Bocah! Saranghae!

Bocah! Saranghae!
Kok Tampan?


__ADS_3

"Ya ampun, Ser. Kamu ngapain ujan-ujanan?" sang ibu yang sedari tadi menunggunya di teras rumah terkejut melihat Serly juga George yang hujan-hujanan.


George membungkukkan tubuhnya, dan Serly segera turun.


"Buruan masuk. Dan ganti bajunya. Nanti masuk angin."


Serly mengangguk.


"Bagaimana denganku, Tan, Bu?" tanyanya bingung dengan keadaannya sendiri.


"Ganti juga, Nak. Ada pakaian suami Ibu yang mungkin pas di tubuhmu."


George tersenyum sumringah. "Makasih banyak, Bu."


Kemudian mereka masuk bersama-sama ke dalam rumah, dengan Serly yang duluan membersihkan tubuhnya.


Selang beberapa menit, Serly keluar sudah lengkap dengan pakaian hangatnya.


"Kamu bersihkan dulu badanmu … nanti aku cariin baju yang pas!"


George mengangguk, lalu masuk ke dalam kamar mandi dengan sebuah handuk di tangannya.


.


.


Serly melangkah masuk ke dalam kamar ibunya, yang ternyata sang ibu tengah memilah milih pakaian dari dalam lemari.

__ADS_1


"Kenapa, Bu? Apa baju Bapak tidak ada?" tanyanya seraya duduk di sisi kasur.


Ibunya menoleh. "Ibu bingung, Ser. Semua pakaiannya modelan Bapak-bapak. Apa Nak George akan menyukainya?"


Serly tersenyum seraya berdiri di samping ibunya. "Ibu gak usah khawatir … George bukan tipe orang pemilih," ucapnya sambil mengelus bahu ibunya.


"Hm. Kalau begitu, kamu pilihkan saja. Ibu mau nyiapin masakan dulu."


Serly mengangguk. Kemudian dia memilih beberapa pakaian dari dalam lemari, dan menaruhnya di atas kasur.


Satu persatu dia perhatikan sambil membayangkan bagaimana rupa George memakai pakaian yang seperti itu.


Jujur. Dia juga bingung. Apa George akan menyukai dan mau memakai pakaian yang seperti itu?


Tadi, dia bilang seperti itu pada ibunya karena dia tidak mau membuat ibunya jadi kepikiran dan malu untuk meminjamkan baju pada George.


Serly melipat kedua tangan sambil di dada. Kemudian menatap satu kaos berkerah juga kolor pendek yang ia letakkan di atas kasur. Lalu, ia ambil dan bawa ke ruang tamu, yang ternyata George sudah menunggunya disana.


"Eh, George. Kamu udah selesai mandinya?" Serly melangkah mendekati George yang nampak kedinginan.


George tersenyum tipis. Kedua tangannya dia himpit diantara kedua lututnya mencari kehangatan.


"Nih. Suka gak suka… kamu harus memakainya," ucap Serly seraya memberikan baju tersebut ke pangkuan George.


"Apa pun yang Tante berikan… aku pasti suka," ucapnya seraya bergeser merapatkan tubuhnya pada Serly yang baru duduk.


"Sudah sana. Ganti dulu bajunya. Aku tunggu disini." Serly mendorong tubuh George sedikit kuat.

__ADS_1


George merungut. "Dingin, Tan!" ucapnya sambil merentangkan kedua tangannya.


"Suruh siapa ujan-ujanan? Kamu yang mau 'kan?" cibir Serly.


George memonyongkan bibirnya. "Tapi itu seru, Tan. Dan aku mau lagi."


Serly mendelik. "Sudah sana. Ganti di kamarku saja," ucapnya kembali mendorong tubuh George kuat.


"Hm. Ya sudah." George melangkah lunglai menuju kamar Serly dengan pakaian dia peluk di depan dada.


Sesampainya di dalam kamar Serly, George tidak langsung memakai pakaian tersebut. Dia malah terus memperhatikan sekeliling kamar tersebut, dan duduk di sisi kasur.


"Meskipun sederhana… tapi ini sangat rapi dan bersih," ucapnya sambil tersenyum kagum.


Kemudian dia menatap pakaian yang tadi Serly berikan padanya, dan ia bentangkan.


Kedua alisnya menaut. Memperhatikan baju tersebut yang menurutnya aneh.


"Ini baju jaman berapa? Kok kayak gini bentuknya?" George menaik turunkan alisnya aneh.


Kemudian ia meletakan baju tersebut, dan mengambil sebuah kolor yang menjadi setelan baju tersebut.


"Ini pasti jaman aku masih jadi kecebong. Belum mengeram di dalam rahim Mamah;" gumamnya seraya memasukkan baju juga celana tersebut.


Dia memperhatikan penampilannya di depan cermin dengan dahi berkerut.


"Kok tampan?" gumamnya mengagumi wajahnya sendiri.

__ADS_1


__ADS_2