
Lalu ia menyingkirkan meja tersebut untuk ditidurinya.
"Malam, Tante!" George mencium keningnya, pipi dan berakhir di bibir Serly yang rapat.
Seringaian halus tercetak di bibirnya.
George perlahan melepaskan c1um4nnya, lalu naik ke atas tubuh Serly, mengungkungnya dengan ide nakal terus berkalang kabut dipikirannya.
"I'm sorry, Tante," batinnya.
George menunduk, mendekatkan wajahnya. Namun,
Nghhh….
Serly yang merasakan ada keanehan, membuka matanya secara perlahan.
"George!" Dia terkejut saat melihat sebuah wajah yang begitu dekat dengannya.
"Shut! Jangan teriak! Nanti ada orang yang dengar," bisiknya sembari menj1l4t telinga Serly.
Trrr….
Seketika aliran darahnya berdesir. Serly menatap kedua manik yang terlihat sedikit gelap, dengan begitu lekat dalam.
George mendekatkan wajahnya, menarik dagunya pelan, menyatukan dua b1b1r ranum yang begitu menggoda. Lalu m3ng3cupnya berkali-kali.
"Serahkan semuanya padaku … aku janji akan mempertanggung jawabkannya."
Serly masih terdiam, menekan ludahnya kasar sambil berusaha untuk mencerna semua ucapannya.
"George- mmmm." Mulutnya kembali terkunci… dengan George yang kembali m3lum4t bibirnya lembut.
Memainkannya dengan begitu halus. Sampai tanpa sadar… Serly mengalungkan kedua tangannya.
Menikmati c1um4n yang semakin berh4srat.
Sebelah tangan George terangkat, menyusup ke balik pakaian yang Serly kenakan.
Serly berontak. Dia mendorong-dorong dada George kuat. Namun,
George segera m3m4gut bibirnya, memberinya c1umannya yang penuh dengan bunga-bunga bermekaran.
George tersenyum sembari m3ny3c4p kuat bibirnya, lalu menjuuluurkan lidahnya kedalam mulut Serly. Menyusuri setiap rongga mulutnya yang terasa begitu manis.
Serly terbuai. Dia melupakan sebuah tangan yang sudah bermain-main di balik pakaiannya.
M3m1l1n juga m3r3masnya halus.
Serly m3l3nguh… merasakan inti tubuhnya yang memberi respon tidak biasa.
"Mmm … George!" Ia tersadar dan langsung mendorong dadanya kuat, sampai c1um4n tersebut terlepas, dan sebelah tangannya terdiam.
Mereka saling tatap.
__ADS_1
"Ini salah, George. Ini tidak boleh terjadi!" Serly mendorong tangannya sampai keluar, dan berbalik memunggungi George yang sudah terduduk dengan wajah bingung.
"Tidurlah. Besok pagi kita harus pulang!" ucapnya pelan, namun mengandung ketegasan.
George yang merasa kecewa. Lagi-lagi dia tidak jadi mendapatkan kepuasan.
Ia menghela nafas dan membaringkan tubuhnya, menatap langit-langit ruangan yang sedikit gelap.
"Maaf, Tan. Aku tidak sengaja," ucapnya pelan.
Serly tidak menggubris. Dia terus memunggungi dengan perasaan takut menggerayangi pikirannya.
***
Satu jam berlalu….
Tidak ada satupun dari mereka yang bisa tidur.
George sibuk dengan perasaan kecewanya. Sedangkan Serly, ia takut hal tidak wajar terjadi tanpa sadar.
Mereka menghembuskan nafas bersama-sama, lalu berbalik dan saling menghadap satu sama lain.
"Tan!"
Serly menaikan bola matanya menatap George.
"Maaf."
"Gapapa? Jadi, aku boleh melakukannya lagi?" Seketika kedua bola mata George berbinar.
"Ish. Gak gitu juga kali. Cukup dua kali kamu melangkah lebih jauh dari ini!" Serly menempelkan satu jari tangannya di bibir George.
"Ish. Jorok!" cibir Serly saat George malah sengaja menjilat jarinya.
George terkekeh. "Tapi, Tan. Aku mau?" rengeknya bak seorang anak kecil.
Serly menggeleng. "Gak boleh, George. Kamu masih kecil!"
Hhhh….
"Tapi Bayi boleh, kok!" timpalnya merengek terus.
"Itu 'kan Bayi. Kalau kamu 'kan Bocah!"
George merungut. "Dikit aja, Tan!" pintanya memohon.
"Gak boleh!" tegasnya.
"Yaudah. Aku mau nyari pacar baru aja!" George membalikkan tubuhnya memunggungi Serly.
Hhhh….
"Jangan gitu, dong, George." Serly bergeser dan menarik bahunya pelan.
__ADS_1
"Heuh!" George mendengus pura-pura ngambek.
"Ayo, dong. Masa kamu gitu?"
"Tante juga gitu!" timpalnya sengit.
Serly menghela nafas, lalu duduk dan mencondongkan tubuhnya, menengok ke wajah George.
George memutar bola matanya dengan bibir mencebik.
"George?"
"Nggak!"
"George?"
"Gak tahu!"
"George?" Serly menyanggakan sebelah tangannya di depan perut George, dan sebelahnya mengelus kepala George lembut.
"Apa kamu beneran akan mencari pacar baru?" Ia membelai pipinya yang halus.
Membuat George semakin ingin memilikinya.
"Apa kamu tega menduakan aku, George?" Serly terdiam dengan tangan masih di pipinya.
George menghela nafas, lalu berbalik seraya menarik sebelah tangannya lembut.
Sampai Serly terjatuh dan berjarak sangat dengan wajahnya.
Kedua saling pandang,
"Geor-"
George langsung menarik tengkuknya, menyatukan dua debaran jantung yang saling berpacu dua kali lipat biasanya.
Ia m3ng3cup dan m3m4gut bibir bawahnya kuat. M3ngh1sapnya dalam, memberinya sensasi yang begitu memabukkan.
George m3lum4t b1b1rnya, dan beralih pada leher putihnya.
Nghhh….
Serly mengeratkan cengkraman tangannya pada karpet yang berada di bawah tubuh George.
"George," desahnya merdu. Membuat sesuatu yang berada di balik celana perlahan menegang, dan sampai akhirnya mengeras, ingin keluar dari persembunyiannya.
.
.
.
Ramaikan🙏
__ADS_1