
Sudah seminggu lamanya setelah kejadian malam itu, tetapi Serly masih saja terpuruk dan semakin berlarut-larut dalam kesedihan.
Dia terus mengunci dirinya di dalam kamar, dan hanya keluar ketika mau ke kamar mandi dan makan saja. Setelah itu, dia kembali mengunci dirinya disana.
Membuat sang ibu menjadi semakin merasa bersalah.
Beliau melangkah mendekati pintu kamar anaknya yang tertutup rapat.
"Ser! Ibu berangkat kerja dulu, ya!" ucapnya penuh kelembutan. Namun, tidak sedikitpun mendapatkan jawaban dari putrinya.
Beliau menghela napas dengan wajah sedih, kemudian berlalu dari sana untuk berangkat kerja.
***
Di dalam kamar….
Serly tengah berdiri di depan jendela, menatap langit yang begitu cerah.
"George! Benarkah kita putus? Benarkah kita sudah tidak bisa berjumpa lagi?" batinnya menjerit… dengan air mata yang menetes lagi.
Dia menunduk, menatap beberapa bunga milik tetangganya yang begitu segar.
"Apa kamu tidak merindukanku, George? Apa kamu benar-benar sudah pergi dan melupakanku?" gumamnya.
Serly kembali terisak. Kemudian melangkahkan kakinya menuju kasur. Dimana kenangan bersama George selalu membekas di pikirannya.
Dia meringkuk… memeluk sebuah guling yang sudah lepek.. dengan isak tangis yang begitu pilu.
***
Sementara ditempat lain….
Akibat rasa rindunya yang sudah tidak terbendung dan tidak kuat lagi untuk dia tahan.
George melangkahkan kakinya mendekati sang mamah yang tengah asyik menyeruput segelas kopi pahit dengan biskuit bertabur coklat diatasnya.
Beliau tersenyum saat melihat putra semata wayangnya mendekat.
"George!" sapanya begitu lembut.
George tidak menggubris itu. Dia langsung berjongkok di depan kedua lutut mamanya dengan tangan menangkup.
Membuat beliau tahu akan apa yang dilakukannya. Dia mendengus seraya berjingkat dari duduknya.
"Kumohon dengarkan aku dulu, Mah!" pintanya sembari memegang kedua lutut mamanya.
Beliau berbalik menatap sang anak tajam dengan napas yang memburu. "Apa, George! Apalagi?!"
__ADS_1
George menundukkan kepalanya dalam.
"Mamah bosan, George! Bosan!" teriaknya frustasi.
"Maka restuilah hubungan kami, Mah!" timpalnya.
Mamah menggeleng kuat. "Sampai kapanpun … Mamah tidak sudi memiliki menantu seperti dirinya!"
George menyeka air matanya yang berhasil mengalir.
"Kenapa, Mah? Kenapa Mamah begitu membenci Tante?" Dia menatap wajah mamanya dalam.
Beliau mendelikkan matanya.
"Kenapa Mamah sangat keras sekali hanya untuk merestuiku?"
"Kenapa? Apa kamu tidak sadar, George! Dia siapa dan kita siapa!"
"Jika memang hanya gara-gara kasta dan kedudukan yang Mamah miliki … fine, Mah!" George menjedanya. Dia berdiri dengan tatapan sendu padanya, "sepeserpun aku tidak akan memintanya. Aku akan hidup mandiri bersama dia. Aku tidak akan pernah mengganggu Mamah lagi."
"George!"
George tidak menggubris. Dia terus melangkahkan kakinya menuju pintu utama. Tapi,
"Berhenti, George!" teriaknya, lalu mendekati sang anak yang sudah berdiam diri memunggunginya.
George tidak menjawab. Dia hanya tersenyum lara menatap mamanya.
"Kenapa kamu begitu mati-matian melakukan hal ini hanya gara-gara wanita tidak tahu diri itu!"
"Stop bilang dia seperti itu, Mah!" tegasnya.
"Kenapa? Emang dia wanita seperti itu 'kan?"
George menatap mamanya tajam. Kedua tangannya sudah mengepal kuat. "Cukup, Mah! Kalau memang Mamah tidak mau merestuiku! FINE! Aku Laki-laki, Mah! Aku tidak perlu ada kedua orang tuaku untuk menikah!"
"George-"
"Sudah cukup aku bersabar menghadapi Mamah yang amat sangat menyanjung martabat kedudukan tertinggi!"
"George." Beliau menatapnya sedih.
"Aku melakukan hal ini karena aku masih menghargai Mamah sebagai orang tuaku. Tapi sekarang-" George memandangnya dengan penuh amarah.
"Maafkan aku karena aku benar-benar sudah tidak bisa menganggap seperti itu lagi."
Kemudian George bergeser dan pergi dari sana dengan amarah yang membuncah.
__ADS_1
Menuju sebuah tempat yang bisa menenangkan dirinya juga pikirannya.
"George!" Beliau bersimpuh dengan deraian air mata yang membasahi kedua pipinya.
"Jangan bilang seperti itu, George. Jangan bilang itu." Dia terisak menyesali perbuatannya.
Tak lama, ada seorang Pria masuk dan segera menghampirinya.
"Ya ampun, Mah!" ucapnya seraya membawa sang istri duduk di atas kursi.
"George, Pah. George. Dia, dia,"
"Sudah."
"Tapi, Pah!"
"Hhh … Mamah. Papah mau tanya. Apa, sih, sebenarnya yang membuat Mamah bersikeras tidak mau merestui mereka?"
Mamah terdiam.
"Apa hanya karena dia bukan dari golongan kelas atas?"
Mamah dengan cepat menggeleng.
"Terus kenapa, Mah?" Papah menatapnya lekat, "dengarkan aku, Mah. Dia anak kita satu-satunya. Dan apa Mamah masih ingat apa alasan kita pulang dan Mamah berhenti bekerja?"
"Tapi-"
"Sudah, Mah! Dia sudah dewasa. Pemikirannya sudah luas. Meski dia masih dibalut seragam SMA!"
Mamah menunduk sedih.
"Papah tidak mau dia nekat … dan benar-benar pergi meninggalkan kita seperti Gabriel!"
Mamah dengan cepat mendongak sambil menggelengkan kepalanya.
"Restuilah mereka, Mah! Kesampingkan ego dan rasa sakit di dalam hati Mamah."
"Pah-"
"Papah tahu apa alasan Mamah sebenarnya tidak merestui mereka," ucapnya datar.
"Maafkan aku, Pah!"
"Sudahlah. Disini bukan hanya George yang terluka. Tapi Papah juga!" ucapnya kemudian berlalu meninggalkan sang istri sendirian di sana.
__ADS_1