Bocah! Saranghae!

Bocah! Saranghae!
Sangat Menginginkannya


__ADS_3

"George. Aku tidak bisa." Serly berbisik dengan ekor mata terus melirik sekitarnya.


Kedua kakinya tiba-tiba berat, seperti ada sebuah tali yang mengikatnya kuat.


"Coba langkahkan kakinya, Tan!" George menunduk menatap kedua kaki Serly yang sama sekali tidak bergerak.


"Aku gak bisa, George!" jawabnya ikut menunduk sebab malu.


"Masa, sih?" 


Serly mengangguk.


George menatap wajahnya yang juga enggan untuk mengangkat lebih tinggi lagi.


"Tan!" panggilnya lembut.


Serly tetap menunduk, malu ditatap banyak orang disana... termasuk ketiga sahabatnya yang juga tengah berdansa dengan suami-suaminya.


"Tante!" George kembali memanggilnya.


Serly menghela nafas, kemudian mendongak menatap kedua manik George dalam.


"Jangan malu. Mari aku ajarkan," ucapnya manis.


Kemudian ia meraih kedua tangan Serly dan ia letakkan di atas pundaknya.


"Kalau aku bilang maju… Tante maju, ya!"


Serly mengangguk kecil. Lalu, George melingkarkan kedua tangannya di pinggang Serly.


"Maju," bisik George lembut, dan Serly melakukannya dengan sangat gugup.


"Selow, Tan!" titahnya sambil berdesis, sebab sebelah kakinya malah Serly injak.


Serly menunduk sambil menggigit bibir bawahnya pelan. "Maaf," ucapnya sendu.


George mengangguk. "Sekarang kanan!" titahnya.


Serly terdiam tidak paham.


"Kanan, Tan. Nyerong gitu."


"Oo." Serly tersenyum dan melakukan sesuai instruksinya.


"Sekarang kiri…," 


Serly bergerak pelan.


"Kanan kiri… mundur."


Serly sedikit tergesa-gesa melakukannya, sampai ia kembali menginjak kaki George cukup kuat.


"Ma-maaf, George. Aku tidak sengaja," ucapnya sambil melepaskan rangkulan tangannya.


George nyengir sakit juga merasa lucu. "Fine, Tan. Mari kita ulang dari awal lagi!" ajaknya.


Serly menghela nafas, dan mengangguk pelan. Dia tersenyum sembari menatap wajah George lekat. "Aku seperti murid yang tengah diajarkan oleh gurunya," kekeh Serly merasa lucu.


"Bukan guru, Tan. Pawangnya!"


Mereka berdua terkikik dan bersiap untuk berdansa seusai ajaran George barusan.

__ADS_1


Rasa gugup dan malu yang tadi menyerang Serly, perlahan sirna dengan perlakuan manis George padanya.


Dia meraih sebelah tangan Serly lembut, dan ia tautkan dengan jari jemari  milik Serly.


"Kita lakukan seperti tadi!"


Serly mengangguk.


"Slow, ya!"


"Hm."


Mereka mulai melangkahkan kakinya lagi… sesuai yang George ajarankan tadi, juga irama yang tengah melantun.


George terus menuntun Serly untuk bergerak, melangkahkan kakinya yang sesekali masih berbelit.


"Kok, susah, George?" gerutunya. Dia menghempaskan kedua tangannya kasar.


George terkekeh. Kemudian meraih dagu Serly lembut.


Keduanya saling tatap penuh cinta.


"Lakukan ini dengan santai, Tan. Ikuti irama… juga kata hati Tante. Jangan obsesi ingin bisa melakukannya."


Serly menunduk malu karena ketahuan kalau ia ingin cepetan lihai berdansa.


Cup.


"Ayo kita lakukan lagi!" ucap George mengecup bibirnya sekilas.


"George. Jangan macam-macam. Ini ditempat umum! Banyak orang lagi!" tegasnya sambil melihat sekitar.


"George, ih." Serly langsung memasang wajah kesal sekaligus takut.


"Hihi. Ayo! Kita lakukan sesuai debaran hati kita!" gombalnya.


"Ish, kamu!"


George terkekeh sambil melingkarkan sebelah tangannya di pinggang Serly dan yang satunya menaut dengan jari jemarinya.


"Pejam matanya… ikuti irama sesuai debaran jantung kita."


"Apa, sih, George! Mana ada begitu."


"Lakukan saja, Tan."


Serly mendesah, lalu memejamkan matanya.


Dia melangkah ke depan dan belakang… serong kanan kiri mengikuti kata hati juga ingatannya.


George tersenyum smirk. "Tante hebat," bisiknya.


Serly tersipu seraya membuka matanya.


Kemudian George melepaskan rangkulannya, memutar tubuh Serly dan langsung menangkapnya.


Cup.


"Lagi?" tawarnya.


Serly yang terkejut diputar begitu saja olehnya, melongo dengan debaran jantung yang berpacu dua kali lipat dari sebelumnya.

__ADS_1


George tertawa pelan, dan m3ng3cup-ng3cup bibirya secara berulang.


"George!" Serly langsung menegakkan tubuhnya lagi, dan George kembali merangkul pinggangnya mesra.


Dalam hati dia terus tertawa saat melihat semburat merah merona di kedua pipinya.


"Tan! Apa Tante butuh nafas buatan?" tawarnya sambil terkekeh.


Serly langsung mendongakkan kepalanya, menatap kedua manik yang begitu polos kelihatannya.


George tersenyum dengan wajah yang perlahan mendekat. Menyisir jarak diantara mereka berdua.


Serly yang sangat paham sama apa yang akan dilakukannya, segera memalingkan wajah ke sembarang arah.


"George. Apa yang akan kamu lakukan?" ucapnya pelan.


"Aku ingin mencium Tante."


Serly langsung menatap George lekat. "Ini ditempat umum, George. Malu diliatin banyak orang!" ucapnya dengan ekor mata mengedar.


George yang terlanjur menginginkan hal itu, kembali menggerakkan kakinya, mengajak Serly berdansa lagi.


Serly tersenyum sembari mengikuti gerakan slow nya lagi… dengan tatapan terkunci pada kedua mata George yang mengandung nafs*.


George memutar tubuh Serly, memeluknya mesra, kemudian berdansa lagi.


"George. Terima kasih atas ajarannya!" Serly mengalungkan kedua tangannya di pundak George.


George tersenyum dan memutar tubuhnya lagi. Namun, kali ini dia merangkul pinggangnya.


George merunduk, dengan sorot mata tertuju pada kedua bibir ranum yang merapat.


Membuat tenggorokannya semakin kering.


Serly tersenyum dan segera bergerak untuk berdiri, namun George segera menahannya.


Dia semakin mendekatkan wajahnya, menyisir jarak diantara mereka berdua.


Glek.


Serly menelan ludahnya kasar. Gelisah juga malu ditatap banyak orang.


"Geo- mmm…."


Mulutnya langsung terkunci dengan sebuah bibir ranum yang menempel lama di atas bibirnya.


.


.


Note: Jika ada yang tidak sreg di hati..         komen aja, ya! Biar aku perbaiki lagi.


Thank you💜


💌💌💌


Mohon dukungannya. Salam sehat dan sayang selalu.



Calangeo😘😘😘

__ADS_1


__ADS_2