
"Nak. Papah mau mewakili anak Papah, George," ucapnya lembut.
"Papah ingin meminangmu, Nak Serly … Papah harap kamu bersedia untuk menjadi menantu di rumah kami," tambahnya serius.
Serly menajamkan pendengarannya sambil menelaah ucapan Papa George barusan.
Ia menatap tangannya yang tengah di genggam oleh Papa George … dengan sebuah kotak terbuka, memperlihatkan benda yang ada di dalamnya.
Serly menghela napas sambil mengerjapkan kedua matanya. Dia melirik semua orang yang ada disana, dan berakhir pada George yang juga masih dalam ekspresi terkejut.
"Gimana, Nak! Apa kamu bersedia menerima lamaran ini?" tanya Papa George dengan sorot mata penuh harapan.
Perlahan, Serly melepaskan pegangan Papa George. Membuat semua orang yang ada disana sedih. Termasuk George yang sudah sangat berharap banyak padanya.
Dia menunduk dengan setetes air mata yang siap meluncur.
"Kenapa Tante tidak mau menerimanya?" ucapnya sedih.
Serly menoleh dengan senyum tipis menghiasi wajahnya.
"Karena aku mau kamu yang mengatakannya padaku. Bukan papamu," jawabnya serius.
George yang barusan bersedih, langsung mendongak menatapnya bahagia.
"Serius, Tan?" tanyanya antusias.
Serly menggeleng. Membuat George kembali murung.
"Gimana aku mau menjawab iya, kamunya aja belum bilang apa-apa padaku," ucapnya woles.
George terkekeh, kemudian meminta Haddy untuk membantunya bangun.
"Baiklah. Aku akan melamarmu, Tan!" ucapnya dengan was-was.
Lalu, meraih kotak merah yang terbalut kain beludru dari tangan papanya.
George menarik napas dalam, dan ia hembuskan pelan sambil menatap Serly serius.
"Mungkin, ini tidak spesial kalau dilihat dari tempat dan caraku untuk melamar. Tetapi,"
Keduanya saling tatap terpaku.
"Izinkan aku untuk menseriuskan hubungan kita. Membahagiakanmu untuk seumur hidupku," ucapnya.
Serly tersenyum tipis. "Gak ada lagi 'kah, kata-kata yang romantis?" tanyanya terkekeh pelan.
Dan diikuti oleh semua orang yang ada disana. Membuat George grogi.
"Cih. Tolak, aja, Tan. Tolak!" ucap Haddy mengomporinya.
George mendelik. "Buat apa kata-kata manis, romantis. Jika hati tidak selaras dengan ucapannya! Modus! Sosor sana-sini!" balas George sedikit menyindirnya.
Haddy terkekeh merasa malu sendiri.
"Sudah, sudah. Mari kita duduk!" ucap Serly menengahi.
"Lah, kok duduk, sih, Tan!" George menatapnya sedih.
Serly terkekeh. "Duduk di pelaminan bareng kamu, George!" jawabnya terkekeh geli.
"Aih, si Tante bisa ngerayu juga!" Haddy tersenyum-senyum mendengarnya.
Begitupun dengan semua orang. Mereka musam-mesem dengan kepala sedikit digelengkan.
"Jadi, Tante mau menikah denganku?"
Serly menggeleng lagi.
"Kenapa?"
Dia menghela napas. "Kamu masih sekolah, George. Aku gak mau menikah dengan Siswa SMA!"
George merungut sedih.
"Haha … mampus, lo! Setahun lagi lo pendem tuh si ujang!" cibir Haddy, dan langsung mendapat jeweran dari tantenya.
__ADS_1
"Jangan asal nyeplos, Dy!" ucapnya tidak suka.
Haddy terkekeh. "Dah biasa, Tan. Itu mah udah lumrah!"
"Ya ampun!" Semua orang menatapnya sinis, dan Haddy hanya cengengesan saja.
"Vis. Haddy baik, kok. Haddy kalem," ucapnya dengan dua jari mengambang di atas.
Mereka terkekeh, dan kembali pada dua insan yang belum jelas jawabannya.
"Gimana? Tante menerima lamaran ini?" George menatapnya lekat.
Serly tersenyum seraya menganggukkan kepalanya.
"Yes! Gue naik jabatan!" ucap George kegirangan.
Serly geleng-geleng kepala. "Tapi, ada syaratnya!"
George langsung terdiam.
"Kamu harus seriusin lagi sekolahnya. Jangan bolong-bolong. Nilaimu harus bagus semua!"
George tersenyum. "Asyiap, Bu Komandan!" ucapnya terkekeh pelan. Lalu, menyematkan cincin pemberian kedua orang tuanya ke jari manis Serly.
Mereka tersenyum bahagia, dan saling peluk hangat… dengan sesekali George mengecup kening Serly hangat.
"Astaga, Pah. Anak kita sudah besar ternyata. Lucu juga," ucap Mama George menatap mereka berdua haru.
Suaminya tersenyum. "Kita melewati banyak hal, Mah. Kita benar-benar melupakan kewajiban kita sebagai orang tua," balasnya sambil merangkul hangat pinggang sang istri.
Mereka saling tatap, dan kecupan sayang mendarat di kening istrinya.
"Om, Tan. Aku anterin Dewi pulang dulu, ya!" Haddy mengulurkan tangannya ke hadapan mereka berdua.
Mereka berdua mengangguk.
"Sekalian sama calon besan, Dy. Anterkan sampai ke rumahnya."
"Baik, Om. Tugas akan aku laksanakan," jawabnya.
"Sip!"
"Tan, selamat, ya! Thanks juga atas bersandarnya!" Haddy memicingkan satu matanya ke arah Serly.
"Wei! Mau gue jitak pake tabung oksigen, hah!" George menatapnya kesal.
Haddy terkekeh seraya mendekatkan bibirnya pada telinga George. "Kalau mau unboxing … jangan lupa matiin lampunya," bisiknya serius.
George langsung berbalik, menatapnya sinis.
"Haha … ingat pesan corona. 3M. Matikan lampu, Membuka baju, lalu … Main, dech!" ucapnya lantang.
"Anjiir!" George langsung menjitak kepalanya, tapi Haddy malah cekikikan.
"Icip sekali gapapa. Itung-itung percobaan," bisiknya lagi.
George mengepalkan tangannya, "pulang sono!" usirnya marah.
"Cih. Bilang aja lo baper sama penasaran!"
"Astaga, Haddy. Mau gue seret, hah!"
Haddy tertawa, kemudian pamit lagi sama om juga tantenya. Lalu, mengajak ibunya Serly keluar sembari merangkul Dewi hangat.
"Aku gak percaya kalau dia masih bujang," gumamnya melirik Serly sekilas.
"Yaudah, George. Biarin aja," ucap Serly acuh.
Kedua orang tuanya mengangguk setuju. "Kalau begitu, kami pulang saja, ya. Kamu sepertinya butuh waktu untuk berduaan." Papanya mengelus punggung George lembut.
George tersenyum manis. "Terima kasih banyak, Pah." Dia memeluk tubuh papanya hangat.
"Sama-sama. Gunakan kesempatan ini sebaik-baiknya."
George mengangguk.
__ADS_1
"Sayang!" Mamanya melangkah mendekatinya, dan langsung berhambur, memeluk tubuh George erat.
"Maafin Mamah, Sayang. Maafin semua kesalahan Mamah padamu," ucapnya tulus.
George mengangguk. "Gapapa, Mah. Aku juga nakal. Gak dengerin ucapan Mamah juga Papah. Maafin aku juga, ya!"
Mereka sama-sama menangis haru.
Kemudian beralih pada Serly. Namun, matanya enggan untuk menatap. Ia merasa sangat bersalah dan berdosa karena dulu telah memarahi bahkan merendahkannya.
Serly yang melihat itu tersenyum tipis. Lalu, melangkah dan meraih tangannya lembut.
"Terima kasih banyak sudah memberiku kesempatan untuk menyayangi George seutuhnya."
Mama George mengangguk samar… dengan mata masih enggan untuk menatapnya.
Serly melebarkan senyumannya, dan langsung memeluk sang mertua hangat.
Membuatnya semakin merasa sangat bersalah.
"Maafkan Mamah, Nak. Mamah begitu egois. Mamah telah banyak berdosa padamu. Maafkan Mamah, Nak. Maafkan Mamah!" ucapnya sambil terisak.
Serly mengangguk. "Aku juga minta maaf... setiap hari telah membuat Tante kesal."
Mama George tersenyum, dan Serly melepaskan pelukannya.
Mereka saling lempar senyum kebahagiaan.
"Mulai hari ini… dan seterusnya. Kamu boleh keluar masuk rumah kami. Jangan sungkan dan takut lagi."
Serly tersenyum.
"Juga-" Mama George menatapnya serius, "jangan panggil 'Tante', ya. Panggil Mamah dan Papah. Sesuai panggilan George pada kami."
Serly mengangguk haru. Dia kembali memeluknya hangat. "Terima kasih," ucapnya lirih.
"Hm."
Pemandangan tersebut tidak sedikitpun George dan Papa nya lewatkan. Mereka bahkan merekamnya untuk dijadikan kenang-kenangan di masa depan.
"Kalau begitu… Mamah titip George, ya."
Serly mengangguk sambil menyeka air matanya.
"Kami pamit. Besok pagi kesini lagi!" Papa George mengelus bahu Serly lembut.
"Hm."
Kemudian mereka melangkah keluar setelah masing-masing mengecup kening George sayang.
Terkesan lebay, namun … itu bentuk mereka menyayanginya yang terlambat.
Serly mengantar kedua mertuanya sampai ke ambang pintu, lalu kembali melangkah mendekati ranjang yang George tempati.
Mereka saling tatap dengan rona wajah yang berbeda.
George mengedip-ngedipkan matanya berisyarat, tetapi tidak Serly gubris.
Dia pura-pura menatap bunga yang tadi mereka bawa, dengan sesekali tersenyum malu-malu.
Ck.
"Tan!" George mendengus dan mengerucutkan bibirnya.
Serly terkekeh, lalu menatapnya tajam. "Apa?" tanyanya ketus.
"Ih, jangan galak-galak. Nanti aku ciium, baru tahu rasa," ucapnya dengan kedipan mata genit.
Serly mendelik. "Apa, sih, George," balasnya dengan semburat merah merona di kedua pipinya.
George terkikik, lalu mencubit pipinya yang merah.
Cup!
"Aku mau ucapan selamat datang," bisiknya dengan sengaja meniup kuduknya lembut.
__ADS_1
Serly membeku, dan George segera memanfaatkan kesempatan tersebut.
Dia,