
"Ck. Takut amat gue curi tuh si Tante." Haddy menatap mereka berdua sinis.
"Awas! Gue mau cuci muka. Mata gue ternodai sama kelakuan mesum klean bedua," ucapnya ketus.
George mendelik. Lalu, meraih tangan Serly lembut. Kemudian mengajaknya untuk melangkah keluar.
"Udah kaya truk aja. Gandengan mulu," cibir Haddy lagi merasa iri sama hubungan mereka yang semakin kuat.
George tidak menggubris. Dia terus melangkah menuntun Serly sampai ke depan toko.
"Kemana, George? Aku masih banyak kerjaan," ucapnya menolak untuk terus mengikutinya.
George berbalik menatapnya lama. "Kita jalan, yuk! Nyari referensi juga inspirasi," ucapnya bersemangat.
Serly tersenyum. "Kemana?"
"Ya, kemana aja."
Serly sedikit mencebikan bibirnya. "Buat apa, sih?"
Mereka kemudian melangkah bersama-sama, berkeliling di tempat tersebut.
"Aku mau nyari inspirasi, Tan. Aku berpikir… kalau aku bikin usaha, kira-kira apa, ya? Apa bakal laku?" ucapnya pesimis.
Serly menghentikan langkahnya tepat di depan tubuh George. "Kamu serius?" tanyanya menatap manik George lekat.
"Ya… sebenarnya itu masih pikiran aku aja, Tan. Aku ingin buktikan pada Mamah, kalau aku bisa berdiri sendiri."
Serly terharu. Kedua bola matanya berkaca-kaca. "Tapi asal kamu tahu, George. Buat usaha itu tidak segampang kelihatannya."
George mengangguk paham. "Maka dari itu, aku ingin mencobanya."
Serly tersenyum dan menormalkan kondisinya lagi. Mereka kembali melanjutkan langkahnya sampai ke tepi jalan besar.
"Gimana kalau aku buka coffee shop aja, Tan? Itu cocok banget buat anak muda juga tua 'kan?" ucap George saat terlintas di pikirannya.
Serly mengangguk setuju. "Cocok. Tapi, darimana kamu mencari dananya, George? Apa kamu akan meminta sama orang tuamu?"
__ADS_1
George tersenyum. "Jangan remehin aku, Tan. Gini-gini juga, aku punya simpanan uang. Aku akan gunakan ini untuk sewa tempat juga beli bahan-bahan."
Serly tersenyum bangga. "Semoga semuanya terwujud, George."
"Amin."
*****
Hari sudah lumayan sore, dan kini waktunya buat toko cake Serly tutup.
Semua karyawannya sudah pulang, dan hanya tinggal Haddy, Dewi, George juga Serly disana.
Mereka berjajar rapi di depan toko sambil merenung, bagaimana caranya pulang dengan kendaraan yang hanya ada satu, yaitu motornya Haddy.
"Lo anterin dulu si Ndew lo ini!" ucap George sambil sedikit menyikut Dewi yang berdiri di sampingnya.
"Hiiihh." Haddy mengangkat tangannya tidak terima pacarnya di perlakukan seperti itu.
"Apa?!" George mendekatkan tubuhnya menantang.
"Cah. Kalau lo bukan sobat gue … udah gue gibeng pake tongkat nenek sihir!" deliknya sinis.
Serly juga Dewi yang mendengar perdebatan mereka langsung menjauh.
"Kita pulang naik angkot aja, yuk!" ajak Dewi seperti sedang menahan sesuatu.
Serly terkekeh, lalu mengangguk setuju. "Tapi, bagaimana dengan mereka?" ucapnya sambil melirik kedua umat yang masih beradu argumen.
"Halah. Biarin aja. Aku sudah tidak tahan ini," ucapnya dengan wajah gelisah.
Serly tertawa cukup kuat, dan berhasil menyadarkan mereka berdua.
"Tuh 'kan. Gara-gara lo, sih!" tuduh George seraya melangkahkan kakinya menyusul Serly.
"Cih. Lempar batu sembunyi tangan. Seharusnya lo lempar uang sekoper buat gue." Haddy menggerutu sambil menaiki motornya.
"Tan. Tunggu!" George menangkap tangan Serly yang tengah mengayun ke depan juga belakang.
__ADS_1
Serly yang belum menyadari kalau George sudah mengikuti langkahnya, terperanjat dan menepis tangannya kasar.
"Astaga, George," ucapnya sambil mengelus dada.
George tersenyum. "Kita pulang duluan, yuk! Nanti Haddy jemput Dewi kesini lagi."
"No. Tidak bisa. Aku yang harus duluan. Urgent banget. Bahaya ini," ucap Dewi sudah sangat tidak tahan.
"Kenapa, sih, Tan?" tanya George tidak peka dengan ekspresi wajahnya.
Serly tersenyum dan menggelengkan kepalanya. "Kita naik angkot aja, George. Biarin Haddy pulang ama Dewi naik motor."
George merenung sebentar. "Oke lah," jawabnya membiarkan Dewi naik ke atas motor Haddy yang sudah stand by di dekatnya.
"Maaf, ya?" ucap Dewi saat motor tersebut sudah melaju.
Serly mengangguk.
"Kenapa, sih, Tan? Dia ngidam?"
Serly cepat berbalik dan menatapnya dengan mata membulat. "Sembarangan aja kamu ngomong. Dewi tidak mungkin seperti itu."
"Ya, kali aja, Tan. Bokongnya aja udah turun," ucapnya sangat luwes dan santai.
Serly berhenti dan menatapnya lama. "Apa maksudmu, George? Apa kamu juga pernah seperti itu?"
George yang merasa salah berucap, menggaruk tengkuknya sambil musam-mesem gak jelas.
"Jadi-"
"Pst. Aku gak kek gitu, Tan. Aku tahu dari temen-temen aku aja. Aku orang alim. Gak mungkin seperti itu."
Serly menatapnya tidak percaya.
"Demi Tuhan, Tanteku cintaku. Aku masih gres. Kalau gak percaya, lihat aja," ucapnya tanpa beban sedikitpun.
"George!" Serly memukul dadanya cukup kuat, "kamu, ya?" ucapnya sedikit menahan malu.
__ADS_1
Sementara George. Dia malah terkekeh sambil membiarkan Serly terus memukul-mukul dadanya.