Bocah! Saranghae!

Bocah! Saranghae!
Apa Perlu Dikompres?


__ADS_3

Haddy masuk ke dalam kamar tersebut, menatap keduanya lama. Ada perasaan iri di dalam hatinya melihat perhatian dan kehangatan dalam hubungan mereka berdua.


Ehem!


"George. Gue mau pulang. Apa lo-" belum sempat Haddy menuntaskan ucapannya, seorang wanita paruh baya melangkah dan mendekati mereka semua.


"Ada apa ini? Kenapa kalian ada disini?" tanyanya was-was, dan George paham itu.


"Ini, Bu. Tante demam. Jadi-"


"MasyaAllah. Ser, kamu sakit?" tanya ibunya menyela penjelasan George.


Serly menjawabnya hanya dengan senyuman tipis.


Panas yang semula hanya terasa hangat, kini bertambah dua kali lipat bersamaan dengan hawa dingin menyerang tubuhnya.


"Bu. Tolong peluk aku!" pintanya dengan suara sayu.


Membuat George semakin merasa bersalah karena sudah mengajaknya hujan-hujanan.


"Nak. Boleh ambilkan selimut lagi dari dalam lemari? Serly sepertinya kedinginan," ucap Ibu seraya memeluk tubuh anaknya.


George segera bangkit dan mencari kain yang ibunya pinta.


Setelah ketemu dia langsung memberikannya.


"Terima kasih, Nak!" ucapnya tulus.


George mengangguk dan menunggunya bersama Haddy disana.


"Boleh titip sebentar, ya! Ibu mau beli obat dulu kedepan," ucapnya seraya berdiri.


"Boleh aku antar, Bu?" tawar George.


Ibunya Serly menggeleng. "Gak usah. Tolong jagain Serly sebentar. Ibu hanya mau beli obat saja," ucapnya penuh perhatian.


Membuat hati George menghangat, dan semakin mantap untuk memperjuangkan cintanya pada Serly.


Setelah kepergiannya, George kembali mendekati Serly yang nampak sangat menggigil.


"George. Gue pulang, ya! Besok gue kesini lagi sekalian bawa semua baju-baju lo," ucapnya merasa canggung.


George mengangguk tanpa melihatnya.


Haddy berdecak sedikit kesal. "Lo gak mau nawarin gue nginep, George?" tanyanya sangat berharap.

__ADS_1


Ish!


George menoleh, menatapnya cukup lama. "Lo mau pulang apa nginep?" tanyanya dingin. Membuat Haddy kikuk.


Dia menggaruk tengkuknya bingung.


"Kalau lo mau nginep … ya tinggal nginep aja. Siapa juga yang nyuruh lo buat pulang!" tegasnya kesal.


Haddy mendelik malas. "Ya, sekiranya lo nawarin, kek!"


George tidak menggubris lagi. Tatapannya sudah fokus kembali pada Serly yang kedinginan.


"George. Boleh aku meminta sesuatu," ucap Serly dengan suara yang sedikit bergetar.


"Apa?" George menggenggam tangannya erat.


"Tolong peluk aku, George. Ini sangat dingin sekali," ucapnya tidak tahan.


George melebarkan senyumannya. Tentu itu sangat menguntungkan baginya. Tapi, baru saja dia akan memeluk Serly, ibunya sudah datang mengurungkan niat George untuk memeluknya.


"Gak lama, Bu?" tanya George dengan bodohnya asal ceplos gitu aja.


Haddy yang sudah bergeser mendekatinya, menjitak pelan kepala George, sampai ia mengaduh kesakitan.


George tersenyum tipis. "Refleks," bisiknya.


Haddy memutarkan bola matanya malas, dan kembali fokus pada ibunya Serly yang tengah memberikan beberapa pil obat pada tangan anaknya.


"Makan dulu obatnya… dan istirahat," ucapnya perhatian.


Serly mengangguk dan menelan obat tersebut bersama segelas air yang George berikan padanya.


Tak lama suara adzan berkumandang, dan ibunya Serly pamit untuk menunaikan kewajibannya terlebih dahulu. Begitupun dengan Haddy.


Dia ikut bersama ibunya Serly ke masjid yang berada dekat disana, dan meninggalkan Serly bersama George berduaan.


"Tan. Aku sholat dulu. Tante gapapa 'kan, aku tinggal ke kamar mandi sebentar?" tanyanya khawatir.


Serly tersenyum tipis.


Dia menatap kepergian George dengan perasaan hangat.


"Semoga kelak kau bisa menjadi imam yang baik untuk rumah tangga kita," gumamnya sambil memejamkan mata.


****

__ADS_1


Satu jam berlalu, dan kini kondisi Serly sudah cukup mendingan. Dia terlihat bisa tidur tanpa merasa kedinginan lagi.


"Bagaimana, Nak?" Ibunya masuk dan duduk di sisi ranjang, di samping tubuh Serly.


Dia menempelkan sebelah tangannya pada dahi sang anak, yang ternyata masih sangat panas.


"Apa perlu dikompres, Bu?" tanya George cemas.


"Boleh. Bentar … ibu akan ambil dulu peralatannya."


"Gak usah, Bu. Biar aku saja." George segera berdiri dan melangkah menuju dapur.


Dia menyiapkan air hangat juga di dalam baskom, dan kembali ke sana dengan membawa barang tersebut.


"Kainnya aku tidak tahu, Bu," ucapnya bingung.


"Sebentar. Serly kayaknya punya handuk kecil," ucapnya seraya melangkah mendekati lemari, dan tak lama beliau memberikan sebuah handuk kecil pada George, dan merendamnya di air yang tadi, ia peras, lalu ia tempelkan pada dahinya Serly.


Serly yang merasakan ada benda aneh menempel di dahinya, segera membuka matanya dengan sebelah tangan meraba benda tersebut.


"Biarkan. Jangan dilepas. Biar kamu cepetan sembuh," ucap Ibunya mencegah tangan Serly yang hendak menyingkirkan kain tersebut.


"Oh, iya, Bu. Haddy dimana, ya? Kok gak kelihatan?" tanya George merasa heran.


"Tadi dia ikut bergabung ke rumah Pak Rt."


Dahi George berkerut. "Pak Rt? Ngapain?" tanyanya semakin bingung.


.


.


.


Maaf, ya! Update-nya lama. Aku lagi gak enak badan. Badan greges juga batuk yang amat sakit di tenggorokan.


Jadi, susah konsentrasi.


Semoga kalian berada dalam kesehatan.


aminn🤲💜


Salam cinta dan damai dari Author Gaje ini.


Calangeo💜💜💜

__ADS_1


__ADS_2