
"Maafkan aku, George," gumamnya dengan derai air mata yang membasahi punggungnya.
George menghela nafas, kemudian berbalik menatap Serly yang tengah menundukkan kepalanya.
"Jika itu yang Tante inginkan … aku ikhlas. Asalkan Tante bahagia," ucapnya memegang bahu Serly lembut.
Serly mendongak sembari menyapu semua air matanya.
"Maafkan aku, Tan. Aku hanya egois memikirkan diriku sendiri. Padahal, Tante tengah berjuang untuk hubungan kita."
Serly kembali menyeka air matanya yang terus mengalir. "Aku tidak akan meninggalkanmu, George. Kamu adalah hidupku… aku tidak mungkin bahagia jika tidak bersamamu."
George menatap maniknya lekat, dan tanpa sengaja… dia melihat ada sebuah tanda merah di pipinya.
"Ini kenapa, Tan?" tanyanya sembari menyingkirkan rambut Serly ke belakang telinga.
Serly menunduk berusaha menyembunyikannya.
"Jawab aku, Tan. Ini kenapa?" George menatap Serly curiga. Terlihat jelas raut kecemasan kentara di wajahnya.
Serly tetap diam, seakan ada sebuah kunci yang merapatkan bibirnya.
"Jangan bilang ini ulah mamaku?"
Serly mendongak sambil menggelengkan kepalanya kuat.
George menghela napas, lalu membawanya ke dalam toko lagi.
Dia menyuruh Serly untuk duduk bersamanya di kursi ruang tamu.
"Buat apa Tante kesana lagi, sih? Bukankah sudah aku bilang … bahwa kita tunggu dulu sebentar?"
Serly menunduk sedih.
"Apa yang mamaku perbuat lagi? Apa dia juga mengusir Tante seperti waktu itu?"
Serly hanya menghela nafas lirih.
__ADS_1
George meremas rambutnya kasar. "Cukup sampai hari ini Tante pergi kesana … tanpa seizin atau bersamaku," ucapnya sedikit menaikan volume suaranya.
Serly mengangkat kepalanya, menatap George heran. "Kenapa, George?" tanyanya lirih.
George menghela nafas gusar. "Aku tidak ingin Tante disakiti lagi. Lihat ini!" ucapnya menyingkirkan kembali rambut Serly yang menutupi pipinya.
Serly menundukkan kepalanya lagi.
"Sakit aku melihat ini, Tan… dan aku hanya diam tidak bisa berbuat apa-apa… selain menyuruh Tante untuk berhenti dan sabar untuk menunggu."
Serly menarik sudut bibirnya tipis. "Aku tidak akan pernah berhenti, George. Sebelum aku bisa mendapatkan hati mamamu."
"Sudah, Tan. Aku tidak sanggup untuk melihat semua perlakuan kasarnya pada Tante."
"George. Rasa sakit… perih… juga terhinanya aku… akan sia-sia jika aku berdiam diri dan menyerah sampai disini."
George menunduk bingung.
"Aku akan terus berusaha, George. Sampai semua pengorbananku menjadi sebuah kebahagiaan."
"George. Izinkan aku untuk terus berusaha mencuri hati mamamu… agar hubungan kita cepat direstui."
Satu tarikan nafas George hembuskan kasar. Dia menatap manik Serly dalam. "Kita berjuang sama-sama," ucapnya yakin.
Serly tersenyum lebar. Kemudian merentangkan tangannya memeluk tubuh George hangat.
"Makasih. Mari kita berjuang… menguatkan hati kita untuk melunakan sebuah batu keras di hati mamamu."
George mengangguk sembari membalas pelukannya. "Maafkan aku karena bertingkah seperti bocah," ucapnya baru menyadari.
Serly terkekeh sembari melepaskan pelukannya. "Memang kamu masih bocah!" ucapnya nyeplos.
Membuat George merungut tidak suka.
"Utuk… utuk. Bocahnya aku ngambek," ucapnya sembari menguyel-nguyel kedua pipinya.
George mengerucutkan bibirnya, membuat Serly semakin gemas melihatnya.
__ADS_1
Cup.
Dia menc1um bibirnya sekilas, namun segera George tahan dengan menarik tengkuknya kuat, dan kembali menempelkan bibirnya, m3lum4tnya kasar.
Membuat Serly mendesis kesakitan karenanya.
Dia mendorong pelan dadanya, berusaha melepaskan c1uman tersebut.
"George. Sakit," ucapnya setelah c1uman tersebut terlepas.
Dia menarik sedikit bibirnya, mencoba untuk melihatnya.
George tersenyum sambil mengusap-ngusap kuduknya. "Sorry, Tan. Abisnya Tante gemesin," ucapnya malu-malu.
Serly mencebik sambil mengalihkan tatapannya. "Gemes, sih, gemes. Tapi, gak usah kasar juga. Sakit tau," ucapnya cemberut.
George menghela nafas seraya merangkul pundaknya mesra. "Kita jalan, yuk! Nyari tempat sepi," bisiknya.
Serly menoleh dengan sorot mata yang tajam.
"Hihi… canda, Tante," ucapnya mencubit sebelah pipi Serly kuat, dan itu yang tadi kena tamparan mamanya George.
"Sss … sakit, George," rintihnya menepis tangan George kuat.
"Aih. Sorry, sorry, Tan. Aku lupa."
Serly berdecak sambil mengelus-ngelus pipinya.
"Sini. Biar aku obatin," ucap George seraya membalikkan tubuhnya.
Serly mendelik. "Modus!" ucapnya seraya beranjak dari sana.
George terkekeh, bahagia juga kecewa. Dia tidak jadi putus dengannya, tetapi tidak jadi juga mendapatkan stamina hari ini.
Hhhh….
Satu tarikan nafas George hembuskan, lalu berdiri dan melangkah menyusul Serly yang tengah bersiap-siap untuk pergi.
__ADS_1