Bocah! Saranghae!

Bocah! Saranghae!
Tahan, George. Itu Masih Tersegel


__ADS_3

Dikarenakan Serly belum mencari rumah untuk George sewa, dia akan ikut pulang ke rumah sahabatnya. Tapi sebelum pulang, mereka bermain terlebih dahulu di rumah Serly … dengan Haddy yang juga membawa wanita tercintanya.


"Lama-lama gue betah disini daripada di rumah gue," ucap Haddy dengan tangan terus merangkul pundak Dewi tanpa malu atau sungkan pada ibunya Serly.


George mendelik. "Betah. Karena lo pengen terus nempel ama yayang lo itu!" cibirnya sedikit sinis.


"Sudah, sudah. Kelakuan kalian mengingatkan Ibu pada Almarhum Bapaknya Serly," ucapnya berhasil membuat mereka berdua terdiam, dengan perasaan kepo.


"Memangnya, Almarhum suami Ibu gantengnya macam saya?" Dengan tidak tahu malunya Haddy berkata seperti itu.


George berdecak dan menyikut lengannya cukup kuat. "Lo, ya. Mana ada. Tampang lo itu bukan bibit unggul. Liat gue!" titahnya sambil menunjuk diri sendiri dengan bangganya.


"Ck. Laga-laga, lo. Kita tanyakan saja sama calon mertua lo itu."


Haddy menatap ibunya Serly lama, kemudian mengutarakan pertanyaannya. Namun,


"Ibu mau istirahat dulu. Kalian lanjutkan saja obrolannya." Malah jawaban itu yang keluar dari mulut ibunya Serly.


Dia berdiri dan melangkah menuju kamarnya.


George juga Haddy terdiam, merasa tak enak karena sudah bertanya seperti itu, dan membuatnya sedih.


"Salah lo, George!" Senggol Haddy kuat.


George menghela nafas dan menoleh pada Serly yang nampak biasa-biasa saja.


"Maaf," ucapnya dengan tulus.


Serly menarik sudut bibirnya membentuk sebuah senyuman. "Gapapa. Jangan dianggap serius. Ibu sudah biasa jam segini itu suka tidur," ucapnya santai.


"Tapi-"


"Itu biasa, George. Yang namanya cinta pertama, terakhir dan hanya satu-satunya. Pasti bakal seperti itu." Serly menggenggam tangannya erat.


"Yang, Dew. Kita ke warung depan, yuk! Disini sudah mencekam!" ucap Haddy seraya beranjak dari sana.


Dewi mengangguk dan ikut bersamanya keluar dari rumah Serly.


Tinggalah mereka berdua. Dengan George terus merasa bersalah pada calon mertuanya.

__ADS_1


"Kamu lapar, George? Kita makan, yuk!" ajak Serly seraya berdiri dari duduknya.


George menggeleng. "Aku tidak lapar, Tan," jawabnya sedih.


Serly menghela nafas, lalu duduk lagi di sampingnya. Kedua tangannya menggenggam erat tangan George yang lembut dan lemas.


Cup.


"Jangan sedih, dong. Nanti aku juga ikutan sedih," ucapnya setelah mengecup bibirnya sekilas.


George menatap Serly lama, "aku tahu rasanya kehilangan orang yang sangat kita sayang, Tan."


"Hm." Serly hanya bisa diam dan pasrah dengan suasana yang seperti ini.


Terdengar George menghembuskan nafasnya, lalu menoleh, menatap Serly lekat.


"Maka dari itu, aku tidak akan membiarkan Tante pergi meninggalkan aku," ucapnya seraya melepaskan pegangan tangannya, dan memeluk tubuh Serly hangat.


"Aku cinta dan sayang Tante. Aku tidak akan pernah membiarkan siapapun memisahkan Tante dariku."


Serly tersenyum dan membalas pelukannya. "Makasih atas cinta dan sayangnya, George. Aku juga sangat mencintai juga menyayangimu," balasnya dengan pelukan yang mengerat.


George mengangguk dan melepaskan pelukannya. "Kita jalan, yuk! Nyari angin?" ucapnya dengan kedipan mata.


George mengangguk. "Kalau aku ikut, boleh 'kan?" 


Serly yang baru akan berdiri menatapnya tajam. "George. Bisa gak kalau gak berpikir yang aneh-aneh?"


George terkekeh. "Becanda, Tan. Jangan anggap serius mulu," ucapnya sambil meraih satu gelas minum yang tadi ibunya Serly sajikan padanya.


Serly mendengus sambil melangkahkan kakinya.


"Cukup hubungan kita saja yang serius, Tan. Yang lain, anggap sebagai senang-senang saja."


Serly menggelengkan kepalanya dan masuk ke dalam kamar guna mengambil handuk miliknya.


*****


Sekian lama George menunggu Serly mandi, pada akhirnya dia lelah juga.

__ADS_1


George melangkahkan kakinya menuju kamar Serly. Dia kepo sama semua perabotan juga alat-alat yang baru beberapa kali dia lihat di kamar tersebut, dan kali ini dia akan melihatnya lagi.


George tersenyum saat melihat ada sebuah foto anak dan beberapa alat kecantikan lainnya yang tertata rapi diatas meja kecil.


Bola matanya kembali mengedar ke sekeliling. Tidak ada yang aneh disana. Semuanya sama dengan kamar-kamar lainnya. Sampai pada sebuah titik, mata George berhenti, menatapnya cukup lama.


"Hihi." Dia menggaruk tengkuknya dengan sedikit malu-malu.


"Kamu ngapain disini, George?" Serly menatapnya aneh, dengan sebuah handuk melilit di kepalanya, juga kimono berwarna ungu membungkus tubuhnya.


"Cuma penasaran aja, Tan," ucapnya sambil berusaha mengalihkan tatapannya ke arah lain.


Serly menggeleng dan melangkah melewatinya. "Kamu keluar dulu. Aku mau pakai baju," ucapnya mengusir.


George mengangguk kecil. Dia melangkahkan kakinya menuju pintu. Tapi,


"Tubuh Tante sangat menggoda," bisiknya kembali mendekati Serly.


Serly terlonjak dan langsung mendekap dadanya. "George!" ucapnya cukup melengking, dan segera bekap mulutnya takut kedengaran sama calon mertuanya.


"Tan. Jangan kenceng-kenceng. Nanti Ibu bangun!" ucapnya sedikit berbisik.


Serly mendelik dan menyingkirkan tangan George dari mulutnya. "Makanya, jangan sembarangan kalau bicara."


"Gak sembarangan, Tan. Aku serius," ucapnya dengan sengaja mendekatkan wajahnya.


Serly mundur, takut juga risih melihatnya. "George, sudah sana. Aku teriak, nih!" ucapnya mengancam.


George terkekeh.


Cup.


"Gak sabar ingin segera menikahi Tante," ucapnya dan berlalu dari sana.


Serly memegangi dadanya yang berdegup dua kali lipat dari biasanya. "Ya Tuhan, George. Bocah tapi pikirannya sudah sangat jauh."


Dia melangkah mendekati lemari pakaiannya, lalu mengambil satu dress putih dengan bentuk kerah membentuk huruf V.


Setelah siap dan rapi, Serly keluar dengan rambut yang tergerai juga basah.

__ADS_1


Membuat mata George berkilauan, apalagi saat melihat bentuk kerahnya yang seperti sengaja ingin memperlihatkan dua bukit mulus miliknya.


"Jaga mata kau, George. Itu masih tersegel. Lo belum boleh menyentuhnya," batinnya dengan kedua tangan *******-***** tidak tahan.


__ADS_2