
"Nih. Besok, jangan kesini lagi." ucap Serly sambil menyodorkan sekotak nasi goreng komplit kehadapan Haddy.
Haddy menatap Serly tajam, "Yaelah, Tan. Entar di ganti, kok," jawab Haddy sambil menerima kotak nasi dari tangan Serly. "Pake ciuman," gumamnya.
Bukkk....
Serly memukul bahu Haddy cukup kencang.
"Aw. Apaan, sih. Sakit tau, Tan!" ringisnya.
"Makannya. Kalo ngomong tuh jangan ngasal." kata Serly sambil menyilangkan kedua tangannya didepan perut.
"Tapi mau, kan?" goda Haddy sambil mengedip-ngedipkan matanya.
Serly menajamkan tatapannya.
"Jangan gitu, Tan. Aku tau kok kalo kalian udah itu," ucap Haddy memperagakan dengan menggunakan sebelah tangannya yang ia tempelkan kebibirnya sendiri.
Serly terkesiap sedikit kaget.
"Gak usah kaget juga kali, Tan. Slow.... itu hanya hal biasa." ucap Haddy.
Serly merasa malu banget. Sejak kapan Haddy mengetahui hal yang sangat memalukan baginya itu.
"Apa George suka menggosip tentang diriku. Apa dia menceritakan semuanya?" batin Serly menggerutu.
"Teruskan saja melamunnya, ya. Aku mau berangkat sekarang. Makasih buat nasinya. Bye... bye... Tante bohayyyy!" serunya sambil melambaikan tangannya lebay.
Serly mendelikkan matanya sebal.
"Astaga, George. Kenapa kamu pak bilang-bilang segala, sih." gerutu Serly dan menjatuhkan bokongnya keatas kursi.
"George, George!" gumamnya mengulang nama yang sangat ia rindukan selamanya.
"George. I MISS YOU," gumamnya dengan menunduk sedih. "Kenapa aku tidak bisa melupakanmu, George."
Serly menaikan kedua kakinya keatas kursi dan ia peluk.
"Aku harus melupakanmu, George. Aku tidak pantas bersanding denganmu." Serly terisak dalam sepi.
"Kenapa disaat aku mendapatkan cintaku, malah terhalang oleh tembok yang sangat kuat. Yang tak mungkin bisa aku lewati." gumamnya.
******
Di tempat lain,
"Enak, ya? Boleh aku ngicip, dikiiitttt, aja." pinta Haddy ngiler melihat George lahap sekali memakan- makanan yang ia bawa.
George menatap Haddy sekilas, lalu ia membalikkan tubuhnya membelakangi Haddy.
"Pelit amat. Awas aja, lo. Gue gak akan bantuin lagi." ancamnya.
George membalikkan tubuhnya kembali.
"Lo mau?" tanya George sambil menyodorkan misting nasi kehadapan Haddy.
"Mau," jawab Haddy sambil mengangguk-anggukan kepalanya pelan.
"Hm. Boleh!" jawab George dan menyedok satu sendok penuh nasi goreng buatan Serly tersebut.
Haddy tersenyum girang. Ia langsung menganga dengan sangat besar.
"Boleh sana minta sama Endew, lo itu." ucapnya sambil memasukan nasi tersebut pada mulutnya.
Haddy langsung menutup mulutnya seraya menelan ludahnya sendiri.
"Tega banget, lo sama, gue, George. Udah ku buka ni mulut segede gua."
"Ha...," George malah tertawa merasa lucu karna berhasil mengelabui sahabatnya.
Uhukk!
Uhukk!
"Air. Air, Dy." pinta George dengan suara tertahan.
Bwahahahahahaha.....
__ADS_1
Haddy malah tertawa terbahak-bahak.
"Makannya, jangan jail sama teman. Kwalat, kan?" ucap Haddy membiarkan George terbatuk-batuk.
"Haddy! Cepetan. Ntar gue mati." pintanya memaksa.
Haddy menatapnya malas, lalu ia mengambil air yang ada ia bawa tadi juga membukakannya.
"Nih." ucap Haddy ketus menyodorkan sebotol air mineral padanya.
George memberikan misting nasi pada Haddy dan langsung menerima air tersebut.
"Ahhh..., lega," gumamnya setelah berhasil meneguk air.
"Em. Enak!" seru Haddy dengan cepat melahap nasi yang sudah ada ditangannya.
"Yeh. Ini punya, gue." rebut George lagi.
"Silahkan. Gue udah kenyang," jawabnya memberikan misting tersebut.
George menautkan kedua alisnya heran. Ia kemudian menatap misting tersebut, dan...
"Haddyyyyyyyyy. Lo abisin makanan, gue, hah!" teriaknya sangat geram.
Haddy nyengir, "Sabar, Bro. Itu masih ada sesuap lagi." kilahnya.
"Awas, lo, hah!"
George meletakkan misting itu diatas tempat tidurnya cepat.
"Awas, lo!" ancam George sambil turun dari atas kasur.
Haddy langsung ngacir keluar dari kamar George dengan grasak-grusuk.
"Haddy! Jangan lari, lo. Lo harus ganti nasi, gue!" teriak George sambil terus mengejar Haddy yang sudah berada di lantai bawah.
George merasakan ada yang aneh. Tapi, ia hiraukan saja. Tujuannya pokus pada Haddy yang kocar-kacir berlari keluar dari rumahnya.
"Haddy!" teriak George berhasil keluar dari rumah.
"Stop!" teriaknya sambil berdiri didepan mobil yang Haddy pakai.
Haddy tidak jadi melanjukan mobil tersebut, tapi ia juga tidak mau keluar dari dalam mobil.
Brakkk...
Brakk...
"Hah, hah, hah. Dy, Lo buka, gak. Buka!" bentak George dengan napas yang tersenggal-senggal.
Haddy menurunkan kaca mobil tersebut sedikit.
"Buka!" teriak George dengan muka garang.
Haddy akhirnya mengalah. Ia membuka kunci pintu mobil.
Cklek...
Brakkk...
George masuk dan langsung menutupnya dengan sangat kuat. Ia langsung menarik baju bagian depan yang di pakai Haddy.
Namun, tuhan sedang baik pada mereka berdua.
"Eh, tunggu, George!" seru Haddy pelan.
"Apa? Lo mau lari dari kesalahan, hah?" ucap George sudah sangat tersulut emosi.
"Yeh. Gini, nih, kalo udah BUCIN. Lo gak ingat lagi sama sekitar." ucap Haddy menatapnya malas.
George langsung melepaskan cekalan tangannya pada baju Haddy.
"Jangan bawa-bawa BUCIN segala. Udah tahu itu milik gue, lo embat juga." kata George, lalu duduk bersandar pada kursi mobil.
"Lewat."
George menoleh lagi padanya dengan sangat sinis.
__ADS_1
"Lo ngerasa ada yang aneh, gak? sih!" ucap Haddy sambil berpikir.
George merenung, "Gue juga merasa, sih. Tapi apa, ya?" jawabnya bingung juga.
"Sebentar. Ini lo bagaimana bisa keluar dari kamar?" tanya Haddy menelisik George dari atas sampai bawah.
"Gue lari ngejar, lo," jawab George masih belum NGEH.
Haddy melamun. Begitu juga dengan George.
????????????
"Jangan-jangan?" ucap mereka bersamaan sambil saling tatap.
Haddy langsung menancap gas dan mobil berhasil keluar dari halaman rumah mewah dan megah milik keluarga George.
Senyum kebahagian tidak luntur dari wajah George.
Wajah yang tadinya lusuh, lemas, murung. Kini berubah jadi sangat ceria.
"Tante! I COMING," gumamnya sangat bahagia sekali bisa lepas dari sangkarnya sendiri.
Haddy yang sedang mengemudikan mobil tersebut langsung menoleh.
"Ck. Apa gak ada yang lain selain Tante Serly di pikiran, lo?" tanya Haddy dengan nada malas.
"Lo harus bantuin, gue."
"Ih. Gue tanya apa? Lo jawab apa? Dasar BUCIN!" ledek Haddy.
"Gue mau ketemu sama dia."
"Gue heran, kenapa lo sangat mencintainya?"
"Ah. Tan. Aku udah gak sabar ingin bertemu dengamu." ucapnya.
Haddy malah ngeri mendengarnya.
"Lo udah stres, ya?" tanya Haddy bergidik.
"Tante! Saranghae!" ucapnya cukup keras.
Kikkkk.....
Haddy langsung menginjak rem.
"Asataga. Dy! Lo mau gue mati, hah?" ucapnya terkejut.
"Parah! Lo udah sangat parah, George. Lo harus gue bawa ke RSJ." ucapnya sambil menatap ngeri padanya.
"RSJ gue ada padanya," jawabnya santai kembali.
Haddy menempelkan telapak tangannya pada dahi George.
"Serius. Lo udah kena virus yang mematikan." ucap Haddy.
"Biarin. Yang penting itu karenanya." jawab George.
Haddy mendelikkan matanya sebal.
"Jadi takut gue dekat-dekat sama, lo?"
Hallo readers?.
Happy readeng, ya?
Jangan lupa tinggalkan jejak kalian. Ok.
Mampir juga di novelku yang satu lagi.
MAKE A WISH
Insya alloh. Kalo gak ada halangan, aku akan UP tiap hari.
I PURPLE U readers
Follow juga, ya. He...
__ADS_1