Bocah! Saranghae!

Bocah! Saranghae!
Memohon


__ADS_3

Haddy pulang memakai jasa sebuah ojek.


"Makasih, Pak." ucapnya sambil turun di pinggir jalan besar.


Setelah membayar, Haddy langsung menyetop sebuah taxi.


"Demi apa coba gue bela-belain harus naik turun kendaraan." gumamnya sambil masuk kedalam taxi.


"Kemana, Dek?" tanya Pak Supir.


"Ke jalan xxxxx."


Pak Supir mengangguk pelan dan melajukan mobilnya menuju alamat yang di berikan olehnya.


Tidak perlu memakan waktu banyak. Akhirnya Haddy bisa bernafas lega di halaman rumahnya yang sangat sejuk dan tenang.


Hah....


Akhirnya aku bisa menghirup udara segar setelah dirasuki setan bucinnya si George.


Haddy melangkahkan kakinya menuju teras rumah, namun langkahnya terhenti kala matanya menangkap sesuatu yang mencurigakan.


"Busyet. Gue akan habis ini." Haddy terkejut saat melihat ada sebuah mobil terparkir di halaman rumahnya.


"Astaga. Gue harus gimana."


Haddy membalikkan tubuhnya bermaksud ingin lari dari masalah yang ia buat.


"Haddy!"


Sebuah teriakan berhasil membuat Haddy menciut.


"Mampus!"


Haddy membalikkan tubuhnya sangat pelan.


"He..." Haddy tersenyum merasa terciduk.


Wanita yang ingin Haddy hindari malah memanggilnya, dan ia sedang berjalan mendekatinya.


Haddy meraih tangannya lembut. "Ibu. Kapan Ibu kesini?" tanya Haddy basa-basi.


Mamahnya George langsung menarik tangannya cepat.


"Habis!" Haddy memaki dirinya sendiri yang mungkin akan ketauan olehnya.


"Dimana, George?" tanyanya dingin.


"Siapa? George?" tanya Haddy pura-pura syok supaya tidak mencurigakan.


"Jangan berpura-pura, Nak!" ucapnya dengan sangat ketus dan eskpresi yang sangat dingin.


"Pura-pura? Pura-pura, apa?" tanya Haddy mencoba untuk berkilah.


"Ibu tahu kamu mengetahuinya."


"Emangnya George kemana, Bu?" tanyanya masih terus mencoba.


Ibunya George menatap lama wajah Haddy.


"Bilang sama dia. Kalo tidak mau aku coret dalam KK, pulang! Jangan menentang." ucapnya sangat dingin. Kemudian ia melenggang pergi meninggalkan Haddy yang ketakutan.


"Aku kasih waktu 2 hari. Kalo dalam dua hari masih belum mau pulang. Aku akan mengeluarkannya dari dalam KK." ucapnya lagi sambil menghentikan langkahnya sebentar, dan langsung masuk kedalam mobil.


"George. Kenapa hidup lo tidak tenang. Gue kira jadi anak orang kaya itu senang dan tenang." gumamnya sambil melangkahkan kakainya masuk kedalam rumah.


Hari berganti menjadi gelap. Seseorang yang tengah tinggal sendirian di dalam rumah yang tembus oleh angin malam sedang meringkuk kedinginan.


Selimut yang tetangganya berikan belum cukup untuk membuat tubuhnya menghangat.


"Tante."

__ADS_1


George menyelipkan dua tangannya kebelahan kaki menjepit.


"Dingin, Tan."


George berusaha untuk melewati malam yang sangat dingin ini dengan memejamkan matanya berharap akan tertidur, tetapi itu hanya sia-sia.


Sampai pagi menjelang. George sama sekali belum tertidur lelap.


Terdengar suara kokokkan ayam seakan memberitahu George yang masih bergelung dalam selimut.


"Hah. Udah pagi." gumamnya sambil menyibakkan selimut yang ia pakai.


"Begitu sulit sekali untuk hidup di tempat seperti ini, Tan."


George berjalan kearah luar mencari kehangatan dari sinar sang mentari.


"Eh. Nak. Baru bangun?" tanya Ibu-ibu yang sepertinya ingin berkunjung kerumahnya.


Gibran mengangguk pelan.


"Ini, Ibu ada makanan." ucapnya sambil menyodorkan sebuah misting kecil kehadapan George.


George langsung mengambil kotak tersebut. "Makasih banyak, bu."


"Bila perlu apa-apa. Jangan sungkan. Insya alloh Ibu akan membantu." ucapnya.


George tersenyum hangat. Ia masuk lagi kedalam rumah setelah ibu itu pergi.


"Em. Kayaknya ini enak?" gumamnya sambil mencium misting yang masih tertutup rapat.


George membuka tutup misting tersebut. Ia mengerutkan dahinya melihat apa isi di dalamnya.


"Ini makanan apa?" tanya George pada dirinya sendiri. Ia menoel sedikit makanan itu, lalu menjilat jarinya.


"Enak." gumamnya.


Tidak perlu pikir panjang, George langsung melahap sarapan pagi pemberian tetangganya.


Cklekk....


George langsung menoleh pada pintu yang terbuka.


"Wih. Udah makan aja. Lo bisa masak?" Haddy masuk kedalam rumah dengan nyerocos.


George mendelikkan matanya kesal. Ia melihat Haddy menggandeng seorang cewek, dan ia mengenalnya.


"Kenapa sinis amat sama gue?" ucapnya dengan terus memeluk pinggang cewek yang ia bawa.


George menatapnya sangat tajam.


"Gimana? Enak, kan liat orang pacaran? Hahaha....."


Haddy meledeknya.


George langsung menghentikan sarapannya.


Ia langsung berdiri menghindari mereka berdua.


"Mau kemana, Lo?" tanya Haddy dengan suara yang sangat keras.


"Menghilang." George menjawabnya dengan nada yang sangat ketus dan dingin.


"Ayang Endew. Liat, noh. Ada yang lagi merana?" ledeknya sambil menunjuk George yang mulai menghilang masuk kedalam kamar.


"Tante. Aku kangen," gumamnya lirih.


Geirge berdiri di dekat jendela dengan tatapan kosong keluar.


Diluar sana,


"Masuk! Tapi, lo harus bujuk dia, ya. Gue gak mau dia jadi anak yang kere." ucapnya ceplas-ceplos.

__ADS_1


Haddy kembali masuk kedalam rumah dan kembali duduk lesehan bersama pacarnya.


"Ayang. Disini sejuk, kan?" ucapnya sambil merapatkan dirinya pada tubuh Dewi.


Dewi malah risih dengan tingkahnya yang lebih parah dari George.


Dewi hanya tersenyum sungkan menatapnya.


Haddy semakin merapatkan tubuhnya, lalu memeluk tubuh Dewi erat.


"Haddy. Malu, ah. Entar ada yang liat." ucap Dewi sambil mendorong kecil tangan yang melingkar di tubuhnya.


Haddy langsung memasang wajah cemberut.


"Ayang, kok, gitu, sih!"


"Baby Haddy yang sangat ganteng. Ini di tempat orang. Kita disini hany sebagai tamu." ucapnya menjelaskan.


"Ayang!"


"Cobalah mengerti, Dy."


"Tapi, Dew!"


Haddy kembali memeluknya semakin erat. "Aku gak peduli ini dimana, tempat siapa? Yang aku peduli aku senang bisa bersama kayak gini."


"Haddy!"


"Ayang!"


Dewi mendelikkan matanya. Jika sudah seperti ini, Dewi tidak bisa melawannya lagi.


Sementara mereka terus bermesraan.


George?


"Ternyata rasanya ngilu, Tan melihat orang pacaran dengan sangat mesra di hadapan." gumamnya sambil menyilangkan kedua tangannya dan bersandar pada jendela.


"Aku kangen, Tan. Kangen berat." tambahnya sambil menunduk sedih.


Pintu kamar yang terbuka membuat seseorang dengan mudah untuk masuk.


Di ambang pintu. Orang itu mematung, menatap sedih pada orang yang tengah bersedih dengan wajah masih lusuh.


"George!" serunya pelan.


George yang mendengar suara itu langsung menoleh.


Ia terkejut saat melihat seorang wanita berpenampilan cantik tengah berdiri di ambang pintu dengan mata sayu melihat dirinya.


Perlahan, mereka melangkahkan kakinya bersama.


Tetesan air mata kebahagian membasahi pipi mereka masing-masing.


Antara percaya tidak percaya, George langsung memeluk tubuh yang selama ini ia rindukan. Selama seminggu lebih ia harus menahan kerinduan yang teramat padanya.


Kerinduan yang makin hari makin menumpuk.


Brukkk....


George langsung memeluk tubuhnya erat dan berputar.


"Tante!" serunya sangat bahagia bisa memeluk, dan mencium tubuhnya lagi.


George langsung mendaratkan tubuh Serly. Ia menatap dalam manik matanya sampai ia tenggelam pada kerinduan yang sudah bertumpah ruah di dalam dirinya.


Serly yang melihat tatapan itu ikut terbuai akan kisah cinta yang sangat rumit itu, dan membuatnya bahagia juga bisa melihatnya dengan rasa rindu yang membuncah.


"George!"


"Tante!"

__ADS_1


__ADS_2