
George menghela napas. Lalu, menatap bunga yang ada di hadapannya.
"Semangatku untuk saat ini hilang … dan entah kapan akan kembali lagi."
Serly menatapnya lama. "Jika seperti itu, berarti kamu benar-benar sudah melepaskanku?" ucapnya sedih.
George menoleh, "hanya itu yang bisa kulakukan untuk kebahagiaan Tante," ucapnya lirih.
Serly menunduk, memandang jari manisnya yang masih polos. "Padahal, aku sangat ingin melihatmu selalu ada di dekatku," ucapnya, dan membalikkan telapak tangannya.
George yang masih kalut dalam kesedihannya, hanya berdiam diri tanpa menjawabnya, karena tidak paham sama apa yang diucapkannya.
Serly menghela napas, lalu beranjak dari duduknya seraya berkata, "jika kamu benar-benar sudah tidak mengharapkanku lagi … aku akan pulang dan cari yang lain," ucapnya pelan. Kemudian perlahan melangkahkan kakinya pergi dari sana.
George menatap kosong ke arah depan dengan pikiran sibuk mencerna apa maksud dari ucapan Serly barusan.
"Tunggu!" ucapnya setelah sadar dan ngeh dari ucapan Serly barusan.
Serly yang sudah cukup jauh dari tempat George duduk, menghentikan langkahnya tanpa menoleh padanya.
"Tunggu aku, Tan!" ucapnya dengan kasar menyeka semua jejak air mata yang ada di pipinya, dan segera beranjak menghampiri Serly.
Grep!
"Apa itu benar?" ucapnya sembari memeluk Serly dari belakang.
Serly tersenyum tipis seraya menganggukkan kepalanya samar.
George melepaskan pelukannya, lalu membalikkan tubuh Serly untuk menghadap padanya.
"Apa itu benar, Tan?" tanyanya sekali lagi.
Serly mengangguk lagi.
"Serius, Tan?" George menggenggam kedua tangannya erat.
__ADS_1
Serly tersenyum dengan mata tertuju pada wajahnya yang ceria.
"Aaaa … apa aku mimpi?" Dia kembali memeluk Serly erat. Menghirup aroma tubuhnya yang begitu segar dan wangi.
Serly tersenyum. "Berjanjilah padaku. Kamu tidak boleh menangis lagi. Jangan sakiti hatimu hanya karena aku."
George mengangguk dengan kepala yang terasa berat.
Kemudian melepaskan pelukannya, meraih kembali kedua tangan Serly lembut.
Tidak ada cincin yang tersemat.
George menaikkan bola matanya, memandang wajah Serly samar-samar.
Cup!
Tangan yang tengah ia genggam, ia angkat dan dikecup halus.
Bibirnya melengkung. "Jangan tinggalkan aku lagi," ucapnya lemah, dengan jari kelingking ia tautkan dengan milik Serly.
Serly mengangguk dengan senyum termanis untuknya.
Seketika senyumnya hilang, berubah menjadi kecemasan.
"George!" jeritnya, terkejut saat tiba-tiba tubuh George lunglai di dalam pelukannya.
"George," ucapnya lagi seraya menepuk-nepuk sebelah pipinya.
George hanya diam tanpa bergerak sedikitpun. Membuat Serly menjadi cemas.
Dia mengecek detak jantung juga denyut nadinya.
"Alhamdulillah, masih ada," batinnya menggenggam pergelangan tangan George lembut, dan seketika raut wajahnya berubah kembali.
Basah!
__ADS_1
Satu kata pertama yang tersemat dalam pikirannya. Lalu, ia angkat untuk mengeceknya. Namun, karena keadaan yang gelap, juga senter yang jauh … Serly tidak terlalu jelas melihatnya, dan ia putuskan untuk mengendusnya saja.
"Ini apa, sih," gumamnya saat bau anyir begitu menyengat masuk ke dalam hidungnya. Tak lama,
"Darah!" Seketika kedua bola mata Serly membulat.
"George. Kamu kenapa?" ucapnya kembali menepuk-nepuk pipi George kuat. Namun, sama sekali George tidak menjawabnya.
Serly meluruhkan tubuhnya dengan air mata yang berderai takut. Lalu, ia menidurkan George di atas tanah gempur.
"George. Kamu kenapa?" gumamnya menatap wajahnya sekilas.
Kemudian berlari menuju kursi besi untuk mengambil ponsel yang tadi George pegang.
Dia mendesah kesal saat membuka layar ponsel tersebut ternyata dikunci.
Serly menghela napas, lalu mencoba satu persatu angka yang ada di layar ponsel tersebut.
Pertama tanggal lahir, namun itu salah. Lalu, ia mencobanya dengan nomor ponsel. Tapi, itu salah juga.
Kemudian ia mencobanya memakai tanggal jadian, dan
Fyuhhh!
Serly menghela napas lega saat layar ponsel tersebut berhasil dibuka.
Kemudian mencari kontak yang akan ia hubungi.
"Angkat, dong. Plis!" gumamnya melirik George cemas. Lalu, melangkah mendekatinya.
"Dewi. Angkat dong," ucapnya sudah sangat khawatir sama kondisi George yang semakin dingin suhu tubuhnya.
Ish!
Serly mematikan panggilan tersebut kasar, dan menelpon nomor yang lainnya.
__ADS_1
Hhhh….
Terlihat di layar ponsel waktu panggilan sudah berdetak, dan Serly menghela napas terlebih dahulu sebelum bicara.