Bocah! Saranghae!

Bocah! Saranghae!
Di Taman


__ADS_3

"Dy. Kamu dimana? Kesini sekarang. Serly ngilang," ucapnya tanpa tahu kalau yang mengangkat telepon tersebut adalah George.


"Siapa? Serly? Tante maksudnya?" tanya George dengan raut wajah yang seketika berubah cemas.


Dewi yang baru ngeh sama suara orang yang mengangkat teleponnya, terdiam sejenak.


"Dew!"


"Ah, iya. Serly. Pacar kamu. Dia ngil-" 


Belum juga Dewi menuntaskan ucapnya, George sudah memutuskan panggilan tersebut secara sepihak, lalu melangkah dengan diterangi lampu senter dari ponsel milik sahabatnya itu.


"George." 


Baru juga beberapa langkah dia mengayunkan kakinya, ada seseorang yang memanggilnya dan suaranya sangat ia kenali.


Dia segera mendongak dengan lampu senter ia sorotkan pada orang yang berdiri tidak jauh darinya.


"Ah, silau, George," desahnya.


George langsung menurunkan cahaya senter tersebut, dan berlari menghampirinya.


Bruk!


Dia langsung memeluknya hangat. Rasa rindu akan beberapa jam tidak bertemu dengannya, ia lampiaskan sekarang. Melupakan tujuan awal kenapa tadi ia mencemaskannya dan melupakan bekas operasi di tangannya.


"George-"


"Biarkan aku memelukmu, Tante," potongnya sembari mengendus aroma tubuh Serly… dengan perasaan hampa dan kecewa.


Serly menghela napas, dan membiarkan George untuk memeluknya hangat.

__ADS_1


"George-"


"Aku tahu," potongnya, tidak mau mendengar apa yang akan dikatakannya.


"Tapi, George."


"Diamlah. Aku hanya meminta waktu sebentar saja sebelum Tante benar-benar jatuh dalam pelukan orang lain," ucapnya lirih.


Serly menghela napas sembari menundukkan kepalanya. "Maafkan aku, George," ucapnya pelan.


George tersenyum seraya melepaskan pelukannya. Dia menatap wajah yang hanya samar-samar saja kelihatannya.


"Aku yang seharusnya minta maaf," ucapnya dengan air mata berhasil menetes, tapi segera ia seka kasar.


"Maaf telah membuat Tante sakit selama bersamaku. Maaf juga telah membuat Tante harus berjuang untukku." Satu tetes air matanya terjatuh lagi, dan segera ia usap.


Kemudian tersenyum manis menatap Serly. "Maaf karena aku tidak bisa membahagiakan Tante. Dulu… dan selamanya. Maaf aku. Maafkan aku, Tan. Maafkan aku." 


Serly tersenyum, dan menyeka air mata yang ikut menetes juga. Lalu, memegang bahunya lembut.


"Aku sudah memaafkanmu, George," ucapnya lembut.


George mendongak dengan derai air mata. "Semoga Tante bahagia dengannya." Untuk sekali lagi, George memeluk tubuhnya erat. Melupakan rasa sakit di pergelangan tangannya.


Serly mengangguk samar, dan membalas pelukannya.


"Maafkan aku, George. Maaf karena aku belum bisa memberitahumu kalau aku tidak jadi tunangan dengannya," batinnya dengan kedua tangan mengelus punggung George pelan.


Mereka terbuai dalam suasana rindu juga kecewa sama kisah cintanya.


"Jika aku bisa memilih ... aku ingin berhenti disini. Di tempat ini. Bersamamu. Berdua. Tanpa ada seorang pun yang akan memisahkan kita lagi," batin George lirih.

__ADS_1


Lalu, ia menyeka air matanya dan tersenyum berusaha untuk tegar.


"Sekarang Tante pulang, ya! Orang-orang pada nyariin Tante," ucapnya pura-pura biasa.


Serly menatapnya nanar.


"Dan untuk besok. Aku minta maaf jika aku tidak akan hadir di pesta, Tante."


Serly menatapnya dalam. Berusaha mencari ketulusan dalam matanya yang hanya terlihat samar.


"George-"


"Aku tidak apa-apa, Tan. Gak usah khawatirkan aku."


Serly menggeleng. "Jangan bohong, George."


Hhhh ….


George membalikkan tubuhnya, melangkah mendekati kursi yang tadi, lalu mendudukinya.


"Walaupun aku jujur," jedanya kembali menangis, "Tante sudah tidak akan mungkin bisa kumiliki lagi," ucapnya dengan tangan meremas pahanya kuat.


Darah segar mengalir dari pergelangan tangannya yang terluka. George mendesis, tapi menepisnya.


Sebab, rasa sakit yang ada di dalam hatinya 10 kali lipat dari lukanya itu.


Serly menatapnya sedih. Lalu melangkahkan kakinya mendekati kursi yang George duduki.


"Mungkin kata terlambat itu akan berguna, jika kamu menyerah untuk mengejarku lagi," ucapnya seraya duduk di samping George. Menatap langit yang begitu gelap, tanpa adanya bintang satu pun.


George meliriknya tidak paham, dan kembali menunduk meratapi rasa sakitnya.

__ADS_1


"Aku ingin kamu Kembali seperti yang aku kenal. Yang pantang untuk menyerah demi bisa mendapatkan kebahagiaan nya."


__ADS_2