Bocah! Saranghae!

Bocah! Saranghae!
Semakin Ingin Meluluhkannya


__ADS_3

Seorang wanita paruh baya yang tidak sengaja melihat hal itu, bergegas melangkah mendekati mereka berdua.


"George!" ucapnya sangat kuat dan kencang, "apa-apaan kalian, hah?!" tambahnya dengan sorot mata yang tajam penuh permusuhan… juga kedua belah tangan yang mengepal erat.


Teriakannya tersebut berhasil mencuri perhatian semua orang yang ada disana. Mereka menatap George yang tengah menikmati sesuatu yang kenyal di wajah Serly heran.


George menghela nafas dan melepaskan ciuman tersebut secara perlahan.


Keduanya berdiri dengan tatapan sinis George perlihatkan padanya. Sedangkan Serly, dia menunduk malu juga takut melihat sorot matanya.


"Apa yang kalian lakukan?" tanyanya lagi dengan tatapan jijik tertuju pada Serly.


George diam, malas untuk menjawabnya.


"Dasar wanita rendahan! Gak tahu malu! Bisa-bisanya memancing anak saya untuk melakukan hal tidak senonoh seperti itu?" makinya menatap Serly tajam.


Serly yang merasa direndahkan seperti itu ditempat umum lagi, semakin menenggelamkan kepalanya dengan dada yang bergemuruh, sesak juga sakit.


George memutar bola matanya malas. Kemudian menatap mamanya tajam. "Sudah puas?" tanyanya santai.


"George!"


George mengedarkan tatapannya, melirik semua orang yang dengan asyiknya menonton perdebatan mereka. "Apa, Mah? Apa, sih, yang sebenarnya Mamah inginkan?" tanyanya masih dengan nada santai.

__ADS_1


Mamanya terdiam.


"Sebegitu susah dan bencinya Mamh sama Tante?" George menatap seorang Pria yang tengah melangkahkan kakinya mendekati mereka berdua.


"Ingat, Mah. Aku sudah keluar dari rumah itu. Jadi, gak berhak sama sekali Mamah mengatur-ngatur hidupku lagi!" George mengepalkan kedua tangannya menahan amarah. Nada bicaranya sedikit meninggi.


Dia berbalik sembari meraih sebelah tangan Serly lembut.


"George! Jaga sopan santunmu! Mamah adalah orang tuamu!" tegasnya.


George tidak menggubris. Dia terus melangkahkan kakinya menjauh dari ruangan tersebut.


"George!"


Serly yang merasa tak enak, langsung menghentikan langkahnya dan berbalik menatap George penuh ketulusan.


"George-"


"Tapi, George. Dia ibumu."


George menunduk, menarik nafasnya panjang. "Buat apa sekarang dia ikut campur, Tan? Sedangkan dulu dia sangat tidak memperdulikanku," jawabnya lirih. Dadanya terasa sesak melihat mamanya yang sangat keras kepala terus merendahkan Serly.


"Seharusnya kamu bersyukur, George. Sekarang dia sudah peduli padamu."

__ADS_1


"Itu bukan peduli, Tan. Mamah mencoba untuk menjauhkan aku dari Tante!"


"George-"


"Tan. Aku masih butuh waktu untuk memulihkan semuanya," jawabnya dan melangkah duluan, meninggalkan Serly sendirian disana.


"George!" Serly segera melangkah mengikutinya. Dia berjalan berdampingan dengan George menuju halaman rumah.. dimana motor Haddy tadi terparkir.


"Maafkan semua perlakuan mamaku yang terus merendahkan Tante," ucapnya seraya naik ke atas motor. Wajahnya terlihat sangat dingin, tak ada senyum ceria yang begitu menggemaskan di wajahnya.


Serly menghela nafas, lalu ikut naik ke atas motor, memeluk pinggangnya hangat. "Semua perlakuan yang mamamu lakukan padaku… membuatku semakin bersemangat untuk bisa meluluhkannya."


George tersenyum dan melajukan motor tersebut menuju ke rumah Haddy… untuk mengambil beberapa pakaian ganti disana.


Kemudian ia kembali melaju motor tersebut dan berhenti di depan sebuah halam toko yang masih dibuka.


"Ck. Lama amat, lo! Sampe lima belas gaya gue lakukan dengan Ayank," ucapnya ceplas-ceplos.


George memutar bola matanya malas. Kemudian meraih tangan Serly, membawanya masuk ke dalam toko.


.


.

__ADS_1


Like and Komen**nya🙏🙏🙏


Terima kasih💜**


__ADS_2