Bocah! Saranghae!

Bocah! Saranghae!
Bocah Tengil Kehausan


__ADS_3

"Pergi kamu dari sini! Pergi!" Dia menarik sebelah tangan Serly kasar, dan menyeretnya sampai ke teras rumah.


Brukkk.


"Jangan pernah datang lagi kesini! Mengerti!"


Serly memejamkan matanya sembari meringis, merasakan sakit yang teramat di area p1nggulnya.


"Pak! Seret dia sampai keluar! Jangan biarkan dia untuk masuk lagi ke rumah ini!"


Pak Satpam yang tengah berjaga di depan gerbang, langsung menoleh dan menghampirinya.


"Bawa dia keluar! Aku gak mau liat mukanya lagi!"


Pak Satpam mengangguk dan mengulurkan kedua tangannya untuk membantu Serly berdiri.


Serly tersenyum dan menerimanya.


"Makasih," ucapnya pelan.


Pak Satpam mengangguk, "mari, Non!" ajaknya lembut.


"Sebentar, Pak!"


Serly menatap mamanya George dengan senyum yang mengembang. "Maaf sudah mengganggu ketenangan Mama," ucapnya lembut.


"Aku kesini bermaksud ingin bersilaturahmi. Jika Mama benar-benar tidak ingin menerimaku… mohon maaf jika aku malah semakin ingin memilikinya."


Mamanya George mendengus sembari melipat kedua tangannya sombong. "Dasar wanita tidak tahu diri! Matre!" ucapnya keras, dan hanya ditanggapi senyuman oleh Serly.


"Berapa banyak uang yang kamu inginkan, hah? 100 juta? 1 milyar? Oke. Aku akan memberinya!"


Serly menggeleng dengan senyum yang tak hilang dari wajahnya.


"Aku hanya ingin sebuah restu darimu," ucapnya tulus.


"Cih. Sampai kapanpun… kau tidak akan pernah mendapatkan restu dariku!"

__ADS_1


Serly menghela napas. "Baiklah. Kalau begitu… jangan salahkan mereka jika aku akan setiap hari kesini."


Seketika bola mata mamanya George membulat tajam.


"Assalamualaikum!" Serly tersenyum sembari membalikkan tubuhnya, mengikuti Pak Satpam yang akan mengantar sampai ke depan gerbang.


"Sekali lagi, makasih, ya, Pak. Sudah membiarkan saya masuk!" ucap Serly seraya berdiri di pinggir jalan, menunggu Taxi yang lewat.


"Gapapa, Non. Bapak akan senantiasa mendukung keberanian, Non, untuk membujuk Nyonya."


Serly tersenyum, kemudian pamit saat sudah ada sebuah Taxi kosong yang lewat ke hadapannya.


"Hati-hati, Non. Salam buat Aden!" ucapnya menatap kepergian Serly.


Serly tersenyum, lalu fokus pada jalanan yang cukup ramai.


****


Waktu sudah menunjukkan pukul 13:40, dan George baru selesai mengikuti semua mata pelajaran untuk hari ini.


Dia melangkah keluar yang diikuti oleh Haddy di belakangnya bersama Rena.


Dia tersenyum dengan sebelah tangan  meraih tangan George.


"Pulang bareng aku, ya! Aku bawa mobil sendiri," ucapnya bergelayut manja di tangan George.


George mengedarkan tatapannya, "aku gak bisa, Dis. Aku lagi banyak urusan," ucapnya seraya melepaskan tangannya.


"Urusan apa, sih, George? Pacar-pacar kamu?" tuduhnya malas.


George mendesah pelan. Lalu, melempar tatapannya pada Haddy yang tengah bermesraan dengan Rena.


"Ck. Gue aduin sama Dewi, noh. Biar tahu rasa lo!" dengusnya sebal.


Haddy mendelik. "Caelah. Gak bisa, ya, lo liat orang lain bahagia. Dikit… aja," ucapnya memanjangkan kata dikit.


George memutar bola matanya malas. "Buruan. Gue tunggu lo di parkiran!" ucapnya seraya melenggang, meninggalkan mereka yang keheranan.

__ADS_1


"Dy. George kenapa, sih? Gak biasanya dia kaya gitu. Apalagi nolak ajakan gue," ucap Gladys menatap kepergian George heran.


"Dia udah dibungkus virus bucin. Makanya jadi alim," jawab Haddy seraya merangkul pundak kedua wanita tersebut.


Gladys mengerutkan dahinya.


"Udeh, udeh. Dia udah kagak bisa dikejar lagi. Mending ama gue aja. Gantengan gue juga kemana-mana daripada dia."


Rena mendengus sebal. "Tadi katanya mau insyaf. Kok tebar pesona lagi!" ucapnya sembari melepaskan rangkulan tangannya.


Haddy terkekeh sambil menggaruk tengkuknya.


"Tenang aja, Ren. Gue gak berselera sama dia. Gue mahir!" ucap Gladys seraya berlalu meninggalkan mereka berdua.


"Ciah. Kuberi jurus kuda lumping… lo tepar!" sungutnya kesal, merasa diremehkan.


Rena yang mendengarnya, cemberut dengan kedua tangan melipat.


"Yaelah. Belum puas aja lo! Buruan. Gue udah gak sabar mau pulang!" George kembali dan menatap keduanya heran.


"Ish. Giliran mau ketemu Tante… lo kayak lagi kebakaran."


George berdecak. "Buru! Atau gue pulang sendiri!" tegasnya seraya berlalu.


Haddy menghela nafas, lalu ia hembuskan pelan. "Ayang. Aku pulang duluan, ya. Maaf gak bisa anter. Bocah tengil udah kehausan. Pengen n3t3!" ucapnya terkekeh sendiri.


"Jangan mengada-ngada, Haddy."


"Aih. Si Ayang. Aku beneran. Kalau Ayang redho… aku juga mau. Xixixixi…."


Rena mendelik malas.


"Yodah. Kiss aja."


Rena menyunggingkan bibirnya, tersipu malu.


"Aihh… Ayangku gemesin."

__ADS_1


Cup.


Haddy mengecup bibirnya gemas. "Bye, bye, Ayang. Sampe jumpa besok," ucapnya seraya berlalu meninggalkannya di sana.


__ADS_2