewi putrani wijaya dengan cepat, golok nya berputaran cepat sekali di selingi lontaran-lontaran senjata rahasia.


Namun Nyai Dewi tidak kalah trengginas, hawa balas dendam terlihat pada pertarungan kali ini, Si selendang maut yg di pecundangi di Alas Mentaok kala itu merasa mempunyai kesempatan untuk membalas perlakuan Ki cagak Warangan kali ini.


Nyai Dewi tetap menjaga jarak pertarungan nya, hingga golok dari Ki Cagak Warangan sangat-sangat tidak berguna. Akhir nya pemimpin kawanan rampok Alas Mentaok itu berupaya membabat putus selendang Nyai Dewi. Namun usaha itu pun cukup sulit.


Suatu saat selendang maut itu di tarik sendal pancing sesaat kemudian telah meluruk dari atas kepala Ki Cagak Warangan.


Yg tak kalah kerepotan adalah Ki Suda Kampil, melawan seorang perempuan yg bertubuh tinggi besar yg tidak terlalu banyak bergerak namun selendang bergerak seolah mempunyai mata, ke mana ki Suda kampil berada selendang tersebut pun ada.


Kali ini Ki Suda Kampil benar-benar dalam tekanan berbeda saat di Mentaok kala itu, ia dan Ki Cagak Warangan mampu mempeecundangi Nyai Dewi yg seorang diri sehingga hampir mereka kalah kan andaikata Naja Pratanu dan Larasati tidak datang menolong.


Saat Mentari telah menerangi bumi nampak lah anggota rampok alas mentaok itu tinggal lima orang yg masih mampu melakukan perlawanan sedang yg lain nya telah tumbang tanpa bisa bangkit lagi, ternyata cantrik Nyai dewi itu ilmu silat nya merata tidak terlalu jauh berbeda.


Sehingga kelima orang anggota kawanan begal yg tersisa pun cepat mereka habisi, mereka geram mendengar cerita dari guru mereka ketika di alas Mentaok mereka berdua bersama Tantri di buat tidak berdaya.


Dan memang benar seperti yg di pikir kan dari Ki Lawa ireng, para cantrik itu segera mengeroyok ia dan Ki Suda Kampil, merasa tidak mungkin memenangkan pertarungan lagi Ki Lawa berpikir untuk melarikan diri, ia tidak mau mati di pulau itu. Sambil memikirkan bagaimana cara nya, mata Ki Lawa ireng melihat seorang bocah kecil yg keluar dari dalam padepokan itu dengan niat buang hajat. Ya Wiradamar yg satu malam suntuk melihat pertempuran itu akhir nya kebelet ingin buang air.


Melihat kesempatan yg bagus itu tidak di sia siakan oleh Ki Lawa ireng, dengan satu lompatan yg panjang, ia menjangkau tubuh Wiradamar yg masih berdiri untuk membuang air kecil, sehingga percikan masih mengenai wajah dari Ki Lawa ireng, namun Ki Lawa ireng tidak peduli secepat itu pula ia menggendong Wiradamar dan segera memalangkan golok nya di leher bocah kecil itu.


" Puihh, Siapa yg berani maju, leher bocah ini putus,!" Gertak ki Lawa ireng sambil meludah akibat mulut nya kemasukan pipis Wiradamar, namun ia tidak perduli.


Seluruh penghuni padepokan itu terdiam bahkan pertarungan antara Nyai Dewi de ngan Ki Cagak Warangan pun terhenti, demikian pula dengan Nyi Ragini dengan Ki Suda Kampil pun demikian, mereka semua terpaku melihat Wiradamar yg telah di sandera oleh Ki Lawa ireng itu.


" Cepat kalian menyerah atau nyawa anak ini jadi taruhan nya,!" kembali terdengar teriakan dari Ki Lawa ireng menggema di pagi hari itu.


Segera ketiga pemimpin Rampok alas Mentaok itu berkumpul dengan Ki Lawa ireng karena memang tinggal mereka yg masih bertahan hidup, seluruh anggota nya telah terkapar.


Hati Tantri amat ketakutan melihat putra dari orang yg di cintai nya itu dalam keadaan di ujung tanduk di sandera Iblis penebar maut dari Alas Mentaok itu.


" Lepas kan anak itu, jika kalian memang jantan mari kita bertarung sampai mati,!" ucap Tantri dengan keras.

__ADS_1


" Heh, siapa sudi, kalian sebaik nya yg menyerah atau nyawa anak ini, cepat lakukan perintah ku, sebelum kemarahan ku benar-benar sampai puncak nya,!" kembali gertakan Ki Lawa ireng yg terus melekat kan golok nya semakin rapat di leher Wiradamar, namun aneh nya bocah itu diam saja, ia tidak nampak ketakutan.


Adalah Nyai Dewi yg berkata kemudian selaku pemimpin padepokan Nusakambangan, " Baik lah kami menyerah dan kami mohon lepas kan anak itu,!"


" Cepat ikat tangan kalian," terdengar perintah dari Ki Lawa ireng lagi.


" Kau, kau dan kau, cepat ambil tambang ikat tangan teman mu itu,!" perintah dari Ki Lawa ireng.


Tiga orang cantrik yg di tunjuk tadi segera melaksanakan perintah itu setelah mendapatkan anggukan kepala dari Nyai Dewi .


Ketiga nya kemudian mengikat seluruh cantrik padepokan itu termasuk Tantri, Untari, Ragini juga Nyai Dewi.


Setelah nya pun ketiga cantrik itu pun di ikat oleh Ki Suda Kampil.


Maka seluruh penghuni padepokan itu telah terikat tangan nya. Maka Ki Cagak Warangan segera mendekati Rara Tantri, Kepala rampok Alas Mentaok itu memang ke sengsem dengan Tantri.


" Bagaimana cah ayu, mau kan jadi istri ku ,!" seru nya kepada Tantri sambil golok nya di permainkan di wajah Tantri kemudian turun ke leher bahkan ke dada gadis tersebut membuat wajah Tantri merah padam.


" Kalau lepas kan aku mari kita bertarung sampai mati,!" kata Tantri berang.


" Wah ngapain bertarung sedang kan Cah ayu sudah berada di genggaman ku, hanya membuang tenaga saja, lebih baik Cah ayu memikirkan bagaimana cara menyenang kan Aku,!" kata Ki Cagak Warangan.


" Lebih baik mati daripada harus bersama orang gila sepertimu,!" ucap Tantri kalap.


" Kampil segera bawa tiga orang ini untuk kita jadi pangewan ewan di Mentaok,!" perintah dari Ki Cagak Warangan kepada Ki Suda Kampil yg kemudian memilih dua orang lagi cantrik dari Nusakambangan itu yg akan mereka bawa ke Alas Mentaok menemani Tantri.


Setelah di kumpul kan ketiga orang itu maka terdengar perintah lagi dari Ki Cagak Warangan,


"Habisi mereka segera jangan sisa kan seorang pun ,!" tukas pimpinan Rampok alas Mentaok itu.


" Baik Kakang Warangan,!" jawab Suda Kampil yg mendekati para cantrik tersebut dengan golok terhunus, siap untuk menjadi algojo untuk mengahabisi penghuni padepokan nusakambangan itu.


---------------,,,,,,,,,,,,,,'''''''''''''''''-------------------------

__ADS_1


__ADS_2