Bocah! Saranghae!

Bocah! Saranghae!
George Dikurung, Serly Murung


__ADS_3

Selama seminggu ini, George tidak bisa kemana-mana. Ia dikurung didalam kamar oleh ibunya.


Makanan dan minuman para pembantu dirumahnya lah yang mengantarkan langsung kedalam kamar.


"Silahkan, Den." ucapnya sambil meletakkan sebuah nampan berisi makanan juga minuman.


"Bawa saja. Aku lebih baik mati daripada harus dikurung kayak gini," jawabnya sambil terus bergelung didalam selimut tebal.


"Aden. Aden jangan ngomong gitu," kata Bibi yang selalu menemani George selama ini.


"Aku mau susul Adek, Bi. Lebih tenang." kata George putus asa.


"Aden!" seru Bibi sambil memeluk tubuh George hangat.


"Aden! Aden jangan bicara seperti itu."


"Aku udah gak sanggup, Bi. Mamah selalu menentang segalanya tanpa ia tau kalo aku itu kesepian. Aku hanya ingin merasakan cinta dan kasih sayang, Bi. Gak lebih." jelasnya terisak sedih.


"Sabar, Den. Mungkin Nyonya masih sibuk, Den." hiburnya.


"Mereka terus aja sibuk, sibuk, dan sibuk. Kapan waktunya buatku, Bi! Kapan?" tanyanya lirih.


"Masih ada Bibi, Den. Aden gak usah sedih. Bibi akan selalu ada buat Aden."


"Itu beda, Bi. Aku ingin merasakan bagaimana rasanya diperhatiin, diprioritaskan oleh orangtua kandungnya sendiri. Aku hanya menginginkan itu, Bi. Hanya itu." jelasnya.


"Sabar, Aden. Mereka sibuk juga buat masa depan Aden."


"Bukan. Mereka hanya haus akan harta dan tahta. Tanpa tau kalo disini aku tersiksa," jawabnya dan menarik selimut tersebut sampai menutupi kepalanya.


"Bibi keluar, lah. Aku lagi ingin sendiri. Semua makanan dan minuman bawa saja. Percuma disimpan juga aku tidak akan pernah memakannya." kata George seperti mengusir.


"Aden!" seru Bibi lirih. Ia merasakan sakit memdengarnya.


"Aku minta maaf, Bi."


Bibi mengusap air matanya yang telah jatuh membasahi pipinya. Ia melepaskan pelukannya dari tubuh George dan melangkah membawa semua makanan yang sudah basi dingin.


George selalu saja begitu. Ia tidak memakan semua makanan yang di bawakan oleh siapapun untuknya.


Kecuali,


George hanya ingin makan makanan yang Haddy bawakan untuknya.


"Tan. Aku kangen!" ucapnya lirih.


George membuka selimut yang membungkus dirinya dan langsung duduk bersandar pada kepala ranjang.


Ia meraih ponsel yang selalu ia taru diatas meja.


"Tan. Kenapa kamu tidak mau mengangkat panggilan dariku? Apa Tante mencoba untuk menjauhiku?" gumamnya lirih.


George menekan satu nomor yang 4 hari lalu Haddy kasih.


Tut....


Panggilan tersambut, namun tidak diangkat.


"Tan. Kumohon. Angkatlah. Aku ingin mendengar suaramu walau hanya sedetik saja." ucapnya dengan raut wajah memohon.


"Panggilan sedang dialihkan"


"Astaga, Tante!" gumamnya sambil menghela naps berat.


Kemudian George langsung menghubungi seseorang untuk mencari tahu tentangnya.


"Dy. Kamu ke toko, ya?"


"......"


"Biasa," jawab George.


"......"


"Ok. Sekalian kamu rekam. Dia gak pernah sekalipun mengangkat panggilanku."

__ADS_1


"......"


"Gue kasih pinjam mobil, deh."


"......"


"Iya. Plus gue kasih tips," jawabnya malas.


"......"


Tut...


George langsung mematikkan panggilannya sepihak.


"Semoga kamu baik-baik saja," gumamnya.


George turun dari atas kasur ingin kekamar mandi.


Ditempat lain,


"Ser. Gak biasanya kamu tutup toko sampe selama ini?" tanya ibunya dari ambang pintu kamar.


"Serly masih enggak enak badan, Bu," jawabnya.


"Kita kedokter, ya?"


"Gak perlu, Bu. Serly hanya sakit biasa aja."


"Tapi kalo dibiarin bisa parah, Ser!"


"Gak, Bu. Serly hanya meriang sedikit."


"Serius?" tanyanya sambil memeriksa dahi, pipi, juga tangan Serly. "Gak panas, ya?" ucapnya heran.


Rasanya Serly pengen ketawa. Tapi untung dia sedang bersedih. Jado tidak terpancing sedikitpun.


"I-ini lagi datang dinginnya, Bu. Ssss, hhhh, ssss," jawab Serly sambil berdesis kayak orang kedinginan.


"Hm. Kalo gitu, Ibu jualan dulu, ya. Udah siang banget ini."


Sepeninggalan Ibu. Serly menatap kosong pada pintu yang sudah ditutup kembali.


"Kenapa sakitnya separah ini, ya Alloh," gumam Serly sedih.


Ia memegang dadanya yang terasa sangat sesak dan sakit.


"Apa harus bisa melupakannya," gumamnya lagi dibarengi air mata yang turun.


Tok....


Tok...


Tok...


"Permisi!" seru seseorang dari luar.


"Permisi!" serunya lagi.


Serly tidak mendengarnya. Ia sedang asyik dengan hayalannya.


Tok...


Tok...


Tok...


"Permisi!" kali ini orang itu mengencangkan suaranya.


Serly langsung tersadar, "Sebentar," jawabnya dengan tergesa-gesa turun dari atas kasur.


Serly membuka pintu yang terus-terusan di ketoknya.


"Deng...., Haddy!" serunya Serly kaget.


Ckrekkk...

__ADS_1


Haddy langsung memotret wajah Serly yang kusut, kusam, tidak ceria sedikitpun.


"Eeeeh. Ngapain kamu tadi. Hapus!" titahnya kesal.


"Kenapa lo gak mengangkat panggilan dari sahabat gue?" tanyanya to the point.


Serly langsung menunduk lemas. Ia kemudian berjalan masuk kedalam rumah, dan Haddy mengikutinya dari belakang.


"Tan. Lebih baik kalian perjuangin cinta kalian daripada malah saling menyakiti kayak gini."


"Kamu gak tahu, Dy,"


"Aku tau. Aku sudah tau semuanya." potongnya.


Hahhh....


Serly menghela nafasnya panjang.


"Tan. Aku kasian liatnya murung terus. Sakit aku melihatnya kayak gitu."


"Kamu pikir aku tidak merasakannya."


"Maka dari itu. Kalian jadikan itu sebagai penguat hubungan kalian. Rintangan kecil buat kalian menuju bahagia."


"Ini orangtua, Dy."


"Iya. Tapi apa salahnya kalian berjuang terlebih dahulu. Jangan kalah sebelum mencoba."


"Tapi, Dy."


"Asal kamu, Tan. George tidak pernah makan selama seminggu ini." ucapnya.


Serly langsung menatapnya tajam, "Kenapa?"


Haddy mengendikkan bahunya. "Selama ini aku kesini seperti seorang miskin hanya buatnya."


"Maksud kamu?"


"Iya. Selama ini aku minta makanan kesini untuk dia. SI BUCIN." jelasnya.


"Hah."


"Dan hari ini aku juga mau minta itu lagi."


"Apa?"


"Nasi. Tapi mau nasi goreng komplit dengan lauknya."


"Hah."


"Itu yang dia order, Tan."


"Ih. Enggak, ah."


"Tan. Ini menyangkut nyawa orang, loh." ucap Haddy merayu Serly.


"Itu kemauannya."


"Tan. Cobalah lebih dewasa darinya. Aku udah pusing jadi kurir cinta kalian."


Serly menajamkan tatapannya.


"Ayolah, Tan. Entar aku tidak akan bisa minjem mobilnya lagi buat bawa si Endew."


"Endew? Siapa?"


"Ih itu. Yang kerja di toko, Tante."


"Haih."


"Ya, ya, ya. Ayolah, Tan. Mau kan , ya?"


"Hm."


Serly langsung bangkit melangkah kearah dapur.

__ADS_1


"Ah. Ayang Endew. I COMING, BABY." gumamnya membayangkan.


__ADS_2